Pangkalan Brandan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pangkalan Brandan (Pangkalanberandan ) adalah sebuah daerah kawasan pelabuhan di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Indonesia, terletak di pesisir pantai timur pulau Sumatra, 64 kilometer sebelah barat laut Kota Binjai, serta merupakan wilayah gerbang yang berdekatan perbatasan Sumatra Utara dengan Aceh. Populasi daerah ini sekitar 21.000 jiwa.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gajah mengangkut kayu di Pangkalan Berandan pada tahun 1920-an

Minyak bumi dikenal di Nusantara sejak zaman dahulu, kolam-kolam kecil berisi lilin mineral yang digunakan untuk menyalakan obor dan mendempul perahu. Pada tahun 1880, Aeilko Jans Zijlker dari East Sumatra Tobacco Company menemukan deposit ini mengandung hingga 62 persen minyak tanah. Penyerahan dari Kesultanan Langkat, dekat Sungai Babalan yang disebut Telaga Said, Perusahaan miinyak Zijlker's Provisional Sumatera Petroleum Company mengebor minyak pertama yang berhasil menghasilkan minyak dengan baik pada tahun 1885. Sumur minyak itu dinamakan Telega Tunggal No.1. Mencari modal pada tahun 1890, Zijlker menerbitkan saham minyak bumi di "Royal Dutch Company untuk Hindia-Belanda", setelah raja Belanda William III memberinya lisensi untuk menggunakan gelar kerajaan. Setelah kematian mendadak Zijlker pada tahun 1890, Jean Baptiste August Kessler mengambil alih manajemen operasi pada tahun 1891. Di Sungai Babalan, ada sebuah kilang yang dihubungkan oleh pipa sepanjang 9 kilometer ke lokasi sumur. Kilang itu beroperasi pada tahun 1892.

Ladang minyak[sunting | sunting sumber]

Pangkalan Brandan tercatat sebagai daerah pertama di Indonesia yang mendukung pengembangan daerah lain yang kaya akan pasokan minyak. Sumurnya dapat ditelusuri sebagai asal mula raksasa minyak dunia Royal Dutch Shell. Diusulkan pula pemanfaatan limbah industri kelapa sawit lokal untuk pembangkit listrik. Maka dari itu Pangkalan Brandan terkenal dikarenakan merupakan salah satu ladang minyak tertua di Indonesia dan telah dieksplorasi sejak zaman Hindia-Belanda.

Kronologi sejarah[sunting | sunting sumber]

  • 1885 - Produksi pertama minyak bumi dari perut bumi Pangkalan Brandan.
  • 1892 - Kilang minyak Royal Dutch yang menjalankan usaha eksplotasi mulai melakukan produksi massal.
  • 1947 - Tanggal 13 Agustus, peristiwa Brandan Bumi Hangus sebagai salah satu strategi pejuang sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi Belanda.

Sekarang ini, ada 5 Unit Operasi Daerah Produksi di bawah Pertamina, Unit I yang membawahi daerah Aceh dan Sumatra Utara berkantor pusat di Pangkalan Brandan.