Tengkulak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Panen semangka. Para pedagang sedang melakukan pembelian dan pemilahan sortir hasil panen.
Para pedagang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Tengkulak adalah pedagang yang berkembang secara tradisional di Indonesia dalam membeli komoditas dari petani, dengan cara berperan sebagai pengumpul (gatherer), pembeli (buyer), pialang (broker), pedagang (trader), pemasaran (marketer) dan kadang sebagai kreditor secara sekaligus. Berbagai sistem mereka gunakan dalam membeli komoditas, baik dengan cara membeli sebelum panen (ijon) maupun sesudah panen.

Tengkulak kadang berkonotasi negatif, karena kemampuannya menekan petani dalam hal menentukan harga komoditas, tapi kenyataannya petani begitu dekat dengan mereka, dalam mendapatkan informasi harga dan mereka adalah penguasa pasar sebenarnya di lapangan. Terkadang,tengkulak merangkap juga petani produktif namun memiliki kemampuan kewirausahaan dan insting bisnis lebih baik dibandingkan petani lain di daerahnya

Mereka bekerja menerobos sudut terjauh dari sentra produksi, dari pedalaman hingga ujung gunung, melakukan perdagangan antar daerah dan antar pulau yang begitu luas. Pendekatan secara personal dengan petani dan melakukan perdagangan bebas secara liberal. Kadang sudah memiliki alat transportasi sendiri, menggunakan piranti modern dalam berkomunikasi dan bertransaksi.

Tengkulak bukanlah monster yang sangat menakutkan, mereka hanyalah bagian dari sistem perdagangan tradisional masyarakat Indonesia. Dengan kemampuan “struggle” di lapangan yang luar biasa, harus mampu dimanfaatkan dalam 5 masalah revitalisasi pertanian yang meliputi:

  • Peningkatan produksi.
  • Peningkatan penanganan pasca panen.
  • Peningkatan kualitas produk pertanian.
  • Kesejahteraan petani.
  • Harga pasar yang stabil sehingga tidak merugikan konsumen.

Para tengkulak yang selama ini hanya dianggap secara negatif, sebagai biang keladi yang merusak harga komoditas pertanian. Petani tidak diuntungkan karena harga tertekan dan konsumen dirugikan, karena tidak mendapat harga yang wajar untuk kebutuhan konsumsi.

Keberadaannya yang sudah berakar dalam sistem perdagangan komoditas pertanian di Indonesia, harus dimanfaatkan secara positif lewat pembinaan, pengarahan dan “grand design” yang berujung kepada peningkatan produksi, kestabilan harga dan kesejahteraan petani.

Metode ini dapat diterapkan oleh pemerintah maupun swasta (sebagai investor dan advocator) yang berniat untuk memajukan pertanian Indonesia, tanpa harus mengalami ongkos kerugian malah menjadi sebuah lahan bisnis baru. Jadikan para tengkulak sebagai agen perubahan yang dapat meningkatkan produksi, kualitas produk pertanian, kesejahteraan petani dan stabilitas harga pasar yang menguntungkan konsumen.

Selama merasa diuntungkan, para tengkulak akan melakukan secara sukarela tanpa digaji, segala arahan yang dibuat pemerintah atau investor dalam model pemberdayaan ini. Metode ini harus menguntungkan semua pihak, dari tengkulak itu sendiri, petani, pemerintah, investor hingga masyarakat konsumen.

Tujuan ahirnya dari semua itu adalah menjadikan pertanian Indonesia yang kuat secara global dan petani sejahtera.