Henri Bergson

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Henri Bergson
Lahir18 Oktober 1859
Paris, Prancis
Meninggal3 Januari 1941
PenghargaanPenghargaan Nobel dalam bidang sastra (1927)
EraFilsafat abad ke-20
KawasanFilsafat Barat
AliranFilsafat kontinental
Minat utama
Metafisika, epistemologi, filsafat bahasa, filsafat matematika
Gagasan penting
Durasi, intuisi, élan vital, masyarakat terbuka

Henri Bergson (1859–1941) merupakan salah seorang tokoh aliran intuisionisme. Ia menjadikan intuisi sebagai salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi bagi manusia. Bergson berpendapat bahwa indra dan akal sama-sama memiliki keterbatasan dan kekurangan, sehingga pengetahuan yang lengkap hanya dapat diperoleh dengan adanya intuisi.[1] Henri Bergson merupakan salah satu tokoh pemikir yang dipengaruhi oleh pemikiran Plotinos tentang Tuhan.[2] Bergson juga menganut kepercayaan vitalisme.[3] Bergson menjalin persahabatan dengan Maurice Halbwachs selama belajar filsafat di Ecole Normale Supérieure, Paris.[4] Pekerjaan Bergson semasa hidupnya ialah sebagai profesor di Universitas Paris.[5]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Henry Bergson lahir pada tanggal 18 Oktober 1859 di Paris. Ayahnya merupakan seorang Yahudi berkebangsaan Polandia, sedangkan ibunya seorang Yahudi kelahiran Inggris Utara. Pada masa kanak-kanak, Bergson memiliki minat pada pelajaran matematika dan sastra. Minatnya berubah ke sastra, biologi dan filsafat ketika ia mulai memasuki usia dewasa. Pada tahun 1900, Bergson memperoleh gelar Chair pada Collège de France dan mengadakan perkuliahan di berbagai daerah dan negara. Ia memberikan kuliah di daerah Birmingham dan Oxford di Inggris pada tahun 1911. Kemduian, pada tahun 1914 Bergson terpilih menjadi salah satu anggota dari Académie Française. Ia memperoleh Penghargaan Nobel di bidang literatur pada tahun 1927. Selama mengajar, ia menyebarluaskan gagasannya mengenai filsafat hidup, vitalisme dan evolusi kreatif. Pemikiran filsafatnya memberikan pengaruh yang luas di Prancis dan sekitarnya karena pengetahuannya yang luas mengenai ilmu alam dan humanisme. Ia juga menguasai menguasai sejarah filsafat. Pemikiran-pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plotinos serta pemikiran spiritualisme Prancis khususunya dari Maine de Biran (1766–1824). Bergson meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1941.[6]

Metode filsafat[sunting | sunting sumber]

Bergson menggunakan metode intuitif dalam memperoleh pemahaman mengenai kenyataan secara langsung. Ia melakukan kegiatan wawas diri dengan intuisi untuk menggabungkan antara kesadaran dan proses perubahan.[7] Pemahaman kenyataan diperoleh dengan pembersihan pengetahuan dan moral melalui pemakaian simbol-simbol.[8]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Pengetahuan[sunting | sunting sumber]

Bergson menjadi pengetahuan menjadi dua, yaitu "pengetahuan tentang" dan "pengetahuan mengenai". "Pengetahuan tentang" merupakan pengetahuan yang diperoleh secara langsung melalui intuisi. Sementara itu, "pengetahuan mengenai" merupakan pengetahuan yang diperoleh secara tidak langsung dengan sifat diskursif. Pemerolehannya dapat diperantarai oleh akal atau indra. Pengetahuan yang diperoleh secara langsung bersifat sederhana dan tunggal, misalnya warna, rasa, bau dan suara. Pada pengetahuan yang bersifat kompleks dan majemuk, pemerolehannya juga dapat secara langsung. Perbedaan keduanya hanya terletak pada hal yang perlu diketahui dari pengetahuan tersebut. Pengetahuan yang sederhana dapat diketahui melalui esensinya, sedangkan pengetahuan yang majemuk dapat diketahui melalui sifat-sifat dari esensinya.[9]

Intuisi[sunting | sunting sumber]

Bergson mengartikan intuisi sebagai suatu hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Intuisi diartikannya sebagai suatu pengetahuan langsung yang bersifat mutlak dan bukan sesuatu yang nisbi. Intuisi tidak memerlukan penggambaran simbolis dan justru mengatasi kekurangan dari sifat pengetahuan simbolis. Sifat dasar dari intuisi ialah personal dan tidak dapat diramalkan karena terjadi secara langsung dan seketika. Selain itu, intuisi juga bersifat analitis, menyeluruh dan mutlak. Intuisi tidak dapat digunakan untuk penyusunan pengetahuan secara teratur, tetapi dapat digunakan sebagai hipotesa yang menentukan kebenaran dari suatu pernyataan yang telah dikemukakan.[10] Sifat-sifat dari intuisi ini membuat pengenalan oleh intuisi tidak dapat digantikan oleh analisis maupun pengetahuan yang diperoleh melalui penggambaran.[11]

Bergson membedakan antara intuisi dan kecerdasan.[12] Konsep intuisi yang dikemukakan oleh Bergson lebih mirip dengan konsep wahyu yang berdasarkan kepada kesadaran akan adanya pengalaman melalui naluri. Intuisi hadir dari pengalaman batin yang bersifat spiritual dan tidak berkaitan dengan akal. Sifat dari intuisi adalah mampu memahami tentang sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh akal. Dalam pengertian ini, intuisi bekerja ketika akal tidak digunakan.[13]

Vitalisme[sunting | sunting sumber]

Bergson meyakini bahwa modal manusia meliputi vitalitas biologi, naluri dan spiritual. Peran vitalitas spiritual adalah mempermudah pemahaman manusia tentang konsep agama, seni dan ilmu. Penggunaan vitalitas menghasilkan pembersihan moral melalui wawas diri yang bersifat intuitif. Keberadaan vitalitas spiritual dapat melawan sikap materialisme dan mengembangkan hukum sebab-akibat.[14]

Pengaruh pemikiran[sunting | sunting sumber]

Intuisionisme[sunting | sunting sumber]

Istilah "intuisi" telah digunakan dalam filsafat Yunani Kuno oleh Plato dan Plotinos. Namun, Bergson merupakan tokoh yang memperkenalkan intuisi sebagai salah satu sumber pengetahuan di zaman modern.[15] Bergson merupakan salah satu filsuf di dunia Barat yang menerima intuisi sebagai bagian dari metode epistemologi.[16] Ia menjadikan intuisi sebagai salah satu cara memperoleh kebenaran.[17] Bergson memberikan kritik kepada empirisme dan rasionalisme melalui keterbatasan akal dan dan indra. Ia mengungkapkan bahwa akal dan indra hanya dapat memahami objek ketika perhatian akal hanya ditujukan pada objek.[18] Karenanya, Bergson mempelopori aliran pemikiran yang disebut sebagai intuisionisme. Dalam pemikirannya ini, intuisi dijadikan sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan secara langsung dan seketika. Ia meyakini bahwa penghayatan langsung merupakan dasar dari pengetahuan yang melengkapi indra dan akal.[19] Intuisionisme tidak menolak adanya pengalaman indrawi, tetapi melengkapinya dengan menambahkan intuisi sebagai suatu bentuk pengalaman juga.[20]

Psikologi eksperimental[sunting | sunting sumber]

Psikologi eksperimental merupakan salah satu cabang psikologi yang keilmuannya diawali pada akhir abad ke-19. Tokoh yang menjadi perintis pemikiranya ialah dan Henri Bergson dan Hans Driesch. Sebelum adanya psikologi eksperimental, psikologi sebagai ilmu tentang kejiwaan manusia telah diteliti melalui filsafat. Namun, jiwa manusia dikonsepkan sebagai sesuatu yang terpisah dengan raga. Pemikiran Henri Bergson dan Hans Driesch kemudian mengubah pandangan ini, Keduanya berpendapat bahwa konsep tentang jiwa tidak hanya dapat diketahui melalui filsafat, melainkan dapat pula diketahui melalui penelitian dengan bukti empiris menggunakan metode ilmiah yang objektif.[21]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Muliadi (2020). Busro, ed. Filsafat Umum (PDF). Bandung: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. hlm. 82. ISBN 978-623-7166-42-9. 
  2. ^ Amstrong, Karen (2002). Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun (PDF). Diterjemahkan oleh Am, Zainul. Bandung: Penerbit Mizan. hlm. 148. ISBN 979-433-270-4. 
  3. ^ Soelaiman, Darwis A. (2019). Putra, Rahmad Syah, ed. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Perspektif Barat dan Islam (PDF). Banda Aceh: Penerbit Bandar Publishing. hlm. 59. ISBN 978-623-7499-37-4. 
  4. ^ Hidayat, Rakhmat (2016). Sosiologi Pendidikan Émile Durkheim (PDF). Jakarta: Rajawali Pers. hlm. 41. ISBN 978-979-769-682-5. 
  5. ^ Lubis, Nur A. Fadhil (2015). Pengantar Filsafat Ilmu (PDF). Medan: Perdana Publishing. hlm. 25. ISBN 978-602-6970-02-2. 
  6. ^ Yusuf, Himyari (2012). "Menggas Pengetahuan Berbasis Kemanusiaan: Menelaah Pemikiran Henry Bergson". Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam. 6 (1): 9–10. 
  7. ^ Nawawi, Nurnaningsih (2017). Tokoh Filsuf dan Era Keemasan Filsafat Edisi Revisi (PDF). Makassar: Pusaka Almaida. hlm. 15. ISBN 978-602-6253-53-8. 
  8. ^ Sumanto, Edi. Sartono, Oki Alek, ed. Filsafat Jilid I (PDF). Bengkulu: Penerbit Vanda. hlm. 27. ISBN 978-602-6784-91-9. 
  9. ^ Soleh, A. Khudori (2016). Safa, Aziz, ed. Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer (PDF). Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. hlm. 149. ISBN 978-602-313-056-6. 
  10. ^ Muhtar (2019). Tesis dan Disertasi dalam Kebenaran Ilmiah (PDF). Jember: CV. Pustaka Abadi. hlm. 9. ISBN 978-623-7628-34-7. 
  11. ^ Kasno (2018). Salsabila, Intan, ed. Filsafat Agama (PDF). Surabaya: Alpha. hlm. 29. ISBN 978-602-6681-18-8. 
  12. ^ Saputro, A. N. C., dan Winarno, ed. (2014). "Profil Intuisi dan Tingkat Kreativitas Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Geometri" (PDF). Seminar Nasional Pendidikan 2014 Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah. Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah: 56. ISBN 978-602-19840-1-7. 
  13. ^ Aseri, A. F., Abidin, M. Z., dan Wardani (2014). Kesinambungan dan perubahan dalam Pemikiran Kontemporer tentang Asbâb Al-Nuzûl: Studi Pemikiran Muhammad Syahrûr dan Nashr Hamîd Abû Zayd (PDF). Banjarmasin: IAIN Antasari Press. hlm. 25. ISBN 978-602-0828-07-7. 
  14. ^ Adnan, Gunawan. Gade, Syabuddin, ed. Filsafat Ilmu (PDF). Banda Aceh: Ar-Raniry Press. hlm. 81. ISBN 978-623-7410-33-1. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-12-16. Diakses tanggal 2021-12-28. 
  15. ^ Zulfis (2019). el-Badri, Muhammad Yusuf, ed. Sains dan Agama: Dialog Epistemologi Nidhal Guessoum dan Ken Wilber (PDF). Sakata Cendikia. hlm. 33–34. ISBN 978-602-5809-11-8. 
  16. ^ Asrori dan Rusman (2020). Filsafat Pendidikan Islam: Sebuah Pendekatan Filsafat Islam Klasik (PDF). Malang: CV. Pustaka Learning Center. hlm. 48. ISBN 978-623-94128-6-9. 
  17. ^ Sulaiman (2020). Kesatuan Tasawuf dan Sains: Mencetak Manusia Cerdas Bercita Rasa Kemanusiaan dan Kekayaan Spiritual (PDF). Semarang: Southeast Asian Publishing. hlm. 80. ISBN 978-623-91981-1-4. 
  18. ^ Suaedi (2016). Januarini, Nia, ed. Pengantar Filsafat Ilmu (PDF). Bogor: PT Penerbit IPB Press. hlm. 12. ISBN 978-979-493-888-1. 
  19. ^ Muslih, Mohammad (2016). Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (PDF). Yogyakarta: LESFI. hlm. 80. ISBN 978-979-567-044-5. 
  20. ^ Tumanggor, R. O., dan Sudaryanto, C. (2017). Sudibyo, Ganjar, ed. Pengantar Filsafat untuk Psikologi (PDF). Sleman: PT Kanisius. hlm. 85. ISBN 978-979-21-5457-3. 
  21. ^ Watra, I Wayan (2017). Fungsi Filosofi Mangku Dalang dalam Yadnya Agama Hindu di Bali (PDF). Surabaya: Pàramita. hlm. 4–5. ISBN 978-602-204-634-9. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]