Modal manusia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Modal manusia adalah segala sifat yang tersedia di dalam manusia, mencakup kebiasaan, pengetahuan, atribut sosial, dan kepribadian (termasuk kreativitas) yang diwujudkan dalam kemampuan melakukan kerja sehingga menghasilkan nilai ekonomi.[1] Modal manusia adalah unik dan berbeda dari modal lainnya, dan diperlukan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan, berkembang dan tetap inovatif. Perusahaan dapat berinvestasi dalam sumber daya manusia, misalnya, melalui pendidikan dan pelatihan, yang memungkinkan peningkatan kualitas dan produksi.[2] Teori modal manusia sangat erat kaitannya dengan studi manajemen sumber daya manusia, seperti yang ditemukan dalam praktik administrasi bisnis dan ekonomi makro.

Analisis[sunting | sunting sumber]

Modal manusia dapat dianalisis dengan memberikan asumsi bahwa pengembangan pribadi manusia khususnya individu dapat memperhatikan manfaat dan biaya. Analisis modal manusia memperhatikan nilai manfaat dan nilai biaya. Keuntungan dalam analisis modal manusia juga bersifat moneter non-budaya. Analisis manfaat pada modal manusia meliputi peningkatan pendapatan dan pekerjaan. Sedangkan analisis biaya meliputi perhitungan nilai biaya terdahulu dari waktu yang dihabiskan untuk investasi. Analisis investasi modal manusia dapat meningkatkan penghasilan melalui peningkatan pekerjaan. Analisis modal manusia umumnya dilakukan dalam bidang pendidikan, pelatihan dan perawatan medis untuk keperluan kesejahteraan ekonomi.[3]

Pengembangan[sunting | sunting sumber]

Modal manusia dapat dikembangkan melalui turut campur pemerintah di dalam bidang pendidikan, kesehatan, agama, dan budaya. Pihak yang terlibat di dalamnya meliputi pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, maupun pekerja sosial. Pihak-pihak ini bertugas mendampingi pelaksanaan pengembangan modal manusia secara terus-menerus dan berkelanjutan.[4] Pertumbuhan ekonomi melalui modal manusia dapat dilakukan dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi, Aspek yang dikembangkan meliputi pengetahuan, informasi dan pendidikan sumber daya manusia. Pendidikan sumber daya manusia diberikan melalui perbaikan dalam pendidikan jarak jauh menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan pengembangan pengetahuan atau infromasi dilakukan dengan penyediaan jaringan internet untuk penyebaran pengetahuan secara mudah dan dapat diakses oleh siapapun.[5]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Pertumbuhan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pertumbuhan ekonomi dapat tercapai ketika modal manusia dan modal alam diselaraskan. Kedua jenis modal ini akan mendukung tercapainya modal fisik dengan meningkatkan pengembalian dari pengeluarannya. Peningkatan pengembalian oleh modal fisik terhadap modal manusia dan modal alam akan mendukung pembangunan ekonomi. Peningkatannya akan semakin pesat ketika pasar modal juga mendukung keberadan modal manusia dan modal alam. Modal manusia dan modal alam juga akan memberikan kemajuan di bidang teknologi. Faktor pembangunan ekonomi juga akan meningkat seiring pertumbuhan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Claudia Goldin, Department of Economics Harvard University and National Bureau of Economic Research. "Human Capital" (PDF). 
  2. ^ Kenton, Will. "Human Capital". Investopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-03-28. 
  3. ^ Prasojo, L.D., Mukminin, A., dan Mahmudah, F.N. (2017). Manajemen Strategi Human Capital dalam Pendidikan (PDF). Yogyakarta: UNY Press. hlm. 5. ISBN 978-602-5566-02-8. 
  4. ^ Nanga, dkk. (2018). Analisis Wilayah dengan Kemiskinan Tinggi (PDF). Jakarta Pusat: Kedeputian Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Kementerian PPN/Bappenas. hlm. iii. ISBN 978-602-52841-1-3. 
  5. ^ Meiningsih, dkk. (2013). Komunikasi dan Informatika Indonesia: Buku Putih 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika. hlm. 4. ISBN 978-602-19425-3-6. 
  6. ^ Dinar, M., dan M. Hasan (2018). Pengantar Ekonomi: Teori dan Aplikasi. Makassar: CV. Nur Lina. hlm. 16–17. ISBN 978-602-51907-3-5. 

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Géza Ankerl: L'épanouissement de l'homme dans la perspective de la politique economique. Sirey, Paris 1966.
  • Gary S. Becker (1993). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education (edisi ke-3rd). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-04120-9. 
  • Ceridian UK Ltd (2007). "Human Capital White Paper" (PDF). Diakses tanggal 2007-02-27. 
  • Samuel Bowles & Herbert Gintis (1975). "The Problem with Human Capital Theory – A Marxian Critique," American Economic Review, 65(2), pp. 74–82,
  • Crook, T. R., Todd, S. Y., Combs, J. G., Woehr, D. J., & Ketchen, D. J. 2011. Does human capital matter? A meta-analysis of the relationship between human capital and firm performance. Journal of Applied Psychology, 96(3): 443–456.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]