Kerajaan Nanga Bunut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kerajaan Nanga Bunut merupakan kerajaan yang terletak di persimpangan muara Sungai Kapuas yang merupakan penghubung antara kecamatan-kecamatan, ibu kota, serta kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat.[1][2][3][4][5] Kerajaan Nanga Bunut berdiri pada tanggal 29 Januari 1877 dengan surat asisten residen Sintang nomor 91 tahun 1877 yang menyatakan Negeri Nanga Bunut telah berdiri selama 64 tahun.[6] Dan pada tahun 1909 dikuasai dan diletakkan di bawah kekuasaan Hindia Belanda.[7]

Silsilah Raja[sunting | sunting sumber]

Urutan para pemegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Nanga Bunut adalah sebagai berikut:[6]

  1. Raden Setia Abang Berita Kyai Adi Pati Jaya;
  2. Raden Suma Abang Mandoh;
  3. Kyai Mangku Abang Ubal.

daftar Pangeran Nanga Bunut[sunting | sunting sumber]

1 1815-1855: Panembahan Adi

2 1855-1858: Panembahan Mangkunegara

3 1858-1876: Panembahan Mangkunegara II

4 1876-1884: Panembahan Mangkunegara III

5 1884-1909: Panembahan Adi Pakunegara

Nagara Bunut di bawah kuasa hindia belanda 1909.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Bermula dari tempat perencanaan, berasal dari Batang Suruk di pedalaman perairan Batang Bunut yang bertempat tinggal di sekitar daratan Gunung Lohot, Sunan dan hampir mendekati bukit tekalong, bagi suku ini yang berada di sekitar perairan Sungai Kapuas dan Sungai Bunut bergabung menjadi satu di dalam satu kerajaan, kendati suku ini berbeda-beda.[6] Adapun sungai yang dilalui atau dimasuki suku-suku, yaitu:[6]

  1. Suku yang berada di sungai Embaloh dengan gelar Suku Embaloh.
  2. Suku yang berada di sungai Batang palin dan Batang lauk dengan nama gelar Suku Palin.
  3. Suku yang berada di sungai Kapuas terkenal dengan nama gelarnya Suku Taman Tapah
  4. sebagian suku yang menetap di sungai Gulung dengan nama gelarnya Embaloh Gulung.


Orang-orang yang menetap dan bertempat tinggal di daerah tersebut yang cukup dikenal adalah Kyai Adi Pati Ajan bersama keluarga dan anaknya Kyai Adi Pati Turan.[6] Sekitar pada abad ke-15 dan ke-16 Kyai Adi Pati Turan dan Kyai Adi Pati Ajan sementara menetap di daerah Ulak Alai, mereka mengadakan rencana pertama untuk membuat kampung yang baik untuk mengatasi kalau ada serangan musuh, selanjutnya mereka pindah ke Kirin Temiang sekarang disebut dengan Sungai Sunjung, karena mereka selalu dihantui rasa cemas dan takut terhadap hal-hal yang mungkin bisa terjadi maka segala harta benda yang berguna itu disimpan di dalam tanah yang ditanam dengan tanaman yang disebut Bambu Temiang karena bambu yang ditaman itu selalu mati pucuknya.[6] Lalu mereka sebut daerah itu dengan sebetelah Kirin Temiang Mati Pucuk.[6] Setelah itu Kyai Adi Pati Turan mengadakan musyawarah dan mufakat dengan kawan-kawannya yang lain untuk membuat kampung Nanga Lipat.[6] Hal itu disetujui oleh kawan-kawannya, setelah kampung Nanga Lipat berdiri, lanjut kemudian mereka mengadakan musyawarah lagi untuk membuat sebuah kampung di Nanga Pilin atas nama Kyai Adi Pati Turan bersama dengan Raden Kasuma Abang Manduh dengan tujuan membangun kampung di Nanga Pilin ini sebagai pertahanan dari serangan-serangan dari pihak musuh.[6] Dalam keluarga Kyai Adi Pati Turan lahirlah seorang putra dari istrinya yang diberi nama Abang Berita dengan gelar Kyai Adi Pati Jaya.[6] Dengan cepatnya pertumbuhan Abang Berita, anak itu memiliki daya ingat dan daya pikir yang hebat dan ketangguhan hati dalam mengerjakan sesuatu dan akhlaknya terpuji dikalangan keluarga dan sahabatnya.[6]

Pada suatu saat Abang Berita mengadakan musyawarah dan mufakat dengan kedua orang tuanya dan dihadiri oleh Abang Mandoh dan Abang Ubal serta kawan-kawan dan sahabatnya, untuk membuat dan mendirikan kerajaan disekitar daerah Ulak Mahkota Raja, ulak ini merupakan ulak yang terbesar.[6] Ketika mereka hendak membuat atau mendirikan sebuah kampung atau kerajaan, kayu yang mereka cari dan dipilih untuk ditebang berasal dari Pohon Bunut, adapun alat-alat yang dipakai untuk menebang Pohon Bunut ialah Beliung yang terbuat dari timah, tangkai beliung timah kayu, sedangkan tempat pemegangnya atau ulu beliung timah tersebut di buat dari Kayu Lempung yaitu Kayu Pelai.[6] Pada saat Menebang Pohon Bunut, beliung yang terbuat dari besi untuk yang pertama kalinya kayu tangkai beliung tersebut selalu patah.[6] Pada malam hari Pohon Bunut tersebut kembali seperti semula seperti tidak ada cacat sedikit pun.[6]

Melalui mimpi sang raja Pohon Bunut tersebut harus ditebang menggunakan Beliung Timah.[6] Disekitar pohon-pohon bunut itu terdapat sebuah sungai kecil yang disebut dengan sungai perodah.[6] Setelah menebang memakai tangkai perodah beliung timah baru lah kayu Bunut tersebut tumbang, karena kayu itulah di daerah ulak mahkota raja didirikan sebuah kerajaan yang disebut Nanga Bunut.[6] Tempat kejadian dan kenyataannya sekarang Pohon Bunut dan Sungai Perodah terletak di Dusun Perodah, Desa Bunut Hulu, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]