Lintah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hirudinea sunting
Leech in water.jpg
Seekor lintah di atas batu
Taksonomi
KerajaanAnimalia
UpakerajaanBilateria
FilumAnnelida
UpakelasHirudinea sunting
Lamarck, 1818
Ordo
Arhynchobdellida atau Rhynchobdellida
Ada ketidaksepakatan mengenai pengelompokkan Hirudinea; apakah seharusnya berupa kelas sendiri atau subkelas dari Clitellata.

Lintah[1] (Hirudinea) adalah hewan air seperti cacing, berbadan pipih bergelang-gelang, berwarna hitam atau cokelat tua, pada kepala dan ujung badannya terdapat alat untuk mengisap darah.[2]

Hewan ini tergabung dalam filum Annelida dalam kelas Hirudinea. Lintah atau Hirudinea merupakan Upakelas yang membawahi berbagai jenis spesies lintah dan pacet. Anggota jenis cacing ini tidak mempunyai rambut, parapodia, dan seta.[3]

Terdapat jenis lintah yang dapat hidup di daratan, air tawar, dan laut. Seperti halnya kerabatnya, Oligochaeta, mereka memiliki klitelum untuk menyimpan telur-telur pada segmen-segmen tertentu. Seperti Oligochaeta, lintah juga hermafrodit (berkelamin ganda). Lintah obat Eropa, Hirudo medicinalis, telah sejak lama dimanfaatkan untuk pengeluaran darah (plebotomi) secara medis.[4]

Hewan sejenis lintah termasuk pula pacet. Namun lintah dibedakan dari pacet bukan berdasarkan taksonomi, tetapi lebih pada habitat kesukaannya. Lintah sehari-hari hidup di air, sedangkan pacet sehari-harinya melekat pada daun atau batang pohon (di luar air).[5][6]

Semua spesies lintah adalah karnivora. Beberapa merupakan predator, mendapat makanan dari berbagai jenis invertebrata seperti cacing, siput, atau larva serangga.[7]

Bentuk tubuh lintah ini pipih, bersegmen, mempunyai warna kecokelatan, dan bersifat hemaprodit. Pada musim kawin, klitelum akan keluar. Setelah terjadi perkawinan, alat tersebut mensekresikan kokon untuk menyimpan telur dan sperma. Selain itu lintah juga dapat digunakan untuk pengobatan.[8]

Ragam dan asal usul[sunting | sunting sumber]

Sekitar 700 spesies lintah telah dideskripsikan, termasuk sekitar 100 yang hidup di laut, 90 di darat, dan sisanya hidup di air tawar.[9][10] Lintah terkecil memiliki panjang 1 cm, sedangkan lintah terbesar, yaitu lintah amazon (Haementaria ghilianii) dapat mencapai panjang 30 cm. Selain di Antarktika, lintah dapat ditemukan di seluruh bagian dunia, tetapi paling banyak di danau dan kolam di daerah beriklim sedang di belahan bumi utara, terutama Amerika Utara dan Eropa yang memiliki ragam-ragam lintah yang hampir serupa. Anggota kelompok lintah darat (Haemadipsidae) umumnya merupakan hewan asli daerah tropis dan subtropis sedangkan kelompok lintah air (Hirudinidae) memiliki jangkauan yang lebih luas di seluruh dunia. Kedua kelompok ini memperoleh makanannya dari mamalia, termasuk manusia.[11]

Di antara lintah air tawar, hanya sedikit yang mampu bertahan di air deras, sedangkan kebanyakan lebih menyukai daerah pinggir danau atau kolam yang tenang, dangkal dan ditumbuhi tumbuhan, atau genangan dekat sungai atau aliran air lambat. Tempat-tempat seperti ini dapat dipenuhi lintah, dengan rekor kepadatan 10.000 ekor lintah per m2 yang tercatat di Illinois, Amerika Serikat. Beberapa spesies melakukan estivasi (tidak aktif atau dorman di musim kemarau), dan mampu bertahan hidup walaupun kehilangan 90% bobot tubuhnya.[11]

Seluruh lintah digolongkan dalam upakelas Hirudinea, yang berasal dari bahasa latin hirudo, hirudinis, yang berarti lintah.[12] Sebagian penulis menggolongkan lintah primitif Acanthobdellidea sebagai infrakelas di bawah Hirudinea, tetapi sebagian yang lain menganggapnya sebagai upakelas sendiri di bawah Clitellata.[13] Kelompok kerabat lainnya, Branchiobdellida, memiliki anggota seperti Xironodrilus appalachius yang memiliki hubungan simbiosis pembersih dengan udang karang Cambarus chaugaensis.[14] Kedua kelompok ini hidup di air tawar.[15]

Evolusi[sunting | sunting sumber]

Kelompok paling tua dalam Annelida adalah Polycheata yang hidup bebas dari organisme lain, berevolusi pada zaman Kambrium dan banyak ditemukan di Serpih Burgess sekitar 500 juta tahun lalu. Oligocheata berevolusi dari Polycheata dan kelompok lintah berevolusi dari Oligocheata. Spesies-spesies Oligocheata maupun lintah tak memiliki bagian keras sehingga jarang menjadi fosil.[16] Fosil lintah tertua yang ditemukan berasal dari zaman Jura sekitar 150 juta tahun lalu, tetapi fosil anggota Annelida dengan pengisap berukuran besar yang ditemukan di Wisconsin pada tahun 1980an agaknya menunjukkan adanya riwayat evolusi kelompok ini sejak sekitar 437 juta tahun lalu, yaitu pada zaman Silur.[17][18]

Anatomi dan fisiologi[sunting | sunting sumber]

Anggota kelompok lintah menunjukkan kemiripan sangat tinggi dalam morfologinya, dan sangat berbeda dari anggota Annelida lainnya yang umumnya berbentuk tabung dengan selom (rongga tubuh) berisi cairan. Selom dalam tubuh lintah telah berubah menjadi empat saluran yang membujur di tubuhnya, dan bagian dalam tubuhnya berisi dermis yang padat yang memisahkan organ-organ. Umumnya tubuh lintah berbentuk pipih di lokasi dorsal (punggung) dan ventral (perut) dan mengecil di ujung anterior (depan) dan posterior (belakang/ekor). Selain otot-otot longitudinal (membujur) dan sirkular (melingkar) di dinding tubuh, lintah juga memiliki otot diagonal yang membuatnya mampu melenturkan tubuhnya dalam berbagai bentuk. Kebanyakan lintah memiliki pengisap di ujung anterior dan posterior, tetapi sebagian lintah primitif hanya memiliki satu di belakang.[11][15]

Cross-section of a leech showing its anatomy
Penampang lintang tubuh lintah yang menunjukkan anatominya: tubuhnya berupa padatan, selom (rongga tubuh) hanya tersisa sebagai empat saluran. Lintah memiliki ototo-otot sirkular, longitudinal, dan diagonal sehingga tubuhnya kuat dan lentur.

Seperti anggota Annelida lainnya, lintah adalah hewan beruas, tetapi bedanya ruas-ruas tubuh lintah tertutup oleh annulus atau cincin di bagian luar tubuhnya.[19] Permukaan tubuh lintah terbagi menjadi 102 cincin, sedangkan tubuhnya hanya memiliki 32 ruas.[20] Lima ruas terdepan digolongkan sebagai kepala, tempat beradanya otak anterior, oselus dorsal (mata sederhana) serta pengisap di bagian ventral. Sebanyak 21 ruas selanjutnya merupakan pertengan tubuh, yang masing-masing memiliki ganglion saraf, dan secara keseluruhan memiliki organ reproduksi (gonopori), yaitu sebuah organ betina serta testis sebanyak sembilan pasang. Tujuh ruas terakhir ditempati otak posterior dan melebur bersama membentuk pengisap bagian ekor.[11]

Dinding tubuh lintah terdiri dari sebuah lapisan kutikula (kulit ari), sebuah lapisan epidermis (kulit luar), dan sebuah lapisan tebal yang terdiri dari jaringan ikat berserat yang juga ditempati otot-otot sirkular, diagonal, dan longitudinal. Lintah juga memiliki otot dorso-ventral. Keempat saluran pengganti selom membujur sepanjang tubuh lintah, dan dua saluran utamanya berada di kedua sisi tubuh. Saluran ini menggantikan fungsi sistem hema (pembuluh darah) yang ada di anggota Annelida lainnya. Epitelium yang melapisi saluran ini terdiri dari sel kloragogen yang digunakan untuk menyimpan nutrisi dan dalam ekskresi (pembuangan). Lintah memiliki 10 hingga 17 metanefridium (jenis organ ekskresi) di bagian pertengahan tubuh. Umumnya, kotoran dari organ-organ ini mengalir lewat sebuah saluran menuju sebuah kandung kemih, lalu dibuang melalui sebuah bukaan yang disebut nefridiopori.[11]

Reproduksi dan pertumbuhan[sunting | sunting sumber]

Lintah bersifat hermafrodit protandri, artinya organ reproduksi jantannya yaitu testis matang terlebih dahulu sebelum ovarium. Sepasang lintah berkopulasi dengan menjajarkan tubuh mereka dengan kepala satu lintah searah dengan ekor lintah lainnya, dan bersentuhan di daerah klitelum sehingga gonopori jantan salah satu lintah menyentuh gonopori betina lintah lainnya. Sebuah spermatofora dikeluarkan dari penis menuju gonopora betina, dan sperma yang dikandungnya kemudian dipindahkan ke vagina dan kemungkinan disimpan di sana.[11]

Sebagian lintah tanpa rahang (Rhynchobdellida) dan lintah tanpa belalai (Arhynchobdellida) tidak memiliki penis, sehingga berkopulasi dengan suntikan hipodermik. Sepasang lintah saling melilitkan tubuh mereka dan menggenggap satu sama lain dengan pengisapnya. Sebuah spermatofora disuntikkan dari salah satu lintah melalui integumen lintah lainnya, biasanya di daerah klitelum. Sperma kemudian dilepas dan mengalir menuju kantong telur, kadang melalui saluran pengganti selom maupun melalui jalur jaringan-jaringan khusus.[11]

Dalam jangka waktu tertentu setelah kopulasi, lintah mengeluarkan telur-telur yang kecil dan relatif tidak mengandung kuning telur. Dalam kebanyakan spesies, sebuah sarung yang berisi albumin disekresikan oleh klitelum dan diisi satu atau banyak telur saat melewati gonopori betina.[11] Contohnya, spesies Erpobdella punctata di Amerika Utara menghasilkan sekitar sepuluh sarung yang masing-masing berisi sekitar lima telur.[21] Lintah air menempatkan sarung ini di sebuah benda yang tenggelam di bawah air, sedangkan lintah darat menempatkannya di bawah batu atau di tanah yang lembap. Sarung telur dari Hemibdella soleae ditempelkan ke seekor ikan yang menjadi inang.[11][22] Kelompok Glossiphoniidae mengerami telurnya dengan menempatkan sarung telur di permukaan substrat dan menutupinya dengan bagian ventral tubuhnya, atau dengan melekatkan sarung telur ke permukaan perutnya. Kelompok ini bahkan menggendong anak-anaknya yang baru lahir untuk mencari makanan pertamanya.[23]

Saat musim kawin, kebanyakan lintah air laut meninggalkan inangnya dan hidup bebas di kawasan estuari. Lintah-lintah tersebut mengeluarkan sarung telurnya di sana, dan dalam kebanyakan spesies induknya mati setelah itu. Saat telurnya menetas, anak-anak lintah mencari calon-calon inang saat mereka mendekati pantai.[23] Kebanyakan lintah memiliki daur hidup tahunan atau setengah tahun.[11]

Makanan dan pencernaan[sunting | sunting sumber]

Sekitar tiga perempat spesies lintah bersifat parasit yang mengisap darah inangnya, sedangkan sisanya merupakan predator. Sebagian lintah memiliki faring yang dapat dijulurkan, yang sering disebut belalai atau probosis, dan sebagian lain memiliki faring yang tidak dapat dijulurkan, yang kadang dilengkapi rahang.[11]

Lintah tanpa belalai dapat memiliki rahang di bagian depan mulutnya, dan memiliki tiga gigi yang membentuk sebuah sudut. Saat mengisap darah, ketiga gigi ini menusuk kulit inang, menorehkan bekas berbentuk huruf Y. Mulut lintah berada di bagian ventral di ujung anterior. Mulut ini terhubung dengan faring, esofagus, tembolok (dalam sebagian spesies), lambung, dan usus belakang yang terhubung dengan anus yang terletak di atas pengisap ekor. Lambung lintah dapat berbentuk tabung sederhana, sedangkan tembolok (jika ada) merupakan pembesaran usus di bagian tengah yang terdiri dari beberapa pasang sekum (usus buntu) yang menyimpan darah yang telah dicerna. Lintah mengeluarkan senyawa hirudin yang bersifat antikogulan (pencegah menggumpalnya darah) sehingga darah dapat dicerna sebelum menggumpal.[11] Seekor lintah medis dewasa dapat mengisap darah hanya dua kali setahun, dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencerna darah yang diisapnya.[15]

Lintah predator memiliki tubuh yang mirip, tetapi banyak yang memiliki sebuah belalai alih-alih rahang. Belalai ini normalnya disimpan di dalam mulut, dan digunakan untuk menyerang mangsa seperti sebuah tombak. Lintah-lintah ini menggunakan strategi menunggu dan menyergap mangsanya jika kesempatan muncul.[24] Makanan predator-predator ini adalah invertebrata kecil seperti siput, cacing tanah, dan larva serangga. Mangsa tersebut kemudian diisap dan ditelan bulat-bulat. Sebagian Rhynchobdellida mengisap jaringan-jaringan lunak mangsanya, sehingga dapat dikatakan bersifat pertengahan antara predator dan pengisap darah.[11]

A leech attacking a slug's underside
Seekor lintah menyerang mangsanya

Saat lintah sedang lapar, hewan ini menggunakan pengisap anteriornya untuk mengisap darah inangnya. Begitu pengisap ini terpasang, lintah menggunakan daya isap serta mukosa untuk tetap melekat, dan menyuntikkan hirudin ke dalam aliran darah inang. Umumnya, lintah pengisap darah tidak memiliki inang khusus, dan melepaskan dirinya setelah selesai makan tanpa menimbulkan akibat berarti bagi inangnya. Namun, sebagian lintah air laut terus melekat kepada inangnya sampai saatnya kawin. Jika seekor inang memiliki banyak lintah seperti ini, akibatnya bisa berbahaya bahkan hingga menyebabkan kematian.[23]

Salah satu sifat lintah yang tidak umum adalah tidak adanya enzim amilase, lipase, dan endopeptidase.[11] Akibat ketiadaan endopeptidase, mekanisme pencernaan protein tidak bisa dilakukan seperti kebanyakan hewan lain yang menggunakan endopeptidase untuk memecah protein menjadi molekul-molekul peptida yang kemudian diuraikan oleh eksopeptidase.[25] Namun, lintah memiliki eksopeptidase dalam ususnya yang berfungsi memisahkan asam amino satu per satu dari molekul panjang protein, kadang dibantu enzim protease dari bakteri yang ada di ususnya.[26] Strategi pencernaan yang mengandalakan eksopeptidase ini merupakan cabang evolusi yang membedakan Hirudinea dengan Oligocheata, dan mungkin menyebabkan lambatnya pencernaan lintah.[11]

Kurangnya enzim pencernaan dan vitamin B kompleks dalam lintah digantikan oleh enzim-enzim dan vitamin-vitamin yang dihasilkan mikroflora yang berendosimbiosis dengan lintah. Dalam lintah medis, zat-zat tersebut dihasilkan oleh dua bakteri yang bersimbiosis mutualisme, yaitu Aeromonas veronii dan sebuah spesies Rikenella yang belum tercirikan. Lintah yang tak mengisap darah, seperti Erpobdella punctata merupakan inang bagi tiga bakteria yang bersimbiosis, yaitu spesies dari Pseudomonas, Aeromonas, dan Klebsiella. Bakteri ini disebarkan dari induk lintah ke anaknya saat pembentukan sarung telur.[25]

Spesies[sunting | sunting sumber]

Hirudinea[sunting | sunting sumber]

Haemadipsa[sunting | sunting sumber]

Lintah atau haemadipsa (Hirudinea) adalah Genus yang di dalamnya terdapat beberapa spesies, di antaranya:


Habitat[sunting | sunting sumber]

Hewan-hewan dalam kelas Hirudinea dapat hidup di air tawar atau di darat. Hewan ini hidup parasitis menghisap darah atau predator dengan memangsa hewan lain.[27][28]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Indonesia) Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia "Arti kata lintah pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan". Diakses tanggal 2019-09-29. 
  2. ^ "Arti kata lintah - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2019-08-14. 
  3. ^ Buku sekolah elektronik Moch Anshori, Djoko Martono (2009). Biologi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)-Madrasah Aliyah (MA) Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ISBN : 978-979-068-129-3 ( no.jil.lengkap) / ISBN : 978-979-068-130-9. 
  4. ^ Kompasiana.com. "LINTAH (Hirudo medicinalis) sebagai Bioindikator Pencemaran Lingkungan Perairan Tawar". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2019-08-14. 
  5. ^ "Sama-Sama Senang Mengisap Darah, Apa Bedanya Lintah dan Pacet? - Semua Halaman - Bobo.Grid.ID". Bobo.ID. Diakses tanggal 2019-08-14. 
  6. ^ Ramadhani, Maysi. "Makalah annelida" (dalam bahasa Inggris). 
  7. ^ "About: Hirudinea". dbpedia.cs.ui.ac.id. Diakses tanggal 2019-08-14. 
  8. ^ Buku sekolah elektronik Idun Kistinnah, Endang Sri Lestari (2009). Biologi 1 : Makhluk Hidup dan Lingkungannya Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-129-3 (no. jilid lengkap) / ISBN 978-979-068-131-6. 
  9. ^ Sket, Boris; Trontelj, Peter (2008). "Global diversity of leeches (Hirudinea) in freshwater". Hydrobiologia. 595 (1): 129–137. doi:10.1007/s10750-007-9010-8. 
  10. ^ Fogden, S.; Proctor, J. (1985). "Notes on the Feeding of Land Leeches (Haemadipsa zeylanica Moore and H. picta Moore) in Gunung Mulu National Park, Sarawak". Biotropica. 17 (2): 172–174. doi:10.2307/2388511. JSTOR 2388511. 
  11. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Ruppert, Edward E.; Fox, Richard, S.; Barnes, Robert D. (2004). Invertebrate Zoology (edisi ke-7th). Cengage Learning. hlm. 471–482. ISBN 978-81-315-0104-7. 
  12. ^ "Hirudinea etymology". Fine Dictionary. Diakses tanggal 9 July 2018. 
  13. ^ Siddall, Mark E.; Burreson, Eugene M. (1996). "Leeches (Oligochaeta?: Euhirudinea), their phylogeny and the evolution of life-history strategies". Hydrobiologia. 334 (1–3): 277–285. doi:10.1007/bf00017378. 
  14. ^ Skelton, James; Creed, Robert P.; Brown, Bryan L. (February 2014). "Ontogenetic shift in host tolerance controls initiation of a cleaning symbiosis". Oikos. 123 (6): 677–686. doi:10.1111/j.1600-0706.2013.00963.x. 
  15. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Brusca 2016
  16. ^ Margulis, Lynn; Chapman, Michael J. (2009). Kingdoms and Domains: An Illustrated Guide to the Phyla of Life on Earth. Academic Press. hlm. 308. ISBN 978-0-08-092014-6. 
  17. ^ Thorp, James H.; Covich, Alan P. (2001). Ecology and Classification of North American Freshwater Invertebrates. Academic Press. hlm. 466. ISBN 978-0-12-690647-9. 
  18. ^ Mikulic, D. G.; Briggs, D. E. G.; Kluessendorf, J. (1985). "A new exceptionally preserved biota from the Lower Silurian of Wisconsin, U.S.A." Philosophical Transactions of the Royal Society of London B . 311: 75–85. 
  19. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Buchsbaum
  20. ^ Payton, Brian (1981). Muller, Kenneth; Nicholls, John; Stent, Gunther, ed. Neurobiology of the Leech. Cold Spring Harbor Laboratory. hlm. 35–50. ISBN 978-0-87969-146-2. 
  21. ^ Sawyer, R.T. (1970). "Observations on the Natural History and Behavior of Erpobdella punctata (Leidy) (Annelida: Hirudinea)". The American Midland Naturalist. 83 (1): 65–80. doi:10.2307/2424006. JSTOR 2424006. 
  22. ^ Gelder, Stuart R.; Gagnon, Nicole L.; Nelson, Kerri (2002). "Taxonomic Considerations and Distribution of the Branchiobdellida (Annelida: Clitellata) on the North American Continent". Northeastern Naturalist. 9 (4): 451–468. doi:10.1656/1092-6194(2002)009[0451:TCADOT]2.0.CO;2. JSTOR 3858556. 
  23. ^ a b c Rohde, Klaus (2005). Marine Parasitology. CSIRO Publishing. hlm. 185. ISBN 978-0-643-09927-2. 
  24. ^ Govedich, Fredric R.; Bain, Bonnie A. (14 March 2005). "All about leeches" (PDF). Diakses tanggal 19 January 2010. 
  25. ^ a b Sawyer, Roy T. "Leech biology and behaviour" (PDF). biopharm-leeches.com. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 10 September 2011. 
  26. ^ Dziekońska-Rynko, Janina; Bielecki, Aleksander; Palińska, Katarzyna (2009). "Activity of selected hydrolytic enzymes from leeches (Clitellata: Hirudinida) with different feeding strategies". Biologia. 64 (2). doi:10.2478/s11756-009-0048-0alt=Dapat diakses gratis. 
  27. ^ "Inilah ciri-ciri hewan dalam kelas Hirudinea filum Annelida". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-14. 
  28. ^ "SUBKELAS HIRUDINEA. - ppt download". slideplayer.info. Diakses tanggal 2019-08-14. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]