Hari Kasih Sayang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Hari Valentine
Antique Valentine 1909 01.jpg
Kartu Valentine tahun 1909
Nama lainHari Valentine
Hari Santo Valentinus
Pesta Santo Valentinus
Dirayakan olehBanyak negara;
Anglikan, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Lutheran
JenisBudaya, Kristen, romansa, komersial
MaknaHari Raya Santo Valentinus; perayaan cinta dan kasih sayang
KegiatanMengirim kartu ucapan dan hadiah, layanan gereja
Tanggal
Frekuensitahunan
Tempat pemujaan Santo Valentinus di Whitefriar Street Carmelite, Dublin, Irlandia
Kartu pos Hari Valentine, ~ 1910

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day) atau disebut juga Hari Kasih Kayang, pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari saat para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Kupido bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun.[1] Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal ketika kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi tersebut juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka ataupun teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perayaan Kesuburan bulan Februari[sunting | sunting sumber]

Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Hari Raya Gereja[sunting | sunting sumber]

Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908),[2] nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:

Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus.[3] Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal usulnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Valentinius[sunting | sunting sumber]

Guru ilmu Gnostisisme yang berpengaruh, Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: "Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat, dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan"..." [1].

Era abad pertengahan[sunting | sunting sumber]

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Prancis, saat dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne's day ("Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus")
When every foul cometh there to choose his mate ("Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya")

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.[4] Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, "Dari Valentinusmu".
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Hari Valentine pada era modern[sunting | sunting sumber]

Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 - 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".)

Perayaan dan larangan di seluruh dunia[sunting | sunting sumber]

Amerika[sunting | sunting sumber]

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Di Amerika Serikat, sekitar 190 juta kartu ucapan Hari Kasih Sayang dikirimkan setiap tahunnya.[5]

Asia[sunting | sunting sumber]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat pemasaran secara massal, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi dengan permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di perkantoran. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadang kala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai giri-choko (義理チョコ), dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat).[6]

Taiwan[sunting | sunting sumber]

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya yaitu "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut kalender Tionghoa.

Berbanding terbalik dengan Jepang, para pria memberikan cokelat pada wanita saat Hari Kasih Sayang, dan para wanita akan mengembalikan cokelat yang diberikan pada Hari Putih.[7]

Malaysia[sunting | sunting sumber]

Tokoh Islam di Malaysia mengingatkan umat Islam agar tidak menyambut Hari Kasih Sayang karena terdapat unsur Kristen. Perdana Menteri Datuk Seri Muhyiddin Yassin berkata, perayaan ini "tidak sesuai" untuk umat Islam.[8]

Pada tahun 2011, pihak berwajib agama Malaysia menangkap lebih 100 pasangan Muslim karena merayakan Hari Kasih Sayang.[9]

Arab Saudi[sunting | sunting sumber]

Di Arab Saudi pada tahun 2002 dan 2008, para tokoh agama mengharamkan penjualan segala barang-barang Hari Valentine karena disebut sebagai bagian dari kebudayaan Kristen.[10] Larangan ini menimbulkan pasar gelap yang menjual mawar dan kertas kado.[11][12] Pada tahun 2012, polisi agama menangkap lebih dari 140 orang Muslim untuk perayaan Hari Valentine, dan menyita semua bunga mawar merah dari toko-toko bunga.[13] Orang Muslim tidak dibolehkan merayakan Hari Valentine, dan orang non-Muslim hanya bisa merayakannya secara pribadi.[14]

"Ulama Arab Saudi Muhammad Al-'Arifi mengatakan pada Hari Valentine bahwa merayakannya merupakan bidah – inovasi yang dilarang dan menyimpang dari hukum dan kebiasaan agama – dan mimikri dunia Barat."[15][16]

Namun, pada tahun 2017 dan 2018, setelah sebuah fatwa beredar, polisi agama tidak mencegah orang Muslim merayakan Hari Valentine.[17] Pada tahun 2018, Sheikh Ahmed Qasim Al-Ghamdi, ulama Arab Saudi dan mantan presiden Komite untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Keburukan, mengatakan bahwa Hari Valentine tidak haram dan cocok dengan nilai Islam.[18][19]

Pakistan[sunting | sunting sumber]

Konsep Hari Valentine masuk ke Pakistan pada tahun akhir 90-an dengan program spesial TV dan radio. Partai Jamaat-e-Islami mendesak supaya Hari Valentine dilarang di Pakistan.[20] Meskipun demikian, perayaan ini menjadi populer bagi orang kota muda,[20] dan para penjual bunga dan kartu berharap untuk meraup keuntungan berlimpah dari perayaan ini, terutama dari menjual bunga mawar merah.[21]

Pada tahun 2016, badan pemerintah Peshawar melarang perayaan Hari Valentine pada kotanya. Larangan juga diterapkan pada kota lain, seperti di kota Kohat, oleh pemerintah lokal.[22]

Pada tahun 2017, Mahkamah Tinggi Islamabad melarang perayaan Hari Valentine pada tempat publik di Pakistan.[23] Lebih dari 80% pembaca Dawn yang disurvei pada situsnya setuju dengan keputusan ini.[24]

Pada tahun 2018, karena adanya petisi oleh Abdul Waheed, Otoritas Pengatur Media Elektronik Pakistan meminta penyiar dan penerbit koran untuk tidak menampilkan perayaan Hari Valentine apapun.[25][26]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Berita liputan6.com
  2. ^ Ensiklopedi Katolik
  3. ^ Ensiklopedi Katolik, Hari Raya Santo Valentinus
  4. ^ First Valentine
  5. ^ John Roach. "Valentine's Day Facts: Gifts, History, and Love Science". National Geographic. 
  6. ^ Yuko Ogasawara (1998). University of California Press, ed. Office Ladies and Salaried Men: Power, Gender, and Work in Japanese Companies (edisi ke-illustrated). Berkeley: University of California Press. hlm. 98–113, 142–154, 156, 163. ISBN 0-520-21044-1. 
  7. ^ Risa Yoshimura (14 Februari 2006). "No matter where you're from, Valentine's Day still means the same". The Pacer. 78 (18). Diarsipkan dari versi asli tanggal April 27, 2006. 
  8. ^ Hari Valentine: Nasihat Jakim hanya umat Islam- TPM Diarsipkan 2012-03-01 di Wayback Machine., Utusan Online, 12 Februari 2011. Diakses pada 31 Desember 2011.
  9. ^ "Malaysia Arrests 100 Muslim Couples for Celebrating Lovers' Day". The Jakarta Globe. Diakses tanggal 2011-08-06. 
  10. ^ "Cooling the ardour of Valentine's Day". BBC News. 3 February 2002. 
  11. ^ "Saudis clamp down on valentines". BBC News. February 11, 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal January 12, 2016. 
  12. ^ Lutz, Meris (February 13, 2010). "Saudi officials put the squeeze on Valentine's Day". LA Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal March 6, 2016. 
  13. ^ BBC (February 15, 2012). "Religious police swoop on Valentine's Day lovers". ABC News. Diarsipkan dari versi asli tanggal February 5, 2016. 
  14. ^ Fatima Muhammad; Mariam Nihal (February 14, 2013). "Police, Hai'a deny special Valentine's Day crackdowns". Saudi Gazette. Diarsipkan dari versi asli tanggal September 24, 2015. 
  15. ^ Raialyoum.com, February 13, 2014.
  16. ^ "Saudis Sentenced To Prison, Flogging For Celebrating Valentine's Day." Diarsipkan January 4, 2016, di Wayback Machine. MEMRI.org. May 20, 2014.
  17. ^ "Un-forbidden love: Saudis enjoy second 'religious police-free' Valentine's Day". Diarsipkan dari versi asli tanggal February 7, 2019. Diakses tanggal November 6, 2018. 
  18. ^ "Valentine is not 'haram', says ex-Saudi religious police boss". Arab News (dalam bahasa Inggris). 2018-02-15. Diakses tanggal 2022-01-15. 
  19. ^ AFP (2018-02-15). "Saudi cleric endorses Valentine's Day as 'positive event'". Dawn.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-15. 
  20. ^ a b "Hindu and Muslim anger at Valentine's". BBC. February 11, 2003. 
  21. ^ "Flower sellers await Valentine's Day". The Nation. 2010-02-08. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-04-27. Diakses tanggal 2016-02-12. 
  22. ^ "Pakistan: Valentine's Day celebrations banned in Peshawar" Diarsipkan October 8, 2016, di Wayback Machine. February 13, 2016
  23. ^ "Islamabad High Court bans Valentine's day celebrations in public places". www.geo.tv. Diarsipkan dari versi asli tanggal February 13, 2017. 
  24. ^ Srivastava, Spriha (4 February 2017). "These countries have banned Valentine's Day". CNBC. Diakses tanggal 25 February 2021. 
  25. ^ Dawn.com, Sanaullah Khan (2018-02-07). "Don't promote Valentine's Day, Pemra reminds broadcasters". DAWN.COM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-15. 
  26. ^ "Love is in the air, but not on airwaves as Pakistan bans Valentine's Day". Reuters (dalam bahasa Inggris). 2018-02-08. Diakses tanggal 2022-01-15. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]