Aliansi maskapai penerbangan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sebuah aliansi maskapai penerbangan merupakan perjanjian antara dua atau lebih maskapai penerbangan untuk bekerja sama dalam tingkatan yang substansial. Tiga aliansi maskapai penerbangan penumpang terbesar adalah Star Alliance, SkyTeam and Oneworld. Aliansi juga terbentuk antara maskapai penerbangan kargo, seperti WOW Alliance, SkyTeam Cargo dan ANA/UPS Alliance. Aliansi menyediakan jaringan kesinambungan dan kemudahan bagi penumpang dan paket internasional. Aliansi juga menyediakan kemudahan pemasaran merek yang memudahkan penumpang melakukan penerbangan codeshare antar maskapai antar negara. Pemasaran merek ini juga meliputi pemasangan corak bersama antar maskapai anggota.

Keuntungan dan kekurangan[sunting | sunting sumber]

Keuntungan yang diperoleh dari aliansi adalah:

  • Jaringan yang lebih luas: Hal ini dapat diperoleh melalui perjanjian codeshare. Banyak aliansi dimulai dari perjanjian codeshare saja.
  • Pengurangan biaya operasional karena pernggunaan bersama:
    • Kantor perdagangan
    • Fasilitas perawatan
    • Fasilitas operasional seperti katering dan layanan komputer.
    • Staf operasional, seperti personel perawatan darat, meja boarding dan cek in.
    • Investasi dan pembelian, seperti usaha untuk memperoleh diskon volume lebih besar.
  • Keuntungan pelanggan adalah:
    • Tarif lebih rendah karena biaya operasional yang lebih rendah pada rute yang diberikan.
    • Pilihan waktu keberangkatan yang lebih banyak.
    • Lebih banyak destinasi yang mudah dijangkau.
    • Waktu perjalanan lebih pendek karena optimalisasi transfer.
    • Lebih banyak pilihan ruang tunggu bandara khusus karena berbagi antar maskapai anggota
    • Penghitungan jarak tempuh lebih banyak karena pernggunaan baersama program frequent flyer.
    • Tiket keliling dunia, memungkinkan pelancong melakukan perjalanan keliling dunia dengan harga yang lebih rendah.

Aliansi maskapai juga memberikan kerugian kepada pelancong, seperti:

  • Tarif yang lebih tinggi jika kompetisi di salah satu rute dihapuskan.
  • Jumlah penerbangan lebih sedikit: Jika dua maskapai terbang tiga dan dua kali dalam sebuah rute yang digunakan bersama, aliansi ini mungkin terbang kurang dari 5 (2+3) kali setiap hari pada rute yang sama. Hal ini sudah terjadi seperti penerbangan antara Detroit (hub bagi Delta Air Lines) dan Amsterdam (hub bagi KLM).

Permasalahan[sunting | sunting sumber]

Kemampuan sebuah maskapai untuk bergabung dengan sebuah aliansi maskapai seringkali dibatasi oleh hukum dan regulasi yang dibuat oleh otoritas penerbangan. Peraturan anti monopoli juga berperan besar.

Hak pendaratan mungkin tidak dimiliki oleh maskapai peenrbangan, namun oleh negara tempat kantor pusat berada. Jika sebuah maskapai kehilangan indentitas nasional tersebut dengan bergabung dengan maskapai penerbangan asing, perjanjian yang sudah ada sebelumnya dapat dianggap tidak berlaku lagi. Pada tahun 2010 Swiss kehilangan hak terbang melintasi beberapa negara setelah dibeli oleh Lufthansa.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Aliansi maskapai penerbangan pertama dimulai pada tahun 1930an, saat Pan American-Grace Airways dan peusahaan induk Pan American World Airways setuju untuk berbagi rute menuju Amerika Latin. Aliansi besar pertama dimulai pada tahun 1989, saat Northwest dan KLM Royal Dutch Airlines setuju untuk melakukan codeshare skala besar. Langkah besar dlakukan pada tahun 1992 saat Belanda menadatangani perjanjian langit terbuka pertamanya dengan Amerika Serikat, meskipun ada keberatan dari Uni Eropa. Hal ini memberikan kedua negara hak mendarat tanpa batas di seluruh wilayah negara tersebut. Secara normal, hak pendaratan diberikan dalam jumlah penerbangan dan tujuan tertentu. Penyesuaian juga terus dibicarakan, namun lebih banyak antar pemerintah daripada antar maskapai. Hal ini memudahkan Northwest dan KLM dalam melaksanakan perjanjian codeshare mereka. Maskapai penerbangan lain harus dan masih berjuang untuk mengatasi batasan antar negara yang ada.

Star Alliance didirikan pada tahun 1997 yang membuat maskapai penerbangan pesaing membentuk Oneworld tahun 1999 dan SkyTeam tahun 2000. Richard Branson, pemilik dari Virgin Group, memiliki pemikiran untuk membentuk aliansi keempat di antara maskapai pemegang merek Virgin seperti(Virgin Atlantic; Virgin America; dan grup Virgin Blue Holdings).[2]

Alliansi[sunting | sunting sumber]

Keanggotaan dan daftar penguasaan pasar bagi aliansi maskapai terbesar (pada Desember 2008) [3][4][5]

Star Alliance
27 anggota
Didirikan 1997
SkyTeam
13 anggota
Didirikan 2000
Oneworld
12 anggota
Didirikan 1999
Sisa industri
(daftar maskapai pilihan)
Penumpang per tahun 627,52 juta 385 juta 335,534 juta 489 juta
Destinasi 1172 898 871 (sebagian besar destinasi dilayani oleh maskapai tanpa aliansi)
Pendapatan (Milyar AS$) 156,8 97,9 89,875 113
penguasaan pasar 29.3% 20.6% 23.2% 26.9%
Peserta¹ Anggota
(JP) Adria Airways
2004
(A3) Aegean Airlines
2010
(AC) Air Canada
pendiri
(CA) Air China
2007
(NZ) Air New Zealand
1999
(NH) ANA
1999
(OZ) Asiana Airlines
2003
(OS) Austrian Airlines
2000
(KF) Blue1
2004
(BD) BMI
2000
(SN) Brussels Airlines
2009
(CO) Continental Airlines
2009 (akan hilang saat bergabung dengan United Continental Holdings)
(OU) Croatia Airlines
2004
(MS) EgyptAir
2008
(LO) LOT Polish Airlines
2003
(LH) Lufthansa
founder
(SK) SAS
pendiri
(SQ) Singapore Airlines
2000
(SA) South African Airways
2006
(JK) Spanair
2003
(LX) Swiss International Air Lines
2006
(JJ) TAM Airlines
2010
(TP) TAP Portugal
2005
(TG) Thai Airways International
pendiri
(TK) Turkish Airlines
2008
(UA) United Airlines
pendiri
(US) US Airways
2004

Anggota masa depan
(AI) Air India
2011
(ET) Ethiopian Airlines
2011
(AV) (TA) AviancaTACA
2012
(CM) Copa Airlines
2012

Mantan anggota
(AN) Ansett Airlines
1999–2001, ditutup
(MX) Mexicana
2000–2004, bergabung dengan Oneworld
(FM) Shanghai Airlines
2007–2010, mundur
(RG) Varig
1997–2007, dikeluarkan
Anggota
(SU) Aeroflot
2006
(AM) Aeroméxico
pendiri
(UX) Air Europa
2007
(AF) Air France
pendiri
(AZ) Alitalia
2001
(CZ) China Southern
2007
(OK) Czech Airlines
2001
(DL) Delta
pendiri
(KQ) Kenya Airways
2007
(KL) KLM
2004
(KE) Korean Air
pendiri
(RO) TAROM
2010
(VN) Vietnam Airlines
2010

Anggota masa depan
(AR) Aerolineas Argentinas
2012
(Cl) China Airlines
2011
(MU) China Eastern
2011
(GA) Garuda Indonesia
2012
(SV) Saudi Arabian Airlines
2012
(ME) Middle East Airlines
2012

Mantan anggota
(CO) Continental Airlines
2004–2009, bergabung dengan Star Alliance
(CM) Copa Airlines
2007–2009, bersama dengan Continental
(NW) Northwest
2004–2009, bergabung dengan Delta
Anggota
(AA) American Airlines
pendiri
(BA) British Airways
pendiri
(CX) Cathay Pacific
pendiri
(AY) Finnair
1999
(IB) Iberia
1999
(JL) Japan Airlines
2007
(LA) LAN
2000
(MA) Malév
2007
(MX) Mexicana
2009, bangkrut, masih anggota
(QF) Qantas
pendiri
(RJ) Royal Jordanian
2007
(S7) S7 Airlines
2010

Anggota masa depan
(AB) Air Berlin
2012
(IT) Kingfisher Airlines
2011
(MH) Malaysia Airlines
2012


Mantan anggota
(EI) Aer Lingus
2000–2007, mundur
(CP) Canadian Airlines
1999–2001, dibeli Air Canada
Amerika
(FL)
AirTran Airways
(AS)
Alaska Airlines
(CU)
Cubana
(F9)
Frontier
(G3)
Gol Transportes Aéreos
(HA)
Hawaiian Airlines
(B6)
JetBlue
(WN)
Southwest
(VX)
Virgin America
(WS)
Westjet
Eropa/Rusia
(EI)
Aer Lingus
(VV)
Aerosvit
(KM)
Air Malta
(CY)
Cyprus Airways
(FI)
Icelandair
(JU)
Jat Airways
(DY)
Norwegian Air Shuttle
(FV)
Rossiya
(UN)
Transaero
(VS)
Virgin Atlantic
Afrika & Timur Tengah
(AH)
Air Algérie
(W3)
Arik Air
(LY)
El Al
(EK)
Emirates
(EY)
Etihad Airways
(GF)
Gulf Air
(IR)
Iran Air
(QR)
Qatar Airways
Asia
(HU)
Hainan Airlines
(9W)
Jet Airways
(PK)
Pakistan International Airlines
(PR)
Philippine Airlines
Kapsitas jaringan
Amerika Utara 23% 28% 15% 34%
Amerika Selatan 1% 2% 14% 83%
Eropa 20% 16% 11% 53%
Timur Tengah 2% 0% 3% 95%
Afrika 23% 10% 4% 63%
Asia 35% 11% 9% 45%
Oseania 11% 0% 32% 57%
Antara Amerika Utara dan Eropa 27% 34% 21% 18%
Antara Amerika Utara dan Selatan 9% 29% 40% 22%
Antara Eropa dan Amerika Selatan 20% 28% 22% 30%
Antara Amerika Utara dan Asia 41% 29% 10% 20%
Antara Eropa dan Asia 36% 22% 19% 23%

Catatan[sunting | sunting sumber]

  • Tahun 2005, SkyTeam meluncurkan program Asosiasi, dimana aliansi codeshare yang sudah ada (seperti Continental dengan Copa) dapat diintegrasikan ke dalam pemasaran SkyTeam (program loyalitas, dsb.) [3]PDF.
  • Kekuatan jaringan adalah benua atau wilayah dimana maskapai jaringan memiliki satu atau lebih hub atau dominasi maskapai di satu destinasi.
  • Kelemahan jaringan adalah apabila maskapai tidak memiliki hub di satu wilayah atau benua.
  • Pada 19 Juni 2008, Continental mengumumkan akan meninggalkan SkyTeam pada 24 Oktober 2009 dan mulai bergabung dengan Star Alliance pada 27 Oktober 2009 sebagai bagian dari perjanjian codeshare dengan anggota Star Alliance United Airlines (Continental emmutuskan perjanjian codeshare dengan Delta dan Northwest). [6][7]
  • Dari tabel di atas, ketiga aliansi menguasai 60.8% pasar.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Moscow's muscle flexing about overflight rights aims beyond Switzerland | World | Deutsche Welle | 12.06.2010. Dw-world.de (2010-02-22). Retrieved on 2011-03-04.
  2. ^ Perman, Stacy. (2010-09-05) Virgin's Richard Branson Circles His Wagons. TIME. Retrieved on 2011-03-04.
  3. ^ Fact Sheet June, 2010, skyteam.com
  4. ^ [1][pranala nonaktif]
  5. ^ oneworld AT A GLANCE STATISTICS
  6. ^ Continental Airlines – Proud member of Star Alliance. Continental.com (2009-10-27). Retrieved on 2011-03-04.
  7. ^ [2][pranala nonaktif]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]