Ibnu Tumart

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
al-Imam al-Mahdi

Muhammad Ibnu Tumart
Abu Yaqub Yusef Coin.png
Koin yang dicetak pada masa pemerintahan Abu Yaqub Yusuf, tulisan pada baris terakhir di koin sebelah kanan berbunyi: al-Mahdi Imam al-Ummah[1]
GelarImam al-Ummah
إمام الأمة
Data pribadi
Lahir1080
Igiliz, Sous, Kesultanan Murabithun
Wafatsekitar 1128–1130
MakamMasjid Tinmel[3]
AgamaIslam
EtnisBerber
DenominasiSunni
MazhabZahiri
KredoAsh'ari[2]
GerakanAlmohad
Pemimpin Muslim
Ath-Thurthusyi
Dipengaruhi oleh
Pengaruh

Ibnu Tumart (nama lengkap: Abu Abdullah Muhammad Ibnu Tumart, bahasa Berber: Amghar ibn Tumert, bahasa Arab: أبو عبد الله محمد ابن تومرت‎, sekitar 1080–1130 atau 1128 M),[4] adalah seorang sarjana muslim Berber, guru, dan pemimpin politik yang berasal dari selatan Maroko.

Dia mendirikan dan bertugas sebagai pemimpin militer spiritual pertama Dinasti Muwahhidun, sebuah gerakan reformasi puritan yang diluncurkan oleh kaum Berber Masmuda dari Pegunungan Atlas. Ibnu Tumart melakukan pemberontakan terbuka terhadap Dinasti Murabithun yang berkuasa pada tahun 1120-an. Setelah kematiannya, para pengikutnya yaitu para Muwahhidun, terus menaklukkan sebagian besar Afrika Utara dan sebagian dari Spanyol.

Masa hidup[sunting | sunting sumber]

Nasab[sunting | sunting sumber]

Ibnu Tumart memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Abdulrahman Al-Maghribi al-Susi. Tahun kelahirannya diperkirakan antara tahun 469 Hijriah hingga 474 Hijriah. Tempat lahirnya adalah di Maghribi.[5] Kabilah Ibnu Tumart adalah Kabilah Mashmudah Barbar. Ia adalah cucu dari keluarga Alawiyyin dari jalur Adarisah. Keluarganya menyatu sebagai Kabilah Mashmudah Barbar setelah keruntuhan Dinasti Adarisah. Ia merupakan keturunan bangsa Arab, namun memiliki tradisi bangsa Barbar.[6]  

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pada masa kecilnya, Ibnu Tumart belajar di madrasah lokal bernama Kuttab. Ia memulai pendidikannya dengan membaca dan menghafal Al-Qur'an. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Timur Tengah pada akhir abad ke-5 Hijriah. Perantauannya ini berkaitan dengan posisi Timur Tengah sebagai pusat Islam dengan keberadaan Makkah dan Madinah.[5]

Ibnu Tumart juga pernah belajar di kota Bagdad. Di kota ini, ia belajar dari beberapa guru. Guru-gurunya yaitu Imam Al-Ghazali, Abu Bakar Al-Shashi, dan Abu Abdillah Al-Hadrami. Ibnu Tumart juga menuntuk ilmu pada ulama lain di kota Bagdad. Setelah menuntut ilmu, ia pulang ke Maghribi.[5] Saat pulang, ia singgah di Iskandariyah dan menghadiri majelis ilmu Abu Bakar Al-Thurtushi. Setelah belaajr, ia kembali ke Maghribi.[7]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan perkiraan tahun lahirnya, Ibnu Tumart diperkirakan hidup hingga berusia 50 sampai 55 tahun. Ia wafat pada hari Rabu tanggal 13 Ramadan 524 H atau 1129 M. Berita mengenai wafatnya Ibnu Tumart baru diungkapkan pada tahun 529 Hijriah. Alasannya adalah menunggu muridnya yang bernama Abdul Mukmin menjadi Sultan Muwahiddin yang pertama.[5]  

Dinasti Muwahhidun[sunting | sunting sumber]

Awal pendirian[sunting | sunting sumber]

Sekembalinya dari menuntut Ilmu, Ibnu Tumart memperoleh pengaruh yang besar di Maghribi. Ia akhirnya diundang oleh Khalifah Dinasti Muraabithun, Ali bin Tasyifin. Khalifah mengajak Ibnu Tumart berdebat dengan para ulama. Ibnu Tumart memenangkan perdebatan tersebut. Hasutan dari para penasehat kerajaan kepada Ali bin Tasyifin membuat Ibnu Tumart diusir dari wilayah Dinasti Murabhitun.[7]

Ibnu Tumart kemudian pergi menuju ke Aghmat dan Al-Jabal. Di kedua tempat ini, ia memperoleh pengikut setelah mengisahkan mengenai Al-Mahdi. Ia kemudian memperoleh 10 orang pengikut dan seorang pendukung bernama Ali Mukmin. Mereka melakukan baiat kepada Ibnu Tumart dan memberinya gelar Al-Mahdi Al-Muntazhar. Setelah itu, pengikutnya bertambah banyak dan mulai mengancam kedudukan Dinasti Murabhitun.[7]

Ibnu Tumart kemudian mendirikan Dinasti Muwahhidun.[8] Awalnya. Muwahhidun hanya didirikan sebagai gerakan reformasi keagamaan yang menentang pemikiran Dinasti Murabithun.[9] Ia mendasarkan pendirian dinastinya pada literalisme Ibnu Hazm. Ia melakukan rekonstruksi terhadap pemikiran epistemologinya.[10] Dinasti Muwahhidun yang didirikan oleh Ibnu Tumart hanya mencakup wilayah Afrika Utara yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Murabithun.[11]  

Pemikiran-pemikiran[sunting | sunting sumber]

Literalisme Ibnu Hazm[sunting | sunting sumber]

Pemikiran-pemikiran Ibnu Tumart terpengaruh oleh pendapat-pendapat Ibnu Hazm.[12] Ibnu Tumart melakukan penukilan langsung terhadap mazhab pemikiran Ibnu Hazm. Pemikirannya berkaitan dengan literalisme. Ia melakukan perubahan dan pembaruan dengan mengajak sahabatnya yang telah pensiun dari jabatan pemerintahan.[13]

Ibnu Tumart menggunakan ideologi modern-revolusioner dari Ibnu Hazm untuk membentuk gerakan politik revolusioner. Ia memimpin gerakan ini di daerah Maghrib untuk menentang kekuasaan Dinasti Murabithun.[14] Mazhab yang dianut oleh Dinasti Murabithun adalah Mazhab Maliki. Sistem manajemen dan politik Dinasti Murabithun dipengaruhi oleh para fukaha Mazhab Maliki. Para fukaha ini memaksakan taklid sehingga membatasi kebebasan berpikir.[15]

Di daerah Maghrib pengaruh para fukaha dalam memusatkan taklid telah mencapai bidang fikih dan akidah. Ibnu Tumart meyakini bahwa perilaku para fukaha ini merupakan bentuk penyimpangan agama. Ia kemudian membuat sebuah alat perlawanan secara agama dengan menyebarkan doktrin amar makruf nahi mungkar. Selain itu, ia membuat doktrin ideologi yaitu peninggalan taklid dan kembali kepada dasar-dasar agama.[16]

Mazhab Asy'ariyah[sunting | sunting sumber]

Ibnu Tumart merupakan pelopor mazhab Asy'ariyah di Afrika khususnya di Maroko dan Andalusia. Ia memperoleh pengetahuan ini dari Al-Ghazali ketika belajar darinya pada tahun 1091 M di Bagdad. Melalui pemahaman ini, Ibnu Tumart mengakhiri kekuasaan Dinasti Murabithun dan mendirikan Dinasti Muwahhidun. Dinasti Murabithun saat itu menganut paham antropomorfisme. Pahamnya dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Abdul Mukmin.[17]

Pengajaran[sunting | sunting sumber]

Ibnu Tumart memberikan beberapa pelajaran bagi para murid-muridnya. Ia mengajarkan para muridnya untuk bersikap sederhana, rendah diri dan tidak berfoya-foya. Ia menganjurkan muridnya untuk memakai pakaian yang tidak glamor dan berharga murah. Ibnu Tumart juga mengajarkan rakyat yang menganggap remeh akhlak mulia melalui adab dan sikap tegas. Ia juga menganjurkan pernikahan lintas kabilah. Tujuannya untuk menghindari rasisme dan membanggakan kabilah sendiri. Ibnu Tumart juga memberikan pendidikan Islam kepada rakyat Barbar dengan mendirikan madrasah.[5]

Kepada para pelajarnya, Ibnu Tumart mewajibkan pembacaan kitab Al-Murshidah. Kitab ini dibaca untuk memperkuat keyakinan terhadap ahlus sunnah wal jamaah. Ibnu Tumart juga membuat tradisi membaca Al-Qur'an bernama Hizb Ratib.  Al-Qur'an dibaca sebanyak 2 hizb atau 1 juz dalam sehari secara berjamaah. 1 hizb dibaca pada pagi hari setelah Salat Subuh dan 1 hizb dibaca setelah Salat Magrib. Tradisi ini masih diamalkan oleh penduduka Maroko.[5]

Karya tulis[sunting | sunting sumber]

Ibnu Tumart merupakan salah satu ulama yang menulis banyak kitab. Isi kitab-kitabnya mengenai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kitab-kitab karangannya kemudian menjadi salah satu bahan pengajaran oleh Ibnu Asakir.[18]

Kitabun A'azzu-ma Yuthlabu[sunting | sunting sumber]

Kitabun A'azzu-ma Yuthlabu merupakan kumpulan tulisan dari Ibnu Tumart. Tulisan-tulisan ini kemudian disatukan oleh penerusnya sebagai khalifah Dinasti Muwahhidun, Abdul Mukmin. Isi buku ini adalah kumpulan hadis dan catatan yang menjadi kerangka ideologis dan dasar pemikiran teoretis Ibnu Tumart mengenai reformasi.[19]

Kitabun A'azzu-ma Yuthlabu menjelaskan metode pemikiran dan penelitian mengenai perkara akidah dan syariat Islam. Prinsip dasar dari bukunya ini adalah tidak ada kaidah jalan tengah dalam penafian dan penetapan akidah dan syariat. Ibnu Tumart menolak prinsip penganalogian hal yang tampak dan hal yang tidak tampak dalam memperoleh pengetahuan. Ia menolak pemikiran kalam, filsafat dan fikih dalam tradisi Arab.[19]

Pengaruh terhadap ilmu[sunting | sunting sumber]

Pengembangan filsafat Yunani Kuno[sunting | sunting sumber]

Wilayah Dinasti Muwahhidun mengalami perubahan kondisi intelektual setelah Ibnu Tumart berkuasa menggantikan Dinasti Murabithun. Ia memberikan keleluasaan dalam mempelajari ilmu filsafat khususnya filsafat Yunani Kuno. Kondisi ini membuat penafsiran-penafsiran atas teks Yunani Kuno dapat dilakukan oleh Ibnu Rusyd selama menjabat sebagai qadi Dinasti Muwahhidun. Karya-karya yang ditafsirkan adalah karya Aristoteles.[20]  

Mengurangi pengaruh Mazhab Maliki[sunting | sunting sumber]

Ibnu Tumart memberikan anjuran kepada masyarakat di Dinasti Muwahhidun untuk merujuk langsung kepada Al-Qur'an dan hadis. Perujukan ini dilakukan dalam persoalan fikih. Ibnu Tumart juga mulai mengurangi praktik penyelesaian masalah fikih melalui Mazhab Maliki. Pemikirannya ini bertahan dan berkembang pesat pada masa pemerintahan Ya'qub al-Manshur.[21]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Full inscription in Arabic: بسم ااالله الرحمان الرحيم لا إله إلا الله محمد رسول الله المهدي إمام الأمة
  2. ^ Spevack, Aaron (2014) [2010]. The Archetypal Sunni Scholar: Law, Theology, and Mysticism in the Synthesis of Al-Bajuri. State University of New York Press. hlm. 44. ISBN 143845371X. 
  3. ^ makamnya dihancurkan seorang letnan dari Dinasti Marinid
  4. ^ Zaghrut, Fathi. Artawijaya, ed. Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam: Runtuhnya Baghdad, Andalusia, Turki Utsmani dan Baitul Maqdis. Diterjemahkan oleh Irham, M., dan Supar, M. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 605. ISBN 978-979-592-979-6. 
  5. ^ a b c d e f al-Akiti, Ayman (6 Juli 2021). "Ketokohan al-Imam Ibn Tumart" (PDF). Utusan Malaysia. hlm. 22. Diakses tanggal 1 Agustus 2022. 
  6. ^ Tim Riset dan Studi Islam Mesir 2020, hlm. 399.
  7. ^ a b c Tim Riset dan Studi Islam Mesir 2020, hlm. 400.
  8. ^ Zaghrut, Fathi. Artawijaya, ed. Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam: Runtuhnya Baghdad, Andalusia, Turki Utsmani dan Baitul Maqdis. Diterjemahkan oleh Irham, M., dan Supar, M. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 605. ISBN 978-979-592-979-6. 
  9. ^ Subarman, Munir (2015). Sejarah Kelahiran, Perkembangan dan Masa Keemasan Peradaban Islam. Sleman: Deepublish. hlm. 218. ISBN 978-602-280-205-1. 
  10. ^ Al-Jabiri 2019, hlm. 96.
  11. ^ Qoyum, A., dkk. (2021). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (PDF). Jakarta: Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. hlm. 292. ISBN 978-602-60042-8-4. 
  12. ^ Tim Riset dan Studi Islam Mesir 2020, hlm. 399-400.
  13. ^ Al-Jabiri 2019, hlm. 91.
  14. ^ Al-Jabiri 2019, hlm. 94.
  15. ^ Al-Jabiri 2019, hlm. 95.
  16. ^ Al-Jabiri 2019, hlm. 95-96.
  17. ^ Nurdin, M. A., dkk. (2012). Nurdin, M. A., dan Abbas. A. F., ed. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: AMZAH. hlm. 133. ISBN 978-602-8689-52-6. 
  18. ^ Suharto, Yusuf (2014). "Keagungan Ahlussunnah wal Jama'ah dan Bantahan Terhadap Mujassimah". Tebuireng: Media Pendidikan dan Keagamaan. 35: 32. 
  19. ^ a b Al-Jabiri 2019, hlm. 97.
  20. ^ Ryadi, Agustinus (2013). Kesadaran Akan Immortalitas Jiwa Sebagai Dasar Etika: Pengantar Filsafat di dalam Islam (PDF). Sidoarjo: Zifatama Publishing. hlm. 51. ISBN 978-602-17546-8-9. 
  21. ^ Wijaya, Aksin (2021). Menaksir Kalam Tuhan. Yogyakarta: IRCiSoD. hlm. 238. ISBN 978-623-6699-20-1. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]