Tsar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Lambang Ketsaran Rusia (1547–1721). Di Indonesia, tsar identik dengan penguasa monarki Rusia.

Tsar (bahasa Bulgaria цар, bahasa Rusia царь, Tentang suara ini Tsar; kadang juga dieja Czar atau Tzar), adalah gelar penguasa monarki dalam rumpun bahasa Slavia yang dapat merujuk pada raja atau kaisar, tergantung konteks yang digunakan. Bentuk wanita dari gelar ini adalah Tsarina atau Tsaritsa (Sirilik: царица) yang dapat digunakan untuk merujuk pada tsar wanita atau permaisuri dari tsar. Wilayah kekuasaan tsar disebut ketsaran, atau juga dapat disebut kerajaan bila tsar bermakna raja, atau kekaisaran bila tsar bermakna kaisar.

Orang pertama yang menggunakan gelar tsar adalah Simeon I dari Bulgaria (memerintah 893 – 27 Mei 927).[1] Simeon II (memerintah 1943–1946) adalah orang terakhir yang secara resmi menyandang gelar ini.

Arti dalam rumpun bahasa Slavia[sunting | sunting sumber]

Gelar tsar diturunkan dari gelar Latin untuk kaisar, yakni Caesar.[2] Sebagai catatan, gelar kaisar memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari raja. Kata Yunani Bizantium basileus memiliki arti yang berbeda tergantung konteksnya, apakah dalam konteks politik modern atau dalam konteks sejarah atau Alkitabiah. Pada sejarah bahasa Yunani, gelar basileus bermakna "penguasa", kemudian secara bertahap mendekati arti kata "raja" pada masa Helenistik, dan kemudian setara dengan "kaisar" setelah lahirnya Kekaisaran Romawi. Akibatnya, sumber Bizantium masih tetap melanjutkan untuk menyebut raja-raja kuno dan raja-raja Alkitab dengan gelar basileus, meskipun gelar ini bermakna kaisar pada masa belakangan.

Dikarenakan gelar basileus selalu diterjemahkan sebagai tsar pada rumpun bahasa Slavia, pengertian ganda dalam gelar basileus juga turut menempel pada gelar tsar. Tsar tidak hanya setara dengan gelar Latin imperator (gelar bahasa Latin yang bermakna kaisar), tetapi juga digunakan untuk merujuk raja-raja kuno dan raja-raja Alkitab.

Dari keambiguan ini, terjadi pengembangan yang berbeda pada tiap bagian dalam rumpun bahasa Slavia. Dalam bahasa Bulgaria dan bahasa Rusia (keduanya bagian rumpun bahasa Slavia), tsar tidak lagi digunakan sebagai padanan dari gelar imperator yang terdapat dalam adat Eropa Barat (Latin). Dewasa ini, gelar tsar merujuk pada penguasa dari kalangan bangsa Slavia, penguasa kuno, para pemimpin dalam Alkitab, dan juga penguasa monarki dalam legenda, dan semacamnya. Sedangkan gelar Rusia korol' , dan gelar Bulgaria kral digunakan oleh orang asli Rusia untuk merujuk pada raja-raja Eropa Barat dan juga raja di luar Eropa. Untuk penguasa monarki non-Slavia yang kedudukannya setara dengan kaisar, baik di dalam maupun di luar Eropa, secara umum dipanggil dengan sebutan imperator (император) daripada tsar.

Sebaliknya, bahasa Serbia dan Ukraina (keduanya juga rumpun bahasa Slavia) menerjemahkan gelar kaisar menjadi tsar (car, цар) dalam dua bahasa tersebut, dan tidak menggunakan gelar imperator sebagaimana dalam bahasa Rusia dan Bulgaria, sedangkan penguasa monarki yang setingkat dengan raja dipanggil dengan sebutan rex sebagaimana dalam bahasa Latin. Di dalam bahasa Serbia, gelar untuk penguasa dalam Alkitab disebut dengan tsar (car, цар) dan dalam bahasa Kroasia dengan sebutan kralj.

Pada bahasa Slavia Barat modern dan bahasa Slovenia, penggunaan gelar ini mendekati yang digunakan pada bahasa Inggris dan Jerman, dengan raja disebut menggunakan satu istilah (bahasa Ceska: král, bahasa Slowakia: kráľ, bahasa Polski: król, bahasa Slovenia: kralj) dan kaisar dengan istilah lain yang merupakan turunan dari gelar Caesar (bahasa Ceska: císař, bahasa Slowakia: cisár, bahasa Polski: cesarz, bahasa Slovenia: cesar), sedangkan gelar tsar (Ceska, Slovenia, dan Polski: car, Slowakia: cár) merujuk pada penguasa Rusia dan Bulgaria.

Dalam bahasa Polski (Polandia), tsar (car) disejajarkan dengan imperator atau kaisar, bukan raja. Tsar juga sangat sering digunakan untuk merujuk pada penguasa Rusia setelah Pyotr (Peter) yang Agung, meskipun dalam gelar resminya di Rusia, penguasa Rusia mulai dari Pyotr mengganti gelar tsar dengan imperator. Penggantian ini dilakukan karena keambiguan gelar tsar dalam bahasa Rusia, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Gelar tsar digunakan secara resmi pada pemimpin negara:

Bulgaria[sunting | sunting sumber]

Gelar tsar mulai digunakan di Bulgaria oleh Simeon I setelah sebuah kemenangan penting terhadap Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 913. Gelar ini terus digunakan para pengganti Simeon I hingga jatuhnya Bulgaria kepada Kesultanan Utsmani pada tahun 1396. Pada masa kekuasaan Utsmani di Bulgaria, Sultan Utsmani kerap disebut dengan gelar "tsar," lantaran Kesultanan Utsmani dipandang sebagai pewaris kekuasaan Romawi Timur atau lantaran sultan dipanggil dengan sebutan basileus pada Yunani pertengahan. Setelah lepas dari Utsmani pada tahun 1878, penguasa monarki barunya kembali menggunakan gelar tsar (setingkat dengan raja) antara tahun 1908 dan 1946.

Sebia[sunting | sunting sumber]

Di masa kepemimpinan Raja Stephen Uroš IV Dušan, Serbia mengalami masa kegemilangan. Dia menaklukan banyak wilayah di kawasan Eropa tenggara dan menjadi salah satu penguasa monarki terkuat di masa itu. Pada tahun 1345, Stephen menyatakan dirinya sebagai tsar (setara dengan kaisar) di Serres dan dimahkotai pada tahun 1346 di Skopje, mengubah Kerajaan Serbia naik menjadi sebuah kekaisaran. Namun di masa putra dan penerusnya, Stephen Uroš V, Serbia kehilangan banyak wilayahnya, juga gagal membuat para bangsawan Sebia berada dalam kendalinya. Setelah mangkatnya, Kekaisaran Serbia terpecah menjadi monarki-monarki kecil yang berdaulat.

Rusia[sunting | sunting sumber]

Penguasa Rusia pertama yang memerdekakan diri dari Khan Gerombolan Emas, Mikhail Yaroslavich, menyatakan diri sebagai "Basileus Rus" dan "czar."[3] Untuk menegaskan kedaulatannya atas khan dan juga pernikahannya dengan pewaris Romawi Timur (Bizantium), Ivan III mulai menggunakan gelar tsar secara berkala. Dari sekitar tahun 1480, dia menggelari dirinya imperator dalam surat-menyuratnya dengan Latin, keyser dalam surat-menyuratnya dengan penguasa Swedia, kejser dalam surat-menyuratnya dengan Raja Denmark, Ksatria Teutonik, dan Liga Hansa. Kesemuanya itu merupakan gelar yang setara dengan kaisar dalam bahasa masing-masing daerah.

Pernyataan ini terkait dengan ambisi Rusia untuk menjadi Orthodok Roma Ketiga setelah Konstantinopel dikuasai Kesultanan Utsmani. Penguasa Moskwa diakui sebagai kaisar oleh Maximilian I, Kaisar Romawi Suci.[4][5] Walaupun begitu, penguasa Rusia yang mula-mula menyatakan dirinya sebagai tsar adalah Ivan IV. Pada tahun 1547, dia mengganti gelarnya dari "Pangeran Agung (Veliki Knia) dari seluruh Rus" menjadi "Tsar dari seluruh Rus" sebagai lambang pergantian bentuk negara Rusia. Beberapa duta asing — seperti Herberstein (pada 1516 dan 1525), Daniel Printz a Buchau (pada 1576 dan 1578), dan Just Juel (pada 1709) — menyatakan bahwa gelar "tsar" harusnya tidak diterjemahkan menjadi "kaisar", karena dalam bahasa Rusia, tsar digunakan untuk merujuk Daud (Dawud), Salomo (Sulaiman), dan raja lain dalam Alkitab.

Setelah masa kekacauan di Rusia (1598–1613), Barat kehilangan cara untuk menerjemahkan gelar "tsar" secara pantas. Pada tahun 1670, Paus Klemens X menyatakan keraguannya untuk menyebut penguasa Rusia sebagai "tsar", karena gelar ini "barbar" dan karena disepadankan dengan kaisar, sedangkan harusnya hanya ada satu kaisar dalam dunia Kristen dan dia tidak bertahta di Moskwa. Paul Menesius, duta Rusia untuk Tahta Suci, berpendapat bahwa tidak ada terjemahan Latin untuk "tsar", sebagaimana tidak ada terjemahan untuk gelar "sultan" dan "syah." Untuk menghindari kesulitan penerjemahan, juga menegaskan ambisi Rusia lebih jelas, Pyotr (Peter) I mengambil gelar Latin imperator sebagai gelar resmi penguasa Rusia pada tahun 1721, alih-alih menggunakan "tsar." Walaupun demikian, gelar tsar masih digunakan pihak luar Rusia dan juga dalam beberapa relasi resmi untuk merujuk pada penguasa monarki Rusia hingga tahun 1917.

Simeon I, Tsar Bulgaria (893–927) 
Stephen Uroš IV, Tsar Serbia (1346–1355) 
Ivan IV, Pangeran Agung Moskwa (1533–1547) dan kemudian Tsar Rusia (1547–1584) 
Pyotr (Peter) I, Tsar Rusia (1682–1721) dan kemudian Kaisar Rusia (1721–1725) 
Simeon II, Tsar Bulgaria (1943–1946) 

Gelar terkait[sunting | sunting sumber]

  • Tsaritsa atau Tsarina (царица): gelar bagi istri tsar (permaisuri) atau tsar wanita (ratu atau kaisarina, tergantung konteks)
  • Tsarevich (Царе́вич): gelar bagi putra dan cucu laki-laki tsar dari jalur laki-laki (pangeran)
  • Tsarevna (царевна): gelar bagi putri dan cucu perempuan tsar dari jalur laki-laki (putri). Gelar ini juga diberikan kepada istri tsarevich
  • Tsesarevich (Цесаревич): gelar bagi laki-laki yang menjadi pewaris tahta (putra mahkota)
  • Tsesarevna (Цесаревна): gelar bagi istri tsesarevich atau wanita yang menjadi pewaris tahta (putri mahkota)

Kecuali tsesarevich dan tsesarevna, semua gelar ini digunakan secara resmi di Rusia sampai Pyotr menyatakan dirinya sebagai kaisar (imperator) pada tahun 1721. Gelar yang digunakan oleh keluarga penguasa monarki Rusia setelah tahun 1721 adalah:

  • Imperator (император): kaisar.
  • Imperatritsa (императрица): permaisuri kaisar atau kaisarina (kaisar wanita)
  • Velikiy Knjaz (Великий князь): gelar bagi putra dan cucu laki-laki kaisar atau kaisarina dari jalur laki-laki. Diterjemahkan menjadi "pangeran agung"
  • Velikaia Kniaginia (Великая Княгиня) atau Velikaia Knazhna (Великая Княжна): gelar bagi putri dan cucu perempuan kaisar atau kaisarina dari jalur laki-laki. Gelar ini juga diberikan kepada istri velikiy knjaz. Gelar ini diterjemahkan menjadi "putri agung"

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Simeon I." Encyclopædia Britannica. 2009. Encyclopædia Britannica Online. 12 July 2009, EB.com.
  2. ^ "Online Etymology Dictionary". etymonline.com. 
  3. ^ A.V. Soloviev. "Reges" et "Regnum Russiae" au moyen âge, in "Byzantion", t. XXXVI. Bruxelles, 1966.
  4. ^ Ostrowski, D. (2002) Muscovy and the Mongols: Cross-Cultural Influences on the Steppe Frontier, 1304-1589, Cambridge: Cambridge University Press, p. 178
  5. ^ Lehtovirta, J. “The Use of Titles in Herberstein's "Commentarii". Was the Muscovite Tsar a King or an Emperor?” in Kӓmpfer, F. and Frӧtschner, R. (eds.) (2002) 450 Jahre Sigismund von Herbersteins Rerum Moscoviticarum Commentarii 1549-1999, Harrassowitz Verlag, pps. 196-198

Lihat pula[sunting | sunting sumber]