Lada

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Merica)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lada
Piper nigrum - Köhler–s Medizinal-Pflanzen-107.jpg
Lada
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Piperales
Famili: Piperaceae
Genus: Piper
Spesies: P. nigrum
Nama binomial
Piper nigrum
L.

Lada, disebut juga Merica/Sahang, yang mempunyai nama Latin Piper Albi Linn adalah sebuah tanaman yang kaya akan kandungan kimia, seperti minyak lada, minyak lemak, juga pati.[1] Lada bersifat sedikit pahit, pedas, hangat, dan antipiretik.[1] Tanaman ini sudah mulai ditemukan dan dikenal sejak puluhan abad yang lalu.[2] Pada umumnya orang-orang hanya mengenal lada putih dan lada hitam yang mana sering dimanfaatkan sebagai bumbu dapur.[2] Tanaman ini merupakan salah satu komoditas perdagangan dunia dan lebih dari 80% hasil lada Indonesia diekspor ke negara luar.[3] Selain itu, lada mempunyai sebutan The King of Spice (Raja Rempah-Rempah) yang mana kebutuhan lada di dunia tahun 2000 mencapai 280.000 ton.[3] Lada adalah salah satu tanaman yang berkembang biak dengan biji, tetapi banyak para petani lebih memilih melakukan penyetekkan untuk mengembangkannya.[4] Mereka memotong batangnya kira-kira dengan panjang 0,25-0,5 meter.[4]

Bagian-Bagian Tanaman[sunting | sunting sumber]

Batang[sunting | sunting sumber]

Batang tanaman lada tumbuh merambat pada suatu tiang, terkadang juga menjalar di permukaan tanah.[2] Panjang batang bisa mencapai 15 meter, tetapi dalam budi daya tanaman lada, biasanya batang akan dipotong dan hanya disisakan sekitar 275-300 centi meter.[2] Bentuk batang pada tanaman lada adalah beruas-ruas seperti tanaman tebu dan panjang ruas bukunya berkisar 4–7 cm, hal ini tergantung pada tingkat kesuburan.[2] Panjang ruas buku pada pangkal biasanya lebih pendek dibanding dengan ruas yang berada di pertengahan maupun ujung, sedang ukuran diameternya rata-rata berukuran 6–25 mm.[2]

Akar[sunting | sunting sumber]

Akar yang dimiliki oleh tanaman lada adalah akar tunggang namun mirip dengan akar serabut.[2] Ukurannya kecil-kecil dan tidak panjang sebagaimana pada akar tunggang biasanya.[2] Sesuai dengan jenisnya, akar tanaman ini dibedakan menjadi dua, yakni akar lekat dan akar tanah.[2] Akar lekat adalah akar yang tumbuh pada setiap ruas buku yang berada di permukaan tanah dan mempunyai panjang rata-rata 2,5-3,5 cm.[2] Dalam satu ruas buku bisa tumbuh sebanyak 10-25 helai akar.[2] Kemudian akar tanah adalah akar yang tumbuh pada batang tanaman lada yang berada di dalam tanah.[2] Dari satu suku batang bisa tumbuh sekitar 10-20 helai akar.[2]

Cabang[sunting | sunting sumber]

Gambar 1. Buah lada yang masih di pohon

Tanaman ini mempunyai dua macam lada, yakni cabang orthotrop dan cabang pang plagiatrop.[2] Adapun cabang orthotrop adalah cabang yang tumbuh dari ketiak daun pada buku batang baik yang berada di permukaan maupun di dalam tanah.[2] Selanjutnya, cabang pang plagiatrop merupakan cabang yang tumbuh dari buku dahan.[2] Biasanya cabang ini akan tumbuh setelah tanaman lada berbuah sebanyak dua kali.[2] Jika semakin banyak buku dahan yang ditumbuhi olehnya, maka semakin banyak buah yang akan dihasilkan.[2]

Dahan[sunting | sunting sumber]

Ukuran panjang dahan tanaman lada berkisar antara 35–65 cm.[2] Dahannya tumbuh secara vertikal, tetapi akan berubah jadi horisontal ketika buahnya sudah mulai tua dan masak.[2] Hal ini menyebabkan dahan tanaman ini menggantung karena dipengaruhi oleh bobot buah yang tumbuh di dahan tersebut.[2] Dahan harus dijaga agar tumbuh normal karena mempunyai fungsi utama, yakni sebagai media pertumbuhan bunga dan buah.[2]

Daun[sunting | sunting sumber]

Daun tanaman lada berbentuk bulat telur, tetapi ujungnya meruncing.[5] Pada belahan atas, daun berwarna hijau tua mengkilat, sedang yang bawah berwarna hijau pucat.[5] panjangnya bisa mencapai 12–18 cm dengan ukuran lebar 5–10 cm.[5] Daun akan berukuran lebih panjang jika berada pada batang bagian atas, begitu sebaliknya.[5] Biasanya kuncup daun lada terbungkus oleh kelopak (sisik), jika dia mengembang, maka berjatuhanlah kelopak tersebut. Selain itu, daun tanaman ini sifatnya kenyal dan bertangkai.[5]

Varietas Lada[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, terdapat sekitar 40 jenis lada. Meskipun begitu, jenis varietas lada yang banyak ditanam tergantung kepada daerahnya. Di Lampung misalnya, jenis yang  banyak ditanam adalah Belantung dan Kerinci. Di Bangka jenis yang banyak ditanam adalah “Lampung Daun Kecil” (LDK) dan “Lampung Daun Lebar” (LDL), Merapin, Chunuk dan Jambi. Di Kalimantan, jenis lada yang banyak ditanam adalah varietas Bengkayang. Di Provinsi Jawa Barat, jenis yang banyak ditanam adalah varietas LDK dan LDL. Dalam setiap jenis varietas mempunyai keunggulan dan kelemahan dalam ketahanan hama dan penyakit uatama lada, sehingga petani dapat memilih jenis varietas lada mana yang cocok untuk dikembangkan[6]

Pertumbuhan dan Tata Cara Tanam Lada[sunting | sunting sumber]

Karakteristik geografis[sunting | sunting sumber]

Tanaman lada tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian mulai dari 0-700 m di atas permukaan laut (dpl). Penyebaran tanaman lada sangat luas berada di wilayah tropika antara 200 LU dan 200 LS, dengan curah hujan dari 1.000-3.000 mm per tahun, merata sepanjang tahun dan mempunyai hari hujan 110-170 hari per tahun, musim kemarau hanya 2-3 bulan per tahun. Kelembaban udara 63-98% selama musim hujan, dengan suhu maksimum 35℃ dan suhu minimum 20℃. Lada dapat tumbuh pada semua jenis tanah, terutama tanah berpasir dan gembur dengan unsur hara cukup, drainase (air tanah) baik, tingkat kemasaman tanah pH 5,0-6,5[6].

Tata cara tanam[sunting | sunting sumber]

Gambar 2. Lada dengan sistem tanam sulur panjat

Tanaman lada dapat diperbanyak secara generatif dengan biji, dan vegetatif dengan setek. Perbanyakan menggunakan setek lebih praktis, efisien dan bibit yang dihasilkan sama dengan sifat induknya. Setek tanaman lada dapat diambil dari sulur panjat, sulur gantung, sulur tanah dan sulur buah (cabang buah).  Sulur panjat adalah sulur yang tumbuh memanjat tanaman penegak, apabila ditanam akan menghasilkan tunas dan akar lekat yang dapat langsung melekat pada penegak lada.  Sulur gantung adalah sulur panjat yang menggantung atau tidak tumbuh memanjat pada tanaman penegak, tidak mempunyai akar lekat, apabila ditanam akan menghasilkan tunas yang tidak dapat langsung melekat pada tanaman penegak, cabang buah/buah keluarnya lambat (3-4 tahun).  Sulur tanah adalah  sulur yang tumbuh merayap dipermukaan tanah, akar lekatnya terbatas, tiap buku tidak keluar akar, apabila di tanam akan menghasilkan tunas yang tidak dapat langsung melekat pada tanaman penegak, cabang buah/buah keluarnya lambat (3-4 tahun). Sulur buah (cabang buah) adalah cabang buah, tidak mempunyai akar lekat, apabila ditanam akan cepat menghasilkan buah, tetapi tanaman lada tidak dapat tumbuh tinggi dan tidak melekat pada tanaman penegak,perakarannya dangkal, mudah stres apabila ketersediaan air tanah terbatas, keluarnya cabang buah cepat, pada umur 1 tahun sudah menghasilkan buah[6]

Pada umur 3 tahun, tanaman sudah dapat dipanen dan pertumbuhannya mencapai ujung tiang penegak  dengan  ketinggian 3,5  cm.  Selanjutnya hasilnya  mulai  bertambah sampai  tanaman  berumur 8  tahun,  kemudian mulai  menurun.  Kalau tanaman  dipelihara  baik, tanaman  masih  dapat berproduksi sampai 15 tahun  atau lebih. Sejak  bunga keluar  sampai  buah masak,  memakan  waktu 7-9  bulan.  Buah lada  yang  masih muda  berwarna  hijau muda,  kemudian  berubah menjadi  hijau  tua dan  apabila  sudah masak  menjadi kuning kemerah-merahan. Pada tahap pembungaan dan pembuahan ini perlu diamati kemungkinan  adanya  serangan kepik  penghisap  bunga (Diplogompus  hewetii) dan  kepik  penghisap buah  Dasynus  piperis.  Kedua jenis  hama  ini sama-sama  menimbulkan  kehilangan langsung pada produksi lada (buah keriput, rontok, dsb). Pemberantasan  kedua  jenis hama  ini  dapat dilaksanakan  dengan  penyemprotan insektisida  yang  telah disetujui  oleh  Komisi Pestisida  dengan  frekuensi 2  -  5 kali  per  tahun tergantung  pada  berat ringannya  serangan [6]

Berdasarkan tujuannya,  ada  dua macam  pemanenan  buah lada yaitu    lada  hitam dan  lada  putih. Lada hitam dan lada putih sebenarnya tumbuh dari tanaman yang sama. Namun, keduanya memiliki cara pengolahan yang berbeda sehingga menghasilkan warna, tekstur, dan rasa berbeda yang memiliki khas masing-masing. Lada  hitam adalah  lada  yang dikeringkan  bersama  kulitnya (tanpa  pengupasan),  sedangkan lada  putih  adalah lada  yang  dikeringkan setelah  melalui  proses perendaman  dan  pengupasan. Lada putih memiliki rasa yang lebih pedas daripada lada hitam. Namun rasa lada putih tidak sekaya rasa lada hitam yang memiliki rasa lebih kompleks. Lada hitam  paling  banyak dihasilkan di Propinsi Lampung, sementara lada putih awalnya banyak dihasilkan di Muntok,  Bangka  bagian barat.  Saat  ini lada  putih  terkonsentrasi  di Bangka  Selatan  antara lain  terdapat  di Kecamatan  Toboali,  Kecamatan Koba,  dan  Kecamatan Air  Gegas[6]

Penyebaran[sunting | sunting sumber]

Indonesia    merupakan   negara    pemasok    terbesar   dalam    pasar    lada   internasional.  Menurut Wahid dan Sitepu, 1987 sebelum perang dunia   ke  II,  Indonesia hampir  menguasai  hampir seluruh  kebutuhan  lada dunia  (80  persen). Selanjutnya  Indrawanto  dan Wahyudi  (1996)[7]  melaporkan bahwa  ekspor  lada putih Indonesia pernah meningkat dari 54 persen pada tahun 1981 menjadi 94 persen pada tahun 1990 dari total ekspor lada putih dunia. Sebaliknya pada periode yang sama  pangsa  ekspor lada  hitam  Indonesia pernah  menurun  dari 52  persen  pada tahun 1981 menjadi 27 persen di tahun 1990. Enam tahun kemudian mulai dari tahun 1996-2000, lada hitam negara kita meningkat lagi menjadi 45 persen dari total ekspor lada hitam dunia [8].  Ada sembilan negara yang menjadi pemasok dominan lada di dunia ini, yaitu Indonesia,  India, Malaysia,  Brazil,  Thailand, Sri  Langka,  Vietnam, Mexico  dan  Madagascar. Dalam masa sepuluh tahun terakhir  (1990-2000) rata-rata pertahunnya negara  Indonesia  merupakan negara  yang  paling besar  dalam  mengekspor lada    kemudian di ikuti oleh negara Malaysia dan Brazil, dengan masing-masing rata-rata pertahunnya  sebesar 43.193  ton  ; 31.904  ton  dan 24,511  ton. Luas  areal tanaman  lada  di Indonesia  hampir  90% dimiliki  oleh  perkebunan rakyat  estimasi  tahun 2000 seluas 130.178 ha dari total areal 130.557 ha, dengan total potensi produksi lada Indonesia sekitar 65.227 ton. Daerah penghasil lada terbesar di Propinsi Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Hasil pengolahan lada  ada 3 jenis yaitu lada hitam, putih dan hijau, dari 3 jenis olahan yang dikenal hanya lada hitam dan putih. Untuk  hasil olahan  lada  dari Propinsi  Lampung  dikenal dengan  sebutan  Lampung  black pepper dan hasil olahan lada dari Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dikenal dengan sebutan Muntok  white pepper.  Sebutan  tersebut dikenal  karena  Indonesia merupakan  salah  satu produsen terbesar di dunia. Kondisi perkebunan  lada  Indonesia saat  ini  sekitar 11,50%  dari  seluruh luas  komoditi  perkebunan dengan  kemampuan  modal yang  lemah.  Dampak dari  kondisi  tersebut diatas  mengakibatkan    perkembangan    teknologi   ditingkat    petani    untuk   perbaikan    mutu,    budidaya/pengembangan tanaman sangat lambat dan tidak mengalami perubahan [8]

Kandungan Lada dan Analisis Metabolit Lada[sunting | sunting sumber]

Kandungan Lada[sunting | sunting sumber]

Rasa pedas  lada  diakibatkan oleh  adanya  zat piperin,  piperanin,  dan chavicin  yang   merupakan   persenyawaan   dari  piperin   dengan   semacamalkaloid.  Chavicin banyak  terdapat  dalam daging  biji  lada (mesocarp) dan tidak akan  hilang walaupun  biji yang masih  berdaging dijemur hingga lebih pedas dibanding lada putih. Aroma  biji  berasal dari  minyak  atsiri yang  terdiri  dari beberapa  jenisminyak  terpen (terpentin)  lada  hitam dan  lada  putih dengan  senyawa  kimiakadar air,  zat  protein, zat  karbohidrat, minyak  atsiri dan  piperin  (alkaloid). Piperin  termasuk golongan  alkaloid  yang merupakan  senyawa  amidabasa lemah yang dapat membentuk garam dan asam mineral kuat. Tumbuhan yang   termasuk    jenis    piper   selain    mengandung 5–9% piperin juga mengandung minyak atsiri berwarna kuning berbau aromatis senyawa berasa pedas (kavisin), amilum, resin,  dan  protein. Piperin  berupa kristal berbentuk 8 jarum berwarna kuning, tidak  berbau,tidak  berasa lama-lama pedas. Piperinbila  dihidrolisis dengan   KOH   akan menghasilkan  kalium  piperinat  dan piperidin. Saat ni produk utama dari lada yaitu lada tu sendiri yang  memiliki beberapa  kegunaan  di antaranya  yaitu  untuk kesehatan,  untuk obat-obat  tradisional  maupun modern,  khasiatnya  sebagai stimulan pengeluaran keringat (diaphoretik), pengeluaran angin (carminativ), peluruhan  air kencing  (diuretik),  peningkatan nafsu  makan,  peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan, dan percepatan pencernaan zat lemak. Selain itu  biji lada pun  dapat dipakaiuntuk ramuan  obat reumatik. Lada juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati, pada lada mengandung zat racun, oleh karena itu, lada dapat digunakan sebagai insektisida pembunuh  serangga. Ekstrak kasar lada hitam juga sangat toksik terhadap hama kapas.

Analisis Metabolit Lada[sunting | sunting sumber]

Kajian metabolomik telah dilakukan oleh penelitian[9] menggunakan lada jenis spesies C. annuum, C. chinense, C. frutescens dan C. baccatum dengan bentuk morfologi, tingkat kepedasan, serta asal geografis yang berbeda. Analisis genotip menggunakan marka AFLP mengkonfirmasi pengelompokan filogenetik. Pengelompokan spesifik-spesies dilakukan berdasarkan profil metabolit semi-polar mereka. Secara total 88 semi-polarmetabolit dapat diidentifikasi. Sebagian besar metabolit ini mewakili konjugat dari flavonoid lada utama (quercetin, apigenin, dan luteolin). Data profil ini dapat digunakan dalam program pemuliaan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lada berbasis metabolit seperti rasa dan metabolit yang dihasilkan terkait manfaatnya pada kesehatan[9].

Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat variasi metabolisme yang cukup besar dalam berbagai jenis spesies lada yang berbeda. Perbedaan metabolit pada beberapa spesies ini yang menyebabkan adanya variasi metabolit semi-polar sedangkan tingkat kepedasan lada berpengaruh atas variasi dalam roma yang bersifat volatil pada lada. Selain adanya kandungan flavonoid dan kapsianosida yang bermanfaat bagi kesehatan juga diidentifikasi senyawa volatil lainnya seperti senyawa ester asam lemak bercabang metil, senyawa volatil turunan asam lemak misalnya heksanal, nonenal, dan non-edienal serta monoterpen. Senyawa-senyawa tersebut dapat berpotensi menjadi kandidat untuk program pemuliaan yang bertujuan untuk mengembangkan kultivar baru dengan rasa yang lebih baik dan karakteristik kualitas yang lebih baik. Hasil penelitian ini juga menunjukkan data untuk mengeksplorasi variasi metabolik dengan platform analitik yang berbeda dan untuk memadukan metabolisme dengan analisis genetik sebagai strategi untuk menargetkan program pemuliaan tanaman dengan keragaman fenotipik untuk sifat dan kualitas tanaman lada[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Permadi, Adi (2008). Membuat Kebun tanaman Obat.Jakarta:Pustaka Bunda. Cet. 1 Hal 37
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v T., Sarpian (2003).Pedoman Berkebun Lada dan Analisis Usaha Tani.Yogyakarta:Penerbit Kanisius. Hal 22-27
  3. ^ a b Rukmana, Rahmat(2003).Tanaman Perkebunan: Usaha Tani Lada Perdu.Yogyakarta:Penerbit Kanisius. Hal 7
  4. ^ a b Suryatini (2008).Dapur Naga di Indonesia.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 106
  5. ^ a b c d e Agraris Kanisius, Aksi(2005).Bercocok Tanam Lada.Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hal 16 Cet. 15
  6. ^ a b c d e Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. Teknologi Budidaya Lada. ISBN: 978-979-1415-37-8.
  7. ^ Indrawanto, C  dan  A. Wahyudi.  1996.  Penawaran  dan Permintaan  Lada  Hitan dan  Lada Putih. Monograf Tanaman Lada. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.
  8. ^ a b Susilowati,  S.H.   Supriyati   dan  Sumedi.   2002.   Review   dan  Outlook   Komoditas   Perkebunan. Puslitbang  Sosial  Ekonomi Pertanian.  Badan  Litbang Pertanian.  Bogor.
  9. ^ a b c Wahyuni, Y., Ballester, A.-R., Tikunov, Y., de Vos, R. C. H., Pelgrom, K. T. B., Maharijaya, A., … Bovy, A. G. 2012. Metabolomics and Molecular Marker Analysis to Explore Pepper (Pepper ningrum sp.) Biodiversity. Metabolomics, 9(1), 130–144.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]