Kerajaan Pucangsula

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kerajaan Pucangsula
Abad ke-6–Abad ke-7
Ibu kota Di Lasem, belum dipastikan letak kotaraja-nya
Bahasa Jawa Kuno, Sanskerta
Agama Hwuning, Hindu Syiwah, Buddha-Kanung
Bentuk Pemerintahan Tidak disebutkan
Dhatu/Dattsu Hang Sam Badra (Bhadrawarman)
Dattsu Dewi Sibah
Arya Asvendra
Sejarah
 -  Hang Sam Badra mendirikan Pelabuhan Pucangsula di lereng barat Pegunungan Lasem Argapura Abad ke-6
 -  belum diketahui secara pasti Abad ke-7
Pendahulu
Pengganti
Tanjungputri
Kekuwuan Lasem
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia.png
Lihat pula:
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara

Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Salakanagara (130-362)
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Kendan (536–612)
Galuh (612-1528)
Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
Kerajaan Medang (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Kerajaan Islam
Penyebaran Islam (1200-1600)
Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Kalinyamat (1527–1599)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banjar (1520–1860)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1430 - 1666)
Kerajaan Tayan (Abad Ke-15-sekarang)
Kesultanan Mataram (1588—1681)
Kesultanan Palembang (1659-1823)
Kesultanan Siak (1723-1945)
Kesultanan Pelalawan (1725-1946)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)

Kerajaaan Pucangsula adalah kerajaan kuno yang terletak di Nusa Kendeng Argapura (Pulau kuno yang lepas dari Nusa Yawapegwan), sekitar tepi barat Pegunungan Lasem Argapura.

Raja-raja[sunting | sunting sumber]

  1. Dhatu Hang Sam Badra yang terkenal sebagai pendeta Kanung yang mengajarkan kepercayaan suci Hwuning terutama tentang Endriya pra Astha kepada murid-muridnya di Pertapaan Argasoka, Gunung Tapaan. Dia memiliki 2 putri yang cantik dan tangguh, yaitu Dewi Sibah (Sie Ba Ha) dan Dewi Simah (Ratu Shima, raja Kalingga.
  2. Dattsu Sie Ba Ha (Dewi Sibah) dia adalah armada laut (laksamana) wanita pada masa pemerintahan Hang Sam Badra. Dia terkenal kejam dan bengis kepada perompak di Lautan Pucangsula, terutama perompak laki-laki yang tampan. Dia akhirnya menjadi istri dari Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) dan memiliki seorang putra bernama Arya Asvendra. Pada masa pemerrinahan dia, Pucangsula mencapai masa kejayaan. Endriya pra Astha diperkukuh di dalam undang-undang, pembangunan tempat suci, dan pertambangan belerang di Baturetna terjadi di zaman Dewi Sibah.
  3. Arya Asvendra, dia adalah putra Rsi Agastya Kumbayani dan Dewi Sibah. Pada masa pemerintahan dia, dibangun pasraman/tempat suci di Bukit Gebang (Butun) dan mensikretiskan ajaran Hwuning dari kakeknya (Sam Badra) dan ajaran Siwa dari ayahnya (Rsi Agastya). Ini dibuktikan dengan adanya penemuan patung Lembu Nandi dan arca Ganapati (Ganesha) di Bukit Gebang, sebelah tenggara Pertapaan Argasoka. Dia wafat di depan candi Sumbadra (Dieng) saat terjadi Tragedi Belerang antara wong Baturretna dan wong Keling (Kalingga) di Dieng untuk memperebutkan hak pertambangan belerang (untuk diekspor), belapati terhadap kaumnya dan ayahnya. pu chang su lao

Anak Arya Asvendra adalah Arya Untaka yang diselamatkan oleh patihnya Arya Asvendra, kelak anaknya ini dijadikan raja di Hangjuruhan (Kanjuruhan) dekat Kali Brantas sampai Singosari. Pada masa Kanjuruhan, Raja Gajayana membuat tempat suci pemujaan yang sangat bagus guna memuliakan Rsi Agastya. Sang raja juga menyuruh membuat arca sang Rsi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Rsi Agastya yang dibuat dari kayu cendana oleh nenek Raja Gajayana.

Pemecahan Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Pucangsula dipecah wilayahnya menjadi 3 pada masa pemerintahan Hang Sam Badra (Bhadrawarman):

  1. Pucangsula, berkuasa di sisi timur, dengan Dewi Sibah sebagai rajanya.
  2. Keling (Kalingga), berkuasa di sisi tengah dan Pulau Muria, dengan Ratu Shima sebagai rajanya.
  3. Baturretna, berkuasa di sisi barat sampai berbatasan dengan Sunda, dengan Rsi Agastya Kumbayani (Haricandana) sebagai rajanya.

Undang-undang Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Setelah bertahun-tahun Raja Hang Sam Badra membabar ajaran Endriya Pra Astha dan para pendeta Kanung juga telah mengajarkan ajaran ini kepada masyarakat Pucangsula, akhirnya pada masa pemerintahan Dewi Sie Ba Ha (Sibah), Endriya pra Astha ini ditetapkan sebagai undang-undang kerajaan. Endriya Pra Astha ini berbunyi:

  1. Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi Brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan. (bersungguh-sungguh dalam bekerja mencari rejeki untuk kesejahteraan keluarga serta tidak boleh iri dengki terhadap orang lain).
  2. Nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane-sakloron; sambat nyebut: Adhuh Sembooooook, Gusti kula! (=Sembok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya), Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula! (=Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak-bojone). (Berbakti kepada kedua orang tua).
  3. Ngleluri mundhi Pundhen Nyai-Dhanhyang Kaki-Dhanhyang sing cakalbakal desane. Sarta emoh nganggu Manuk-manuk sing padha manggon ning bregat Pundhen, utawa ning bregat-bregat liyane kana-kana. (Menghormati punden para leluhur yang menjadi cikal bakal desa serta tidak boleh mengganggu burung-burung yang tinggal di pohon besar sekitar punden atau pohon-pohon besar yang dianggap sakral di tempat lain).
  4. Sayuk rukun karo tangga-teparo lan sadulure, bebarengan gotong-royong ing wulan Purnama Badrapada; bresih desa, ratan, sendhang, karas pekarangan; sarta memetri nguri Bregat. (Hidup rukun dengan tetangga kanan kiri dan saudara, bersama-sama gotong-royong pada saat Bulan Purnama Badrapada untuk melakukan upacara bersih desa, membersihkan jalan besar, telaga/sendang, pekarangan, serta merawat pohon-pohon besar agar tetap asri lestari).
  5. Mangastuti rembugan nggathukake pinemu, kanggo pituduh mbangun majune Desane, lan njaga kaamanane. (Mendahulukan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan masalah, sebagai petunjuk untuk membangun kemajuan desa dan menjaga keamanan/ketenteraman desa).
  6. Nguri-uri ngluhurake Budipakarti Seni-Budaya Jawa. (Melestarikan dan meluhurkan budi pekerti seni budaya Jawa).
  7. Mikani ning Bumi dununge kabeh Titah kasinungan Sang Urip kang Maha Esa, mikani ning Langit dununge/ manunggale Urip Agung Sang Nyawa kang Maha Das. Wong mati ragane dadi Mayit lebur ing Bumi, Jiwane dadi Yitma nunggal ning Langit. (Menyembah kepada Yang Maha Esa dan ingat bahwa orang yang mati raganya akan melebur menjadi satu dengan bumi dan jiwanya akan manunggal di langit).
  8. Setya pranatane Negara lan Sabda wasitane Sesepuh Agung Manggala Praja. (Setia terhadap peraturan negara dan sabda para Sesepuh Agung Manggala Praja).

Dugaan Peninggalan[sunting | sunting sumber]

  1. Kompleks Candi Dieng, di dataran tinggi Dieng
  2. Reruntuhan Candi Pucangan di desa Sriombo
  3. Pasraman bukit Gebang (Butun), tempat pengajaran ajaran Siwa, di desa Warugunung
  4. Pasraman bukit Tapaan (Argasoka), tempat pengajaran ajaran Hwuning dan Buddha-Kanung, sebelah barat Vihara Tlueng (Sendangcoyo)
  5. Punden Tapaan, tempat bersemayamnya abu jenazah Hang Sam Badra dan Dewi Sibah, sebelah barat Vihara Tlueng (Sendangcoyo)
  6. Arca Lembu Nandini dan Arca Ganapati (Ganesha) di bukit Gebang
  7. Reruntuhan Candi Gebang di bukit Gebang
  8. Situs Kapal Kuno desa Punjulharjo (abad ke-7 M)
  9. Bekas tempat pabrik kapal di lereng Gunung Bugel, Dhak-Palwa/Palwadhak (desa Pohlandak sekarang)
  10. Desa/Dukuh Gepuro sebagai gerbang/gapura kotaraja (kini masuk desa Selopuro)
  11. Dukuh Pucangan desa Sriombo
  12. Dukuh Sulo desa Sriombo
  13. Dukuh Logading (Selogading) desa Sriombo

Referensi Acuan[sunting | sunting sumber]

  1. Naskah Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung
  2. Cerita-cerita setempat
  3. Arkeologi.web.id: misteri tokoh arya asvendra