Islam di Oman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Islam di Oman adalah agama mayoritas dan agama negara di Oman. Dari total populasi Oman yang berjumlah 2.780.000 jiwa, 2.388.020 jiwa atau 85.9% dari total populasi adalah muslim.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada 629 masehi, Nabi Muhammad mengirim surat kepada kedua raja Oman yang ketika itu tengah berkuasa, yakni Raja Abd dan Raja Jaifar. Kedua raja tersebut kemudian diperkenalkan tentang Islam.

Dari berkirimnya surat, kedua raja Oman itu kemudian melakukan pertukaran delegasi untuk mempelajari dan mempertimbangkan ajakan Rasulullah SAW. Setelah melakukan pertukaran delegasi, Raja Abd dan Raja Jaifar kemudian tertarik dan pada akhirnya memeluk Islam.

Dari sisi politik dan ketahanan negara, kedua raja ini juga dapat mempersatukan suku-suku Arab dan mengusir orang Persia. Kekuasaan politik kala itu pun tetap berada di tangan Dinasti Al-Julanda hingga Oman dianeksasi ke Basra oleh khalifah Islam ketiga, Usman bin Affan.

Masuknya Islam ke Oman tak diwarnai dengan pertumpahan darah. Islam masuk disambut dengan tangan terbuka dan dirayakan dengan kedamaian serta persatuan di dalam Oman. Kendati demikian, perkembangan Islam di Oman diwarnai dengan sejumlah dinamika yang tak sedikit. Tercatat, konfrontasi berdarah antara pengikut Khalifah Ali dengan Muawiyah juga menimbulkan perpecahan yang dikemudian hari memunculkan sekolah hukum Sunni dan Syiah

Dari pergerakan politik atas konflik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah tersebut, Kesultanan Oman memutuskan untuk tidak mengikuti salah satu aliran dari kedua aliran yang dihasilkan. Pada masa awal keputusan ini dilakukan guna menjaga agar Oman tidak tergantung pada kekuasaan Dinasti Umayyah. Atas keputusan ini, Dinasti Al-Julanda dipaksa untuk berpindah ke Afrika akibat serangan militer yang berusaha menaklukkan mereka. Akibatnya, pusat perlawanan politik terhadap hegemoni Umayyah terbentuk di Oman. Dalam perjalanan waktu, mereka berkembang menjadi sekolah filsafat Ibadi Penganut filsafat Ibadi Oman menilai jika pemilihan imam atau khalifah berdasarkan keturunan tidaklah relevan. Dari catatan Kesultanan Oman, imam pertama dari jamaah Ibadi berasal dari salah seorang pendiri utama Ibadhisme, yakni Jabir bin Zayd.

Referensi[sunting | sunting sumber]