Buayan, Kebumen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Buayan
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Kebumen
Pemerintahan
 • Camat Supoyo, S.Sos
Luas 78,9 km²
Jumlah penduduk 54,253 jiwa (SP 2014)
Kepadatan 688 jiwa/km²
Desa/kelurahan 20

Buayan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Buayan terletak di sebelah barat daya Kota Kebumen. Jarak Kecamatan Buayan dari Kota Kebumen adalah 31 kilometer melalui Desa Rogodono. Luas wilayahnya 78,9 km², dan jumlah penduduknya  54,253 jiwa.[1] Kecamatan Buayan terdiri atas 20 desa, 90 RW, dan 341 RT.[2] Pusat pemerintaha Kecamatan Buayan berada di Desa Buayan

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Adiwarno
  2. Banyumudal
  3. Buayan
  4. Geblug
  5. Jatiroto
  6. Jladri
  7. Jogomulyo
  8. Karangbolong
  9. Karangsari
  10. Mergosono
  11. Nogoraji
  12. Pakuran
  13. Purbowangi
  14. Rangkah
  15. Rogodadi
  16. Rogodono
  17. Semampir
  18. Sikayu
  19. Tugu
  20. Wonodadi

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

  1. Sebelah Barat: Kecamatan Ayah dan Kecamatan Rowokele
  2. Sebelah Timur: Kecamatan Gombong, Kecamatan Kuwarasan dan Kecamatan Sempor
  3. Sebelah Utara: Kecamatan Rowokele dan Kecamatan Sempor
  4. Sebelah Selatan: Samudera Hindia

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Buayan memiliki kondisi geografi berupa dataran rendah dan perbukita. Dataran rendah berada di wilayah timur atau di bantaran Sungai Jatinegara. Sedangkan perbukitan mamanjang di dari barat ke utara pada wilayah barat Kecamatan Buayan yang merupakan rangkaian perbukitan karst yang merupakan bagian dari Kawasan Karst Gombong Selatan. Ketinggian rata-rata Kecamatan Buayan adalah lebih dari 64 meter di atas permukaan air laut. Puncak tertingginya adalah Bukit Arjuna yang memiliki ketinggian 369 meter di atas permukaan air laut yang berada di perbatasan Desa Wonodadi dengan Kecamatan Ayah. Desa Pakuran di perbukitan Kecamatan Buayan menjadi desa tertinggi ke-7 di Kabupaten Kebumen karena berada di ketinggian rata-rata 322 meter di atas permukaan air laut. Sungai yang ada di wilayah ini antara lain Sungai Kretek, Sungai Jatinegara, Sungai Telomoyo, Sungai Manggis, Sungai Jladri, Sungai Gelapan, Sungai Pejarakan, Sungai Adiwarno, Sungai Kalibanda, Sungai Blanakan, Sungai Meto, Sungai Tugu, Sungai Mergosono, Sungai Kaliori, Sungai Bantar dan Sungai Keputihan.

Penggunaan Lahan[sunting | sunting sumber]

Penggunaan lahan di Kecamatan Buayan umumnya digunakan sebagai lahan persawahan di dataran rendah atau disepanjang alur sungai. Serta hutan kayu tahunan baik milik warga maupun perhutani berada di lahan berkontur perbukitan. Sebagian besar lahan sawah berada di bagian timur wilayah ini atau dibantaran Sungai Jatinegara serta di bagian utara. Sawah tersebut merupakan sawah irigasi dari Waduk Sempor dan Sungai Jatinegara. Sementara itu sebagian kecil sawah tadah hujan berada lereng perbukitan di bagian barat. Hasil bumi Kecamatan Buayan berupa padi, sayur-mayur, buah buahan, palawija, kayu, hingga hasil tambah berupa andesit, kapur dan lainnya.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Transportasi di Kecamatan Buayan berupa angkutan kota, angkutan desa, bus antar kota, dan bus antar kota antar provinsi. Angkutan kota dan angkutan desa menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Buayan dengan pusat Kabupaten Kebumen maupun dari Kecamatan Gombong. Kecamatan Buayan dilalui oleh jalan jalur alternatif selatan Jawa Tengah atau Jalan Daendels yang melintas di Desa Karangbolong dan Desa Jladri. Kecamatan Buayan juga dilintasi jalan nasional yang menghubungkan Kecamatan Buayan dengan sejumlah kota di selatan pulau Jawa. Selain itu juga terdapat jalur kereta api namun tidak memiliki stasiun kereta api. Selain itu terdapat ruas Jl. Karangbolong yang menghubungkan Kecamatan Gombong dengan jalan Daendels di pesisir.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduk Kecamatan Buayan berprofesi sebagai nelayan, petani, buruh tani, Ibu Rumah Tangga, Wiraswasta dan PNS. Umumnya penduduk usia produktif pergi merantau atau bersekolah ke kota besar seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek), Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surabaya, Kota Yogyakarta, Kota Surakarta, Purwokerto dan sejumlah kota besar di luar pulau seperti Sumatera, Bali, dan Kalimantan. Mayoritas penduduk Kecamatan Buayan memeluk agama Islam. Jenjang pendidikan yang dicapai penduduk di wilayah ini adalah hingga Universitas meski sebagiaan besar tamatan Sekolah menengah pertama dan Sekolah menengah atas

Sarana Publik[sunting | sunting sumber]

Sarana publik di Kecamatan Buayan cukup bagus dengan adanya pasar tradisonal, mushola, masjid, gereja, serta fasilitas kesehatan. Berikut di antaranya:

  1. Pasar Mergosono di Desa Mergosono
  2. Pasar Banyumudal di Desa Banyumudal
  3. Pasar Geblug di Desa Geblug
  4. Pasar Rangkah di Desa Rangkah
  5. Pasar Metho di Rogodadi
  6. Pasar Hewan Purbowangi di Desa Purbowangi
  7. Puskesmas Buayan di Desa Buayan

Sekolah Menengah[sunting | sunting sumber]

Beberapa sekolah menengah negeri dan swasta yang ada di Kecamatan Buayan adalah sebagai berikut:

  1. SMPN 1 Buayan
  2. SMPN 2 Buayan
  3. SMP PGRI Buayan
  4. MTs Nurul Istiqomah Jladri

Pariwisata & Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Buayan memiliki objek wisata yang sudah dikelola oleh pemerintah Kabupaten Kebumen maupun swadaya. Bermacam potensi wisata di antaranya pantai dan banyaknya goa. Berikut tempat wisata yang ada di Kecamatan Buayan:

1. Pantai Karangbolong

Pantai Karangbolong berada di Dusun Karangtengah, Desa Karangbolong. Pantai ini merupakan pantai landa berpasir yang tak terlalu luas, yang dibatasi oleh perbukitan yang disusun oleh batuan sedimen klastik asal-gunungapi. Pasir berwarna kelabu yang berukuran halus-kasar bersumber dari batuan tersebut. Sapuan ombak besar yang membentur dinding pebukitan menghasilkan energi yang cukup untuk mengikis, mengangkut dan mengendapkan kembali butiran batuan. Derajat pelapukan yang tinggi di kawasan ini mempercepat proses abrasi tersebut. Setempat, singkapan breksi lahar yang berada di pinggir pantai mengalami pengikisan, menghasilkan bentukan abrasi yang unik. Pantai Karangbolong mempunyai potensi membentuk arus balik yang kuat, sehingga merupakan kawasan yang berbahaya untuk berenang. Kegiatan lain yang dapat dilakukan wisatawan adalah memancing, di mana beberapa jenis ikan karang cukup melimpah di pantai ini.
Di kawasan pantai ini juga terdapat Gua Karangbolong, yang terletak di sisi timur. Sebuah lorong yang cukup panjang terbentuk pada lapisan breksi lahar yang terkekarkan. Gua Karangbolong berukuran panjang 30 m, lebar 10 m dan tinggi sekitar 5 m. Breksi yang dikenal sebagai Formasi Gabon ini berumur Oligo-Miosen atau antara 30-15 juta tahun lalu, tersingkap bersama-sama dengan sisipan batu pasir dan batu lempung.
Pembentukan Gua Karangbolong dipengaruhi oleh peruntuhan yang terjadi di sepanjang batas bidang antara breksi dengan batu pasri atau batu lempung. Lubang peruntuhan akan semakin besar karena lapisan batuan yang menggantung di atap lubang selalu runtuh akibat beratnya. Proses itu juga dipicu oleh kekar-kekar yang ada, yang kehadirannya memperlemah daya ikat antar komponen batuan. Proses pembentukan gua teramati baik di ujung timur dan selatan Goa Karangbolong, di mana pada skala kecil terjadi peruntuhan batuan di sepanjang batas lapisan yang berbeda. Karena bukan gua batu gamping, maka di dalam Goa Karangbolong tidak dijumpai ornamen. Sejumlah fasilitas pendukung wisatawan tersedia di obyek wisata ini.

2. Langen Ujung

Langen Ujung juga disebut Ngalang Ujung atau Alang Ujung ini merupakan kolam alami yang berada di Dusun Buayan Barat, Desa Buayan. Lokasinya berjarak sekira 350 meter dari jalan raya Karangbolong - Gombong dan berjarak 8 Km dari Pantai Karangbolong kearah utara. Kedalaman kolam Langen Ujung tak terlalu dalam hanya sekira 1 meter sehingga aman untuk anak-anak. Airnya jernih jika musim kemarau datang. Saking jernihnya akan terlihat dasar kolam yang berupa bebatuan. Wajar saja pengunjung yang sebagian besar warga Buayan sangat antusias berenang bersama ikan-ikan kecil yang ada di kolam tersebut.
Lokasinya yang jauh dari kebisingan serta suasana yang masih asri khas pedesaan membuat tempat ini selalu saja ramai. Meski tak ada fasilitas yang menunjang dan hanya kolam yang sangat sederhana. Menurut warga setempat air kolam Langen Ujung berasal dari sungai sungai bawah tanah sehingga airnya bersih dan segar. Meski tempat ini telah lama dikenal oleh masyarakat Kecamatan Buayan dan sekitarnya. Namun demikian belum ada tanda akan dikembangkan serta dikelola lebih jauh. Sejumlah fasilitas belum cukup tersedia.

3. Telaga Tanduk

Telaga Tanduk atau fasih diucapkan dengan Telaga Tando merupakan telaga yang terletak di Dusun Jebrang, Desa Pakuran. Tepatnya berada pada lekuk hamparan karst (gamping atau kapur) di wilayah Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) bagian timur. Telaga Tando berjarak 3 Km dari ruas vital Jl. Raya Karangbolong. Telaga Tando terbentuk di Lembah Tando yang dikelilingi perbukitan. Luas dari Telaga Tando sekitar 3 Ha dan berada pada ketinggian rata-rata 203 meter di ataspermukaan air laut.
Telaga ini berada di geomorfologi karst yang relatif masih alami dan dikelilingi bukit-bukit juga di pinggiran dusun. Sumber air dari Telaga Tando berasal dari air hujan yang terperangkap di Lembah Tando. Kemudian terjadinlah proses geologi karst sedemikian rupa hingga jadilah Telaga Tando. Selain itu juga mendapat limpahan air sungai yang mengalir dari Goa Taduk dan Goa Banteng. Ya, Telaga Tando tak tauh dari sejumlah goa di antaranya Goa Banteng, Goa Curug, Goa Beiji, Goa Landak, Goa Semar, Goa Gelatik dan lainnya. Hal tersebut dikuatkan setelah Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam, Universitas Brawijaya (IMPALA UB) Kota Malang Jawa Timur melalukan ekspedisi di Desa ini pada 2013 lalu.
Diketahui terdata 30 buah gua, 2 buah ponor atau lubang masuknya aliran air kedalam tanah pada daerah kapur atau karst, 3 buah mata air dan sebuah telaga karst, yakni Telaga Tando. Pada musim penghujan Telaga Tando akan dipenuhi air yang berwarna hijau. Sehingga waktu yang tepat untuk mengunjunginya adalah saat musim penghujan datang. Telaga Tando dan goa-goa disekitarnya belum dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Telaga Tando masih digunakan untuk media pertanian, perikanan, irigasi dan pemancingan bagi warga Desa Pakuran. Suasana di sekitar telaga Tanduksangat asri dengan pepohonan hijau serta bukit yang menjulang tinggi.

4. Air Terjun Kedunggong

Air Terjun Kedunggong merupakan kumpulan air terjun kecil di aliran Sungai Blanakan di Dusun Serang, Desa Rangkah. Air Terjun Kedunggong tidak memiliki ketinggian yang terlalu tinggi. Ketinggian tak lebih dari 5 meter saja sehingga terlihat seperti air yang merayapi jeram dan batuan karst. Namun demikian jumlahnya tersebar di sepanjang aliran sungai. Selain itu airnya jernih serta segar. Suasana di sekitarnya masih sangat alami dan ditumbuhi pepohonan rindang.

5. Sendang Pelus

Sendang Pelut berada di Dusun Kebon, Desa Rogodadi. Sendang pelus dahulu merupakan sumber mata air alami yang sangat jernih dengan ekosistem alam yang masih terjaga. Air yang ke luar dari celah batu gamping di bawah perbukitan membentuk sebuah sendang yang memiliki garis tengah sekitar 5 m. Limpahan air disalurkan melalui parit, yang di bagian hilirnya dipakai oleh penduduk setempat untuk keperluan memasak, mandi dan mencuci.
Dahulu disini dapat dijumpai ikan-ikan yang sudah perpuluh tahun mendiami sendang. Salah satu yang paling menarik adalah 7 ikan yang berbentuk seperti belut berukuran sebesar kaki orang dewasa. Warga menyebutnya Pelus atau Sidat sehingga tempat tersebut dinamai Sendang Pelus. Sehingga pada hari-hari tertentu banyak orang menaruh sesaji di pinggir sendang dan memohon supaya cita-cita dan keinginannya terkabul. Upacara ritual ini diakhiri dengan memberi makan pelus, berupa nasi dan telur goreng. Pemberian makanan dilakukan melalui juru kunci penjaga sendang, yang dijabat secara turun-temurun. Setahun sekali sendang dibersihkan, didahului dengan upacara yang digelar secara adat dan tradisi setempat. Namun kini ikan tersebut sudah jarang dijumpai.

6. Goa Simbar

Goa Simbar merupakan pesona yang masih bersembunyi di balik sunyinya perbukitan di Desa Desa Rogodadi. Seperti goa yang lain, Goa Simbar, terletak di balik lipatan kawasan pegunungan yang menarik dikunjungi wisatawan yang gemar tantangan alam. Memang di bandingkan Jatijajar, Goa Simbar belum banyak dikenal orang bahkan masih tampak alami. Tidak jauh dari Goa Simbar terdapat dua goa lagi yang tak kalah indah, yakni Goa Darat dan Goa Kali. Namun kedua goa yang terakhir tidak terlalu dalam. Goa menjadi tujuan menarik dengan berbagai keistimewaan yang tak dimiliki obyek wisata lainnya.
Untuk menjangkau goa ini, diperlukan waktu sekitar setengah jam, mendaki hampir satu kilometer perbukitan. Sesampai di mulut goa, tanah berlumpur dan genangan air, menyulitkan langkah kaki untuk beranjak. Perlu diwaspadai binatang liar dalam air dan banyaknya runtuhan stalagtit dan stalagmit yang runcing ujungnya. Sejumlah peringatan ditulis agar pengujung tidak membawa pulang batu-batu di dalam goa. Di kedalaman sekitar tujuh meter dari mulut goa, pengunjung dibuat terkagum-kagum dengan pemandangan stalagtit dan stalagmit yang menempel hampir di seluruh dinding goa. Decak kagum muncul begitu menyaksikan sebuah pilar besar yang terus tumbuh di dalam goa. Garis tengahnya sekitar satu meter seolah sebagai penahan atas goa. Semakin ke dalam semakin mempesona pemandangan Goa Simbar.
Ada sebuah tempat dengan beberapa pilar tegak lurus sebesar tubuh manusia. Penduduk setempat menjulukinya dengan batu pocong. Pilar-pilar ini memang mirip pocong. Di dalam goa juga ditemukan anak sungai. Menurut warga, ujung goa ini memang berakhir di sebuah sungai, namun sulit untuk menjangkaunya tanpa perlengkapan pengamanan. Bagian paling menantang dalam Goa Simbar adalah menuruni jurang terjal berbatu dengan ketinggian sekitar 4 meter. Terpaksa berjalan merambat, berpegangan pada dinding goa, karena batu karang tempat kaki menapak, di beberapa bagian runcing dan licin. Latar belakang sejarah ditemukannya goa ini, tak ada keterangan pasti. Sehingga pengunjung hanya bisa menikmati keindahan yang tersimpan di dalam goa saja.

7. Tanjung Karangbolong

Tanjung Karangbolong berada di Dusun Beteng, Desa Karangbolong. Tanjung Karangbolong benar-benar tersembunyi dan sulit dijangkau. Lokasinya berada dibalik perbukitan Karangkuda sehingga hanya penduduk dan nelayan setempat yang mengetahuinya. Tanjung ini terdiri atas lereng-lereng bukit dan karang. Tanjung Karangbolong memang memiliki karang yang berlubang. Keberadaanya sangat berbahaya terlebih jika ombak pantai selatan sedang ganas.

8. Pantai Pamuran

Pantai Pamuran berada di Dusun Beteng, Desa Karangbolong. Lokasinya terletak dibarat Tanjung Karangbolong. Pantai Pamuran masih jarang dikunjungi manusia lantaran lokasinya yang sangat sulit dijangkau. Lokasinya bukan hanya berada dibalik perbukitan Karangkuda saja namun juga di bawahnya. Untuk menuju ke pantai harus menuruni tebing karang yang terjal atau dianjurkan melakukan repeling. Pantai Pamuran didominasi oleh batuan kerakal dengan sedikit pasir. Pantai ini juga memiliki hutan kecil dengan beberapa pepohonan yang berkerumun. Selain itu Pantai Pamuran juga dikelilingi tebing yang tinggi menjulang. Sangat riskan bagi manusia yang berada dipantai ini terlebih jika musim penghujan. Pasalnya air hujan dan reruntuhan material bukit (longsoran) dari atas pantai sangat berpotensi terjadi.
  1. ^ "Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen". kebumenkab.bps.go.id. Diakses tanggal 2016-07-20. 
  2. ^ "Desa / Kelurahan | Kecamatan Buayan - Pemerintah Kabupaten Kebumen". kec-buayan.kebumenkab.go.id. Diakses tanggal 2016-07-20.