Mitologi Tiongkok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Mitologi Cina)
Langsung ke: navigasi, cari
Ilustrasi Dewa Fuxi dan Dewi Nuwa.

Mitologi Tiongkok adalah kumpulan sejarah, cerita rakyat, ritual, fabel dan kepercayaan yang diturunkan secara turun-temurun dalam tradisi orang Tiongkok.[1][2][3] Mitologi ini kemudian berkembang menjadi Kepercayaan tradisional Tionghoa setelah mendapat pengaruh Taoisme, Agama Buddha dan ajaran Konfusius.[4][5] Seperti halnya Mitologi Yunani atau Mitologi Nordik yang kaya akan mitos, sebagian orang percaya isi mitologi Tiongkok adalah catatan sejarah yang nyata karena memiliki mitos dan legenda pembentukkan tradisi atau sejarah Tiongkok.[1][2]

Para sejarawan menduga mitologi Tiongkok sudah ada pada abad ke-12 sebelum masehi. Mitos dan legenda disampaikan turun-temurun dengan cara lisan lebih dari ribuan tahun, sebelum banyak dicatat dalam buku pada Dinasti Wei Utara and Dinasti Jin (220-420),[1] Shui Jing Zhu, Shan Hai Jing adalah beberapa buku yang lebih condong ke arah geografi Tiongkok kuno, sedangkan Catatan Sejarah Agung dan Catatan Musim Semi Tuan Lu lebih mengarah pada bidang sejarah.[3] Selain itu mitos juga diceritakan melalui teater dan lagu secara turun-temurun, sebelum ditulis dalam bentuk novel seperti Fengshen Yanyi, Perjalanan ke Barat, Legenda Siluman Ular Putih, dan Kisah aneh Liaozhai.[3]

Sumber[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi Spirit of the well dari Myths and Legends of China, 1922 by E. T. C. Werner.

Sumber terbesar mitologi Tiongkok adalah catatan tertulis berupa literatur.[1] Salah satu jenis yang memuat cerita mitologi Tiongkok disebut juga Zhiguai (志怪) yang merupakan anekdot atau cerpen oleh pemeluk agama Buddha dan Tao yang menggunakan tulisan untuk menyebarkan agama, dalam hal ini banyak diisi oleh kejadian aneh yang tidak rasional atau tentang orang suci serta dewa-dewi. Mitologi Tiongkok pun disajikan dalam bentuk Duanpian Xiaoshuo(短篇小说) yang merupakan kumpulan cerita pendek. Kisah aneh Liaozhai adalah salah satu jenis duanpian xiaoshuo yang terkenal.[6]

Berikut adalah beberapa sumber literatur dalam mitologi Tiongkok:

Shan Hai Jing adalah catatan mengenari kekayaan alam, geografi, fiksi, mitologi, ritual dan pengobatan Tiongkok kuno sebelum Dinasti Qin (3 - 2 SM).[7][8] Buku ini memuat cerita penting dalam mitologi Tiongkok, seperti Pangu Membelah Langit dan Bumi(盘古开天避地), Nuwa Menambal Langit(女娲补天), Kuafu Mengejar Matahari(夸父追日). Shan Hai Jing banyak menjadi rangka penulisan sastra terutama di bidang mitologi Tiongkok pada dinasti berikutnya.[9] Selesai pada awal Dinasti Han.[7]

Shui Jing Zhu adalah catatan geografi perairan Tiongkok.[10] Selain keadaan geografis Shui Jing Zhu juga memuat cerita mitos dan legenda.[10] Berbeda dengan Shan Hai Jing yang mendetail tentang cerita lokal, Shui Jing Zhu lebih fokus pada cerita yang berhubungan hanya dengan perairan Tiongkok.[10] Diduga Shui Jing Zhu diselesaikan pada Zaman Tiga Kerajaan dan Dinasti Jin sesuai dari nama tempat yang dipakai pemerintahan saat itu.[10]

Catatan Sejarah Agung adalah buku sejarah terlengkap pertama tentang peradaban Tiongkok selama 3000 tahun mulai dari zaman Kaisar Kuning sampai dengan masa Dinasti Han Barat.[11] Dibuat oleh Sejarawan Agung Sima Qian.[11] Catatan ini memuat tentang Lima Kaisar dalam mitologi Tiongkok.[11]

Ilustrasi Sun Go Kong, Xuanzang, Zhu Wuneng, and Sha Wujing.
  • Liu Chao Qi Shu (六朝奇书)

Liu Chao Qi Shu adalah kumpulan novel pada Dinasti Ming dan Dinasti Qing yang banyak membahas tentang makhluk-makhluk diluar manusia. Liu Chao Qi Shu teridiri dari Empat Karya Sastra Termasyhur dan 2 novel tambahan. Keenam novel tersebut adalah Kisah Tiga Negara, Batas Air, Perjalanan ke Barat, Jin Ping Mei, Impian Paviliun Merah dan Rulin Wushi.[6]

Fengshen Yanyi adalah buku yang bercerita tentang kejatuhan Raja Zhou dari Shang oleh Raja Wu dari Zhou.[12] Unsur mitologi dalam novel ini adalah diperkenalkannya Daji sebagai siluman rubah yang kemudian terkenal dalam mitologi Tiongkok.[12] Di dalamnya juga terdapat unsur Tao yang kuat dimana pembasmi Daji adalah seorang pendeta Tao bernama Jiang Ziya 姜子牙.[12] Novel ini ditulis pada Dinasti Ming.[12]

Kisah Aneh Liaozhai adalah sebuah karya sastra terkenal dari awal zaman Dinasti Qing.[13][14] Penulisnya adalah Pu Songling, menuliskannya dalam bentuk kumpulan cerita-cerita pendek yang keseluruhan berjumlah 491 cerita tentang manusia dan makhluk mitologi Tiongkok.[14]

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

Seperti halnya mitologi dunia lainnya, mitologi Tiongkok juga memiliki keunikan tersendiri.[2] Sumber terbanyak berasal dari literatur sehingga karakteristik mitologi Tiongkok tercermin dari dalamnya.[3] Salah satu ciri khas literatur mitologi Tiongkok adalah daya imajinasi yang tinggi.[3][15] Isi dari cerita mitologi Tiongkok banyak memiliki cerita tentang fantasi, sihir dan hal tidak rasional lainnya, tapi jika dicermati sebenarnya isi dari cerita adalah interpretasi dari inti cerita yang tidak sulit dan sederhana.[15][3]

Karakteristik lainnya adalah unsur cerita yang di romantisasi.[15][3] Memasukkan unsur kehidupan sehari-hari adalah cara memanusiakan unsur fantasi dalam cerita-cerita itu.[15] Terakhir sama seperti dalam Mitologi Yunani, yaitu memiliki cerita di mana pemeran utama cerita memiliki kekuatan diluar kemampuan manusia yang mustahil dimiliki manusia biasa.[15][3]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Isi dari mitologi Tiongkok sangat banyak karena merupakan cerita turun-temurun dengan kurun waktu lebih dari 2.000 tahun.[3] Yuan Ke, seorang peneliti mitologi Tiongkok[16] membagi jenis mitologi Tiongkok menjadi 3 macam, yaitu: mitos, legenda dan dewa-dewi.[3] Berikut adalah penggalan cerita dari ketiga macam cerita itu:

Mitos[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi Pangu dalam Sancai Tuhui

Kosmogoni[sunting | sunting sumber]

Penciptaan dunia atau kosmogoni dalam mitologi Tiongkok dimulai dari cerita Pangu Membelah Langit dan Bumi(盘古开天避地) .[17][18][19] Pangu terlahir di dunia yang bebentuk seperti telur.[17][19] Setelah delapan belas ribu tahun, Pangu tubuhnya membelah dunianya.[17][19] Bagian atas yang terang menjadi langit dan bagian bawahnya yang temaram menjadi bumi.[17][19] Untuk mencegah kedua bagian itu menyatu, Pangu menahan keduanya menggunakan tubuhnya.[19] Setiap hari Pangu bertambah tinggi sekitar dua meter dan langit-bumi juga bertambah jauh jaraknya.[19] Setelah meninggal kepala[18] dan tubuhnya menjadi pegunungan, nafasnya menjadi awan, ototnya menjadi tanah, sumsum tulangnya menjadi mineral, giginya menjadi batu permata, kulit dan bulu badannya menjadi berbagai jenis tanaman.[19] Menurut mitologi Tiongkok juga, Pangu adalah hasil perpaduan Yin dan Yang.[18]

Cerita Pangu memiliki hubungan dengan Taoisme.[18] Agama Buddha Tiongkok pun memiliki Pangu namun yang telah diadopsi dari versi Taonya.[18] Biarpun demikian, Agama Buddha memiliki teori penciptaan dunia yang berbeda dari versi ini.[18] Cerita Pangu Membelah Langit dan Bumi memiliki kemiripan dengan Ymer dari Mitologi Nordik.[18] Kisah ini pertama kali dicatat dalam buku San Wu Li Ji(三五历纪) pada Zaman Tiga Negara oleh penulis Xu Zheng.[3] Kisah ini juga ditulis di Shan Hai Jing[9], Yi Wen Lei Ju (艺文类聚) sastra Dinasti Tang, dan Shenxian Zhuan(神仙传) oleh penulis Tao, Ge Hong[18].[3] Cerita Pangu ini merupakan cerita dari suku Han, suku mayoritas di Tiongkok.[18]

Penciptaan manusia[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi Nuwa dalam buku Shan Hai Jing

Pada saat di dunia sudah tercipta langit dan bumi serta isinya, seorang dewi bernama Nuwa datang.[20][21] Karena merasa dunia terlalu sepi ia kemudian menciptakan manusia dari tanah liat kuning di sebuah pinggiran Sungai Kuning.[20][21] Pekerjaan ini sangat menguras tenaganya.[21] Nuwa kemudian memasukkan tali ke dalam sungai itu dan mengibaskannya.[21] Kibasan tanah liat kuning itu menjadi manusia dengan status sosial rendah, sedangkan yang Nuwa buat sendiri adalah manusia yang memiliki status sosial tinggi dan mulia.[21]

Ada versi lain yang mengatakan bahwa Nuwa dan Fuxi adalah 2 manusia pertama di bawah Pegunungan Kunlun dan semua manusia adalah keturunan mereka.[19] Keduanya adalah kakak-beradik bermarga Fèng (凤) dan Fuxi adalah kaisar pertama dari mitologi Tiongkok, salah satu dari Tiga Maharaja dan Lima Kaisar.[19] Keduanya memiliki badan ular dan kepala manusia (kadang kepala dengan tanduk lembu).[19]

Dalam mitologi Tiongkok juga Nuwa dikenal sebagai Penambal Langit.[19] Dalam cerita ini Nuwa adalah penerus Fuxi dan memerintah sebelum Kaisar Kuning.[19] Pada saat itu dewa air Gong Gong (共工) dalam upayanya memberontak menyerang dewa api Zhurong (祝融).[19] Gong Gong kalah dan membenturkan kepalanya ke Gunung Buzhou (不周山) membuat langit bocor.[19] Nuwa merasa kasihan pada manusia dan melebur Batu Lima Warna (五色石) untuk menambal langit dan kaki kura-kura raksasa untuk menopangnya agar tidak roboh lagi.[19]

Cerita tentang Nuwa, Fuxi dan Tiga Maharaja dan Lima Kaisar ditulis dalam bagian awal Catatan Sejarah Agung yang ditulis oleh ayah Sima Qian, Sima Tan.[18]

Ilustrasi Huangdi.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Legenda mitologi Tiongkok memiliki banyak jenis, berikut yang terpenting di antaranya:

Tiga Maharaja dan Lima Kaisar[sunting | sunting sumber]

Tiga Maharaja dan Lima Kaisar adalah pemimpin pertama dalam mitologi Tiongkok sebelum Dinasti Xia.[22][23] Ada banyak versi tentang siapa saja kaisar-kaisar di dalamnya.[22] Dalam Gu Wei Shu(古微书) Tiga Maharaja adalah Fuxi, Shennong dan Kaisar Kuning.[22] Tiga Maharaja adalah raja-raja yang merupakan manusia setengah dewa yang mengajarkan manusia bercocok tanam, memancing, mengenali tanaman obat-obatan, dan keahlian manusia lainnya.[23]Sedangkan 5 Kaisar adalah Shaohao, Zhuanxu, Ku, Yao dan Shun.[22] Kelima kaisar ini melegenda dan konon memiliki moral yang dianggap menjadi tolak ukur pemimpin baik pada masa berikutnya oleh standar paham Konfusius.[23] Kaisar-kaisar ini adalah kaisar yang mewakili masa Kuno (上古) dalam mitologi Tiongkok.[22]

Variasi lain dapat dilihat selengkapnya di Tiga Maharaja dan Lima Kaisar.

Yu yang Agung menghentikan banjir[sunting | sunting sumber]

Yu yang Agung hidup pada masa Sungai Kuning sering meluap.[24] Ia ditugaskan mengatasi banjir itu.[24] Dengan mempelajari kesalahan leluhurnya dan meneliti dalam jangka waktu lama, akhirnya Yu yang Agung berhasil mengatur aliran air dengan cara membaginya menjadi 9 aliran yang mengalir ke lautan.[24] Ia menjadi lambang ketekunan dan pengabdian seutuhnya dalam mitologi Tiongkok serta Budaya Tionghoa.[24] Setelah keberhasilanya ia meneruskan kepemimpinannya pada putranya Qi yang mendirikan Dinasti Xia.[24]

Dewa-dewi[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi Delapan Dewa dari Myths and Legends of China, 1922 by E. T. C. Werner.

Pada awalnya dewa-dewi dalam mitologi Tiongkok dibuat berdasarkan imajinasi untuk makhluk seperti manusia atau manusia yang meninggal yang diberi kemampuan lebih karena perbuatan baiknya.[25] Imajinasi ini pun berkembang menjadi sebuah dunia lain yang memiliki mekanisme mirip dengan mekanisme dunia manusia.[26] Karena dunia lain tersebut merupakan pararel dunia manusia, maka di dunia lain pun mengenal makhluk baik dan jahat.[25] Berbeda dengan dewa-dewi mitologi lain, dalam mitologi Tiongkok mereka dapat digantikan atau hilang (mati).[25]

Setelah munculnya dinasti-dinasti penguasa, imajinasi berkembang sehingga membentuk Kerajaan Langit yang dipimpin oleh Yu Huang (玉皇).[25] Kerajaan Langit ini mencakup Langit dan Neraka.[25] Keduanya memiliki sistem seperti pemerintahan di dunia manusia dengan memperkerjakan banyak dewa-dewi, bidadari dan makhluk halus lainnya.[25] Selain itu dikenal juga keadaan abadi atau tidak mati (不死) seperti pada Delapan Dewa.[25] Delapan Dewa sendiri adalah dewa-dewi dari agama Tao.[25]

Cerita tentang dewa-dewi mitologi Tiongkok memiliki banyak jenis dan versi, berikut beberapa penggalan cerita:

Delapan Dewa[sunting | sunting sumber]

Delapan dewa mewakili delapan tahap kehidupan: anak muda, lansia, kemiskinan, kekayaan, rakyat jelata, ningrat, pria dan wanita.[27] Banyak sekali hasil-hasil seni Tiongkok yang menggambarkan Delapan Dewa.[27] Delapan Dewa menyebrangi lautan ("Baxianguohai, gexianshentong") adalah idiom yang terkenal dalam mitologi Tiongkok.[27][25]

Chang'e sang Dewi Bulan[sunting | sunting sumber]

Pada suatu waktu, bumi dipenuhi sepuluh matahari.[28][29] Rakyat tersiksa atas panasnya dunia.[28][29] Hou Yi, pemanah legendaris diutus memanah sembilan dari sepuluh matahari yang tergantung di langit.[28][29] Ia kemudian menjadi terkenal dan lupa akan istrinya Chang'e.[28][29] Karena jasanya Hou Yi dianugrahi ramuan panjang umur yang akhirnya diminum oleh Chang'e.[28][29] Versi lain mengatakan seorang abdi Hou Yi iri akan pencapaian dan popularitas pemanah itu.[28][29] Abdi itu mencoba mencuri ramuan panjang umur Hou Yi.[28] Saat itu pencurian itu terhenti karena Chang'e yang berusaha menyelamatkan ramuan itu.[28] Karena terdesak ia akhirnya meminum ramuan panjang umur itu sampai habis dan terangkat ke bulan.[28] Sejak itu ia menjadi Dewi Bulan mitologi Tiongkok.[28] Banyak versi mengenai cerita ini tapi pada akhirnya semua bermuara pada Chang'e terbang ke bulan.[29]

Qilin dari Dinasti Qing di Yihe Yuan, Beijing

Makhluk mistis[sunting | sunting sumber]

Makluk mistis dalam mitologi Tiongkok mencakup setan, siluman, monster, bidadari, rubah ekor sembilan, serta jenis-jenis makhluk mistis lainnya.[30] Novel Perjalanan ke Barat banyak berisi tentang makhluk halus terutama siluman seperti Sun Go Kong yang adalah siluman monyet.[30] Jenis lainnya yang dikenal adalah monster seperti Qilin, Naga Tiongkok atau Fenghuang.[30] Buku seperti Shan Hai Jing memuat tentang Qilin dalam cerita di dalamnya, sedangkan Chun Qiu tentang pertarungan Naga Tiongkok di atas sebuah kota.[30] Jenis bidadari dapat ditemukan di cerita Niu Lang Zhi Nv (牛郎织女) atau lebih dikenal sebagai Hari Valentine orang Tionghoa yang memiliki cerita seperti Jaka Tarub.[30] Sedangkan jenis roh rubah dapat ditemukan di Kisah aneh Liaozhai.[14]

Tempat mistis[sunting | sunting sumber]

Dikarenakan eratnya hubungan geografi dan mitologi di Tiongkok, banyak tempat yang juga merupakan latar belakang sebuah mitos atau legenda.[3] Salah satu yang terkenal adalah Pegunungan Kunlun yang dikenal sebagai tempat Fuxi dan Nuwa muncul.[18] Selain itu ada pula Chang'e (sang Dewi Bulan), Perjalanan ke Barat, dan Legenda Siluman Ular Putih. [31] Banyak yang datang ke berbagai tempat di pegunungan ini untuk meminta berkat.[31]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d (Inggris)Chinese Myth and Fantasies I, China Vista. Diakses pada 8 Juni 2010.
  2. ^ a b c (Inggris) Werner, E.T.C. (1922). Myths & Legends of China. New York: George G. Harrap & Co. Ltd. Diakses 8 Juni 2010. Hal. 61-64, 74
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m Tionghoa: Mitologi Tiongkok 中国神话, Baidu Baike. Diakses pada 8 Juni 2010.
  4. ^ Tionghoa: Kepercayaan Tradisional Tionghoa 中国民间宗教, Baidu Baike. Diakses pada 8 Juni 2010.
  5. ^ (Inggris) Lim, Jonathan. (2005). Between Gods and Ghosts. Singapore: Times Editions-Marshall Cavendish. Hal. 9
  6. ^ a b Tim DK. (2009). Cina. Jakarta: Penerbit Erlangga
  7. ^ a b (Inggris)Shan Hai Jing, China Knowlegde. Diakses pada 17 Mei 2010.
  8. ^ (Inggris)Classic of Mountains and Seas, China Culture. Diakses pada 25 Mei 2010.
  9. ^ a b Li, Xiaoxiang. (2010). Origins of Chinese Classical Literature. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Hal. 4
  10. ^ a b c d (Inggris)Shuijingzhu 水經注, China Knowledge. Diakses pada 8 Juni 2010.
  11. ^ a b c (Inggris)Shiji 史記, China Knowlegde. Diakses pada 8 Juni 2010.
  12. ^ a b c d (Inggris)Fengshen Yanyi, China Knowlegde. Diakses pada 8 Juni 2010.
  13. ^ Tionghoa: Jin, Sufang (金素芳); Xu, Guopu(徐国普). (2009). Liaozhai Zhiyi (聊斋志异). Hangzhou: Zhejiang Qing Shao Er Tong Chu Ban She (浙江少年儿童出版社)
  14. ^ a b c (Inggris) C.C Low & Associates. (1990). Strange Tales of Liaozhai (vol. 1). Singapore: Canfonian PTE LTD
  15. ^ a b c d e Tionghoa: Keistimewaan mitologi Tiongkok 中國神話的特點, Zhongguo Shanggu Shenhua. Diakses pada 8 Juni 2010.
  16. ^ Tionghoa: Yuan Ke 袁珂, Baidu Baike. Diakses pada 8 Juni 2010.
  17. ^ a b c d (Inggris)Pangu, China Vista. Diakses pada 8 Juni 2010.
  18. ^ a b c d e f g h i j k (Inggris) Werner, E.T.C. (1922). Myths & Legends of China. New York: George G. Harrap & Co. Ltd. Diakses 8 Juni 2010. Hal. 77-87
  19. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Tionghoa: Zhang, Xingdong (张兴东).(2008). Shenhua Gushi (神话故事). Hohhot: Nei Menggu Renmin Chuban She(内蒙古人民出版社) Hal. 3-5
  20. ^ a b Tionghoa: Zhang, Xingdong (张兴东).(2008). Shenhua Gushi (神话故事). Hohhot: Nei Menggu Renmin Chuban She(内蒙古人民出版社) Hal. 12-15
  21. ^ a b c d e (Inggris)Nuwa Makes Men, China Vista. Diakses pada 8 Juni 2010.
  22. ^ a b c d e Tionghoa: Tiga Maharaja dan Lima Kaisar 三皇五帝 , Baidu Baike. Diakses pada 13 Juni 2010.
  23. ^ a b c (Inggris)Three Sovereigns and Five Emperors, Cultural China. Diakses pada 13 Juni 2010.
  24. ^ a b c d e (Inggris)TYu the Great, Cultural China. Diakses pada 13 Juni 2010.
  25. ^ a b c d e f g h i (Inggris) Lim, Jonathan. (2005). Between Gods and Ghosts. Singapore: Times Editions-Marshall Cavendish. Hal. 11-13, 28-29, 37-42
  26. ^ (Inggris) Werner, E.T.C. (1922). Myths & Legends of China. New York: George G. Harrap & Co. Ltd. Diakses 8 Juni 2010. Hal. 94-100
  27. ^ a b c Tionghoa: Eight Immortals, Cultural China. Diakses pada 16 Juni 2010.
  28. ^ a b c d e f g h i j Tionghoa: Zhang, Xingdong (张兴东).(2008). Shenhua Gushi (神话故事). Hohhot: Nei Menggu Renmin Chuban She(内蒙古人民出版社) Hal. 30-31, 36-37
  29. ^ a b c d e f g Chang E, Tionghoa. Diakses pada 25 Mei 2010.
  30. ^ a b c d e (Inggris) Lim, Jonathan. (2005). Between Gods and Ghosts. Singapore: Times Editions-Marshall Cavendish. Hal. 40-46
  31. ^ a b (Inggris)Kunlun Mountain, China Culture. Diakses pada 31 Mei 2010.