Kaisar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Kaisar adalah salah satu gelar penguasa monarki dalam bahasa Indonesia. Gelar kaisar memiliki tingkatan di atas raja. Wilayah kekuasaan kaisar disebut kekaisaran atau imperium. Dalam bahasa Indonesia, gelar lain yang kedudukannya setara dengan kaisar adalah maharaja. Dalam penggunaannya, kaisar lebih bersifat umum, sedangkan maharaja lebih digunakan pada penguasa Hindu. Kaisar dan maharaja memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari raja.

Bentuk wanita dari gelar kaisar adalah kaisarina, dan ini merujuk kepada kaisar wanita.

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Gelar kaisar diturunkan dari gelar caesar yang juga diturunkan dari cognomen Julius Caesar, Diktator Romawi. Cucu saudarinya sekaligus anak angkatnya, Gaius Octavius atau Augustus, mengambil nama caesar saat dirinya menjadi Kaisar Romawi pertama. Langkah itu kemudian diikuti oleh para penerusnya.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Baik raja maupun kaisar, keduanya merupakan penguasa monarki. Namun kedudukan kaisar (dan maharaja) dipandang lebih tinggi dari raja. Seorang kaisar biasanya memiliki kekuasaan yang mengungguli penguasa lain di sekitarnya, dan juga menguasai beberapa negara dan kerajaan bawahan.Salah satu contohnya adalah Turki Utsmani yang menguasai beberapa wilayah, termasuk berbagai kerajaan dan kadipaten di Eropa dan Asia.

Dalam keberjalanannya, gelar kaisar (dan maharaja) kemudian disandang oleh penguasa wilayah yang lebih kecil guna menaikkan derajat dan status mereka. Kekaisaran yang sudah terpecah-belah umumnya juga tetap mempertahankan gelar "kaisar" untuk pemimpin mereka, meskipun wilayah kekuasaannya sudah tidak lebih luas lagi dari kerajaan dan kadipaten di sekitarnya. Contohnya adalah yang terjadi pada Kekaisaran Romawi Timur menjelang kejatuhannya.

Penggunaan di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, monarki yang dipandang setingkat dengan kekaisaran adalah Sriwijaya dan Majapahit. Dalam penggunaan sehari-hari, gelar kaisar identik dengan penguasa monarki di Asia Timur, khususnya penguasa Tiongkok sebelum masa republik. Gelar asli yang disandang penguasa Tiongkok saat itu adalah huángdì (皇帝) dan gelar ini diterjemahkan menjadi "kaisar" dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks sekarang, penguasa monarki yang gelarnya disetarakan dengan kaisar hanyalah Kaisar Jepang. Gelar asli dari Kaisar Jepang adalah tennō (天皇) yang secara harfiah bermakna "penguasa langit." Walaupun gelar ini juga disematkan pada pemimpin Jepang sejak tahun 660 SM pada catatan resmi, para sejarawan percaya bahwa gelar ini baru pertama kali digunakan pada masa Kaisar Tenmu (berkuasa pada 672–686 M) dan Kaisarina Jitō (berkuasa pada 686–697 M).

Meskipun kedudukan kaisar berada di atas raja, tetapi pada umumnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang menyamakan kedua gelar ini. Hal ini menjadikan penggunaan kedua gelar ini saling tertukar, baik dalam kegiatan penerjemahan maupun pengucapan sehari-hari. Hal tersebut sangat mungkin lantaran latar belakang Indonesia yang republik, sehingga tidak begitu memperhatikan tingkatan di antara penguasa monarki.

Kaisar Jepang[sunting | sunting sumber]

Pemimpin Jepang tennō (天皇) sekarang adalah satu-satunya penguasa monarki di dunia yang gelarnya dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan kaisar (Inggris: emperor). Walaupun begitu, nyatanya sepanjang sejarah, kekuasaan tennō hanya melingkupi sekitaran Pulau Kyushu, Honshu, Hokkaido, dan Okinawa. Hal ini berbeda dengan kaisar pada umumnya yang wilayah kekuasaannya melingkupi suatu wilayah luas, menjadikannya kedudukannya dipandang di atas raja.

Pada masa Restorasi Meiji (1868), Persekutuan Satsuma-Chōshū menjadikan gelar Inggris emperor (Kaisar atau Maharaja dalam bahasa Indonesia, Kaiser dalam bahasa Jerman, dan l'Empereur dalam bahasa Prancis) sebagai padanan dari gelar tennō, dan bukannya king (raja dalam bahasa Indonesia). Hal ini untuk menyatakan tingginya kedudukan pemimpin Jepang atas raja-raja pada umumnya dan menyatakan kesetaraannya dengan para penguasa besar dunia saat itu, seperti Kaisar Rusia, Kaisar Prancis (1857-1871), Kaisar Austria, Kaisar Jerman (dari 1871), dan Ratu-Kaisarina India (dari 1877) – dan juga Kaisar Tiongkok, Meksiko, dan Brazil.

Kepemimpinan kaisar asing[sunting | sunting sumber]

Dalam keberjalanannya, wilayah yang sekarang menjadi Indonesia modern, sebagian atau keseluruhan pernah dikuasai oleh kekaisaran asing.

  • Kerajaan Aceh Darussalam (1569 sampai akhir abad 18) menjadi negara vasal dari Turki Utsmani.[1][2] Pemimpin Turki Utsmani sendiri selain menyandang gelar sultan dan khalifah, juga menyandang gelar padisyah (پادشاه, kaisar dalam bahasa Persia) dan Qaisar-e-Rūm (قیصر روم , Kaisar Romawi).
  • Kesultanan Melayu (1459-1477) menjadi negara vasal Turki Utsmani pada masa Sultan Mansur Syah
  • Kekaisaran Spanyol
  • Kekaisaran Portugal
  • Hindia Belanda, koloni Kekaisaran Belanda
  • Kekaisaran Britania pada masa Thomas Stamford Raffles
  • Kekaisaran Prancis. Pada masa Napoleon Bonaparte, Belanda menjadi wilayah kekuasaan Prancis dan mendirikan kerajaan bawahan bernama Kerajaan Hollandia di Belanda. Hal ini menjadikan wilayah jajahan Belanda juga jatuh ke dalam kekuasaan Prancis, termasuk Hindia Belanda.

Kaisarina[sunting | sunting sumber]

Bentuk wanita dari gelar kaisar adalah kaisarina dan gelar ini digunakan untuk merujuk kepada kaisar wanita. Dibandingkan dengan pria yang menjadi kaisar, jumlah wanita yang pernah menjadi kaisarina sangat terbatas. Di Kekaisaran Romawi dan Romawi Barat, tidak pernah memiliki seorang kaisarina, sedangkan Kekaisaran Romawi Timur pernah dipimpin tiga kaisarina. Jepang pernah dipimpin delapan kaisarina, dengan dua di antaranya memerintah sebanyak dua kali, sedangkan Tiongkok hanya pernah dipimpin oleh satu orang kaisarina, yakni Wu Zetian.

Sebagaimana gelar kaisar dan maharaja yang mengungguli gelar raja, gelar kaisarina dan maharani juga memiliki kedudukan di atas gelar ratu.

Augustus, Kaisar Romawi pertama (memerintah 27 SM – 14 M) 
Wu Zetian, Kaisarina Tiongkok (683–690) 
Suleiman Al-Qanuni, Sultan dan Kaisar Utsmani (memerintah 1520–1566) 
Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis (memerintah 1804–1814, 1815) 

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Palabiyik, Hamit, Turkish Public Administration: From Tradition to the Modern Age, (Ankara, 2008), 84.
  2. ^ Ismail Hakki Goksoy. Ottoman-Aceh Relations According to the Turkish Sources (PDF). 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]