Ayam kampung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Gallus domesticus
Freerangechickens.jpg
Ayam kampung (Gallus domesticus) sedang diberi makan di tanah terbuka
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Galliformes
Famili: Phasianidae
Genus: Gallus
Spesies: G. gallus
Subspesies: G. g. domesticus
Nama trinomial
Gallus gallus domesticus

Ayam kampung adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial tersebut.[1]

Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging.[1] Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya.[1]

Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus.[2] Aktivitas peternakan ayam kampung telah ada sejak zaman dahulu.[1]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Ayam kampung merupakan salah satu jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara.[3] Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing.[3]

Istilah ayam kampung semula adalah kebalikan dari istilah ayam ras, dan sebutan ini mengacu pada ayam yang ditemukan berkeliaran bebas di sekitar perumahan.[3] Namun, semenjak dilakukan program pengembangan, pemurnian, dan pemuliaan beberapa ayam lokal unggul, saat ini dikenal pula beberapa ras unggul ayam kampung.[3] Untuk membedakannya kini dikenal istilah ayam buras (singkatan dari "ayam bukan ras") bagi ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara dengan perbaikan teknik budidaya (tidak sekadar diumbar dan dibiarkan mencari makan sendiri).[3] Peternakan ayam buras mempunyai peranan yang cukup besar dalam mendukung ekonomi masyarakat pedesaan karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pemeliharaannya relatif lebih mudah.[3]

Sejarah perkembangan[sunting | sunting sumber]

Sejarah ayam kampung dimulai dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah (Gallus gallus).[4] Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai.[5] Pada saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan sebagai upeti dari masyarakat setempat.[5] Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung tetap terjaga kelestariannya.[5] Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan selera masyarakat setempat.[5] Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air.[5] Sampai sekarang sistem upeti dalam arti perpindahan barang (ayam kampung) dari desa ke kota masih tetap ada.[5] Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis.[5]

Varietas[sunting | sunting sumber]

Ayam kampung mempunyai banyak varietas dan spesies. Beberapa di antaranya, yaitu:[6]

Ayam Kedu[sunting | sunting sumber]

Ayam kedu merupakan ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Magelang dan Temanggung atau eks. Kersidenan Kedu (Jawa Tengah).[6] Berdasarkan penampilan warnanya, ayam kedu dapat dibedakan menjadi empat jenis sebagai berikut.[6]

Ayam Kedu Hitam[sunting | sunting sumber]

Ayam kedu hitam mempunyai penampilan fisik hampir hitam semua, tetapi kalau diamati secara teliti warnanya tidak terlalu hitam.[6] Penampilan kulit pantat dan jengger masih mengandung warna kemerah-merahan.[6] Bobot ayam kedu hitam jantan dewasa antara 2 kg–2,5 kg, sedangkan yang betinanya hanya 1,5 kg.[6] Ayam ini sering disamakan dengan ayam cemani karena tampak serba hitam.[6]

Ayam Kedu Cemani[sunting | sunting sumber]

Ayam kedu cemani memiliki penampilan sosok tubuh hitam mulus, termasuk paruh, kuku, telapak kaki, lidah, telak (langit-langit mulut), bahkan daging dan tulangnya juga hitam.[6] Sosok tubuh ayam kedu jantan dewasa tinggi besar dan bobotnya antara 3 kg-3,5 kg, sedangkan yang betina dewasa berbobot antara 2 kg-2,5 kg.[6]

Ayam Kedu Putih[sunting | sunting sumber]

Ayam kedu putih ditandai dengan warna bulu putih mulus, jengger dan kulit mukanya berwarna merah, sedangkan kakinya berwarna putih atau kekuning-kuningan.[6] Jenggernya tegak berbentuk wilah.[6] Bobot ayam jantan kedu putih dewasa mencapai 2,5 kg.[6] Sedangkan bobot ayam kedu putih betina 1,2 kg–1,5 kg.[6]

Ayam Kedu Merah[sunting | sunting sumber]

Ayam kedu merah ditandai dengan warna bulu hitam mulus, tetapi kulit muka dan jengger berwarna merah, sedangkan kulit badannya berwarna putih.[6] Sosok tubuh ayam kedu merah tinggi besar dengan bobot ayam jantan dewasa 3 kg-3,5 kg, Sedangkan bobot ayam betina 2 kg-2,5 kg.[6]

Ayam Nunukan[sunting | sunting sumber]

Ayam nunukan disebut juga ayam Tawao. Ayam ini merupakan ayam lokal yang berkembang di Pulau Tarakan, Kalimantan Timur. Ayam nunukan diperkirakan berasal dari Cina.[6] Karakteristik ayam nunukan adalah warna bulunya merah cerah atau merah kekuning-kuningan, bulu sayap dan ekor tidak berkembang sempurna.[6] Sementara paruh dan kakinya berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan dengan jengger dan pial berwarna merah cerah. Jenggernya berbentuk wilah dan bergerigi delapan.[6]

Stadium anak ayam sampai umur 45 hari cenderung berbulu kapas.[6] Berat badan ayam nunukan jantan dewasa 3,4 kg–4,2 kg, sedangkan yang betina 1,6 kg–1,9 kg.[6]

Ayam Pelung[sunting | sunting sumber]

Ayam pelung merupakan ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi (Jawa Barat).[6] Ayam pelung memiliki sosok tubuh besar dan tegap, temboloknya tampak menonjol.[6] Kakinya panjang, kuat, dan pahanya berdaging tebal.[6] Ayam pelung jantan memiliki Jengger berbentuk wilah yang besar, tegak, bergerigi nyata dan berwarna merah cerah.[6] Ayam pelung betina mempunyai jengger, tetapi jengger terseebut tidak berkembang dengan baik.[6] Ayam pelung jantan dewasa mempunyai bobot badan berkisar antara 3,5 Kg – 5,5 Kg, sedangkan yang betina 2,5 Kg – 3,5 Kg.[6]

Ayam Sumatra[sunting | sunting sumber]

Ayam Sumatra

Ayam Sumatra merupakan ayam lokal dari Sumatera Barat.[6] Penampilan perawakannya tegap, gagah ,tetapi ukuran tubuhnya kecil. Ayam Sumatra jantan berkepala kecil, tetapi tengkoraknya lebar.[6] Pipinya penuh (padat), keningnya tebal, dan pialnya menggantung ke bawah. Paruh ayam Sumatra umumnya pendek dan kukuh berwarna hitam, dengan cuping kecil dan berwarna hitam.[6] Ayam Sumatra memiliki jengger berbentuk wilah dan berwarna merah.[6] Kulit muka juga berwarna merah atau hitam, ditumbuhi bulu halus yang jarang.[6] Bobot ayam Sumatra jantan dewasa 2 Kg, sedangkan yang betina 1,5 Kg.[6]

Ayam Belenggek[sunting | sunting sumber]

Ayam belenggek berasal dari Sumatera Barat, tepatnya dipedalaman Kabupaten Solok.[6] Ayam ini pandai berkokok dengan suara yang merdu dan iramanya bersusun-susun, panjang sampai terdiri atas 6-12 suku kata. Semakin panjang suku katanya, semakin panjang kokoknya.[6]

Ayam Gaok[sunting | sunting sumber]

Ayam gaok bersal dari madura dan Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep.[6] Keistimewaan ayam gaok yaitu kokoknya memiliki suara panjang yang hampir sama dengan ayam pelung yang terdapat di Cianjur (Jawa Barat).[6] Ayam Gaok jantan dewasa memiliki bobot badan mencapai 4 Kg, sedangkan yang betina 2 – 2,5 Kg. Ayam Gaok jantan memiliki tampilan tubuh besar, tegap dan gagah.[6] Jenggernya besar berbentuk wilah dan berwarna merah, dengan pial yang besar dan warnanya merah.[6] Kakinya berwarna kuning.[6] Bulunya didominasi oleh warna kuning kehijau-hijauan (wido), namun ada juga yang berwarna lain, seperti merah dan hitam.[6]

Ayam Garut[sunting | sunting sumber]

Ciri khas ayam ini adalah badannya yang lebih besar dibandingkan dengan ayam kampung biasa. Kepala yg besar, paruh dan kaki berwarna kuning dan berkaki panjang layaknya ayam kampung pada umumnya. Pada umumnya bulu berwarna rambang (hitam putih acak)..namun warna lainpun ada walaupun tidak mendominasi secara umum keberadaannya.

Kulitnya yang kekuning-kuningan serta tekstur daging yang kenyal dan gurih membuat jenis ayam ini layak menjadi sumber kebutuhan protein masyarakat dan juga sebagai produk ayam kampung pedaging unggulan daerah Kabupaten Garut.

Keberadaan ras ayam murni ini sudah sangat langka di masyarakat asal daerah tersebut akibat domestikasi alami akibat sistem pemeliharaan umbar/diliarkan dengan jenis ayam lain. Namun kini beberapa praktisi ayam kampung di Kabupaten Garut sedang mengembangkan dan memurnikan ayam ras lokal ini untuk disertifikasi secara nasional oleh pemerintah.

Sebagai sumber pangan[sunting | sunting sumber]

Ayam kampung disukai orang karena dagingnya yang kenyal dan "berisi", tidak lembek dan tidak berlemak sebagaimana ayam ras[7] Berbagai masakan Indonesia banyak yang tetap menggunakan ayam kampung karena dagingnya tahan pengolahan (tidak hancur dalam pengolahan).[7] Selain itu daging ayam kampung memiliki keunggulan dibandingkan daging ayam broiler, karena kandungan nutrisi yang lebih tinggi.[8] Bagian Daging dada ayam ini termasuk makanan utama atlet binaraga.[8] Dagingnya mengandung 19 jenis protein dan asam amino yang tinggi.[8] Kadar lemaknya juga relatif lebih rendah bila dibandingkan daging pada bagian pahanya[8] Ayam kampung dipelihara oleh masyarakat terutama sebagai sumber protein hewani baik berupa telur maupun daging, di samping kotorannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman maupun pakan ikan.[7] Sebagai sumber protein hewani telur dan daging mengadung asam amino esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dan berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.[9] Oleh karena itu, agar ayam kampung dapat berproduksi dengan baik salah satunya harus diberikan pakan yang cukup.[10] Ayam kampung memerlukan komposisi nutrisi yang tepat, termasuk jika menginginkan ayam kampung yang memiliki tingkat produksi telur yang tinggi[1] Berat telur ayam kampung berkisar antara 26,27-55,4 gr dengan rataan 45,46.[11]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Rasyaf M. 1992. Produksi dan Pemberian Pakan Unggas. Hlmn 42-50.Yoyakarta: Kanisius.
  2. ^ Kurniawan. Mengenal Hewan & Tumbuhan Asli Indonesia. Hlmn 7.ISBN 6028526177. Jakarta :Agromedia Pustaka
  3. ^ a b c d e f Sarwono B.1995. Berternak Ayam Buras.halmn 243-244. Jakarta:Penebar Swadaya.
  4. ^ Cambridge Scientific Abstracts, Inc. Internet Database Service. 1970. Zoological record, Jilid 104, Terbitan 18-20. London :Zoological Society.
  5. ^ a b c d e f g Sujionohadi K, Setiawan AI. 1993. Ayam Kampung Petelur. Jakarta :Niaga Swadaya.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an Rukmana R.2003. Ayam Buras Intensifikasi Dan Kiat Pengembangan. Hlmn 17-25.ISBN 9792106804. Yogyakarta: Kanisius Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Ayam_Buras_Intensifikasi_Dan_Kiat_Pengembangan" defined multiple times with different content
  7. ^ a b c Murtidjo BA. 1994. Mengelolah Ayam Buras.Hlmn:15-16. ISBN 979-413-740-5.Yogyakarta: Kanisius.
  8. ^ a b c d Setyawati D. 2008. 100 Menu Masakan Ayam. hlmn 15.ISBN 602-8260-02-9. Jakarta:Gradien Mediatama.
  9. ^ Kamal. 1994. Kontrol Kualitas Pakan dan Menyusun Pakan Ternak.Yogyakarta: UGM Press.
  10. ^ Wihandoyo. 1991. Serba Serbi Preatasi Ayam Buras. Yogyakarta: UGM Press.
  11. ^ Mansjoer et al. 1990. Pencarian Galur Murni Ayam Kampung, Ayam Pelung dan Ayam Bangkok Dalam Usaha Pelestarian Sumber Genetik Ayam Di Indonesia Laporan Penelitian IPB Bogor.