Tujuh kebajikan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Dalam Katekismus Katolik, tujuh kebajikan Kristen atau kebajikan surgawi merujuk pada gabungan dari dua kumpulan kebajikan: yaitu dari filsafat Yunani kuno, yang terdiri atas kebijaksanaan, keadilan, kesederhanaan (yang memiliki arti pembatasan atau pengendalian diri), dan keberanian (atau ketabahan); dan dari tiga kebajikan teologal, dari surat Santo Paulus dari Tarsus, yang terdiri atas iman, harapan, dan kasih (atau cinta). Itu semua digabungkan oleh Bapa Gereja menjadi tujuh kebajikan.

Konsep tujuh kebajikan surgawi merupakan lawan dari tujuh dosa mematikan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kebajikan yang pertama diidentifikasi oleh ahli filsafat asal Yunani, Aristotle dan Plato, yang menganggap kesederhanaan, kebijaksanaan, keadilan, dan keberanian sebagai empat karakter yang paling disukai. Setelah Perjanjian Baru ditulis, keempat kebajikan tersebut dikenal sebagai kebajikan utama, sedangkan iman, harapan, dan kasih sebagai kebajikan teologal. Tetapi Stalker, dalam bukunya, The Seven Cardinal Virtues berkata, "itu adalah suatu keuntungan yang berbeda untuk diingatkan bahwa karakter Kristen memiliki dasar alami... tetapi yang pasti kebajikan teologal juga adalah utama--yaitu, kebajikan tumpuan; dan akan lebih mudah jika ada satu sifat yang mewakili ketujuhnya".[1] Namun, sudut pandang seperti itu bertentangan dengan pemahaman tradisional yang membedakan sifat dari kebajikan utama dan kebajikan teologal, karena kebajikan teologal tidak dapat sepenuhnya dilakukan manusia tanpa bimbingan Tuhan. "Seluruh kebajikan memiliki cakupan akhir mereka untuk membuat manusia bertindak kondusif untuk kebahagiaan sejatinya. Namun, kebahagiaan manusia terdiri dari dua yaitu, alami, yang dapat dicapai oleh kekuatan alami manusia, dan supranatural, yang tidak dapat dicapai manusia tanpa bantuan. Karena prinsip-prinsip alami tindakan manusia saja tidak memadai untuk mencapai kebahagiaan supranatural, manusia perlu diberi kekuatan supranatural untuk bisa mencapainya. Sekarang, prinsip-prinsip supranatural itu tidak lain adalah kebajikan teologis."[2]

Tujuh kebajikan surgawi[sunting | sunting sumber]

Daftar tujuh kebajikan surgawi, yang merupakan lawan dari tujuh dosa mematikan, muncul di sebuah wiracarita berjudul Psychomachia, atau Pertarungan Jiwa. Ditulis oleh Aurelius Clemens Prudentius, seorang gubernur Kristen yang meninggal sekitar 410 M, wiracarita tersebut berisi tentang pertarungan antara kebajikan dan kejahatan. Kepopuleran karya ini di Abad Pertengahan, membantu menyebarkan konsep kebajikan suci di Eropa. Kebajikan tersebut terdiri dari kemurnian, kesederhanaan, kasih, kerajinan, kesabaran, kebaikan hati, dan kerendahan hati. Tiap-tiap kebajikan tersebut berlawanan dengan salah satu dari tujuh dosa mematikan.

Kebajikan Bahasa Latin Malaikat Keterangan (Dosa) (Latin) (Iblis)
Kemurnian Castitas Uriel Kesucian, pengetahuan, kejujuran, kebijaksanaan Hawa nafsu Luxuria Asmodeus

  • Kebijaksanaan dalam perilaku seksual berdasarkan negara yang ditinggali; praktek cinta yang sesuai dengan tata krama. Kebersihan dengan menjaga kesehatan dan kebersihan dengan baik, dan menahan diri dengan tidak mengkonsumsi minuman keras.
  • Berkata jujur kepada diri sendiri, keluarga, teman, seluruh manusia, dan seluruh ciptaan Tuhan.
  • Tidak membiarkan diri menderita ketidak tahuan; pendidikan dan pembaikan diri atas kebajikan moral dan pencapaian kemurnian pikiran.
  • Kemampuan untuk menarik diri dari agar tidak terpengaruh oleh permusuhan, godaan atau korupsi.[3]
Kesederhanaan Temperantia Sammael Rasa kemanusiaan, keadilan, hormat, abstinensi Kerakusan Gula Beelzebub

  • Penguasaan diri, kesederhanaan, keadilan. Kesadaran konstan terhadap orang lain dan sekitar; berlatih pengendalian diri, abstinensi, moderasi, dan pengendalian kepuasan.
  • Kehati-hatian dalam memilih tindakan sehubungan dengan tindakan yang tepat pada waktu tertentu; moderasi yang tepat antara ketertarikan diri sendiri, dibandingkan ketertarikan umum, dan terhadap hak-hak dan kebutuhan orang lain.
Kasih Caritas Mikhael Kehendak, perbuatan baik, kedermawanan, pengorbanan Ketamakan Avaritia Mamon

  • Kedermawanan, kasih, pengorbanan diri; istilah ini tidak boleh disamakan dengan istilah kasih pada era modern ini yang lebih terbatas yaitu memberi dengan ikhlas. Dalam teologi Kristen, kasih-atau cinta (agäpé)-adalah yang paling utama dari tiga kebajikan teologal.
  • Cinta, dalam arti cinta kasih yang tak terbatas terhadap semua orang, yang dianggap sebagai kesempurnaan akhir dari jiwa manusia, dan cerminan dari sifat Tuhan. Cinta seperti ini adalah cinta yang rela mengorbankan diri. Berbagai arti dari love (Inggris) dapat membuat kebingungan. Cinta yang merupakan "caritas" dibedakan berdasarkan asalnya-yang ilahi ada dalam jiwa-dan berdasarkan perannya dalam emosi, terlepas dari apa yang dibangkitkan oleh emosi. Cinta ini ada dalam keselamatan melalui Yesus Kristus, dan dengan itu tidak akan ada yang hilang.
Kerajinan Industria Gabriel Kegigihan, ketabahan, usaha, etika, ketulusan Kemalasan Acedia Belphegor

  • Sifat tekun dan berhati-hati dalam bertindak dan bekerja; etos kerja yang mutlak, ketabahan dalam keyakinan, keuletan, dan kemampuan untuk tidak menyerah.
  • Membatasi waktu; memantau kegiatan yang dilakukan untuk melawan kemalasan.
Kesabaran Patientia Azrael Pengampunan, belas kasih, kesabaran Kemarahan Ira Satan

  • Kesabaran yang datang dari sikap sederhana; menahan sesuatu yang tak tertahankan dengan kesabaran dan martabat.
  • Membangun rasa damai dan harmonis daripada menciptakan konflik, permusuhan, dan pertentangan; menyelesaikan masalah dan percekcokan dengan hormat, daripada berlanjut ke kemarahan dan pertengkaran.
  • Memberi pengampunan dan berwelas asih kepada para penjahat dan orang-orang berdosa.
Kebaikan hati Benevolentia Ramiel Kepuasan, kesetiaan, belas kasihan, integritas Iri hati Invidia Lewiatan

  • Amal, belas kasihan, dan persahabatan untuk kepentingan diri sendiri; rasa empati dan percaya tanpa prasangka atau kebencian.
  • Cinta yang tidak egois dan kebaikan hati secara sukarela tanpa memihak atau ada rasa dengki. Memiliki pandangan yang positif dan sikap yang ceria; untuk membangkitkan kebaikan pada orang lain.
Kerendahan hati Humilitas Rafael Keberanian, Kesederhanaan, rasa hormat, altruisme Kesombongan Superbia Lucifer

  • Kerendahan hati bukan merasa diri sendiri lebih rendah, melainkan tidak merasa diri sendiri paling hebat. Itu adalah perasaan untuk memeriksa diri dan mencurigai diri sendiri, dan melihat sisi positif dari orang-orang yang tidak disukai. Berperilaku sederhana, tidak mementingkan diri sendiri, dan pemberian rasa hormat.
  • Keberanian dari hati diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit, membosankan atau tidak menarik, dan menerima pengorbanan yang ada dengan terbuka. Penghormatan bagi mereka yang dapat bersikap bijaksana dan bagi mereka yang mengajarkan tentang cinta tanpa pamrih.
  • Memberikan kredit kepada orang yang sepatutnya; tidak secara tidak adil memuji diri sendiri. Menepati janji yang telah dibuat, tidak peduli seberapa besar atau kecil janji tersebut.
  • Menahan diri agar tidak putus asa; kemampuan untuk menghadapi rasa takut dan ketidakpastian, atau intimidasi.[4]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ The Seven Cardinal Virtues, oleh James Stalker (1902) - hal. 10
  2. ^ http://www.newadvent.org/cathen/15472a.htm
  3. ^ Hoopes, Tom. "Seven Passion Sins and Virtues". National Catholic Register. Diakses tanggal 17 Mei 2013. 
  4. ^ Robert Grosseteste II Dicta

Pranala luar[sunting | sunting sumber]