Agama Buddha di Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Setelah pertemuan Klasik antara agama Buddha dan Kebudayaan Barat menghasilkan Seni Buddha-Yunani, pertemuan pertama antara orang Eropa dan agama Buddha terjadi pada Abad Pertengahan ketika bruder Fransiskan Willem van Ruysbroeck dikirim sebagai duta ke istana Mongolia milik Monke oleh Raja Perancis Santo Louis pada tahun 1253. Kontak ini terjadi di Cailac (sekarang Qayaliq di Kazakhstan), dan Willem pertama-tama mengira bahwa mereka adalah orang Kristen yang sudah mutakhir dan canggih (Richard Foltz, Religions of the Silk Road).

Namun ketertarikan utama bagi agama Buddha muncul selama zaman kolonial, ketika kekuasaan Barat berada di posisi untuk menyaksikan kepercayaan dan manifestasi artistiknya secara terperinci. Filsafat Eropa dengan kuat dipengaruhi oleh penelitian agama Timur saat itu.

Dibukanya Jepang untuk orang asing pada tahun 1853 juga membuat minat untuk meneliti sastra dan kebudayaan Jepang berkembang, dan merupakan akses yang sangat baik kepada salah satu kebudayaan Buddha yang terbesar di dunia.

Agama Buddha mulai menikmati minat kuat dari penduduk umum di belahan barat dunia selama abad ke-20, mengikuti kegagalan utopia sosial yang terlihat, dari Fasisme ke Marxisme. Sesudah Perang Dunia II, fokus kemajuan cenderung bergeser ke perkembangan pribadi, baik pada sisi rohani maupun jasmani.

Dalam konteks ini, agama Buddha sudah menunjukkan daya tarik kuat, karena toleransinya, ketiadaan konsep autoritas Ketuhanan dan determinisme, dan fokusnya terhadap perkembangan jalan-jalan pribadi menuju penerangan (dan keselamatan).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]