Iri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Iri hati)
Potret seorang wanita gila atau monomaniak iri hati (juga bernama Hyena dari la Salpêtrière), oleh Théodore Géricault, sekitar 1819–1822, Museum Seni Rupa Lyon

Iri (bahasa Inggris: envy) adalah emosi yang terjadi ketika seseorang tidak memiliki kualitas superior, prestasi, atau kepemilikan dan baik menginginkannya atau berharap bahwa yang lain tidak memilikinya.[1]

Aristoteles mendefinisikan iri hati sebagai rasa sakit saat melihat nasib baik orang lain, digerakkan oleh "mereka yang memiliki apa yang seharusnya kita miliki".[2] Bertrand Russell mengatakan bahwa iri hati adalah salah satu penyebab paling kuat dari ketidakbahagiaan.[3] Penelitian terbaru mempertimbangkan kondisi di mana itu terjadi, bagaimana orang menghadapinya, dan apakah itu dapat menginspirasi orang untuk meniru orang-orang yang mereka iri.[4]

Jenis-jenis iri[sunting | sunting sumber]

Beberapa bahasa, seperti bahasa Belanda, membedakan antara "iri jinak" (benijden) dan "iri jahat" (afgunst), menunjukkan kemungkinan bahwa ada dua subtipe iri.[5] Penelitian menunjukkan bahwa iri yang jahat adalah emosi yang tidak menyenangkan yang menyebabkan orang yang iri ingin menjatuhkan orang yang lebih baik bahkan dengan kemampuannya sendiri, sementara iri jinak melibatkan pengakuan bahwa orang lain lebih baik, tetapi menyebabkan orang tersebut berkeinginan untuk menjadi sama baiknya.[6] Kecemburuan jinak masih merupakan emosi negatif dalam arti tidak menyenangkan.[7][8] Menurut peneliti, iri yang jinak dapat memberikan emulasi, motivasi peningkatan, pemikiran positif tentang orang lain, dan kekaguman.[9] Jenis iri ini, jika ditangani dengan benar, dapat secara positif mempengaruhi masa depan seseorang dengan memotivasi mereka untuk menjadi orang yang lebih baik dan sukses.[10][11]

Ada beberapa diskusi tentang apakah subtipe harus dilihat sebagai bentuk keirian yang berbeda, karena beberapa orang berpendapat bahwa kecenderungan tindakan (untuk merusak posisi orang lain karena iri yang jahat dan untuk memperbaiki posisi diri sendiri karena iri yang tidak berbahaya) bukan bagian dari bagaimana emosi didefinisikan, sementara yang lain berpikir kecenderungan tindakan adalah bagian integral dari emosi.[12] Mereka yang tidak menganggap ada subtipe keirian berpendapat bahwa situasi mempengaruhi bagaimana keirian mengarah pada perilaku; sementara mereka yang berpikir ada subtipe berpikir bahwa situasi memengaruhi subtipe keirian mana yang dialami.[12]

Pandangan Agama[sunting | sunting sumber]

Islam[sunting | sunting sumber]

Rasa iri hati atau hasad dalam Islam merupakan akhlak tercela. Karena hasad pada hakikatnya tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah. Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur'an,

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa': 32)

Hasad juga menyebabkan sikap meremehkan nikmat yang ada. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar daripada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau mensyukuri nikmat tersebut.[13] Cemburu yang dibolehkan adalah cemburu yang berdasarkan data dan bukti yang nyata. Sementara cemburu yang tidak boleh ialah cemburu yang tidak didasari bukti. Cemburu kedua ini berbahaya sebab bisa melahirkan fitnah[14].

Kekristenan[sunting | sunting sumber]

Baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ada berbagai penggambaran dari iri hari dan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan ini, hampir semua memiliki hasil yang dramatis.

Rasa iri dalam hati menyebabkan pelanggaran terhadap perintah kesepuluh dari "Sepuluh Perintah Allah". Kitab Suci menggambarkan dengan baik mengenai iri hati dalam perumpamaan yang disampaikan Nabi Natan saat hendak menyadarkan Raja Daud dari kesalahannya (2 Samuel 12:1-10); orang kaya dalam perumpamaan tersebut iri akan domba satu-satunya yang dimiliki si miskin dan akhirnya mengambil dombanya—serupa dengan yang dilakukan Raja Daud terhadap Uria (2 Samuel 11:1-27). Dan iri hati dapat menghantar seseorang sampai kepada perbuatan-perbuatan terjahat yang dapat dilakukannya (Kejadian 4:3-8, 1 Raja-raja 21:1-29).

Invidia (Iri hati) dalam "Tujuh Dosa Mematikan dan Empat Hal Terakhir", karya Hieronymus Bosch

Katolik[sunting | sunting sumber]

Karena iri hati menyebabkan timbulnya dosa-dosa lain maka Katekismus Gereja Katolik (KGK) memasukkannya dalam "Tujuh dosa pokok". Seseorang yang iri berarti bahwa ia kecewa atau cemburu atas keuntungan orang lain dan menginginkannya secara tidak wajar untuk dirinya sendiri dengan cara yang tidak adil. Sehingga seseorang melakukan dosa berat karena menginginkan yang jahat bagi sesamanya (Lihat: Bobot Dosa). Santo Gregorius Agung mengatakan bahwa iri hati menimbulkan kedengkian, fitnah, hujat, kegirangan akan kesengsaraan orang lain, dan menyesalkan keberuntungannya; sementara Santo Agustinus memandangnya sebagai "dosa setani" (diabolical sin). (KGK #2539)[15]

St. Yohanes dari Damaskus—sebagaimana dikutip oleh St Thomas Aquinas dalam Summa Theologia—mengatakan bahwa iri hati adalah satu jenis penderitaan, dan iri hati adalah penderitaan atas kebaikan orang lain.[16] Sehingga kebajikan yang adalah lawannya yaitu kebaikan hati; namun karena iri hati sering kali timbul akibat kesombongan, karena seseorang yang iri merasa dirinya layak untuk memiliki apa yang tidak dimilikinya, maka setiap orang yang telah dibaptis harus melatih diri untuk hidup dalam kerendahan hati. (KGK #2540)[15]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Parrott, W. G.; Smith, R. H. (1993). "Distinguishing the experiences of envy and jealousy". Journal of Personality and Social Psychology. 64 (6): 906–920. doi:10.1037/0022-3514.64.6.906. PMID 8326472. 
  2. ^ Rhetoric By Aristotle
  3. ^ Russell, Bertrand (1930). The Conquest of HappinessPerlu mendaftar (gratis). New York: H. Liverwright. 
  4. ^ Duffy, Michelle K.; Lee, KiYoung; Adair, Elizabeth A. (21 January 2021). "Workplace Envy". Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior. 8 (1): 19–44. doi:10.1146/annurev-orgpsych-012420-055746. Diakses tanggal 13 September 2021. 
  5. ^ van de Ven, Niels; Zeelenberg, Marcel; Pieters, Rik (2009). "Leveling up and down: The experiences of benign and malicious envy". Emotion (dalam bahasa Inggris). 9 (3): 419–429. doi:10.1037/a0015669. ISSN 1931-1516. PMID 19485619. 
  6. ^ Lange, Jens; Weidman, Aaron C.; Crusius, Jan (April 2018). "The painful duality of envy: Evidence for an integrative theory and a meta-analysis on the relation of envy and schadenfreude". Journal of Personality and Social Psychology (dalam bahasa Inggris). 114 (4): 572–598. doi:10.1037/pspi0000118. ISSN 1939-1315. PMID 29376662. 
  7. ^ van de Ven N; et al. (2009). "Leveling up and down: the experiences of benign and malicious envy". Emotion. 9 (3): 419–29. doi:10.1037/a0015669. PMID 19485619. 
  8. ^ "Why Envy Motivates Us". 2011-05-31. 
  9. ^ Lange, Jens; Crusius, Jan; Weidman, Aaron (2018). "The Painful Duality of Envy: Evidence for an Integrative Theory and a Meta-Analysis on the Relation of Envy and Schadenfreude". Journal of Personality and Social Psychology. 114 (4): 572–598. doi:10.1037/pspi0000118. PMID 29376662. 
  10. ^ van de Ven, Niels (2016). "Envy and Its Consequences: Why It Is Useful to Distinguish between Benign and Malicious Envy". Social and Personality Psychology Compass. 10 (6): 337–349. doi:10.1111/spc3.12253. 
  11. ^ Salerno, Anthony; Laran, Juliano; Janiszewski, Chris (2019-08-01). Dahl, Darren W; Price, Linda L; Lamberton, Cait, ed. "The Bad Can Be Good: When Benign and Malicious Envy Motivate Goal Pursuit". Journal of Consumer Research (dalam bahasa Inggris). 46 (2): 388–405. doi:10.1093/jcr/ucy077. ISSN 0093-5301. 
  12. ^ a b Crusius, Jan; Gonzalez, Manuel F.; Lange, Jens; Cohen-Charash, Yochi (2021). "Envy: An Adversarial Review and Comparison of Two Competing Views". Emotion Review (dalam bahasa Inggris). 12 (1): 3–21. doi:10.1177/1754073919873131. ISSN 1754-0739. 
  13. ^ Al Utsaimin, Muhammad bin Shalih, "Bahaya Hasad" Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine., Muslim.Or.Id
  14. ^ https://muslim.okezone.com/read/2020/07/10/330/2244583/cemburu-menurut-pandangan-islam
  15. ^ a b c "Catechism of the Catholic Church - The Tenth Commandment". Holy See. 
  16. ^ Thomas Aquinas. "The Summa Theologica II-II.Q36.A1 (Envy - Whether envy is a kind of sorrow?)" (edisi ke-1920, Second and Revised Edition). New Advent.