Ibnu Rusyd

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Ibn Rusyd
ابن رشد
Averroes
Patung Ibn Rusyd di Kordoba, Spanyol
Lahir 1126
Kordoba, Spanyol, Al-Andalus, Emirat Murabithun (sekarang Spanyol)
Meninggal 11 Desember 1198 (usia 72 tahun)
Marrakesh, Arab Maghrib, Kekhilafahan Muwahhidun (sekarang Maroko)
Era Filsafat abad pertengahan
Zaman Kejayaan Islam
Aliran Aristotelianisme (filsafat)
Maliki (fiqih)
Minat utama Aqidah, Astronomi, Filsafat, Fiqih, Fisika, Kedokteran, Linguistik
Gagasan penting Hubungan antara Islam dan Filsafat, Non-kontradiksi dari akal dan wahyu, kesatuan intelektual

Ibnu Rusyd (Arab: ابن رشد‎; Nama lengkap Arab: أبو الوليد محمد ابن احمد ابن رشد, translit. 'Abu Al-Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Rusyd‎; 1126 – 11 Desember 1198), sering dilatinkan sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dan pemikir dari Al-Andalus yang banyak menulis dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk filsafat, aqidah atau teologi Islam, kedokteran, astronomi, fisika, fiqih atau hukum Islam, dan linguistik. Karya-karya filsafatnya termasuk banyak tafsir, parafrase dan ringkasan karya-karya Aristoteles, yang membuatnya dijuluki oleh dunia barat sebagai Sang Penafsir (Bahasa Inggris: The Commentator). Ibnu Rusyd juga semasa hidupnya mengabdi sebagai hakim dan tabib istana untuk Kekhilafahan Muwahhidun.

Ibnu Rusyd lahir di Kordoba pada tahun 1126 dari keluarga yang melahirkan hakim-hakim terkenal—kakeknya adalah qadi al-qudat (hakim kepala) dan ahli hukum terkenal di kota itu. Pada tahun 1169 ia bertemu dengan khalifah Abu Yaqub Yusuf, yang terkesan dengan pengetahuannya dan kemudian mendukung Ibnu Rusyd dan banyak karya Ibnu Rusyd adalah proyek yang ditugaskan oleh sang khalifah. Ibnu Rusyd lalu juga beberapa kali menjabat sebagai hakim di Sevilla dan Kordoba. Pada 1182, ia ditunjuk sebagai dokter istana dan hakim kepala di Kordoba. Setelah wafatnya Abu Yusuf di tahun 1184, ia masih berhubungan baik dengan istana, hingga 1195 saat dia dikenai berbagai tuduhan dengan motif politik. Pengadilan lalu memutuskan bahwa ajarannya sesat dan Ibnu Rusyd diasingkan ke Lucena. Setelah beberapa tahun di pengasingan, istana berbaikan dan memanggilnya bertugas kembali, namun hanya sebentar karena Ibnu Rusyd lalu wafat pada tanggal 11 Desember 1198.

Ibnu Rusyd adalah pendukung ajaran filsafat dari Aristoteles (Aristotelianisme). Ia berusaha mengembalikan filsafat dunia Islam ke ajaran Aristoteles yang asli. Ia mengkritik corak Neoplatonisme yang terdapat pada filsafat pemikir-pemikir Islam sebelumnya seperti Al-Farabi dan Avicenna, yang ia anggap menyimpang dari filsafat Aristoteles. Ia membela kegiatan berfilsafat dari kritik yang dilancarkan para para ulama Asy'ariyah seperti Al-Ghazali. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa dalam agama Islam berfilsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk kalangan tertentu. Ia juga berpendapat bahwa teks Quran dan Hadits dapat diinterpretasikan secara kiasan jika teks tersebut terlihat bertentangan dengan kesimpulan yang ditemukan melalui akal dan filsafat.

Pengaruh Ibnu Rusyd ke dunia barat jauh lebih besar dibanding dunia Islam. Ibnu Rusyd menulis banyak tafsir terhadap karya-karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Ibrani dan Bahasa Latin dan beredar di Eropa. Terjemahan karya-karya Ibnu Rusyd memicu para pemikir Eropa Barat untuk kembali mengkaji karya-karya Aristoteles dan pemikir Yunani lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya kekaisaran Romawi. Pendapat-pendapat Ibnu Rusyd juga menimbulkan kontroversi di dunia Kristen Latin, dan menginspirasi sebuah gerakan filsafat yang disebut Averroisme. Salah satu doktrinnya yang kontroversial di dunia barat adalah teori yang disebut "kesatuan intelek" (unitas intellectus dalam bahasa Latin), yang menyatakan bahwa semua manusia bersama-sama memiliki satu "intelek". Karya-karyanya dinyatakan sesat oleh Gereja Katolik Roma pada tahun 1270 dan 1277, dan pemikir Kristen besar Thomas Aquinas menulis kritik-kritik tajam terhadap doktrin Ibnu Rusyd. Sekalipun demikian, Averroisme tetap memiliki pengikut di dunia Latin hingga abad ke-16.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Pendidikan dan masa muda[sunting | sunting sumber]

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd lahir pada tahun 1126 M/520 H di Kordoba, yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Murabithun.[1].[2] Keluarga Ibnu Rusyd dikenal sebagai tokoh masyarakat di Kordoba, terutama atas peran mereka dalam bidang hukum dan agama. [2] Kakek Ibnu Rusyd, yang juga bernama Abu al-Walid Muhammad (wafat 1126) menjabat qadi al-qudat (hakim kepala) di kota tersebut, dan juga merupakan imam Masjid Agung Kordoba.[2][1] Ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad, juga menjabat sebagai qadi atau hakim pada masa kekuasaan Murabithun, hingga Kordoba jatuh ke tangan Kekhalifahan Muwahidun pada tahun 1146.[2]

Menurut biografi-biografi klasik, Ibnu Rusyd menerima pendidikan yang istimewa,[1] dimulai dari pelajaran ilmu Hadits Nabi Muhammad, fiqih (hukum Islam), kedokteran maupun ilmu akidah (teologi Islam). Guru fiqihnya—bermazhab Maliki—adalah Al-Hafiz Abu Muhammad ibn Rizq dan guru haditsnya adalah Ibnu Basykuwal, yang merupakan murid dari kakeknya.[1][3] Ia juga belajar fiqih dari ayahnya, yang mengajarkannya kitab Muwatta Imam Malik, buku teks Maliki yang paling terkenal, yang kemudian dihafalkan oleh Ibnu Rusyd.[4][5] Guru kedokterannya adalah Abu Jafar Jarim al-Tajail, yang kemungkinan juga mengajarkannya ilmu filsafat.[6] Ia juga mempelajari karya-karya dari Ibnu Bajjah (juga dikenal dengan nama Avempace) yang mungkin juga merupakan salah satu gurunya.[2][3] Ia mengikuti pertemuan rutin para filsafat, dokter dan sastrawan di kota Sevilla, yang juga dihadiri oleh filsuf Ibnu Tufail dan Ibnu Zuhri serta Abu Yusuf Yaqub yang kelak akan menjadi khalifah.[5] Ibnu Rusyd muda juga mempelajari akidah atau teologi kalam dari Mazhab Asy'ariyah, walaupun kelak ia akan mengkritik mazhab ini.[6] Menurut penulis abad ke-13 Ibnu Al-Abbar, Ibnu Rusyd lebih tertarik dengan ilmu hukum dan ushul fiqih (kaidah-kaidah hukum) dibanding ilmu hadits dan sunnah.[6] Salah satu spesialisasi yang ditekuninya adalah masalah ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam hukum Islam.[6] Ibnu Al-Abbar juga menyebutkan ketertarikan Ibnu Rusyd muda pada "ilmu-ilmu orang terdahulu" (al-'ulum al-awa'il), yang kemungkinan bermaksud ilmu sains dan filsafat yang dikembangkan para ilmuwan Yunani.[6]

Karir[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1153, Ibnu Rusyd melakukan pengamatan astronomi di Marrakesh (sekarang di Maroko), ibukota kekhalifahan Muwahhidun, dan membantu pembangunan perguruan-perguruan tinggi yang sedang dilakukan pemerintah.[5][6] Ia berusaha mencari hukum-hukum fisika yang mengendalikan pergerakan benda-benda langit, namun penelitian ini tidak berhasil.[6] Pada saat ini ia kemungkinan pertama kali bertemu dengan Ibnu Thufail, filsuf terkenal dan penulis novel Hayy ibn Yaqzhan, yang saat itu menjabat sebagai dokter istana.[6][3] Ibnu Rusyd dan Ibnu Tufail kelak berteman, walaupun mereka kadang berselisih dalam masalah filsafat.[7][3]

Pada tahun 1169 Ibnu Thufail memperkenalkan Ibnu Rusyd kepada Khalifah Abu Yaqub Yusuf.[8][6] Menurut laporan sejarawan Abdulwahid al-Marakisyi, pada pertemuan ini sang khalifah bertanya kepada Ibnu Rusyd apakah langit selalu ada sejak dahulu (qadim) atau memiliki awal mula (hadits).[8][6][9] Ketika itu, ini adalah topik kontroversial dan Ibnu Rusyd awalnya tidak menjawab karena takut memancing bahaya dan kontroversi.[9][8] Sang khalifah lalu mengemukakan pendapat Plato, Aristoteles, dan para filsuf Muslim tentang topik ini dan mendiskusikannya dengan Ibnu Thufail.[8][6] Melihat ternyata sang khalifah juga suka berfilsafat, Ibnu Rusyd menjadi tenang dan mengemukakan pendapatnya.[6] Sang khalifah terkesan dengan pendapat Ibnu Rusyd, dan begitupun Ibnu Rusyd juga terkesan dengan pengetahuan sang khalifah dan kelak mengatakan bahwa Khalifah Abu Yaqub Yusuf memiliki "pengetahuan berlimpah yang tak aku duga".[6][8]

Sejak perkenalan ini, Ibnu Rusyd memiliki hubungan baik dengan Abu Yaqub Yusuf hingga khalifah tersebut wafat.[6] Ketika Abu Yaqub Yusuf mengeluh ke Ibnu Thufail bahwa karya-karya Aristoteles terlalu susah dimenegerti, Ibnu Thufail menyarankan agar Ibnu Rusyd ditugaskan untuk menerangkannya.[8][6] Inilah awal dari tafsir besar-besaran yang ditulis Ibnu Rusyd tentang karya-karya Aristoteles.[8] Pada tahun 1169, Ibnu Rusyd menulis tafsir Aristoteles pertamanya.[8]

Pada tahun yang sama, Ibnu Rusyd diangkat sebagai qadi atau hakim di Sevilla..[6][10] Dua tahun kemudian, ia menjadi qadi di Kordoba, kota kelahirannya.[6][4] Tugasnya sebagai qadi adalah memutuskan kasus pengadilan dan memberikan fatwa atau pendapat hukum sesuai hukum Islam.[10] Pada saat ini ia semakin aktif menulis, walaupun tugasnya semakin banyak dan mengharuskannya melakukan banyak perjalanan.[6] Kesempatan mengunjungi berbagai tempat ia gunakan untuk melakukan penelitian astronomi.[5] Antara 1169 dan 1179, banyak karyanya yang tertanda ditulis di Sevilla.[6] Pada tahun 1179 ia kembali menjabat sebagai qadi di Sevilla..[4] Pada tahun 1182 ia diangkat menjadi dokter istana untuk menggantikan Ibnu Thufail yang telah pensiun.[6] Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai qadi al-qudat atau hakim kepala di Kordoba, jabatan bergengsi yang sebelumnya pernah dipegang oleh kakeknya.[6][10]

Pada tahun 1184 Khalifah Abu Yaqub wafat dan digantikan oleh Abu Yusuf Yaqub al-Mansur.[6] Awalnya Ibnu Rusyd tetap memiliki hubungan baik dengan istana namun pada 1195 situasinya berubah.[6][8] Ia dikenai berbagai tuduhan, termasuk tuduhan aliran sesat, dan ia harus menghadapi pengadilan di Kordoba.[8][6] Pengadilan memutuskan Ibnu Rusyd bersalah, menyatakan ajarannya sesat dan memerintahkan agar tulisan-tulisannya dibakar.[6] Ibnu Rusyd diasingkan ke kota kecil Lucena, masih di sekitar Kordoba.[6] Biografi-biografi klasik menyebutkan berbagai sebab memburuknya situasi Ibnu Rusyd ini, salah satunya karena Ibnu Rusyd dianggap menghina khalifah dalam tulisannya.[8] Namun para sejarawan modern menganggap bahwa persekusi terhadap Ibnu Rusyd bermotif politik. Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa khalifah berusaha menjauhkan dirinya dari Ibnu Rusyd untuk mendapat simpati dan dukungan dari para ulama tradisional yang banyak menentang ajaran Ibnu Rusyd.[6] Pada saat itu, khalifah sedang butuh dukungan para ulama untuk memerangi kerajaan-kerajaan Kristen.[6] Sejarawan Majid Fakhry menulis bahwa banyak fuqaha atau ahli fiqih tradisional pada saat itu menentang Ibnu Rusyd dan menekan sang khalifah.[8]

Setelah beberapa tahun, Ibnu Rusyd kembali didukung khalifah dan kembali ke istana di Marrakesh.[6] Namun tak lama kemudian ia meninggal pada tanggal 11 Desember 1198 (atau 5 Safar 595 H).[6] Awalnya ia dikuburkan di Maroko, namun kemudian jenazahnya dipindahkan ke Kordoba.[6] Pemakamannya di Kordoba dihadiri oleh Ibnu Arabi (1165–1240) yang kelak akan menjadi tokoh sufi terkemuka.[6]

Karya-karya[sunting | sunting sumber]

Ibnu Rusyd adalah penulis yang amat produktif dan tulisan-tulisannya mencakup banyak topik.[11] Menurut Fakhry, karyanya "mencakup lebih banyak bidang ilmu" dibanding para pendahulunya di Dunia Timur.[11] Bidang-bidang ilmu yang ia bahas diantaranya filsafat, kedokteran, teori hukum, serta linguistik.[11] Kebanyakan tulisannya adalah tafsir atau uraian terhadap karya-karya Aristoteles, yang selain berdasar kepada Aristoteles juga sering mengandung pemikiran baru dari Ibnu Rusyd sendiri.[11] Menurut penulis Perancis Ernest Renan, selain tafsir-tafsir Aristoteles dan Plato Ibnu Rusyd menulis setidaknya 67 buku yang merupakan karya original, termasuk 28 mengenai filsafat, 20 kedokteran, 8 hukum, 5 teologi atau akidah dan 4 tata bahasa..[12] Banyak karya-karya Ibnu Rusyd telah hilang teks asli dalam Bahasa Arabnya, namun yang tertinggal hanyalah terjemahannya dalam Bahasa Latin atau Ibrani.[13]

Tafsir Aristoteles[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi berbahasa Arab dari sekitar tahun 1220 yang menggambarkan Aristoteles sedang mengajar. Ibnu Rusyd banyak menulis tafsir terhadap karya-karya Aristoteles.

Ibnu Rusyd menulis tafsir atau uraian pada hampir semua karya Aristoteles yang ada pada masa hidupnya.[11] Yang tidak ia tulis tafsirnya hanya Politika, karena ia tidak bisa mendapatkan buku tersebut, dan ia menggantinya dengan menulis tafsir buku Republik karya Plato.[11] Ia membagi karya-karya ini menjadi tiga tipe, dan sekarang para pakar menyebutnya "tafsir panjang", "tafsir menengah" dan "tafsir pendek" (long-, middle- dan short commentary dalam bahasa Inggris).[14] Tipe yang terpendek, disebut jami' dalam bahasa Arab, berisi ringkasan doktrin-doktrin Aristoteles, dan kebanyakan ditulis pada awal karir Ibnu Rusyd.[15] Yang menengah (disebut talkhis) berisi parafrase atau uraian yang gunanya untuk memperjelas dan menyederhanakan bahasa pada buku-buku Aristoteles.[15] Tafsir menengah ini kemungkinan ditulis setelah Khalifah Abu Yaqub Yusuf mengeluh bahwa buku-buku Aristoteles rumit dan susah dibaca, dan Ibnu Rusyd ingin membantu sang khalifah dan orang-orang lain dengan masalah yang sama.[15][14] Tafsir panjang (disebut tafsir atau syarah dalam bahasa Arab) adalah tafsir baris-per-baris, yang berisi teks asli Aristoteles plus analisis dan pembahasan rinci di tiap baris.[16] Tafsir panjang atau syarah ini berisi banyak pemikiran asli Ibnu Rusyd,[15] dan kemungkinan besar bukan ditujukan untuk khalayak umum tapi hanya untuk para pakar dan peminat Aristoteles.[14] Untuk kebanyakan buku Aristoteles, Ibnu Rusyd hanya menulis satu atau dua dari tiga tipe tafsir ini, tapi untuk lima buku: Fisika, Metafisika, De Anima ("Mengenai Ruh"), De Coelo ("Mengenai Langit"), dan Analytica Posteriora ia menulis ketiga-tiganya.[11]

Makalah filsafat[sunting | sunting sumber]

Ibnu Rusyd juga menulis makalah-makalah (Bahasa Arab: maqalah) dalam berbagai topik filsafat, diantaranya tentang akal atau intelek, waktu, dan benda-benda langit (yang ketika itu termasuk topik filsafat). Ia juga menulis beberapa makalah polemik atau bersifat perdebatan, termasuk mengkritik Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali dalam beberapa topik.[11]

Teologi[sunting | sunting sumber]

Ibnu Rusyd juga menulis dalam topik aqidah atau teologi. Sumber-sumber akademis seperti Fakhry dan buku Encyclopedia of Islam menyebut tiga diantara karya Ibnu Rusyd yang dianggap mengandung inti pemikiran Ibnu Rusyd dalam topik ini. Yang pertama adalah Fashl al-Maqal fi ma baina al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal, sebuah tulisan yang mengajukan kesesuaian antara filsafat dan syariat Islam.[17] Ia juga menulis Al-Kasyf 'an Manahij al-'Adillah ("Penjelasan Metode Pembukitan") yang berisi argumen Ibnu Rusyd untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah), pendapat Ibnu Rusyd mengenai sifat-sifat dan perbuatan-Nya, dan juga beberapa kritik terhadap ajaran aqidah Asy'ariyah.[18][19] Selain itu, karya utamanya dalam bidang ini adalah kitab Tahafut at-Tahafut ("Kerancuan pada Kerancuan") yang merupakan balasan terhadap kitab terkenal Tahafut al-Falasifah ("Kerancuan para Ahli Filsafat") dimana penulisnya Al-Ghazali mengkritik ilmu filsafat (terutama yang dibawakan Ibnu Sina) yang ia anggap tidak sesuai dengan aqidah Islam.[20] Tahafut karya Ibnu Rusyd mencoba membalas kritik Al-Ghazali dengan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan Ibnu Rusyd di karya-karyanya sebelumnya.[20] Selain membalas kritik, kitab ini juga mengkritik Ibnu Sina dan filsafatnya yang bercorak Neoplatonisme, bahkan kadang ia setuju dengan kritik Al-Ghazali terhadap Ibnu Sina.[20]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Ibnu Rusyd atau Averroes, dari detail lukisan Triunfo de Santo Tomás, karya artis Florence abad ke-14 Andrea Bonaiuto.

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya[sunting | sunting sumber]

  • Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
  • Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
  • Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (perihal perkataan-perkataan dalam hal kebijaksaan dan syariat)

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Arnaldez 1986, hlm. 909.
  2. ^ a b c d e Hillier, Biography.
  3. ^ a b c d Wohlman 2009, hlm. 16.
  4. ^ a b c Dutton 1994, hlm. 190.
  5. ^ a b c d Iskandar 2008, hlm. 1116.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af Arnaldez 1986, hlm. 910.
  7. ^ Fakhry 2001, hlm. 1.
  8. ^ a b c d e f g h i j k l Fakhry 2001, hlm. 2.
  9. ^ a b M. Hadi Masruri 2005, hlm. 32.
  10. ^ a b c Dutton 1994, hlm. 196.
  11. ^ a b c d e f g h Fakhry 2001, hlm. 3.
  12. ^ Ahmad, Jamil (September 1994), "Averroes", Monthly Renaissance, 4 (9), diakses tanggal 14 October 2008 
  13. ^ Adamson 2016, hlm. 180–181.
  14. ^ a b c Adamson 2016, hlm. 180.
  15. ^ a b c d Taylor 2005, hlm. 181.
  16. ^ McGinnis & Reisman 2007, hlm. 295.
  17. ^ Arnaldez 1986, hlm. 911–912.
  18. ^ Arnaldez 1986, hlm. 913–914.
  19. ^ Arnaldez 1986, hlm. 914.
  20. ^ a b c Arnaldez 1986, hlm. 915.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]