Monster

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan kepala Medusa karya Peter Paul Rubens sekitar tahun 1618.

Monster adalah makhluk yang bentuk atau rupanya sangat menyimpang dari yang biasa atau bisa juga makhluk yang berukuran luar biasa (sangat besar).

Dalam kebanyakan cerita, monster digambarkan sebagai makhluk yang jahat. Seiringnya dengan perkembangan zaman adapula yang menceritakannya sebagai makhluk yang bodoh (Frankenstein), monster yang baik seperti Hulk dan The Thing, maupun monster imut dan lucu seperti karakter dalam film animasi yang berjudul Monsters, Inc., Pokemon, dan Digimon.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata Monster berasal dari bahasa Latin kuno monstros atau monstrum berarti "pertanda" yang berakar dari kata moneo, "mengingatkan", juga dapat berarti "keajaiban". Kata monster selalu berkonotasikan sesuatu yang salah atau jahat, contoh: sesosok yang sangat besar sering tidak disetujui keberadaannya, secara fisik dan psikologis sangatlah mengerikan atau sebagai makhluk yang aneh.

Kalimat monster kadang-kadang ditujukan kepada sosok yang sangatlah bertentangan norma-norma ekosistem. Seseorang yang disebut sebagai monster adalah orang yang sangat jahat, kaku, tidak perhatian, psikopat, dan anti-sosial.

Konsep sosial[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dahulu, monster pernah menjadi sebuah konsep sosial yang penting. Monster dipercaya tinggal di pulau-pulau yang liar dan belum terjamah. Monster juga identik dengan makhluk-makhluk berbentuk aneh dan baru dikenal pada zaman dahulu.

Hubungan antara monster dengan keterbatasan pengetahuan manusia menjadi sebuah konsep penting pada zaman Renaissance dan abad pencerahan, sebagaimana masyarakat Eropa mulai menggunakan ilmu pengetahuan dan disiplin akademis yang lain untuk mencoba mengerti hal tersebut. Monster dilihat sebagai misteri dalam ilmu pengetahuan; sesuatu yang perlu dimengerti dan dipecahkan.

Agama dan mitologi[sunting | sunting sumber]

Banyak agama yang berasal dari dunia timur seperti misalnya agama hindu, dan juga agama-agama kuno seperti mitologi Yunani atau mitologi Nordik, Menggambarkan monster sebagai musuh dari para dewa. Ragnarok dalam mitologi Norse, diceritakan pernah bertempur melawan dewa-dewa Asgard bersama dengan monster-monster lainnya

Pada zaman dahulu, masyarakat menganggap kelahiran "orang-orang aneh" sebagai bentuk kemarahan para dewa. Keanehan-keanehan ini bisa berbentuk ketidakseimbangan pemikiran (hiperaktif, autisme) atau juga keanehan pada bentuk tubuh (gigantisme, penyakit kaki gajah, gondok) yang ketika itu belum diketahui penyebabnya. Karena keanehan ini, mereka menyebut "orang-orang aneh" ini sebagai monstra, keajaiban.

Ada sebuah pola yang terlihat dalam beberapa mitologi tentang monster di Eropa. Monster yang digambarkan sebagai makhluk yang kejam, biasanya menyerang suatu kerajaan atau bahkan menculik putri kerajaan, kemudian itu hadirlah peran pahlawan yang datang untuk membunuh monster tersebut, seperti dalam kisah Beowulf dan St. George dan sang Naga.

Dalam ajaran Islam, dikenal juga seekor monster yang akan muncul dari bumi, sebagai salah satu tanda-tanda pada hari penghakiman, yaitu Dabbat al-Ard.

Jenis-jenis monster[sunting | sunting sumber]

Setengah manusia[sunting | sunting sumber]

Monster setengah manusia atau DemiHuman adalah monster yang bentuknya menyerupai manusia, namun memiliki sifat yang kebiasaan yang berbeda dengan manusia. contoh : Dracula/Vampire, Pan, Minotaur, Werewolf.

Setengah dewa[sunting | sunting sumber]

Monster setengah dewa atau Demi God adalah monster yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa sehingga ditakuti, dipuja dan dihormati sebagaimana layaknya dewa. Contoh: Naga (di Tiongkok) dan Kali

Setengah iblis[sunting | sunting sumber]

Monster setengah iblis atau DemiDevil adalah monster yang memiliki kemampuan gaib dan dapat mengubah bentuk tubuhnya. Contoh: Nekomata, Malebolgia dan Shuma-Gorath

Humanoid[sunting | sunting sumber]

Monster ini memiliki bentuk humanoid atau seperti manusia. Seiring pada berkembangnya teknologi pada abad ke-19, perkembangan bentuk monster setengah manusia juga semakin pesat. Seperti dalam kisah Frankenstein, monster ini tercipta karena hasil karya penemuan dan penelitian seorang ilmuwan yaitu Dr. Victor Frankestein. Adapula yang meceritakannya sebagai manusia yang mengalami kecelakaan maka tubuhnya berubah menjadi monster tetapi masih memiliki hati nurani. Contoh : Monster Frankenstein, Hulk dan Thing dari Fantastic Four.

Alien[sunting | sunting sumber]

Mike, monster alien yang lucu.
Predator sang alien, dalam film Predator (film).

Monster ini biasanya diceritakan berasal dari luar angkasa, berbeda alam, dan tidak diketahui orang. Contoh: tokoh Mike Wazowski dalam film Monsters, Inc., Alien dan Predator.

Mayat[sunting | sunting sumber]

Monster ini biasanya digambarkan sebagai manusia yang sudah mati kemudian bangkit kembali menghantui manusia hidup lainnya sebagai mayat hidup. Contoh: Mumi dan Zombie.

Hewan[sunting | sunting sumber]

Monster yang menyerupai hewan atau binatang purbakala, misalnya burung phoenix, Nessie di danau loch ness, Kyuubi si rubah ekor sembilan, King Kong, dan Godzilla.

Tanaman[sunting | sunting sumber]

Salah satu dari ras Ent, ras monster tanaman, dalam film Lord of the Rings.

Monster yang menyerupai tanaman tetapi dapat bergerak dan mengeluarkan suara-suara tertentu. Monster jenis ini biasanya digambarkan sebagai pencinta damai dan cenderung menghindari pertikaian. Contoh: Ras Ent pada trilogi Lord of the rings.

Mesin[sunting | sunting sumber]

Monster jenis ini adalah monster-monster buatan manusia yang kebanyakan bagian tubuhnya terbuat dari metal dengan intelegensi buatan atau bahkan alien robot. Monster jenis ini mulai muncul pada akhir abad ke-20 ketika ilmu pengetahuan mulai berkembang dengan pesat. Contoh: Terminator, Decepticons dari kisah Transformers, Metal Gear pada game Playstation Metal Gear Solid dan Android.

Monster dalam litelatur[sunting | sunting sumber]

Hubungan antara ilmu pengetahuan dan keajaiban-keajaiban tersebut menjadi tema penting dalam novel-novel yang diterbitkan pada era Victoria, dimana ilmu pengetahuan tidak hanya untuk mempelajari monster, tetapi juga menciptakannya; misalnya, sebuah monster yang tercipta akibat reaksi bahan kimia, atau melalui penelitian ilmuwan, seperti misalnya Frankenstein.

Monsters dalam film[sunting | sunting sumber]

Sebelum perang dunia II[sunting | sunting sumber]

Pada zaman film bisu, monster seringkali diperankan oleh seorang aktor yang menggunakan kostum menyeramkan sehingga ukuran tubuhnya tak jauh berbeda dari ukuran tubuh manusia. Monster seperti ini diantaranya Frankensteirn, Golem, dan Vampire. Monster berukuran tubuh besar baru muncul dengan ditemukannya tehnik stop-motion (hentikan-gerakkan). Salah satu film yang menggunakan tehnik ini adalah film King Kong, yang kemudian menjadi monster besar pertama di era film bersuara.

Pada masa film bersuara, diperkenalkanlah sebuah monster jenis baru; werewolf. Werewolf diceritakan sebagai manusia setengah hewan yang dapat berubah bentuk ketika purnama muncul. Mumi juga mulai muncul sebagai sebuh monster yang menakutkan, dan berbagai monster sejenis Frankenstein juga banyak bermunculan.

Setelah perang dunia II[sunting | sunting sumber]

Mike dan Sally dalam film Monsters, Inc.

Setelah perang dunia ke-2, monster berukuran besar kembali muncul, kali ini dengan bentuk yang agak berbeda. Nuklir yang menjadi fenomena saat itu menjadi inspirasi utama para pencipta cerita fiksi; monster diceritakan tercipta akibat adanya radiasi nuklir atau bahan kimia lainnya terhadap makhluk hidup yang sudah ada. Contoh monster seperti ini diantaranya adalah Godzila dari Jepang, Gorgo dari Inggris, dan Reptilicus dari dairah Skandinavia. Salah satu tema yang menjadi mode pada saat ini adalah penyerangan monster ke kota-kota modern (saat itu) sehingga menimbulkan kepanikan di seluruh kota.

Pada era televisi berwarna, monster dengan bentuk unik dan menarik semakin banyak diciptakan. Film-film monster yang muncul pun tidak hanya bergenre horor, tetapi juga aksi bahkan komedi. Hal ini terjadi akibat berkurangnya animo masyarakat terhadap film-film horor bergenre monster. Monster oleh sebagian orang dianggap hanya sebagai bualan untuk menakut-nakuti anak kecil. Akibatnya, monster-monster menyeramkan mulai berkurang dan muncullah monster-monster berbentuk lucu seperti dalam anime Pokemon dan Digimon.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]