Daftar kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta menurut IPM tahun 2016

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Sebuah perhitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menggunakan metode baru dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DI Yogyakarta dari tahun 2015 hingga sekarang. Berikut ini akan disajikan penjelasan, sejarah, dan metodologi perhitungan IPM, serta daftar kabupaten dan kota Daerah Istimewa Yogyakarta menurut IPM tahun 2016.

Penjelasan[sunting | sunting sumber]

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.[1]

Dimensi dasar IPM[2][sunting | sunting sumber]

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki tiga dimensi yang digunakan sebagai dasar perhitungannya:

  1. Umur panjang dan hidup sehat yang diukur dengan angka harapan hidup saat kelahiran
  2. Pengetahuan yang dihitung dari angka harapan sekolah dan angka rata-rata lama sekolah
  3. Standar hidup layak yang dihitung dari Produk Domestik Bruto/PDB (keseimbangan kemampuan berbelanja) per kapita

Manfaat IPM[2][sunting | sunting sumber]

Menurut Badan Pusat Statisitik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memiliki beberapa manfaat:

  • IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk)
  • IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara
  • Bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU)

Cara Menghitung Indeks Komponen[2][sunting | sunting sumber]

Setiap komponen IPM distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Rumus yang digunakan sebagai berikut.

Dimensi Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Keterangan:

I : indeks komponen

AHH : angka harapan hidup

AHHmin : angka harapan hidup terendah

AHHmaks: angka harapan hidup tertinggi

Dimensi Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Keterangan:

I : indeks komponen

HLS : harapan lama sekolah

HLSmin : harapan lama sekolah terendah

HLSmaks: harapan lama sekolah tertinggi

Keterangan:

I : indeks komponen

RLS : rata-rata lama sekolah

RLSmin: rata-rata lama sekolah terendah

RLSmaks: rata-rata lama sekolah tertinggi

I : indeks komponen

HLS: harapan lama sekolah

RLS: rata-rata lama sekolah

Dimensi Pengeluaran[sunting | sunting sumber]

Keterangan:

I : indeks komponen

In : indeks komponen

pengeluaranmin : pengeluaran terendah

pengeluaranmaks: pengeluaran tertinggi

Cara Menghitung Indeks Pembangunan Manusia[sunting | sunting sumber]

Keterangan:

IPM: indeks pembangunan manusia

I : indeks komponen

Data[3][sunting | sunting sumber]

Data di bawah ini merupakan data perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) DI Yogyakarta.

Peringkat Lambang Kabupaten dan Kota IPM Perubahan Perbandingan dengan IPM Laporan UNDP

Tahun 2017 untuk Perkiraan IPM Tahun 2016

Pembangunan manusia sangat tinggi
1 Steady Logo Kota Yogyakarta.png Kota Yogyakarta 85,32 (0,853) 0,76 (0,007) Belum dipublikasikan
2 Steady Sleman.png Kabupaten Sleman 82,15 (0,821) 0,95 (0,009) Belum dipublikasikan
Pembangunan manusia tinggi
3 Steady Bantul.png Kabupaten Bantul 78,42 (0,784) 0,43 (0,004) Belum dipublikasikan
-  Daerah Istimewa Yogyakarta 78,38 (0,783) 0,79 (0,007) Belum dipublikasikan
4 Steady Kulon Progo.png Kabupaten Kulon Progo 72,38 (0,723) 0,86 (0,008) Belum dipublikasikan
-  Indonesia 70,18 (0,701)[4] 0,63 (0,006) Belum dipublikasikan
Pembangunan manusia sedang
5 Steady Kabupaten Gunung Kidul.png Kabupaten Gunungkidul 67,82 (0,678) 0,41 (0,004) Belum dipublikasikan

Kesimpulan[sunting | sunting sumber]

  1. Kabupaten atau kota dengan IPM tertinggi adalah Kota Yogyakarta dengan IPM sebesar 85,32.
  2. Kabupaten atau kota IPM terendah adalah Kabupaten Gunungkidul dengan IPM sebesar 59,38.
  3. Ketimpangan antara Kabupaten atau kota dengan IPM tertinggi dan provinsi dengan IPM terendah adalah 25,94.
  4. Performa terbaik diraih oleh Kabupaten Sleman dengan peningkatan IPM sebesar 0,95.
  5. Performa terburuk diraih oleh Kabupaten Gunungkidul dengan peningkatan IPM sebesar 0,41.
  6. Menurut BPS DI Yogyakarta, IPM Daerah Istimewa Yogyakarta adalah 78,38 (0,783) dan masih menempati status tinggi.

Referensi[sunting | sunting sumber]