Kabupaten Natuna

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Natuna)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Natuna
كابوڤاتين ناتونا
Lambang Kabupaten Natuna
Lambang Kabupaten Natuna
كابوڤاتين ناتونا


Moto: Laut Sakti Rantau Bertuah



Peta Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau
Peta lokasi Kabupaten Natuna
كابوڤاتين ناتونا di Kepulauan Riau
Koordinat:
Provinsi Kepulauan Riau
Dasar hukum Undang-Undang No. 53 Tahun 1999
Ibu kota Ranai
Pemerintahan
-Bupati Drs. H. Abdul Hamid Rizal, M.Si
APBD
-DAU Rp. 177.949.262.000.-(2013)[1]
Luas 2.009,85 km²
Populasi
-Total 76.192 jiwa 2017[2]
-Kepadatan 38,08 jiwa/km² (2017)[2]
Demografi
-Agama Islam 96,82%
Kristen Protestan 1,30%
Budha 1,32%
Katolik 0,20%
Hindu 0,03%
Konghucu 0,32%[2]
-Kode area telepon 0773
Pembagian administratif
-Kecamatan 15
-Kelurahan 6
-Desa 70
Simbol khas daerah
Situs web http://www.natunakab.go.id/

Kabupaten Natuna, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Natuna merupakan kepulauan paling utara di selat Karimata. Di sebelah utara, Natuna berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, di selatan berbatasan dengan Sumatra Selatan dan Jambi, di bagian barat dengan Singapura, Malaysia, Riau dan di bagian timur dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat. Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Kabupaten ini terkenal dengan penghasil minyak dan gas. Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 1. 400.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680.000. barel. Hewan khas Natuna adalah kekah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kabupaten Kepulauan Riau, karena sebelum berdiri sendiri sebagai daerah otonomi, Kabupaten Natuna merupakan bahagian dan Wilayah Kepulauan Riau. Kabupaten Natuna dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 12 Oktober 1999, dengan dilantiknya Bupati Natuna Drs. H. Andi Rivai Siregar oleh Menteri Dalam Negeri ad interm Jenderal TNI Faisal Tanjung di Jakarta.

Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia, Provinsi Sumatra Tengah tanggal 18 Mei 1956 menggabungkan diri ke dalam Wilayah Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status Daerah Otonomi Tingkat II yang dikepalai Bupati sebagai kepala daerah yang membawahi 4 kewedanaan sebagai berikut:

Kewedanaan Pulau Tujuh yang membawahi Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur beserta kewedanaan laiannya dihapus berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau tanggal 9 Agustus 1964 No. UP/247/5/1965. Berdasarkan ketetapan tersebut, terhitung 1 Januari 1966 semua daerah administratif kewedanaan dalam Kabupaten Kepulauan Riau dihapus.

Kabupaten Natuna dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 dari hasil pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau yang terdiri dari 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai dan Serasan dan satu Kecamatan Pembantu Tebang Ladan.

Seiring dengan kewenangan otonomi daerah, Kabupaten Natuna kemudian melakukan pemekaran daerah kecamatan yang hingga tahun 2004 menjadi 10 kecamatan dengan penambahan, Kecamatan Pal Matak, Subi, Bunguran Utara dan Pulau Laut dengan jumlah kelurahan/desa sebanyak 53.

Hingga tahun 2007 ini Kabupaten Natuna telah memiliki 16 Kecamatan. 6 Kecamatan pemekaran baru itu diantaranya adalah Kecamatan Pulau Tiga, Bunguran Timur Laut, Bunguran Tengah, Siantan Selatan, Siantan Timur dan Jemaja Timur dengan total jumlah kelurahan/desa sebanyak 75.

Pada Tahun 2008 kabupaten Natuna melakukan pemekaran dengan dibentuk Kabupaten Kepulauan Anambas, sehingga kecamatan menjadi 12 Kecamatan. Lalu hingga tahun 2015 menjadi 70 Desa dan 6 Kelurahan. Dan akan ada 3 Kecamatan pemekaran sehinggan menjadi 16 Kecamatan

Geografis[sunting | sunting sumber]

Topografi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan kondisi fisiknya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Ketinggian wilayah antara kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 sampai dengan 959 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 2 sampai 5 meter. Pada umumnya struktur tanah terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bahan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus.

Iklim dan Cuaca[sunting | sunting sumber]

Peta Natuna

Iklim di Kabupaten Natuna adalah tropis basah dengan suhu rata-rata 26 °C dan sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin. Kelembaban udaranya berkisar antara 60% dan 85%. Sedangkan, curah hujannya rata-rata 2.530 mm dengan jumlah hari hujan 110 pertahun. Bulan-bulan yang basah terjadi pada bulan Oktober-Desember dengan kecepatan angin rata-rata 276 km perhari [sic]. Sedangkan, penyinaran mataharinya rata-rata 53%. Cuacanya sering tidak menentu. Hujan disertai angin kencang, badai yang bergemuruh, dan gelombang yang mencapai ketinggian lebih dari tiga meter acapkali terjadi secara tiba-tiba.

Berdasarkan arah angin, masyarakat setempat mengenal adanya 4 musim, yakni: Utara, Timur, Selatan, dan Barat. Musim Utara ditandai oleh angin yang berhembus dari arah timur. Musim ini berjalan selama 4 bulan (November—Februari). Pada musim ini angin berhembus sangat kencang (kecepatannya mencapai 15–30 knots), sehingga laut bergelombang sepanjang siang dan malam dengan ketinggian 1--3 meter. Masyarakat setempat menggambarkan laut yang penuh dengan gelombang itu bagaikan “wajah limau purut busuk”. Angin yang bertiup pada musim ini tampaknya tidak hanya membuat laut menjadi ganas, tetapi juga membuat rusaknya pepohonan. Batang pohon kelapa menjadi condong ke arah selatan. Kemudian, dedaunan menjadi berbelah-belah. Malahan, daun pohon karet berguguran, sehingga tampaknya menjadi gersang. Musim yang cukup menakutkan ini oleh mereka disebut juga sebagai “Musim kelambu sebelah tersingkap”, karena musim tersebut disertai dengan hujan sepanjang siang dan malam, sehingga mereka lebih memilih berbaring dengan kelambu yang tersingkap sebelah. Oleh karena itu, Ibrahim (1997) mengatakan bahwa pada musim utara warga masyarakat Natuna betul-betul mengalami kesulitan untuk melakukan pekerjaannya. Untuk itu, jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapinya, seperti: kayu bakar, beras, lauk-pauk (ikan asin), dan keperluan dapur lainnya.

Musim Timur ditandai oleh angin yang berhembus dari arah timur. Musim ini juga berjalan selama 4 bulan (Maret—Juni). Kecepatan anginnya rata-rata hanya 12 knots. Hujan yang lebat jarang terjadi. Adakalanya hujan disertai dengan panas. Matahari agak bebas menyinari laut dan daratan, sehingga panasnya cukup menyengat. Panas yang demikian, oleh masyarakat setempat disebut sebagai ngek-ngek atau lak-lak (rasanya tidak menentu). Namun demikian, laut masih tampak bergelombang sehingga agak sulit untuk mendapatkan ikan.

Musim Selatan ditandai oleh angin yang berhembus dari arah selatan. Musim yang berlangsung selama 2 bulan (Juli—Agustus) ini kecepatan anginnya rata-rata 8--20 knots. Pada musim ini matahari dapat bersinar bebas sehingga panasnya sangat menyengat. Keadaan yang demikian oleh masyarakat setempat diibaratkan sebagai “uap neraka”. Keadaan laut masih tetap bergelombang, bahkan adakalanya dapat mencapai lebih dari 3 meter.

Musim Barat yang ditandai oleh angin yang berhembus dari arah barat juga berlangsung selama 2 bulan (September—Oktober). Ciri dari musim ini adalah antara panas dan hujan saling berganti. Oleh karena itu, permukaan laut adakalanya bagaikan “air dalam talam” (tenang dan teduh), tetapi adakalanya menakutkan karena gelombangnya dapat mencapai 3 meter lebih. Celakanya, gelombang tersebut sering terjadi secara tiba-tiba sehingga tidak memberi kesempatan bagi para nelayan untuk menepikan perahunya.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati Mulai Menjabat Akhir Menjabat Wakil Bupati Keterangan
* 100px Drs. H.
Andi Rivai Siregar
12 Oktober 1999 19 April 2001 tidak ada Penjabat Bupati.[3]
1 100px Drs. H.
Abdul Hamid Rizal
M.Si
19 April 2001 19 April 2006 100px Drs. H.
Izhar
Pemenang Pilkada Natuna 2001.[4]
2 100px Drs. H.
Daeng Rusnadi
M.Si.
19 April 2006 21 Desember 2009 100px Drs. H.
Raja Amirullah
Apt.
Pemenang Pilkada Natuna 2005.[5]
* 100px Drs. H.
Raja Amirullah
Apt.
21 Desember 2009 11 Juni 2010 Pelaksana Tugas
3 11 Juni 2010 4 Mei 2011 tidak ada Melanjutkan sisa masa jabatan periode 2006-2011.[6]
4 100px Drs. H.
Ilyas Sabli
M.Si
4 Mei 2011 4 Mei 2016 100px Imalko
S.Sos.
Pemenang Pilkada 2011.[7][8]
5 100px Drs. H.
Abdul Hamid Rizal
M.Si
4 Mei 2016 petahana 100px Dra. Hj.
Ngesti Yuni Suprapti
M.A.
Pemenang Pilkada Natuna 2015.[9][10][11]


Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku[sunting | sunting sumber]

Komposisi etnis Kabupaten Natuna pada tahun 2000
Etnis Jumlah (%)
Melayu 85,27
Jawa 6,34
Tionghoa 2,52
Minangkabau 0,70
Batak 0,50
Bugis 0,38
Banjar 0,14
Lain-lain 4,15
Sumber: Sensus Penduduk Tahun 2000[12]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kabupaten Natuna pada tahun 2017 berjumlah 76.192 jiwa, yang terdiri dari 39.180 jiwa penduduk laki-laki dan 37.012 jiwa penduduk perempuan. Kepadatan penduduk tahun 2017 adalah 38,08 jiwa/km². Bunguran Timur adalah kecamatan terbanyak penduduknya, sedangkan yang paling sedikit adalah Suak Midai. Kecamatan terpadat penduduknya adalah Midai dan yang paling jarang penduduknya adalah Bunguran Utara.[2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah jumlah institusi pendidikan yang ada di Kabupaten Natuna:[2]

Jenis Institusi Jumlah
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Taman Kanak-kanak 79
Pendidikan Dasar (Dikdas)
Sekolah Dasar (SD) 80
Madrasah Ibtidaiyah (MI) 2
Sekolah Menengah Pertama (SMP) 21
Madrasah Tsanawiyah (MTs) 14
Pendidikan Menengah (Dikmen)
Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/K) 21
Madrasah Aliyah 5
Pendidikan Tinggi (Dikti)
Sekolah Tinggi 1

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Natuna memiliki 1 Rumah Sakit, 1 Rumah Bersalin, 14 Puskesmas, 118 posyandu, 4 klinik/balai kesehatan, dan 13 polindes. Kecamatan Bunguran Timur sebagai kecamatan dimana ibu kota kabupaten berada menjadi kecamatan dengan fasilitas kesehatan terbanyak dan terlengkap.[2]

Agama[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2017, penduduk Kabupaten Natuna berdasarkan agamanya terdiri dari Islam 96,82%, Kristen Protestan 1,30%, Buddha 1,32%, Katolik 0,20%, Konghucu 0,30% dan Hindu 0,03%. Terdapat 148 masjid, 133 mushola, 10 gereja protestan, 2 gereja katolik, dan 4 vihara di Natuna.[2]

Agama di Kabupaten Natuna
Agama Persen
Islam
  
96.82%
Kristen Protestan
  
1.30%
Buddha
  
1.32%
Katolik
  
0.20%
Konghucu
  
0.30%
Hindu
  
0.03%

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Selain letaknya yang strategis kawasan Pulau Natuna dan sekitarnya pada hakikatnya dikaruniai serangkaian potensi sumber daya alam yang belum dikelola secara memadai atau ada yang belum sama sekali, yaitu:

  • Sumber daya perikanan laut yang mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun dengan total pemanfaatan hanya 36%, yang hanya sekitar 4,3% oleh Kabupaten Natuna.
  • Pertanian & perkebunan seperti ubi-ubian, kelapa, karet, sawit dan cengkih.
  • Objek wisata: bahari (pantai, pulau selam), gunung, air terjun, gua dan budidaya.
  • Ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna (di ZEEI) dengan total cadangan 222 trillion cubic feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT merupakan salah satu sumber terbesar di Asia.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Persawahan[sunting | sunting sumber]

Luas sawah di Kabupaten Natuna adalah 144,75 Ha yang terdiri dari 10 Ha sawah irigasi dan 134,75 Ha sawah nonirigasi. Sawah irigasi hanya terletak di Kecamatan Bunguran Tengah. Sawah nonirigasi terletak di Kecamatan Bunguran Batubi, Bunguran Tengah, dan Serasan Timur.

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Selain sawah, lahan di Kabupaten Natuna digunakan untuk tegal/kebun 2.460 Ha dan ladang/huma 4.140 Ha. Terdapat seluas 14.374 Ha lahan yang belum difungsikan di Kabupaten Natuna. Kecamatan Bunguran Utara memiliki lahan tegal/kebun terluas mencakup 57,97% lahan yang ada dan begitu pula dengan lahan yang belum digunakan mencakup 69,57% lahan yang ada. Ladang/huma terluas terletak di Kecamatan Bunguran Batubi mencakup 57,70% lahan yang ada.[2]

Komoditas[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah statistik lahan panen dan produksi komoditas di Kabupaten Natuna pada tahun 2017:[2]

Nama Komoditas Luas Lahan Panen
(Hektare)
Jumlah Produksi
(ton)
Komoditas Pertanian
Padi 134,75 123,00
Jagung 65,75 60,50
Kedelai 3,10 0,10
Ubi Kayu 106,90 1.502,00
Ubi Jalar 51,05 415,68
Kacang Tanah 2,26 9,40
Komoditas Sayur-Mayur dan Buah-buahan
Kangkung 59,57 648,80
Cabai Rawit 47,97 724,90
Ketimun 37,66 701,80
Kacang Panjang 41,35 558,00
Bayam 40,74 647,00
Semangka 39,60 1.395,50
Terong 26,29 321,52
Komoditas Perkebunan
Karet 4.258,00 1.381,00
Kelapa 11.644,00 7.154,00
Cengkeh 12.103,00 1.510,00
Sagu 272,00 14,00

Peternakan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2017, terdapat 9.815 ekor sapi potong, 1.470 ekor kambing, 72.050 ekor ayam kampung, 581.695 ekor ayam pedaging, dan 2.975 itik. Kecamatan Bunguran Timur menjadi kecamatan dengan populasi sapi, ayam pedaging, dan itik terbanyak dimana produksi daging sapinya mencakup 70,79% dari seluruhnya di Kabupaten Natuna. Pada tahun 2017, produksi daging sapi sebesar 76.896 kg, daging kambing sebesar 90 kg, dan telur ayam sebesar 7.741 kg.[2]

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Sektor perikanan Kabupaten Natuna tercatat memiliki produksi sebesar 88.888,27 ton pada tahun 2017. Sumbangan terbesar dari sektor perikanan laut yang mencakup 96,91% dari keseluruhan produksi. Pada tahun 2017, produksi perikanan laut sebesar 86.141,74 ton, budidaya laut sebesar 719,27 ton, budidaya air tawar sebesar 165,79 ton, dan budidaya rumput laut sebesar 1.861,47 ton. Kecamatan Bunguran Barat merupakan penyumbang produksi perikanan laut dan budidaya laut terbesar. Sekitar 32,93% perikanan laut berasal dari Kecamatan Bunguran Barat. Sementara itu, 45% budidaya air tawar dihasilkan oleh Kecamatan Bunguran Timur, dan 42,17% budidaya rumput laut dihasilkan oleh Kecamatan Pulau Tiga.[2]

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2017, terdapat 1.994 UKM di Kabupaten Natuna. Jumlah tersebut sebagian besar bergerak dibidang perdagangan (1.383 unit), industri rumah tangga (274 unit), dan jasa (171 unit). Hanya 27 unit yang bergerak dibidang perikanan dan 44 unit bergerak dibidang pertanian. Jumlah pedagang di Kabupaten Natuna sebanyak 707 orang dimana 66 diantaranya merupakan pedagang besar. Kabupaten Natuna memiliki 59 koperasi dengan total anggota 4.124 orang di tahun 2017.[2]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Sebagai kabupaten kepulauan, Natuna memiliki sekitar 130 objek wisata. Sebagian besar merupakan objek wisata bahari dan situs bersejarah. Natuna memiliki 44 hotel/penginapan dengan total 514 kamar. Selain itu, terdapat 31 kedai kopi dan 34 rumah makan. Berikut adalah statistik objek wisata dan kunjungan wisatawan selama tahun 2017 di Kabupaten Natuna:[2]

Jenis Objek Wisata Jumlah Objek Wisata Jumlah Kunjungan
Wisata Bahari 65 47.736
Air Terjun 4 9.828
Wisata Gunung 22 11.088
Situs Bersejarah 39 545

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m BPS Kabupaten Natuna, Agustus 2018, Kabupaten Natuna Dalam Angka 2018, dikunjungi pada 21 Februari 2019.
  3. ^ Tulisan Perantau, 29 Desember 201, Satrie Paduke nye Natuna., dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  4. ^ Liputan 6, 20 April 2001, Meski Kontroversi, Bupati Natuna Tetap Dilantik, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  5. ^ Terkini News, 26 Desember 2009, Daeng Rusnadi Diberhentikan Sementara, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  6. ^ Haluan Kepri, 11 Juni 2010, Raja Resmi Bupati Natuna, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  7. ^ Antara Kepri, 4 Mei 2011, Ilyas Sabli-Imalko Ismail Dilantik Jadi Bupati Natuna, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  8. ^ Tribun Batam, 2 Mei 2011, Ilyas Sabli Dilantik Jadi Bupati Natuna pada 4 Mei di Masjid Agung Ranai, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  9. ^ Batam News, 4 Mei 2016, Hamid Rizal dan Ngesti Akhirnya Dilantik Jadi Bupati dan Wakil Bupati Natuna, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  10. ^ Batam Raya, 4 Mei 2016, Pelaksanaan Pelantikan Bupati Natuna Periode 2016 – 2021 di Aula Gedung Kantor Gubernur Berjalan Lancar, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  11. ^ Independen News, 4 Mei 2016, Hari ini Nurdin Basirun lantik Bupati Natuna, dikunjungi pada 22 Februari 2019.
  12. ^ Leo Suryadinata, Evi Nurvidya Arifin, Aris Anan; Indonesia's population: ethnicity and religion in a changing political landscape, 2003, p.146

Pranala luar[sunting | sunting sumber]