Batalyon Infanteri 744

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Yonif 744/Satya Yudha Bhakti merupakan pasukan tempur milik Kodam IX/Udayana semasa Timor Timur masih menjadi bagian dari NKRI. Berdiri 24 Januari 1978, batalyon ini dulu bermarkas di Lospalos, Timor Timur sekarang Timor-Leste.

Salah satu prestasi batalyon ini adalah turut serta dalam penyergapan yang menewaskan Presiden Fretilin, Nicolao Lobato pada Januari 1979. Penyergapan dilakukan bersama dengan pasukan Kopasus di bawah pimpinan Prabowo Subianto.

Setelah Timtim lepas dari NKRI, Batalyon Infanteri yang selalu mencatat prestasi gemilang dalam operasi penumpasan kelompok Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Timtim tetap dipertahankan eksistensinya oleh Pangdam Udayana (waktu itu) Mayjen TNI Kiki Syahnarki.

Meski Korem 164/Wiradharma Timtim ikut dilikuidasi seiring dengan lepasnya Timtim dari NKRI, namun Yonif 744/Satya Yudha Bhakti tetap dipertahankan dan akhirnya menjadi bagian dari pasukan organik Korem 161/Wirasakti Kupang.

Penyergapan Nikolau Lobato[sunting | sunting sumber]

Yonif 744 dipimpin oleh Mayor Yunus Yosfiah telah hampir 2 minggu melakukan pengejaran terhadap pasukan Fretilin di Maubisse Kecil.Pasukan yang beroperasi di sektor ini antara lain Yonif 744, Yonif 700, Yonif 401 Raiders dan tim Nanggala-28.

Tanggal 30 Desember 1978 pukul 05.00 Komandan tim Nanggala-28, Kapten Inf Prabowo melaporkan kepada Danyon 744, Mayor Yunus Yosfiah tentang adanya pergerakan pasukan Fretilin ke arah selatan.Hari itu juga Komandan Sektor Tengah, Kol Inf Sahala Raja Guguk segera memerintahkan pengepungan terhadap sasaran.Formasi pasukan TNI waktu itu :

  1. Tim Nanggala-28 di sisi utara
  2. Yonif 700 dan Yonif 401 di sisi timur
  3. Yonif 744 sebagai ujung tombak serangan

Pada hari itu Peleton I Kompi B Yonif 744 yang dipimpin Sersan Maudobe terlibat kontak senjata yang mengakibatkan sejumlah musuh tewas.Di antara mayat yang berhasil ditembak Sersan Maudobe terdapat mayat Nikolau Lobato.Mayat Nikolau Lobato berhasil dikenali oleh Prajurit Dua Gutteres (tamtama pembawa radio).Dalam pengejaran ini dilibatkan pula satuan helikopter yang mengangkut secara mobil pasukan.