Intuisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pemetaan frenologis dari otak – frenologi adalah salah satu upaya untuk menghubungkan fungsi mental dengan bagian-bagian spesifik dari otak.

Kata intuisi berasal dari kata kerja Latin "intueri" yang diterjemahkan sebagai "mempertimbangkan" atau dari bahasa Inggris, "intuit" yakni "untuk merenungkan"

Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan di luar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, di dalam buku itu ditemukan keterangan yang dicarinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata di sana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psikis. Sebagian intuisi bisa dijelaskan sebab musababnya apabila dikembangkan melalui analisis.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau kaum eksekutif memiliki skor lebih baik dalam eksperimen uji indra keenam dibandingkan dengan orang-orang biasa. Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan psikis dalam kehidupan keseharian mereka, yang mana dapat menunjang kesuksesan mereka. Salah satu bentuk kemampuan psikis yang sering muncul adalah kemampuan intuisi. Tidak jarang, intuisi menentukan keputusan yang mereka ambil.

Sampai saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang dapat sukses dalam hidup. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi.

Intuisi dalam bahasa sederhana bisa diartikan getaran hati (jiwa) akan sesuatu hal (kausalitas) yang dihadapi atau yang akan terjadi. Getaran hati atau mungkin bisa juga diartikan "perasaan" akan sesuatu itu muncul atau terasa.

Intuisi adalah kemampuan untuk memperoleh pengetahuan tanpa mengandalkan penalaran sadar.[1] Bidang lain menggunakan kata "intuisi" dengan cara yang sangat berbeda, namun tidak terbatas pada akses langsung ke pengetahuan bawah sadar; kognisi bawah sadar; penginderaan batin; wawasan batin ke pengenalan pola bawah sadar; dan kemampuan untuk memahami sesuatu secara naluriah tanpa memerlukan penalaran sadar.[2]

Intuisi Menurut Ilmu Psikologi[sunting | sunting sumber]

Sigmund Freud[sunting | sunting sumber]

Menurut Sigmund Freud, pengetahuan hanya bisa dicapai melalui manipulasi intelektual dari pengamatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menolak cara untuk memperoleh pengetahuan, seperti menggunakan intuisi.[3]Dengan demikian, pengetahuan tidak bisa dicapai hanya melalui intuisi, melainkan harus didasari oleh pemikiran rasional dan sikap ilmiah.

Carl Jung[sunting | sunting sumber]

Pada Teori Ego yang diungkapkan Carl Jung, didefinisikan bahwa intuisi adalah 'fungsi irasional' dan persepsi yang didapatkan melalui ketidaksadaran. Seperti menggunakan persepsi indera hanya sebagai titik awal untuk menemukan ide, gambar, kemungkinan, dan jalan keluar dari situasi sulit melalui proses yang sebagian besar tidak disadari.[4]

Dalam buku Psychological Types, Jung mengusulkan empat fungsi utama kesadaran: dua fungsi persepsi atau non-rasional (Sensasi/sentation dan Intuisi/intuition), dan dua fungsi penilaian atau rasional (Berpikir/ pensée dan Merasa/ sentiment). Fungsi-fungsi ini dimodifikasi oleh dua tipe sikap utama: ekstrovert dan introvert

Jung mengklasifikasikan beberapa tipe psikologi manusia yang dituliskan dalam bukunya. Lebih lanjut Jung menjelaskan bahwa seseorang yang dominan menggunakan intuisinya, "tipe intuitif", akan bertindak bukan atas dasar pemikiran rasional tetapi hanya pada persepsi belaka. Tipe intuitif ekstrovert, berorientasi pada kemungkinan baru yang menjanjikan meskipun belum terbukti kebenarannya, mereka cenderung mengejar kemungkinan baru sebelum usaha lama membuahkan hasil, sehingga sering melakukan perubahan secara konstan. Tipe intuitif introvert berorientasi pada gambaran dari alam bawah sadar, selalu menjelajahi dunia psikis arketipe, berusaha memahami makna peristiwa, tetapi seringnya tidak tertarik untuk berperan dalam peristiwa tersebut dan tidak melihat hubungan apa pun antara dunia psikis dan dirinya sendiri.[5]

Jung berpikir bahwa tipe intuitif yang ekstrovert kemungkinan besar adalah pengusaha, spekulan, maupun revolusioner budaya. Mereka sering kali membatalkan sesuatu yang sedang dijalani karena keinginan untuk melarikan diri dari berbagai situasi sebelum mendapatkan hasil—bahkan berulang kali meninggalkan kekasih demi kemungkinan kisah baru. Tipe intuitif introvert kemungkinan besar dimiliki oleh orang yang tertarik pada dunia mistis maupun spiritual. Mereka cenderung berjuang antara melindungi visi mereka dari pengaruh orang lain dan membuat ide mereka dapat dipahami maupun bersifat persuasif bagi orang lain—sehingga visi tersebut harus memberikan hasil yang nyata.[5]

Psikologi Modern[sunting | sunting sumber]

Dalam ilmu psikologi modern, intuisi dapat mencakup kemampuan untuk mengetahui solusi yang valid untuk menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Misalnya, model pengenalan keputusan prima atau recognition primed decision (RPD) menjelaskan bagaimana orang dapat membuat keputusan yang relatif cepat tanpa harus membandingkan pilihan. Gary Klein menemukan bahwa di bawah tekanan waktu, risiko tinggi, dan perubahan parameter, para ahli menggunakan basis pengalaman mereka untuk mengidentifikasi situasi serupa dan secara intuitif memilih solusi yang layak. Dengan demikian, model RPD merupakan perpaduan antara intuisi dan analisis. Intuisi adalah proses pencocokan pola dengan cepat untuk mendapatkan solusi dan tindakan yang layak. Sementara, analisis adalah simulasi mental, yang secara sadar dan disengaja membentuk suatu tindakan.[6]

Intuisi sering dihubungkan dengan naluri. Namun, naluri berbeda dengan intuisi, keandalan naluri dianggap bergantung pada pengetahuan masa lalu dan kejadian di suatu area tertentu. Misalnya, seseorang yang memiliki lebih banyak pengalaman dengan anak-anak akan cenderung memiliki naluri yang lebih baik tentang apa yang harus mereka lakukan dalam situasi tertentu bersama anak-anak. Namun, ini bukan berarti seseorang yang memiliki banyak pengalaman akan selalu memberikan intuisi yang akurat.[7] Hal ini mengindikasikan perbedaan naluri dan intuisi.

Kemampuan intuitif diuji secara kuantitatif di Universitas Yale pada tahun 1970-an. Saat mempelajari komunikasi nonverbal, peneliti mencatat bahwa beberapa subjek mampu membaca isyarat wajah nonverbal sebelum diberikan informasi.[8] Berdasarkan penelitian serupa, mereka mencatat bahwa subjek yang sangat intuitif membuat keputusan dengan cepat tetapi tidak dapat mengidentifikasi alasan mereka. Adapun tingkat akurasi mereka, tidak berbeda dari subjek non-intuitif.[9]

Intuisi Menurut Ilmu Filsafat[sunting | sunting sumber]

Filsafat Timur[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar masyarakat di Wilayah Timur menganggap intuisi terkait dengan agama dan spiritualitas. Berbagai makna terkait intuisi ini muncul dari referensi teks berbagai agama.[10] Pada bagian ini akan di bahas mengenai filosofi intuisi menurut agama Hindu dan Budha.

Agama Hindu[sunting | sunting sumber]

Dalam agama Hindu, berbagai upaya telah dilakukan untuk menafsirkan Weda dan teks-teks esoteris lainnya.

Menurut Sri Aurobindo, intuisi berada di bawah alam pengetahuan dengan identitas; ia menggambarkan alam psikologis pada manusia (sering disebut dalam bahasa Sansekerta) dimana memiliki dua sifat yang mudah berubah. Sifat pertama adalah penanaman pengalaman psikologis yang dibangun melalui informasi sensorik (pikiran berupaya dalam menyadari dunia luar). Sifat kedua adalah tindakan yang dilakukan seseorang ketika ia berusaha untuk menyadari dirinya sendiri sehingga membuat manusia sadar akan keberadaan dan emosi yang ia miliki. Dia menyebut sifat kedua ini sebagai pengetahuan dengan identitas.[11]

Lebih lanjut, Aurobindo menemukan bahwa saat ini, biasanya, pikiran dipengaruhi oleh fungsi fisiologis tertentu dan akan terbentuk reaksi normal untuk dapat berinteraksi dengan dunia luar. Akibatnya, ketika kita mencari tahu tentang dunia luar, biasanya dapat mengetahui kebenaran tentang berbagai hal melalui pengamatan menggunakan alat indera. Namun, pengetahuan dengan identitas, yang saat ini terfokus pada keberadaan manusia, dapat diperluas lebih jauh ke luar diri kita sehingga menghasilkan pengetahuan intuitif.[12]

Aurobindo menemukan pengetahuan intuitif ini sifatnya lazim bagi manusia yang lebih tua (Weda). Kemudian pengetahuan intuitif ini diambil alih oleh akal yang mengatur persepsi, pikiran, dan tindakan kita. Adapun hal tersebut dihasilkan dari Weda ke filsafat metafisik hingga mengarah pada penelitian ilmiah. Dia menemukan bahwa proses ini, sebenarnya adalah lingkaran kemajuan, karena kemampuan yang lebih rendah didorong untuk mendapatkan cara bekerja yang lebih tinggi.[13]

Agama Buddha[sunting | sunting sumber]

Agama Buddha menempatkan intuisi sebagai kemampuan dalam pikiran pengetahuan langsung (immediate knowledge). Istilah intuisi ini berada di luar proses mental pemikiran sadar. Hal ini karena pikiran sadar tidak dapat mengakses informasi bawah sadar atau membuat informasi tersebut ke dalam bentuk yang dapat dikomunikasikan.[14]

Dalam Ajaran Buddha Zen berbagai teknik telah dikembangkan untuk membantu mempertajam kemampuan intuitif seseorang, seperti koans – penyelesaian yang mengarah ke keadaan pencerahan minor (satori). Di beberapa bagian Ajaran Zen, intuisi dianggap sebagai keadaan mental antara pikiran Universal dan pikiran individu seseorang, pikiran pembeda.[15][16]

Filsafat Barat[sunting | sunting sumber]

Di Barat, intuisi tidak muncul sebagai bidang studi yang terpisah, tetapi topik tersebut menonjol dalam karya-karya banyak filsuf.

Filsafat Kuno[sunting | sunting sumber]

Istilah intuisi pada awalnya diperkenalkan oleh Plato dalam bukunya berjudul Republic. Ia mencoba mendefinisikan intuisi sebagai kapasitas dasar akal manusia untuk memahami sifat sejati dari realitas. Dalam karyanya Meno dan Phaedo, ia menggambarkan intuisi sebagai pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, berada di "jiwa keabadian", dan seseorang menjadi sadar akan pengetahuan tersebut. Lebih lanjut, Plato memberikan contoh kebenaran matematika dan menyatakan bahwa mereka tidak sampai pada alasan. Dia berpendapat bahwa kebenaran ini didapatkan dari pengetahuan yang sudah ada dalam bentuk yang tidak aktif dan dapat diakses oleh kapasitas intuitif kita. Plato juga menyebutkan konsep ini sebagai anamnesis. Studi ini kemudian dilanjutkan oleh Neoplatonis.[17]

Buku Meditations on First Philosophy karya Descartes menjelaskan gagasan intuisi rasional berdasarkan pengamatan akan diyakini sebagai kebenaran apabila dianggap benar oleh seseorang.

Awal Filsafat Modern[sunting | sunting sumber]

Dalam bukunya yang berjudul Meditation on First Philosophy, Decrates menganggap intuisi (berasal dari kata kerja bahasa Latin, intueor, yakni untuk melihat) sebagai pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, di mana pengetahuan tersebut diperoleh melalui penalaran rasional atau menemukan kebenaran melalui kontemplasi. Definisi ini menyatakan bahwa "apapun yang saya rasa dengan jelas suatu kebenaran adalah benar"[18][19] dan hal ini sering disebut sebagai intuisi rasional.[20] Hal ini berkaitan dengan kesalahan potensial yang disebut lingkaran Cartesian. Intuisi dan deduksi adalah sumber pengetahuan unik yang mungkin dari akal manusia,[21], sedangkan yang dimaksudkan sebagai "urutan intuisi yang terhubung", [22]secara khusus berarti secara apriori sebagai sesuatu dan ide yang sudah jelas dan nyata, sebelum dihubungkan dengan ide-ide lain dalam demonstrasi logis.

Kemudian filsuf lainnya, seperti Hume, memiliki interpretasi intuisi yang lebih ambigu. Hume mengklaim intuisi adalah pengenalan hubungan (hubungan waktu, tempat, dan sebab-akibat) sementara ia menyatakan bahwa "kemiripan" (pengenalan hubungan) "akan mencolok mata" (yang tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut) tetapi menyatakan, "atau lebih tepatnya dalam pikiran"—menghubungkan intuisi dengan kekuatan pikiran, bertentangan dengan teori empirisme.[23][24]

Immanuel Kant[sunting | sunting sumber]

Gagasan Immanuel Kant tentang "intuisi" sangat berbeda dari gagasan Cartesian. Menurutnya, intuisi terdiri dari informasi sensorik dasar yang disediakan oleh kemampuan sensibilitas kognitif (setara dengan persepsi). Kant berpendapat bahwa pikiran kita mengeluarkan semua intuisi eksternal kita dalam bentuk ruang dan semua intuisi internal kita (memori, pikiran) dalam bentuk waktu.[25]

Filsafat Kontemporer[sunting | sunting sumber]

Intuisi biasanya digunakan secara terpisah dari teori lainnya tentang bagaimana intuisi memberikan bukti untuk bisa dinyatakan. Terdapat anggapan yang berbeda mengenai jenis intuisi keadaan mental, mulai dari penilaian spontan hingga penyajian khusus dari kebenaran yang diperlukan. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah filsuf, seperti George Bealer, telah mencoba untuk mempertahankan daya tarik intuisi melawan keraguan Quine tentang analisis konseptual. [26]Tantangan berbeda untuk menarik intuisi, baru-baru ini datang dari filsuf eksperimental yang berpendapat bahwa menarik intuisi harus diinformasikan oleh metode ilmu sosial.

Asumsi metafilosofis yang mengungkap bahwa filsafat harus bergantung pada intuisi, baru-baru ini ditentang oleh para filsuf eksperimental (misalnya, Stephen Stich).[27] Salah satu masalah utama yang dikemukakan oleh para filsuf eksperimental adalah bahwa intuisi berbeda, misalnya, dari satu budaya ke budaya lain, sehingga tampaknya cukup bermasalah untuk mengutipnya sebagai bukti klaim filosofis.[28] Timothy Williamson telah menanggapi keberatan semacam itu terhadap metodologi filosofis dengan menyatakan bahwa intuisi tidak memainkan peran khusus dalam praktik filsafat, dan menganggap bahwa skeptisisme tentang intuisi tidak dapat dipisahkan secara bermakna dari skeptisisme umum tentang penilaian. Pada pandangan ini, tidak ada perbedaan kualitatif antara metode filsafat dan akal sehat, sains atau matematika.[29] Filsuf lainnya seperti Ernest Sosa berusaha untuk mendukung intuisi dengan menyatakan bahwa keberatan terhadap intuisi hanya menyoroti ketidaksetujuan verbal.[30]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Epstein, Seymour (2010). "Demystifying Intuition: What It Is, What It Does, and How It Does It". An International Journal for The Advancement of Psychological Theory. 21 (4): 295–312. doi:https://doi.org/10.1080/1047840X.2010.523875 Periksa nilai |doi= (bantuan). 
  2. ^ Ghose, Aurobindo (1992). The synthesis of yoga. Silver Lake, Wis., USA: Lotus Light Publications. hlm. 479–480. ISBN 0-941524-65-5. OCLC 32395307. 
  3. ^ Walker Punner, Helen (1992). Sigmund Freud: His Life and Mind. Transaction Publisher. hlm. 197–200. ISBN 9781412834063. 
  4. ^ Jung, Carl (2016-10-05). Psychological Types. London: Routledge. hlm. xvii–xviii. doi:10.4324/9781315512334. ISBN 978-1-315-51233-4. 
  5. ^ a b Jung, Carl (2016-10-04). Psychological Types (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 340–346. doi:10.4324/9781315512334. ISBN 978-1-315-51232-7. 
  6. ^ Klein, Gary A. (2004). The power of intuition : how to use your gut feelings to make better decisions at work. Gary A. Klein (edisi ke-1st Currency pbk. ed). New York. ISBN 0-385-50289-3. OCLC 55608842. 
  7. ^ Sadler-Smith, Eugene (2008). Inside intuition. New York, NY: Routledge. ISBN 978-0-415-41452-4. OCLC 122701525. 
  8. ^ Giannini, A. James; Daood, Joanne; Giannini, Matthew C.; Boniface, Raymond; Rhodes, P. Gregg (1978-07-01). "Intellect Versus Intuition—A Dichotomy in the Reception of Nonverbal Communication". The Journal of General Psychology. 99 (1): 19–24. doi:10.1080/00221309.1978.9920890. ISSN 0022-1309. 
  9. ^ Giannini, A. James; Barringer, Mary Ellen (1984). "Lack of Relationship Between Handedness and Intuitive and Intellectual (Rationalistic) Modes of Information Processing". The Journal of General Psychology. 111 (1): 31–37. doi:https://doi.org/10.1080/00221309.1984.9921094 Periksa nilai |doi= (bantuan). 
  10. ^ Leaman, Oliver (2000). Eastern philosophy: key readings. London: Routledge. hlm. 5–40. ISBN 0-203-17017-2. OCLC 52170648. 
  11. ^ Ghose, Aurobindo (1990). The life divine (edisi ke-2nd American ed). Wilmot, WI, USA: Lotus Light Publications. hlm. 68. ISBN 0-941524-62-0. OCLC 30146272. 
  12. ^ Ghose, Aurobindo (1990). The life divine (edisi ke-2nd American ed). Wilmot, WI, USA: Lotus Light Publications. hlm. 69–71. ISBN 0-941524-62-0. OCLC 30146272. 
  13. ^ Ghose, Aurobindo (1990). The life divine (edisi ke-2nd American ed). Wilmot, WI, USA: Lotus Light Publications. hlm. 75. ISBN 0-941524-62-0. OCLC 30146272. 
  14. ^ Now, Buddhism (2013-08-07). "Buddha, by Ajahn Sumedho". Buddhism now (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-05. 
  15. ^ Humphreys, Christmas (1997). A popular Dictionary of Buddhism. Christmas Humphreys (edisi ke-Rev. ed). Richmond Surrey, England: Curzon Press. hlm. 97. ISBN 0-203-98616-4. OCLC 62338866. 
  16. ^ Conners, Shawn (2011). Zen Buddhism : the path to enlightenment : Buddhist verses Sutras and Pure Land Teachings. Barton Williams (edisi ke-Special edition). El Paso, TX. hlm. 81. ISBN 978-1-934255-97-1. OCLC 1110584145. 
  17. ^ Klein, Jacob (1965). A commentary on Plato's Meno. Bollingen Foundation Collection. Chapel Hill,. hlm. 103–127. ISBN 0-226-43959-3. OCLC 2394325. 
  18. ^ Newman, Lex (2019). Zalta, Edward N., ed. Descartes’ Epistemology (edisi ke-Spring 2019). Metaphysics Research Lab, Stanford University. 
  19. ^ "Cartesian Foundationalism". spot.colorado.edu. Diakses tanggal 2021-12-05. 
  20. ^ Mursell, James L. (1919-07). "The Function of Intuition in Descartes' Philosophy of Science". The Philosophical Review. 28 (4): 391–401. doi:10.2307/2178199. ISSN 0031-8108. 
  21. ^ Miles, Murray (2015). The Cambridge Descartes Lexicon. Lawrence Nolan. Cambridge. hlm. 183–186. ISBN 978-0-511-89469-5. OCLC 934382692. 
  22. ^ Cottingham, John (1992). The Cambridge companion to Descartes. John Cottingham (edisi ke-1st ed). Cambridge. hlm. 206. ISBN 0-521-36623-2. OCLC 24698917. 
  23. ^ Hume, David (2009). A treatise of human nature : being an attempt to introduce the experimental method of reasoning into moral subjects. [Waiheke Island]: Floating Press. hlm. 105. ISBN 978-1-77541-067-6. OCLC 589506983. 
  24. ^ Johnson, Oliver A. (1995). The mind of David Hume : a companion to book I of A treatise of human nature. Urbana and Chicago: University of Illinois Press. hlm. 123. ISBN 0-252-02156-8. OCLC 31243449. 
  25. ^ Kant, Immanuel (2015). The critique of pure reason. New York: Philosophical Library/Open Road. hlm. 35. ISBN 978-1-5040-0462-6. OCLC 919965789. 
  26. ^ Bealer, George (1998). DePaul, Michael; Ramsey, William, ed. Intuition and the Autonomy of Philosophy. Rowman & Littlefield. hlm. 201–240. 
  27. ^ Mallon, Ron; Machery, Edouard; Nichols, Shaun; Stich, Stephen (2009-09). "Against Arguments from Reference". Philosophy and Phenomenological Research (dalam bahasa Inggris). 79 (2): 332–356. doi:10.1111/j.1933-1592.2009.00281.x. 
  28. ^ Stich, Stephen P. (2012). Collected papers. Volume 2, Knowledge, rationality, and morality, 1978-2010. New York: Oxford University Press. hlm. 159–190. ISBN 978-0-19-987585-6. OCLC 796937480. 
  29. ^ Williamson, Timothy (2008-04-30). The Philosophy of Philosophy (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-470-69591-3. 
  30. ^ Sosa, Ernest (2009-03-20). Murphy, Dominic; Bishop, Michael, ed. A Defense of the Use of Intuitions in Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford, UK: Wiley-Blackwell. hlm. 101–112. doi:10.1002/9781444308709.ch6. ISBN 978-1-4443-0870-9.