Lompat ke isi

Demografi Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Demografi Jepang
Piramida penduduk Jepang, 2023
PopulasiPenurunan 123.400.000 (April 2025)[1][2] (ke-11)
Kepadatan343,28/km2 (889,1/sq mi) (2022)[3]
Tingkat pertumbuhanKenaikan – 0,44% (2024)
Tingkat kelahiranKenaikan 5,8 kelahiran/1.000 populasi (est. 2023)
Tingkat kematian 12,7 kematian/1.000 populasi (est. 2023)
Harapan hidupKenaikan 84,83 tahun
  laki-lakiKenaikan 81 tahun
  perempuanKenaikan 87 tahun
Tingkat kesuburanPenurunan 1,14 anak lahir/perempuan (2024)
Tingkat kematian bayi 1,9 kematian/1.000 kelahiran hidup
Tingkat migrasi bersihIncrease neutral 0,74 migran/1.000 populasi
Struktur usia
0–14 tahunPenurunan 11,1%
15–64 tahunPenurunan 59,6%
65 dan lebih 29,3%
Rasio jenis kelamin
Total0,95 laki-laki/perempuan (est. 2022)
Saat lahir1,06 laki-laki/perempuan
Kebangsaan
KebangsaanOrang Jepang
Etnis mayoritasYamato (suku asli)
Etnis minoritas
Bahasa
ResmiJepang
Juga dituturkanBahasa di Jepang

Demografi Jepang dipantau oleh Lembaga Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial (IPSS) dan Biro Statistik. Per April 2025, populasi Jepang berjumlah sekitar 123,4 juta orang, dan mencapai puncaknya pada 128,5 juta orang pada tahun 2010. Jepang merupakan negara dengan populasi terbesar ke-6 di Asia, dan terbesar ke-11 di dunia.

Pada tahun 2024, median usia penduduk Jepang diproyeksikan mencapai 49,9 tahun, tingkat tertinggi sejak 1950, dibandingkan 29,8 untuk India, 38,9 untuk Amerika Serikat, dan 40,2 untuk Tiongkok.[4] Jepang memiliki median usia tertinggi kedua di dunia, hanya di belakang Monako. Peningkatan kualitas hidup dan pemeriksaan kesehatan rutin menjadi dua alasan mengapa Jepang memiliki salah satu angka harapan hidup tertinggi di dunia.

Harapan hidup sejak lahir di Jepang meningkat secara signifikan setelah Perang Dunia II, naik 20 tahun antara tahun 1945 hingga 1955. Seiring harapan hidup yang terus meningkat, Jepang diperkirakan akan menghadapi kesulitan dalam merawat generasi yang lebih tua di masa depan. Kekurangan tenaga kerja di sektor jasa sudah menjadi perhatian besar, dengan meningkatnya permintaan terhadap perawat dan pekerja perawatan.

Tingkat fertilitas perempuan Jepang berada di sekitar 1,4 anak per perempuan dari tahun 2010 hingga 2018. Sejak itu hingga tahun 2022, tingkat fertilitas menurun menjadi 1,2. Selain adanya baby boom kecil pada awal tahun 1970-an, tingkat kelahiran kasar di Jepang telah menurun sejak 1950. Angka tersebut mencapai titik terendah saat ini yaitu 5,8 kelahiran per seribu penduduk pada tahun 2023. Dengan menurunnya angka kelahiran dan besarnya proporsi penduduk yang mencapai usia lanjut, populasi Jepang diperkirakan akan terus menurun, sebuah tren yang telah terlihat sejak tahun 2010.

Bahasa Jepang merupakan bahasa utama dari rumpun bahasa Japonik yang dituturkan oleh masyarakat Jepang, dengan berbagai dialek, dan dialek Tokyo dianggap sebagai Bahasa Jepang Standar. Bahasa Jepang memiliki sekitar 128 juta penutur, terutama di Jepang–satu-satunya negara yang menjadikannya bahasa nasional–serta di komunitas diaspora Jepang di seluruh dunia.

Rasio jenis kelamin di Jepang pada tahun 2021 adalah 95,38 laki-laki per 100 perempuan. Terdapat 61,53 juta laki-laki dan 64,52 juta perempuan di Jepang. Persentase perempuan dalam populasi adalah 51,18%, dibandingkan 48,82% laki-laki. Jepang memiliki 2,98 juta lebih banyak perempuan dibanding laki-laki.

Tingkat kelahiran dan kematian di Jepang sejak tahun 1950. Tingkat kelahiran turun drastis pada tahun 1966 yang bertepatan dengan tahun kuda api menurut zodiak Cina. Anak perempuan yang lahir tahun itu menurut takhayul dipercaya membawa nasib buruk.[5]

Demografi Jepang ditandai penurunan tingkat kelahiran secara terus menerus dan peningkatan harapan hidup yang menyebabkan penduduk Jepang makin menua. Penurunan tingkat fertilitas juga menyebabkan turunnya jumlah penduduk.[6]

Penduduk Jepang berjumlah stabil sekitar 30 juta orang sepanjang abad ke-18 hingga paruh pertama abad ke-19.[5] Populasi Jepang meningkat setelah Restorasi Meiji 1868. Pada 1926, penduduk Jepang mencapai 60 juta orang, dan melampaui angka 100 juta orang pada 1967.[5] Namun sejak tahun 1960-an hingga 1970-an, laju pertumbuhan penduduk melambat menjadi rata-rata sekitar 1%, dan turun drastis sejak 1980-an. Populasi Jepang mencapai puncaknya pada Desember 2004 sejumlah 127.840.000 orang. Populasi mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II menjadi 127.770.000 orang menurut Sensus Penduduk 2005.[5] Menurut perkiraan Biro Statistik Jepang, penduduk Jepang pada 1 Desember 2009 berjumlah 127.530.000 orang (62.130.000 laki-laki dan 65.410.000 perempuan),[7] dan dibandingkan populasi Desember 2008 terjadi penurunan sebesar 0,12% (150.000 orang).[8]

Proyeksi populasi Jepang (IPSS, 2023)

Penduduk usia 65 tahun ke atas di Jepang meningkat dari 22.005.152 orang (1 Oktober 2000) menjadi 25.672.005 orang (1 Oktober 2005).[9], dan menjadi 29.100.000 orang pada 1 Desember 2009.[7] Penduduk usia 65 tahun ke atas telah melampaui jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun) sejak tahun 1997.[5] Pada 1 Desember 2009, persentase penduduk berusia 65 tahun ke atas sebesar 22,8% dari total populasi.[7] Sensus Januari 1997 memprediksi 27,4% populasi Jepang akan berusia di atas 65 tahun pada tahun 2025, dan bertambah menjadi 32,3% pada tahun 2050.[10] Persentase penduduk usia muda (0-14 tahun) terus menyusut sejak 1982. Pada tahun 2008, penduduk usia muda berjumlah 17.180.000 orang atau 13,5% dari total penduduk, sementara populasi usia produktif (15-64 tahun) sebesar 64,5% (82.300.000 orang), dan terus menurun sejak tahun 1996.[5] Menurut data 1 Juli 2009, persentase penduduk 0-14 tahun dan 15-64 tahun mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,84% (145.000 orang) dan 1,02% (844.000 orang) dibandingkan data 1 Juli 2008.[8]

Menurut studi demografi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, populasi Jepang – termasuk penduduk asing – menurun dari 128 juta orang pada tahun 2010 menjadi 124,3 juta orang pada tahun 2023, dengan penurunan hampir 511.000 orang dalam satu tahun.[11][12]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Statistics Bureau Home Page/Population Estimates Monthly Report". www.stat.go.jp. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 April 2018. Diakses tanggal 20 February 2024.
  2. "Statistics Bureau Home Page/Population Estimates Monthly Report". www.stat.go.jp. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-04-01. Diakses tanggal 2024-03-03.
  3. "Japan - population density 2022". Statista (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-07-21.
  4. "Median age Comparison - The World Factbook". www.cia.gov. Diakses tanggal 2025-12-03.
  5. 1 2 3 4 5 6 "Chapter 2 Population". Statistical Handbook of Japan. Biro Statistik Jepang, Direktorat Jenderal Perencanaan Kebijakan (Standar Statistik) & Institut Pelatihan dan Riset Statistik. Diakses tanggal 2010-01-10.
  6. Japan's Lost Decade: Policies for Economic Revival. International Monetary Fund. 2003. hlm. 114.
  7. 1 2 3 "人口推計月報". Biro Statistik Jepang, Direktorat Jenderal Perencanaan Kebijakan (Standar Statistik) & Institut Pelatihan dan Riset Statistik. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-12-21. Diakses tanggal 2010-01-10.
  8. 1 2 "人口推計月報 平成21年12月" (PDF). Diakses tanggal 2010-01-10.
  9. "図表で見る日本の主要指標". e-Stat. Diakses tanggal 2010-01-10.[pranala nonaktif permanen]
  10. Ohsako, Toshio. "Learning and Social Participation by Senior Citizens in Japan: Analysis of Major Issues from an International Perspective". Diakses tanggal 2010-01-10.[pranala nonaktif permanen]
  11. "Japanese population falls in all 47 prefectures for first time". The Japan Times. 2023-07-26. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-09-25.
  12. Blair, Gavin (2023-07-26). "Japan's population drops by nearly 800,000 with falls in every prefecture for the first time". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2025-12-03.