Jalan Raya Lintas Sumatra

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

80px

Jalan Nasional Rute Lintas Sumatra
Jalan Raya Lintas Sumatra dari Banda Aceh di utara, dan Medan di pantai dan kemudian Padang di sebelah Barat, kemudian ke pedalaman Lubuk Linggau sampai Lampung dapat dilihat di peta ini.
Persimpangan besar
Ujung Utara:Kota Banda Aceh
Ujung Selatan:Pelabuhan Bakauheni
Sistem jalan bebas hambatan

Jalan di Indonesia

Jalan Raya Lintas Sumatra dari Banda Aceh di utara, dan Medan di pantai dan kemudian Padang di sebelah Barat, kemudian ke pedalaman Lubuk Linggau sampai Lampung dapat dilihat di peta ini

Jalan Raya Lintas Sumatra atau Jalan Lintas Sumatra adalah sebuah jalan raya yang membentang dari Utara sampai Selatan Pulau Sumatra. Berawal dari Banda Aceh, Aceh sampai ke Pelabuhan Bakauheni, Provinsi Lampung dengan total panjang jalan 2.508,5 km. Jalan Raya Lintas Sumatra merupakan bagian keseluruhan Jaringan Jalan Asia rute AH 25.

Jalan Raya Lintas Sumatra ini sering disebut sebagai Jalan Lintas Sumatra. Dahulu Jalan Raya Lintas Sumatra sebenarnya hanya menunjuk kepada jalan raya yang berada di pesisir timur Pulau Sumatra yang berarti minus bagian jalan raya di pesisir barat yang melintasi Provinsi Sumatra Barat, Provinsi Bengkulu. Saat ini terdapat 4 jalan utama di Pulau Sumatra, yaitu Jalan Raya Lintas Barat (Jalinbar), Jalan Raya Lintas Tengah (Jalinteng), Jalan Raya Lintas Timur (Jalintim), dan Jalan Raya Lintas Pantai Timur.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Jalan Lintas Sumatra diputuskan untuk dibangun tahun 1965 pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Pembangunan Jalan Lintas Sumatra yang dianggap sebagai proyek nasional maharaksasa pada masa itu dilaksanakan sepanjang 2.400 kilometer dan dibagi dalam delapan proyek serta rampung dalam waktu 10 tahun. Di daerah Lampung sendiri mendapatkan pembangunan jalan lintas Sumatra sepanjang 240 kilometer, dengan perencanaan di sebelah kiri jalan didirikan industri besar, seperti tekstil, dengan perkebunan kapas, penggergajian kayu, pabrik dan sebagainya. Adapun di sebelah kanan jalan dibangun kawasan transmigrasi modern dengan persawahan dan perkampungan modern. Pembangunan Jalan Lintas Sumatra di Lampung yang diberi sandi ”Operasi Rajabasa” tersebut berhasil membuka jalan sepanjang 5 km di kawasan pegunungan. Namun dibukanya Jalan Lintas Sumatra membuat masalah baru, yaitu berupa pungutan liar dan bajing loncat yang berlangsung hingga masa kini.[1]

Kota-kota yang dilintasi Jalan Raya Lintas Barat[sunting | sunting sumber]

Jalan Raya Lintas Barat melintasi 5 provinsi di Pulau Sumatra.

Aceh[sunting | sunting sumber]

Sumatra Utara[sunting | sunting sumber]

Sumatra Barat[sunting | sunting sumber]

Bengkulu[sunting | sunting sumber]

Lampung[sunting | sunting sumber]

Kota-kota yang dilintasi Jalan Raya Lintas Tengah[sunting | sunting sumber]

Jalan Raya Lintas Tengah berakhir di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, melintasi 6 provinsi di Pulau Sumatra.

Aceh[sunting | sunting sumber]

  1. Simpang Tiga Redelong
  2. Takengon
  3. Blangkejeren
  4. Kutacane

Sumatra Utara[sunting | sunting sumber]

  1. Medan
  2. Kabanjahe
  3. Tiga Panah
  4. Pematang Raya
  5. Pematang Siantar
  6. Parapat
  7. Porsea
  8. Balige
  9. Siborong-borong
  10. Tarutung
  11. Sipirok
  12. Padang Sidempuan
  13. Sibuhuan
  14. Panyabungan
  15. Kota Nopan
  16. Muara Sipongi

Sumatra Barat[sunting | sunting sumber]

Jambi[sunting | sunting sumber]

Sumatra Selatan[sunting | sunting sumber]

Lampung[sunting | sunting sumber]

Kota-kota yang dilintasi Jalan Raya Lintas Timur[sunting | sunting sumber]

Jalan Raya Lintas Timur melintasi 6 provinsi di bagian pesisir timur Pulau Sumatra.

Aceh[sunting | sunting sumber]

Jalan lintas Sumatra di Indra Puri, Aceh Besar

Sumatra Utara[sunting | sunting sumber]

Riau[sunting | sunting sumber]

Jambi[sunting | sunting sumber]

Sumatra Selatan[sunting | sunting sumber]

Lampung[sunting | sunting sumber]

Kota-kota yang dilintasi Jalan Raya Lintas Pantai Timur[sunting | sunting sumber]

Jalan ini merupakan jalan baru dan dibangun untuk mengurangi kepadatan Jalan Raya Lintas Timur yang dari dan menuju pelabuhan Bakauheni.

Lampung[sunting | sunting sumber]

Kondisi saat ini[sunting | sunting sumber]

Jalan Raya Lintas Sumatra merupakan jalur perhubungan darat yang terpenting di Sumatra. Ini dikarenakan jalur KA hanya ada di Provinsi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan dan Lampung.

Namun, banyak ruas jalan di Provinsi Sumatra Selatan dan Lampung mengalami kerusakan yang sangat parah walaupun pemerintah telah mengalokasikan banyak dana dalam beberapa tahun anggaran terakhir.

Di beberapa bagian ruas jalan yang menghubungkan antara Bengkulu dan Lampung juga rawan kejahatan di malam hari serta longsor bila hujan. Sedangkan di beberapa ruas di Jambi sering diketemukan binatang liar.

Pengembangan[sunting | sunting sumber]

Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR melakukan proyek WINRIP (Western Indonesia National Roads Improvement Project atau Proyek Perbaikan Jalan Nasional Indonesia Bagian Barat). Tujuan utama proyek ini adalah untuk menningkatkan efisiensi pemanfaatan fungsi jalan nasional di koridor pantai barat Sumatra dengan menurunkan biaya operasional kendaraan, dengan cara meningkatkan standar kondisi jalan, menciptakan jalan yang berkeselamatan, meningkatkan akuntabilitas dan transparansi untuk publik, pengembangan institusi, penyediaan penanganan pasca bencana (tergantung situasi).[2] Adapun proyeksi yang diharapkan dari proyek WINRIP memiliki elemen-elemen indikator kinerja keluaran sebagai berikut:

  1. Penurunan waktu tempuh rata-rata sekurang-kurangnya 20%.
  2. Biaya operasional kendaraan berkurang 5% untuk kendaraan ringan, 8% untuk bus dan 10% untuk kendaraan berat.
  3. Lalu-lintas Harian (LHR) bertumbuh seperti yang diharapkan/diproyeksikan.

Proyek ini berlangsung di 4 (empat) provinsi di Pulau Sumatra (Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Lampung, dengan rincian ruas jalan yang ditingkatkan adalah sebagai berikut[3]:

  1. Simpang Rampa - Poriaha (11,1 Km)
  2. Sibolga - Batas Tapsel (36 Km)
  3. Simpang Empat - Simpang Air Balam (61,70 Km)
  4. Padang Sawah - Simpang Empat (40,90 Km)
  5. Manggopoh - Padang Sawah (32 Km)
  6. Batas Kota Pariaman - Manggopoh (46,80 Km)
  7. Lubuk Alung - Kuraitaji (16,80 Km)
  8. Lubuk Alung - Sicincin (14,60 Km)
  9. Painan - Kambang (31,50 Km)
  10. Kambang - Indrapura (55,20 Km)
  11. Indrapura - Tapan (19,50 Km)
  12. Mukomuko - Batas Sumbar (25,80 Km)
  13. Bantal - Mukomuko (50,10 Km)
  14. Ipuh - Bantal (42,40 Km)
  15. Seblat - Ipuh (34,50 Km)
  16. Lais - Bintunan (11,60 Km)
  17. Pasar Pedati - Kerkap (25 Km)
  18. Simpang Rukis - Tanjung Kemuning (56,3 Km)
  19. Simpang Gunung Kemala - Pugung Tampak (36,80 Km)
  20. Krui - Biha (25 Km)
  21. Rantau Tijang - Kota Agung (42 Km)

Jalan Tol Trans-Sumatra[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2015 pemerintah merencanakan untuk membangun jalan Tol Trans Sumatra yang menyambung Lampung dengan Aceh sepanjang 2.700 kilometer . Pemerintah akan mengalokasikan dana Rp 150 trilyun buat pembangunan jalan toll di Sumatra ini.[4]Pada tahap awal Ruas tol yang pembangunannya tersendat adalah Jalan Tol Padang-Sicincin sepanjang 27 km, yang lancar adalah Jalan Tol Medan-Kualanamu sepanjang 25 km, dan Jalan Tol Kualanamu-Tebing Tinggi sepanjang 35 km.[5]

Pada periode tahun 2005-2010, Sumatra hanya mendapat anggaran untuk 2 ruas jalan tol yaitu Jalan Tol Medan-Binjai (20,5 km) dan Jalan Tol Palembang-Indralaya (24,5 km).

Referensi[sunting | sunting sumber]