Sulaiman dari Banjar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Tuan Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Sulaiman Saidullah Raja Atas Tahta Kerajaan Negeri Banjar[1]
Sultan Soleman Almo'tamid Aliallah/Soliman Almoh Tammit Alalah[1]
Sultan Sleeman Almoh Tamid Alalah[1]
Sultan Soleman Sa'idallah[1]
Sultan Salehman[1]
Sultan Sulaiman al-Mu'tamidullah
Sultan Sulaiman Rahmatullah
Pangeran Ratu Sultan Sulaiman[1]
Pangeran Sultan Muda Sulaiman
Panembahan Sulaiman[2]
Panembahan Sepuh[2]
Masa kekuasaan 1767 (Sultan Muda)
1801-1825 (Sultan)[3]
Pemakaman desa Lihung
Pendahulu Sultan Tahmidullah II
Pengganti Sultan Adam al-Watsiq Billah
Pasangan

1. Nyai Ratna[2] atau Nyai Ratu Intan Sari (Permaisuri)
2. Nyai Cina [2]
3. Nyai Argi [2]
4. Nyai Unangan[2]

5. Nyai Kamala Sari
Anak

1. ♂ Sultan Adam, anak Nyai Ratu Sepuh (Nyai Ratna) binti Kiai Adipati Singasari)[4]
2. ♂ Pangeran Mangkoe Boemi Nata, anak Nyai Ratu Sepuh
3. ♀ Ratoe Hadji Moesa, anak Nyai Ratu Sepuh
4. ♂ Pangeran Perbatasari, anak Nyai Ratu Sepuh
5. ♂ Pangeran Kassir, anak Nyai Ratu Sepuh[5]
6. ♀ Ratoe Soengging Anoem, anak Nyai Ratu Sepuh
7. ♂ Pangeran Dipati di Mahang (HST)
8. ♂ Pangeran Ahmad
9. ♂ Pangeran Wahid
10. ♂ Pangeran Muhammad
11. ♂ Pangeran Kusairi
12. ♂ Pangeran Hasan
13. ♂ Pangeran Achmid[6][7]
14. ♂ Pangeran Kasoema Widjaja/Pangeran Berahim[6][8]
15. ♂ Pangeran Tasin[6]
16. ♂ Pangeran Singa-Sarie[6]
17. ♂ Pangeran Hamim[6]
18. ♀ Ratu Kartasari
19. ♀ Ratu Marta
20. ♀ Ratu Salamah
21. ♀ Gusti Umi/Gusti Kacil
22. ♀ Ratu Mashud/Gusti Hadijah, ibu Pangeran Antasari

[9]
Wangsa Dinasti Banjarmasin
Ayah Sunan Sulaiman Saidullah[1]
Ibu Putri Lawiyah binti Sultan Tahmidubillah

Sultan Sulaiman al-Mu'tamidullah/Sultan Sulaiman Saidullah bin Sunan Sulaiman Saidullah/Sunan Nata Alam/Sultan Tahmidullah II adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1801-1825.[10] Kesultanan Banjar terletak di Kalimantan Selatan, Indonesia. Adiknya Pangeran Mangku Dilaga dilantik sebagai mangkubumi dengan gelar Ratu Anum Mangku Dilaga. Belakangan Ratu Anum Mangku Dilaga ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta. Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husin dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri.[2]

Sultan Sulaiman meninggal 3 Juni 1825.[11] Pada masa Sultan Sulaiman, pusat pemerintahan berada di Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Sultan Sulaiman dikenal pula dengan nama Sultan Sulaiman Saidullah II atau Sultan Sulaiman Rahmatullah. Baginda mendapat gelar Sultan Muda sejak tahun 1767 ketika berusia 6 tahun dari ayahnya Susuhunan Nata Alam agar penggantinya tetap pada garis keturunannya. Panembahan Sulaiman/Sultan Sulaiman melantik puteranya Pangeran Adam sebagai raja muda dengan gelar Sultan Adam, kemudian dia sendiri mengambil gelar Panembahan Sepuh.[2]

Mangkubumi yang menjabat pada masa Sultan Sulaiman adalah:

  1. Ratu Anom Ismail (Pangeran Ismail bin Sunan Nata Alam)[12]; dihukum bunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga (difitnah) akan merencanakan kudeta.
  2. Pangeran Mangku Bumi Nata (Pangeran Husin bin Sultan Sulaiman), mangkubumi sejak 1823.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Anak-anak Sultan Sulaiman Saidullah terdiri 18 orang yaitu anak laki-laki 12 orang dan anak perempuan 6 orang.[2]

Sultan Sulaiman memiliki permaisuri yang merupakan puteri Adipati Banua Lima (golongan Anang/Nanang-nanangan Raja) yaitu Nyai Ratna bergelar Nyai Ratu Sepuh binti Kiai Adipati Singasari[2][4] yang dikaruniai 6 anak yaitu :

  1. Sultan Adam - memiliki 11 anak. Dia leluhur mantan Gubernur Kalimantan Pangeran Muhammad Noor.
  2. Pangeran Husin bergelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata - menjadi mangkubumi sejak 1823[2][13] - memiliki 17 anak.
  3. Pangeran Perbatasari - memiliki 5 anak.
  4. Ratu Haji Musa (menikahi Pangeran Aji Musa ( Raja Kusan II ) - memiliki 3 anak.
  5. Pangeran Kasir[14] - memiliki 5 anak.
  6. Ratu Salamah/Ratu Sungging Anum (menikahi Pangeran Sungging Anom bin Ratu Anom Mangku Dilaga) - tidak memiliki keturunan.

Putera-puteri dari selir-selir lainnya:

  1. Goesti Hadidjah bergelar Ratoe Masoöd , menikahi Pangeran Masoöd (orangtua Pangeran Antasari).
  2. Pangeran Achmid (anak Nyai Argi) [2][15] leluhur mantan Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman.
  3. Pangeran Singosari, leluhur Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah.
  4. Pangeran Musa (anak Nyai Ratna) [2]
  5. Pangeran Sungging Anum (anak Nyai Ratna) [2]
  6. Pangeran Ahmad (anak Nyai Cina) [2]
  7. Pangeran Kacil/Pangeran Hasan?(anak Nyai Cina) [2]
  8. Pangeran Tasin (anak Nyai Cina) [2][16][17]
  9. Pangeran Jamain/Pangeran Wahid? (anak Nyai Cina) [2]
  10. Ratu Karta Sari (anak Nyai Unangan) [2] menikahi dengan Pangeran Kartasari bin Pangeran Sungging Anom bin Ratu Anom Mangku Dilaga.
  11. Ratu Marta [2]
  12. Gusti Kacil/Gusti Umi? [2]

Setelah Sultan Sulaiman Saidullah dilantik, Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan pada 19 April 1802. Perjanjian hanya mengingatkan kembali bahwa Kesultanan Banjar telah diserahkan kepada pemerintah Belanda seperti Perjanjian 1787. Dalam perjanjian itu ditambahkan bahwa Sultan berusaha menangkap dan menghukum potong kepala orang-orang Dayak yang telah melakukan pemotongan kepala. Hukuman potong kepala terhadap orang Dayak itu harus dilakukan dimuka loji Belanda. Selebihnya dalam perjanjian itu pemerintahan Belanda mengharapkan agar Sultan dapat memelihara kebun-kebun lada agar hasil lada menjadi lebih baik. Pada tahun 1809, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan Sulaiman yang menitikberatkan pada usaha pemeliharaan kebun lada, agar lada dapat berproduksi sebagaimana diharapkan oleh Belanda. Dalam perjanjian itu Belanda tetap mengakui kedaulatan Sultan Banjar dan tidak menyinggung tentang masalah pemerintahan termasuk hubungan dagang ke luar negeri. Tahun 1809, Daendels menarik diri dari Banjarmasin.[18]

Sultan Sulaiman menjalin hubungan dengan negara lain, seperti dengan Kesultanan Buton, melalui suratnya tahun 1811, Sultan Buton memohon dukungan moral untuk mendapatkan rekomendasi dalam perdagangan.[19]

Inggris[sunting | sunting sumber]

Pada perkembangan selanjutnya, Belanda kalah menghadapi Inggris dan pada tahun 1811 Belanda menyerahkan Batavia kepada East India Company (EIC), perusahaan perdagangan Inggris.

East India Company (EIC) mengadakan perjanjian persahabatan dengan kesultanan Banjar. Dalam perjanjian itu EIC-Inggris tidak menyinggung masalah kedaulatan pemerintahan Sultan Sulaiman tetapi lebih banyak masalah perdagangan. EIC Inggris menduduki beberapa daerah yang sebelumnya diduduki Belanda seperti pulau Tatas (Banjarmasin), Kuin, Paser, Pulau Laut, Pagatan, dan Bakumpai. Selanjutnya EIC-Inggris mempertahankan dan melindungi hak-hak Sultan dan kekuasaan Sultan begitu pula hak milik Sultan terhadap serangan orang Eropa lainnya dan terhadap musuh bangsa Asia. Perjanjian ditanda tangani oleh Sultan dan para bangsawan kerajaan lainnya yaitu : Pangeran Panambahan Adam, Pangeran Aria Mangku Negara, Pangeran Kasuma Wijaya (anak Sultan Sulaiman) dan Pangeran Ahmad (anak Sultan Sulaiman), sedangkan dari pihak EIC-Inggris diwakili oleh Commissioner D. Wahl.

Perjanjian antara Belanda dan Inggris memutuskan bahwa Belanda diperbolehkan kembali menduduki bekas wilayah kekuasaannya kemudian EIC-Inggeris melepaskan kembali Batavia pada tahun 1816. Setelah ditinggalkan EIC-Inggris pada tahun 1816 dan Belanda kembali datang ke Kesultanan Banjar kemudian membuat perjanjian dengan Sultan Sulaiman pada tahun 1817 dan tahun 1823.

Perjanjian 1817 dan 1823[sunting | sunting sumber]

Sultan Sulaiman membuat perjanjian pada 1 Januari 1817 yang merupakan Kontrak Persetujuan Karang Intan I antara Sultan Sulaiman dengan Hindia Belanda diwakili Residen Aernout van Boekholzt. Kemudian pada 13 September 1823 penandatanganan Kontrak Persetujuan Karang Intan II antara Sultan Sulaiman dengan Hindia Belanda diwakili Residen Mr. Tobias

Isi Perjanjian-perjanjian itu menyatakan :[1]

  1. Kesultanan Banjar yang mempunyai wilayah pengaruh yang cukup luas meliputi Kesultanan Berau, Kutai, Pasir, Dayak Besar, Sampit, Kotawaringin dan Lawai (hulu sungai Kapuas). Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa daerah-daerah itu berada dalam wilayah pendudukan Hindia Belanda.
  2. Orang bukan bangsa Banjar adalah orang asing, seperti : Bugis, Makassar, Bali, Mandar, Jawa, begitu pula Cina, Eropa dan Arab. Semua orang asing diperlakukan hukum Eropa oleh Belanda kalau mereka membuat tindak pidana.
  3. Belanda meminta Sultan agar berusaha menggalakkan tanaman kopi dan lada.

Surat-surat kepada Gubernur Jenderal Willem Arnold Alting[20][sunting | sunting sumber]

  • Cod. Or. 2239-II (11), Universiteitsbibliotheek, Leiden.

Sultan Sulaiman , Banjarmasin → Gur. Jen. Willem Arnold Alting, 2 Ramadhan 1206 (24 April 1792). Isi : Membicarakan harga barang-barang yang ditukar antara kedua pihak, serta keluhan bahwa hak Sultan atas separuh cukai tidak mau dibayar oleh Fetor setempat.

  • Cod. Or. 2239-II (13) ?? atau 2241 IIa (13), Universiteitsbibliotheek, Leiden.

Sultan Sulaiman , Banjarmasin → Gur. Jen. Willem Arnold Alting, 20 bulan Safar 1207 (7 Oktober 1792). Isi : Laporan Raja Banjar bahwa tugasnya sudah dijalankan sesuai dengan perjanjian, yaitu setiap kepala yang ditunjuk akan membuka kebun lada. Tiap kebun itu dikerjakan oleh 50 orang. Kalau tidak mengerjakan pekerjaan itu, mereka akan dihukum dengan hukuman berat. Juga dinyatakan bahwa mereka sudah menerima kiriman 10 tong obat bedil dan Raja Banjar juga minta dikirimi kertas air emas 12 lembar.

  • Cod. Or. 2239-II (22), Universiteitsbibliotheek, Leiden.

Sultan Sulaiman , Banjarmasin → Gur. Jen. Willem Arnold Alting, bulan Rabiulakhir 1209 (20 November 1794). Isi : Berita tentang penyerangan yang diderita dari orang Pasir dan Kutai. Banyak rakyat dibunuh, yang lain dipaksa mendirikan benteng. Sultan menanti perintah dari Kompeni. Harapannya agar Gur. Jen. menulis surat kepada Sultan Pasir untuk mengajak damai. Kalau ditolak, rencananya Pasir akan diserang dari laut oleh Belanda dan dari darat oleh Banjar. Juga diberitahukan tentang kebun lada yang sedang dikerjakan.

  • Cod. Or. 3036-IV (5), Universiteitsbibliotheek, Leiden.

Sultan Banjar , Banjarmasin → Gur. Jen. Willem Arnold Alting, 9 Zulkaidah 1210 (17 Mei 1796). Isi : Pemberitahuan bahwa Sultan sudah menerima bingkisan, yang isinya didaftarkan satu per satu

  • AN. 55, Arkib Negara, Jakarta.

Pangeran Mangkubumi , Banjarmasin → Gur. Jen. , 1 Safar 1239 (7 Oktober 1823). Isi : Pernyataan bahwa Mangkubumi bersedia diangkat sebagai kepala pemerintah Banjar dan telah bersumpah sesuai dengan perjajian antara Kompeni dan negeri Banjar.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h (Indonesia) Hindia- Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860. Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat. hlm. 91.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Bandjermasin" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u (Indonesia)Saleh, Mohamad Idwar (1986). Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "tutur candi" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ Daftar Sultan Banjar dalam Indonesian Traditional States II
  4. ^ a b http://silsilahkayutangi.blogspot.com/p/silsilah-kiai-adipati-singasari-raja.html
  5. ^ (Belanda) van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 2. D. A. Thieme. hlm. 278. 
  6. ^ a b c d e (Belanda) Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia), Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia) (1860). Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap 9. Lange. hlm. 124. 
  7. ^ (Belanda) (1855)Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde 3. hlm. 569. 
  8. ^ Ratu Serip (Ratu Syarif) gelar putri Sultan Banjar yang menikah dengan bangsawan Arab (Syarif/Habib)
  9. ^ Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar (13)
  10. ^ Regnal Chronologies Southeast Asia: the Islands
  11. ^ (Belanda) P. J. Veth, Borneo's Wester-Afdeeling, geographisch, statistisch, historisch, voorafgegaan door eene algemeene schets des ganschen eilands, Jilid 1, Joh. Noman, 1854
  12. ^ dalam Tutur Candi disebut Ratu Anum Mangku Dilaga
  13. ^ Padoeka Pangeran Mangkoe Boemi, yang memegang parintah dalam negrie BANDJARMASING (Belanda) Philippus Pieter Roorda van Eysinga, Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie. 3 boeken [in 5 pt.], 1841
  14. ^ (Belanda) Willem Adriaan Rees, De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, Volume 2, D. A. Thieme, 1865
  15. ^ (Belanda) Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, Volume 3, 1855
  16. ^ http://kalsel.prokal.co/read/news/3285-wah-ada-keturunan-sultan-banjar-di-papua.html
  17. ^ http://kesultananbanjar.com/id/keturunan-sultan-tamjidilillah-i-sampai-ke-papua/
  18. ^ (Inggris) H. F. van Panhuys, T.M.C. Asser Instituut (1978). H. F. van Panhuys, editor. International law in the Netherlands 1. BRILL. hlm. 155. ISBN 9028601082. ISBN 978-90-286-0108-6
  19. ^ (Indonesia) Abdul Mulku Zahari, Achadiati Ikram, Katalog naskah Buton koleksi Abdul Mulku Zahari, Yayasan Obor Indonesia, 2001 ISBN 979-461-391-6, 9789794613917
  20. ^ Surat Beriluminasi Raja Nusantara; Mu'jizah, Iluminasi dalam Surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19, forthcoming

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Rees, Van W.A, 1865. De Bandjermasinsche Krijg 1859-1863. Arnhem: D.A. Thieme.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Muhammad Aliuddin Aminullah
Sultan Muda/Pangeran Ratu
1767-1801
Diteruskan oleh:
Adam
Didahului oleh:
Tahmidullah II
Sultan Banjar
1801-1825
Diteruskan oleh:
Adam

Lihat pula[sunting | sunting sumber]