Kemarahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kemarahan
Contoh ekspresi kemarahan.

Kemarahan berasal dari kata marah (bahasa Inggris: wrath, anger; bahasa Latin: ira) adalah suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin.[1] Rasa marah menjadi suatu perasaan yang dominan secara perilaku, kognitif, maupun fisiologi saat seseorang membuat pilihan sadar untuk mengambil tindakan untuk menghentikan secara langsung ancaman dari pihak luar.[2]

Ekspresi luar dari kemarahan dapat ditemukan dalam bentuk raut muka, bahasa tubuh, respons psikologis, dan kadang-kadang tindakan agresi publik.[3] Manusia dan hewan lain sebagai contoh dapat mengeluarkan suara keras, upaya untuk tampak lebih besar secara fisik, memamerkan gigi mereka, atau melotot.[4] Marah adalah suatu pola perilaku yang dirancang untuk memperingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam mereka. Kontak fisik jarang terjadi tanpa ekspresi kemarahan paling tidak oleh salah seorang partisipan.[4] Meskipun sebagian besar pelaku menjelaskan bahwa rasa marah timbul karena "apa yang telah terjadi pada mereka," ahli psikologi menunjukkan bahwa orang yang marah sangat mungkin melakukan kesalahan karena kemarahan menyebabkan kehilangan kemampuan pengendalian diri dan penilaian objektif.[5]

Para ahli psikologi modern memandang kemarahan sebagai suatu emosi primer, alami, dan matang yang dialami oleh semua manusia pada suatu waktu, dan merupakan sesuatu yang memiliki nilai fungsional untuk kelangsungan hidup. Kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Namun, kemarahan yang tak terkendali dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pribadi dan sosial.[5][6]

Meskipun banyak filsuf dan penulis telah memperingatkan terhadap kemarahan yang spontan dan tak terkendali, terdapat ketidaksepakatan tentang nilai intrinsik dari kemarahan. Penanganan kemarahan telah menjadi bahan tulisan sejak para filsuf awal hingga saat ini. Ahli psikologi modern, berlawanan dengan para penulis awal, juga telah menunjukkan dampak buruk karena menekan rasa marah.[7] Penunjukan kemarahan juga telah digunakan sebagai strategi manipulasi untuk pengaruh sosial.[8][9]

Marah ialah emosi yang ditandai oleh pertentangan terhadap seseorang atau perasaan setelah diperlakukan tidak benar. Kemarahan membantu kita memahami bahwa kita merasa dirugikan dan memberi dorongan untuk bertindak atau memperbaiki keadaan. Kemarahan dapat berupa amarah, rasa sakit hati, sedih, atau merasa terancam, cemas atau takut. Berkaitan dengan kadar adrenalin yang meningkatkan gejala fisik. Keinginan kuat untuk melakukan sesuatu untuk menakut-nakuti atau mengintimidasi seseorang.[10]

Psikologi[sunting | sunting sumber]

The Anger of Achilles, by Giovanni Battista Tiepolo depicts the Greek hero attacking Agamemnon.

Tiga jenis kemarahan menurut pembagian para psikolog:[11]

  1. Kemarahan yang tergesa-gesa dan tiba-tiba berkaitan dengan dorongan untuk mempertahankan diri. Kemarahan jenis ini dimiliki oleh manusia dan hewan, dan itu terjadi ketika mereka tersiksa atau terjebak. Bentuk kemarahan ini bersifat episodik.
  2. Kemarahan yang terukur dan disengaja adalah reaksi terhadap bahaya yang disengaja atau perlakuan tidak adil oleh orang lain. Bentuk kemarahan ini juga bersifat episodik.
  3. Kemarahan disposisional cenderung terkait dengan sifat karakter ketimbang naluri atau kognisi. Gampang marah, cemberut, dan sikap kasar adalah contoh ujung dari kemarahan.

Dampak[sunting | sunting sumber]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Kemarahan kronis yang berlebihan dan permusuhan telah lama diketahui berperan dalam penyebab penyakit jantung koroner.[12] Hasil tinjauan metanalisis menunjukkan kemarahan dan permusuhan berhubungan dengan peningkatakan kejadian penyakit jantung koroner pada individu sehat dan prognosis yang lebih buruk pada individu dengan penyakit jantung koroner.[13] Tinjauan lain menemukan temperamen marah individu (bukan emosi marah yang muncul akibat stimulus tertentu) lebih mendorong risiko untuk mengalami serangan jantung bagi individu paruh baya yang sehat.[14] Meskipun demikian, hubungan antara kemarahan dan penyakit jantung koroner mungkin lebih disebabkan oleh perilaku tidak sehat akibat kemarahan daripada dampak langsung dari kemarahan itu sendiri.[15]

Marah dan Hubungan Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Marah berlebihan sering terjadi di antara pasangan karena sebab yang tidak jelas maupun hal sepele. Lazimnya hal ini terjadi pada mereka yang sudah menikah dibandingkan dengan yang belum terikat komitmen secara resmi. Masih belum banyak dilakukan penelitian, terutama di Indonesia, atas apa penyebab atau mengapa seseorang menjadi lebih cepat marah pada pasangan yang punya hubungan 'lebih' dibanding lainnya. Hal ini mungkin telah membuat 50% hubungan pernikahan rusak dengan sendirinya. Kemarahan terhadap pasangan perlu disikapi secara cerdas sebelum pernikahan jatuh ke jurang perceraian.[butuh rujukan]

Pandangan Agama[sunting | sunting sumber]

Islam[sunting | sunting sumber]

Dalam Islam, marah adalah suatu sikap yang hendaknya dikendalikan. Ketika sesorang sering menghadirkan sifat ini, maka tentu saja itu tidak baik dalam kehidupannya. Bahkan Nabi Muhammad sallallahu'alaihiwasallam pernah ditanya oleh sahabatnya, agar memberinya nasihat ringkas. Maka jawab beliau, "Janganlah marah -beliau mengulangi beberapa kali- Janganlah marah." HR Al Bukhari

nasihat Nabi ini unik, sebab yang bertanya ternyata adalah seorang yang suka marah. Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa setelah dijawab oleh Nabi, sahabat yang bertanya ini berkata: “Setelah itu saya memahami, bahwa kemarahan mencakup seluruh kejahatan.”  

Ini menunjukkan bahwa dalam sifat marah itu terkandung banyak keburukan sementara menahannya ada banyak kebaikan yang akan didapatkan oleh seseorang[16]

Bahkan Nabi Muhammad sendirilah yang memberi teladan dalam menahan amarah. Pernah ada seorang bernama Zaid bin Sa’nah mendatangi beliau dengan sikap kasar untuk menagih hutang yang sebenarnya belum saatnya jatuh tempo. Namun beliau menahan amarahnya dan menghadapinya dengan tersenyum dan tenang. Mengetahi kejadian itu Umar bin Khotob menghardik si pemberi hutang (Zaid), karena berbicara kasar dan tidak sesuai janji. Namun Nabi justu mengingatkan Umar agar tidak menghardik si pemberi hutang, sebab yang dibutuhkan adalah Nabi membayar dan si pemberi hutang diingatkan dengan sopan. Bahkan Nabi sendri justru memberikan kembalian yang lebih banyak karena Zaid terkena hardikan Umar yang juga keras.[17]

Menahan amarah adalah termasuk dari berbuat Ihsan yang dianjurkan Nabi sebagaimana dalam sabdanya, "Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat ihsan atas segala sesuatu. "[18] Berlaku ihsan berarti juga melaksanakan perintah Allah serta menjauhi hal yang dilarang.[19] Menjauhi marah juga berarti menjauhi sebab-sebab yang menjadikan seseorang itu marah. Karena sesuatu itu tidak bisa dilakuakan kecuali hal-hal yang menuju sesuatu itu dilakukan juga.

Buruknya Kemarahan[sunting | sunting sumber]

Allah Swt. berfirman, Ketika orang-orang Yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati merekq (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin (QS Al-Fath: 26). Melalui ayat ini Allah mencela orang-orang kafir karena mereka menampakkan kesombongan yang bersumber dari marah yang tidak pada tempatnya. Melalui ayat ini pula, Allah memuji orang-orang mukmin atas ketenangan yang diberikan-Nya kepada mereka.[20]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah. Perintahkan aku pada suatu amalan, tetapi sedikit saja." Rasulullah pun bersabda, "Jangan marah." Lelaki itu lalu mengulangi permintaannya, tetapi Rasulullah tetap mengatakan, "Jangan marah. "Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, "Aku pernah berkata kepada Rasulullah Saw., 'Katakan satu ucapan kepadaku, tetapi sedikit saja. Siapa tahu aku bisa memahaminya.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Jangan marah.' Aku lantas mengulangi permintaanku dua kali lagi, tetapi beliau memberiku jawaban yang sama, 'Jangan marah. Diriwayatkan dari Ibnu Amru bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Apa yang bisa menyelamatkan aku dari murka Allah?" Rasulullah menjawab, "Jangan marah." Ibnu Mas'ud menuturkan, "Nabi Saw. pernah bertanya, 'Siapakah petarung tangguh menurut kalian? Kami menjawab, 'Orang Yang tak terkalahkan.' Nabi lantas menjelaskan, 'Bukan dia. Tetapi Orang Yang sanggup menguasai diri ketika sedang marah." RaSulullah Saw. juga pernah bersabda, "Orang kuat bukanlah orang Yang tak terkalahkan dalam perkelahian. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan diri saat sedang marah." Beliau Saw. juga "Barang siapa menahan marahnya, Allah menutup aibnym" Nabi Sulaiman bin Dawud a.S. mengatakan, "Wahai anakku, janganlah sering marah karena itü bisa menipiskan hati seseorang yang penyabar."[20]

Hasan Al-Bashri mengatakan, "Wahai anak Adam, setiap kali engkau marah, saat itü (sebenarnya) engkau telah melompat. Dan hampir-hampir engkau melompat dengan suatu lompatan yang menjadikanmu terjatuh ke dalam api neraka." Diriwayatkan dari Zulkarnaen, "Jangan marah karena setan lebih bisa menguasai anak Adam saat ia sedang marah. Maka tolaklah kemarahan dengan menahannya, dan padamkan ia dengan kelembutan." Ja'far bin MUhammad mengatakan, "Kemarahan adalah kunci segala keburukan." Sebagian orang Anshar menyatakan, "Pangkal kedunguan adalah kebengisan, panglimanya adalah kemarahan, dan diam tidak menjawab pertanyaan orang dungu adalah jawaban."

Kepada seorang bijak dikatakan, "Betapa hebat orang yang bisa menguasai dirinya!” la lantas mengatakan, "la tidak dihinakan oleh keinginan, tidak dirongrong oleh nafsu, dan tidak dikalahkan oleh marah.” Diriwayatkan pula bahwa, "Kemarahan bisa merusak keimanan, sebagaimana jadam bisa merusak madu.”

Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan, "Lihatlah kesabaran seseorang pada saat ia marah, dan amanahnya pada saat ia membutuhkan. Bagaimana engkau bisa tahu kesabarannya jika ia tidak pernah marah? Bagaimana engkau bisa tahu amanahnya jika ia tidak pernah membutuhkan.” Ali bin Zaid menceritakan, "Seorang lelaki Quraisy berbicara kasar kepada Umar bin Abdul Aziz. Lalü Umar diam cukup lama. Kemudian Umar mengatakan, 'Engkau ingin sefan mengobarkan kemarahanku dengan (merusak) kehormatanku sebagai sultan. Hari ini aku mendapatkan darimu sesuatu yang akan engkaU dapatkan dariku besok."[20]

Hakikaf Kemarahan[sunting | sunting sumber]

Ketika Allah menciptakan hewan (termasuk manusia) sebagai makhluk Yang mudah mengalami kerusakan dan kebinasaan, Allah pun menganugerahkan kepadanya sesuatu yang bisa melindunginya dari kerusakan dan kebinasaan untuk jangka waktu tertentu. Kerusakan dan kebinasaan bisa disebabkan dari dalam tubuh sendiri berupa kebutuhan asupan. Maka, Allah menciptakan makanan yang sesuai dengan karakter tubuhnya dan menanamkan nafsu makan pada dirinya. Kerusakan dan kebinasaan ada pula yang berasal dari sesuatu di luar dirinya, seperti pedang, mata lembing, dan beragam alat pembunuh Iainnya. Maka, Allah pun menciptakan marah sebagai tabiat.[20]

Bilamana seseorang diperdaya, api marah dalam dirinya akan menyala dan membakar darah. Apabila yang ia tidak harapkan belum terjadi, kekuatan marah akan menggelorakan perlawanan terhadap segala hal yang berpotensi mencelakakannya; dan apabila Yang ia tidak harapkan sudah terjadi, kekuatan marah akan mengUpayakan pembalasan. Kekuatan marah manusia bisa dibedakan menjadi tiga kualitas, ada yang kurang, ada yang berlebih, dan ada yang seimbang.

Kurang atau tidak adanya kekuatan marah dalam diri termasuk hal Yang tercela. Orang seperti ini dikatakan tidak punya gairah, tidak bersemangat. Imam Syafii rabimahullåh mengatakan, "Orang Yang dibuat marah, tetapi ia tidak marah, adalah keledai." Allah Swt. menggambarkan para sahabat Nabi sebagai berikut: (Mereka) berSikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi lembut terhadap 0rang-orang di antara mereka (mukmin) (QS Al-Fath: 29). Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, Perangilah orang-orang kqfir dan orang-orang munqfik; dan ambillah sikap keras terhadap mereka (QS At-Tahrim: 9).[20]

Marah dikatakan berlebihan apabila ia berkuasa atas jiwa dan keluar dari kendali nalar dan agama, sehingga tidak tersisa sedikit pun cahaya padanya. Kemenangan marah bisa disebabkan oleh perkara-perkara yang bersifat naluriah maupun pembiasaan. Misalnya, seseorang bergaul dengan orang-orang yang terbiasa membanggakan diri sebagai orang yang senantiasa melampiaskan kemarahan, dan mereka menamakannya sebagai keberanian dan kejantanan. Salah seorang dari mereka mengatakan, "Aku tidak bisa bersabar atas perilaku buruk orang lain. Aku pun tidak bisa menerima penghinaan orang lain.” Artinya, ia tidak punya otak dan tidak pula punya kesabaran. Orang tersebut, karena kebodohannya, mengatakan hal demikian iłu dengan bangga. Maka siapa saja yang mendengar ucapan tersebut, akan tertanam pada jiwanya bahwa melampiaskan marah iłu bagus sehingga keinginan marah semakin menguat dałam dirinya. Dałam puncak kemarahan, marah bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli terhadap semua nasihat, dan memadamkan cahaya nalarnya. Bisa juga dampak kemarahan menjalar ke organorgan pengindra sehingga orang yang sedang marah tidak bisa melihat dengan matanya dan dunia menjadi gelap baginya. Maka, perahu di tengah gempuran ombak dan badai di tengah lautan yang gelap gulita masih lebih baik dan lebih bisa diharapkan keselamatannya daripada jiwa yang terguncang oleh marah.[20]

Di antara dampak kemarahan adalah warna kulit berubah, tubuh gemetar, tindakan menjadi tidak berurutan, gerakan dan ucapan terbata-bata, dan mata memerah. Seandainya orang yang sedang marah melihat rupa dirinya yang jelek iłu, niscaya ia akan menjadi tenang karena malu. Dibandingkan dengan rupa lahiriah, rupa batiniah orang yang sedang marah jauh lebih buruk.

Dampak kemarahan pada lisan seseorang adalah munculnya cacian dan ucapan-ucapan kotor. Sementara pada anggota badan, dampak kemarahan antara Iain bisa berupa pemukulan, penyerangan, penyobekan, serta pelukaan dan penghilangan nyawa bila mampu. Jika orang yang dimarahi melarikan diri atau tidak ada di tempat, dampak-dampak tersebut bisa saja ditimpakan kepada diri orang yang marah sendiri. Maka ia pun bisa saja menyobek-nyobek bajunya sendiri, menampar mukanya sendiri, dan tangannya memukul tanah. Bisa juga ia memukul benda-benda dan hewan. Kadang kadang ia memukul meja makan dan berperilaku seperti orang yang menuduh, dengan memaki-maki hewan ternak dan benda benda mati. Bahkan bisa jadi jika ada hewan menyenggolnya, maka ia pun akan melampiaskan dengan menendang hewan itu. Adapun dampak kemarahan pada hati adalah kedengkian, iri hati, menyimpan keburukan, gembira atas kemalangan orang Iain, sedih atas kebahagiaan orang Iain, membuka rahasia dan menyebarkan aib, menghina, dan berbagai sifat buruk Iainnya. Jadi, inilah buah dari marah yang berlebihan.[20]

Sedangkan marah yang terlalu kecil berdampak kurangnya keberanian saat kehormatan keluarga diganggu, menerima begitu saja kehinaan dari para pencela, dan kecil hati. Rasulullah Saw. bersabda, "Sungguh, Sa'id sangat pencemburu; tetapi aku lebih pencemburu daripada Sa'id; dan Allah lebih pencemburu daripada aku.” Di katakan bahwa, ”Dalam setiap umat, kecemburuan dititipkan kepada kaum lelakinya, sementara perlindungan dititipkan kepada kaum perempuannya.” Di antara ciri kelemahan marah adalah sikap lemah dan diam saat menyaksikan kemungkaran. Padahal Allah Swt. telah berfirman, Dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah (QS An-Nur: 2). Barang siapa kehilangan sifat marah, ia tidak akan berhasil dalam menempa diri. Sebab, penempaan diri hanya bisa berhasil dengan mengendalikan rasa marah atas nafsu. Yang layak dipuji adalah sifat marah berada di bawah kendali nalar dan agama serta dałam keadaan seimbang dan proporsional. Marah lebih lembut daripada rambut dan lebih łajam daripada pedang. Jika seseorang tidak mampu menguasainya, hendaknya ia bisa mendekatinya.[20]

Sebab-Sebab yang Mengobarkan Kemarahan[sunting | sunting sumber]

Obat bagi semua penyakit adalah dengan melenyapkan bahan dasarnya. Nabi Yahya pernah bertanya kepada Nabi Isa, "Apakah yang paling keras?" Nabi Isa menjawab, "Murka Allah." Nabi Yahya bertanya lagi, "Lalu apa yang mendekatkan seseorang pada murka Allah?" Nabi Isa menjawab, "Saat engkau marah." Nabi Yahya kembali bertanya, "Lantas apa yang menyebabkan kemarahan dan menumbuhkannya?" Nabi Isa menjawab, "Kesombongan, tinggi hati, dan kepongahan. Jadi, yang bisa mengobarkan kemarahan adalah kesombongan, ujub, gurauan, hinaan, perilaku membuka aib orang, perdebatan, pertentangan, pengkhianatan, serta ketamakan terhadap harta dan kedudukan. Maka dari itu, sudah seharusnya engkau nyapkan kesombonganmu dengan sikap rendah hati, dan ketinggian hatimu dengan mengenali dirimu.[20]

Bangga diri, ujub, dan sombong termasuk sifat yang sangat hina. Yang bisa dibanggakan hanyalah keutamaan, dan sifat-sifat mulia. Gurauan bisa ditinggalkan dengan menyibukkan diri de. ngan urusan-urusan ibadah; ketidaksungguhan bisa dihilangkan dengan kesungguhan dalam mencari keutamaan, akhlak, dan ilmu yang bermanfaat; hinaan bisa dipadamkan dengan menjaga hati, berlaku mulia, dan tidak mencela orang Iain; perilaku membuka aib bisa dihilangkan dengan menghindari perkataan kotor dan pedas; dan ketamakan terhadap gemerlap kehidupan bisa dilenyapkan dengan merasa cukup dengan kebutuhan pokok guna mencapai kekayaan hati.[20]

Di antara penyebab kemarahan yang paling besar bagi sebagian besar orang-orang awam adalah penggunaan istilah pemberani, jantan, besar-nyali, dan istilah-istilah positif Iainnya kepada orang yang suka marah. Penggunaan istilah-istilah itu disebabkan oleh kebodohan mereka. Dampaknya, orang cenderung senang dan menganggap pelampiasan marah sebagai kebaikan. Padahal itu adalah penyakit hati, bukti kurangnya akal, dan tanda kelemahan jiwa. Oleh karena itu, orang sakit lebih cepat marah daripada orang sehat; perempuan lebih cepat marah daripada lelaki; anakanak lebih cepat marah daripada orang dewasa; kakek-kakek lebih cepat marah daripada orang setengah baya; dan orang hina lebih cepat marah daripada orang mulia.[20]

Keutamaan Menahan Marah[sunting | sunting sumber]

Allah Swt. berfirman, (Orang-orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang menahan marahnya dan memaqfkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (QS Ali 'Imran: 134). Rasulullah Saw. bersabda, "Seorang hamba tidak meneguk pahala yang lebih besar daripada pahala dari menahan marah karena mencari ridha Allah."15 "Siapa yang menahan kemarahannyc padahal ia sanggup untuk melampiaskannyc pada Hari Kiamat nanti Allah akan memanggilnya di atas kepala semua orang (membuatnya terkenal) dan membebaskannya memilih bidadari mana pun yang ia kehendaki." Umar r.a. mengatakan, "Siapa yang bertakwa kepada Allah, ia tidak melampiaskan marahnya. Dan siapa yang takut kepada-Nya, ia tidak berlaku seenaknya.[20]

Ayyub mengatakan, "Bersabar sejenak bisa menolak keburukan Yang sangat banyak." Sufyan Ats-Tsauri, Abu Khuzaimah Al-Yarbu'i, dan Fudhail bin 'Iyadh berkumpul membahas zuhud. Lalu mereka sepakat bahwa amalan yang paling utama adalah bersabar saat marah dan sedih. Muhammad bin Ka'ab mengatakan, "Ada tiga hal, Yang apabila berkumpul pada diri seseorang, berarti ia telah menyempurnakan imannya kepada Allah. Apabila senang (tidak marah), kesenangannya tidak membawanya pada kebatilan. Apabila marah, kemarahannya tidak mengeluarkannya dari kebenaran. Dan apabila berkuasa, ia tidak mengambil yang bukan miliknya.”[20]

Ira (Kemarahan) dalam "Tujuh Dosa Mematikan dan Empat Hal Terakhir", karya Hieronymus Bosch.

Katolik[sunting | sunting sumber]

Katekismus Gereja Katolik (KGK) #1866 memasukkan "kemarahan" dalam tujuh dosa pokok, suatu penggolongan menurut kebiasaan buruk yang adalah lawan dari kebajikan (virtues) pokok.[21] Kemarahan yang dimaksud di sini adalah suatu kemurkaan berupa keinginan untuk membalas dendam dengan mengharapkan yang jahat. Kemurkaan yang besar sehingga orang ingin membunuh sesama, atau ingin melukainya, adalah kesalahan besar melawan cinta kasih --sehingga merupakan dosa berat (Lihat: Bobot Dosa); selaras dengan pernyataan Tuhan bahwa setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum (Matius 5:22).[22]

Santo Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kemarahan secara umum adalah suatu gairah dari nafsu yang peka, suatu keinginan pembalasan dengan maksud baik ataupun buruk. dan Menurut St Thomas, kemarahan dengan suatu alasan yang benar adalah terpuji; katanya:[23]

"Tidaklah diperkenankan menginginkan pembalasan dendam dengan suatu maksud jahat, kepada orang yang harus dihukum; tetapi sungguh terpuji jika menginginkan pembalasan dendam berupa suatu perbaikan atas kebiasaan buruk dan untuk mempertahankan keadilan."

Pastor Henri Nouwen, seorang penulis terkenal yang mana buku-bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa, menuliskan dalam bukunya mengenai keuntungan-keuntungan jika seseorang mengungkapkan kemarahan atau kebenciannya kepada Tuhan (bukan berarti marah atau benci kepada Tuhan) sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Kitab Suci. Katanya, dalam Kitab Suci ditemukan bahwa seseorang dapat memperoleh kebebasan dan mengetahui kepenuhan cinta Tuhan hanya dengan mengungkapkan kemarahan dan kebenciannya secara langsung kepada Tuhan saja.[24]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Anger definition". Medicine.net. Diakses tanggal 2008-04-05. 
  2. ^ Raymond DiGiuseppe, Raymond Chip Tafrate, Understanding Anger Disorders, Oxford University Press, 2006, pp.133-159.
  3. ^ Michael Kent, Anger, The Oxford Dictionary of Sports Science & Medicine, Oxford University Press, ISBN 0-19-262845-3
  4. ^ a b Primate Ethology, 1967, Desmond Morris (Ed.). Weidenfeld & Nicolson Publishers: London, p.55
  5. ^ a b Raymond W. Novaco, Anger, Encyclopedia of Psychology, Oxford University Press, 2000
  6. ^ John W. Fiero, Anger, Ethics, Revised Edition, Vol 1
  7. ^ Simon Kemp, K.T. Strongman, Anger theory and management: A historical analysis, The American Journal of Psychology, Vol. 108, No. 3. (Autumn, 1995), pp. 397-417
  8. ^ Sutton, R. I. Maintaining norms about expressed emotions: The case of bill collectors, Administrative Science Quarterly, 1991, 36:245-268
  9. ^ Hochschild, AR, The managed heart: Commercialization of human feeling, University of California Press, 1983
  10. ^ https://rsuppersahabatan.co.id/artikel/read/manajemen-marah#:~:text=Marah%20adalah%20emosi%20yang%20ditandai,untuk%20bertindak%20atau%20memperbaiki%20keadaan.
  11. ^ Paul M. Hughes, Anger, Encyclopedia of Ethics, Vol I, Second Edition, Rutledge Press
  12. ^ Kubzansky, Laura D; Winning, Ashley (2016). "Emotions and health". Dalam Barrett, Lisa Feldman; Lewis, Michael; Haviland-Jones, Jeannette M. Handbook of emotions (edisi ke-Fourth edition). New York: The Guildford Press. hlm. 620. ISBN 978-1-4625-2534-8. OCLC 950202673. Chronic anger and hostility have long been implicated in the etiology of CHD (p. 620). 
  13. ^ Chida, Yoichi; Steptoe, Andrew (2009-03). "The Association of Anger and Hostility With Future Coronary Heart Disease". Journal of the American College of Cardiology (dalam bahasa Inggris). 53 (11): 936–946. doi:10.1016/j.jacc.2008.11.044. ...anger and hostility are significantly associated not only with increased CHD events in initially healthy populations but also poor prognosis in the patients with existing CHD (p. 943). 
  14. ^ Williams, Janice E.; Nieto, F. Javier; Sanford, Catherine P.; Tyroler, Herman A. (2001-08-01). "Effects of an Angry Temperament on Coronary Heart Disease Risk : The Atherosclerosis Risk in Communities Study". American Journal of Epidemiology. 154 (3): 230–235. doi:10.1093/aje/154.3.230. ISSN 0002-9262. ..a strong, angry temperament predisposes middle-aged, normotensive persons to a significantly greater risk of MI or sudden cardiac death than anger aroused in reaction to more circumscribed stimuli, e.g., frustration, criticism, or unfair treatment (p. 234). 
  15. ^ Chida, Yoichi; Steptoe, Andrew (2009-03). "The Association of Anger and Hostility With Future Coronary Heart Disease". Journal of the American College of Cardiology (dalam bahasa Inggris). 53 (11): 936–946. doi:10.1016/j.jacc.2008.11.044. If anger and hostility do influence CHD risk, effects might be primarily mediated via behavioral pathways, with anger and hostility promoting high-risk behaviors ... the apparently harmful effects of anger and hostility on CHD were no longer significant in either the healthy or disease populations after fully controlling for behavioral covariates such as smoking, physical activity... (p. 943) 
  16. ^ "Marah, Sumber Segala Keburukan; Syarah Hadits Arbain 16". Salikun (dalam bahasa Inggris). 2020-02-20. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-03-27. Diakses tanggal 2020-02-27. 
  17. ^ الوافي في شرح الاربعين النووية (dalam bahasa Arabic). 
  18. ^ "حديث «إن الله كتب الإحسان على كل شيء..» ،". khaledalsabt.com (dalam bahasa Arab). Diakses tanggal 2020-02-27. 
  19. ^ "Kewajiban Berbuat Ihsan; Syarah Hadits Arbain 17". Salikun (dalam bahasa Inggris). 2020-02-21. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-03-27. Diakses tanggal 2020-02-27. 
  20. ^ a b c d e f g h i j k l m Ringkasan Ihya Umiddin. Jakarta: Noura Books. 2022. ISBN 978-623-242-293-3. 
  21. ^ "Catechism of the Catholic Church - Sin". Holy See. 
  22. ^ "Catechism of the Catholic Church - The Fifth Commandment". Holy See. 
  23. ^ Thomas Aquinas. "The Summa Theologica II-II.Q158 (Anger)" (edisi ke-1920, Second and Revised Edition). New Advent. 
  24. ^ Henri J. M. Nouwen, “Forward” in May I Hate God? Pierre Wolff, 2 (Paulist Press, 1979).