Sutra Raja Agung Avalokitesvara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Beragam Kitab Suci Gao Wang Guan She Yin Jing yang sering ditemukan di semua Klenteng

Sutra Raja Agung Avalokiteshvara atau Gao Wang Guan Si Yin Jing (Hanzi=高王觀世音經; Hokkien=Ko Ong Kwan Si Iem Keng) adalah salah satu Kitab Suci agama Buddha aliran Mahayana yang berada di China. Sutra ini tidak dimasukkan ke dalam kanon resmi Mahayana tetapi sangat terkenal di China dan negara-negara berpenduduk China. Sebagaimana Kitab Suci Mahayana lainnya, kitab ini tidak terdaftar dalam Kanon Pali.

Fashi Huibo menulis sebagai berikut dalam artikelnya:[1]

"Ko Ong Kuan Shi Im Keng adalah sutra yang sudah lama beredar secara turun temurun di negeri Tiongkok. Jauh sebelum zaman sui dan Tang sutra ini sudah sangat populer. Walaupun tak seorangpun yang menganjurkan bahkan juga tak pernah dimasukkan sebagai salah satu bagian dalam tripitaka, tetapi karena sudah terbukti kemujaraban serta keampuhannya, melalui salinan-salinan tangan pun sutra ini tetap bertahan disebar-luaskan dan diwariskan dari zaman ke zaman secara turun temurun."

Nama[sunting | sunting sumber]

Versi nama dalam Bahasa Indonesia:

  1. Sutra Avalokiteshvara Penyelamat Dunia
  2. Sutra Maha Raja Avalokitesvara
  3. Sutra Raja Agung Avalokitesvara
  4. Sutra Raja Agung Avalokitesvara Sejati

Versi nama dalam Bahasa Tionghoa (Hanyu Pinyin dan Hanzi):

  1. Gao Huang Guan Shi Yin Jing (Hanzi=高皇觀世音經; lit. Sutra Kwan Im dari Kaisar Gao)
  2. Gao Wang Guan Shi Yin Jing (Hanzi=高王觀世音經; lit. Sutra Kwan Im dari Raja Gao)
  3. Gao Wang Guan Shi Yin Zhen Jing (Hanzi=高王觀世音真經; lit. Sutra Kwan Im Sejati dari Raja Gao)

Versi nama dalam Bahasa Tionghoa (tidak mengikuti aturan Hanyu Pinyin):

  1. Kao Wang Kuan Shi Yin Tsing, Kao Wang Kuan Shi Yin Cing
  2. Kuan Shi Yin Tsing, Kuan She Yin Cing

Versi nama dalam dialek Hokkien:

  1. Ko Ong Kwan Si Im Keng, Koo Ong Kuan See Iem Keng, Kao Ong Kuan Shi Im Keng, Ko Ong Kwan Se Im Keng

Versi nama dalam bahasa Inggris:

  1. High King Avalokiteshvara Sutra

Pandangan dalam agama Buddha[sunting | sunting sumber]

Buddhisme Mahayana[sunting | sunting sumber]

Meskipun disebut Jing (Hanzi=經; lit. sutra (kitab) ), Sutra Raja Agung Avalokitesvara tidak tergolong dalam kanon resmi agama Buddha Mahayana karena tidak berasal dari ajaran langsung Buddha Sakyamuni. Sutra tersebut tidak dimulai dengan kalimat demikian yang aku dengar, yang merupakan kata-kata dari Arya Ananda pada saat para murid Buddha Sakyamuni menyusun ajaran-ajarannya setelah ia mencapai nibbana. Sejarah mengenai asal usul sutra ini juga tidak menyebutkan bahwa sutra ini berasal langsung dari ajaran Buddha Sakyamuni, melainkan diturunkan melalui mimpi[2].

Masyarakat China memberikan tanggapan yang luar biasa dari pembacaan sutra ini, meskipun tidak disinggung dan tidak tercantum dalam kanon kitab suci agama Buddha, serta mulanya tidak dikenal di luar negeri China. Pada zaman Dinasti Qing, beberapa kuil memprakarsai pencetakan sutra ini. Pada awal masa republik China, Ding Fubao yang menerbitkan Kitab Besar Buddhisme memberi catatan tambahan mengenai Ko Ong Kwan Se Iem Keng dan memasukkan catatan tersebut ke dalam buku yang ia terbitkan. Catatan tersebut juga menyebutkan bahwa 60 tahun semenjak masa republik di China, mendiang Bhiksu Nanting dari Taiwan pernah memprakarsai pencetakan sutra ini.[2]

Menurut sebagian bhiksu, misalnya Bhiksu Wu Thung, meskipun sutra tersebut tidak ada dalam Sutra Agama Buddha, tetapi jika dibaca tidak apa-apa.[3]

True Buddha School[sunting | sunting sumber]

Bagi Lu Sheng Yen, pendiri dari aliran True Buddha School, Sutra Raja Agung Avalokitesvara adalah kitab pertama yang ia hafal dan ia sebarkan. Itulah sebabnya, ia memberikan perhatian terhadap sutra tersebut. Lu Sheng Yen selanjutnya menambahkan:[2]

"Bila memiliki jalinan, maka adalah yang terunggul, sutra dan mantra tidak dibeda-bedakan, bila penjapaan dilakukan hingga berhasil memutar Dharmacakra, itu berarti mencapai keberhasilan."

Sejarah dan legenda[sunting | sunting sumber]

Asal usul menurut Kitab Fozu Tongji Bab 54 dan Jigu Lue Bab 2[sunting | sunting sumber]

Pada masa Dinasti Wei Timur (seusai pemberontakan lima Bangsa Hu sekitar tahun 534 M), seorang perwira baru bernama Sun Jingde (Hokkien=Sun Keng Tek) ditugaskan ke Dingzhou (sekarang Baoding, Hebei). Karena berdevosi kuat kepada Kwan Im, ia membuat pratima Kwan Im di tempatnya bertugas. Pada waktu senggang, ketika perwira lain pergi berburu atau berekreasi dengan cara tidak tepat, ia justru berdoa kepada Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im) dengan tulus.[2][1]

Setelah masa tugasnya berakhir dan kembali ke ibukota, Sun Jingde difitnah oleh seorang pejabat licik. Dibawah siksaan berat yang dialaminya setiap hari, ia akhirnya menerima dan mengakui tuduhan yang difitnah padanya, dan dijatuhi hukuman "penggal kepala".[1] Selama menunggu eksekusi yang dilangsungkan pada musim gugur[2], ia membaca Kitab Kuan Iem Pou Bun Pin Keng. Pada malam sebelum eksekusi, ia bermimpi berjumpa dengan seorang bhiksu. Bhiksu tersebut memberitahukannya bahwa ia tidak akan luput dari kematian jika hanya membaca Kuan Iem Pou Bun Pin Keng, kemudian menyarankannya untuk membaca Sutra Avalokitesvara Penyelamat Dunia sebanyak 1000 kali agar selamat. Karena berada di dalam penjara sehingga tidak dapat memperoleh kitab tersebut, Sun Jingde diajari langsung dan disuruh menghafal[4] ke-616 aksara Sutra Avalokitesvara Penyelamat Dunia yang berisi nama para Buddha dan Bodhisatwa serta mantra "Sapta Buddha Nigha Nirodha Dharani".[1]

Sun Jingde terbangun dan langsung melafalkan isi sutra tersebut, tetapi saat pagi ia baru selesai mengulang sebanyak 900 kali saja. Ia meminta pengawalnya untuk melambatkan jalan menuju tempat hukuman (di tengah alun-alun kota) agar ia dapat menyelesaikan pengulangannya hingga 1000 kali. Pada saat algojo mengayunkan golok ke lehernya, golok besar yang diayunkan pecah menjadi tiga bagian.[4] Para petugas pelaksana dan pengawas eksekusi serta masyarakat sekitar yang datang menyaksikan menjadi gempar, eksekusi ditunda sementara dan Sun dikembalikan ke dalam penjara. Gaohuan (Hokkien=Kho Hwan) yang menjabat sebagai perdana menteri saat itu segera melakukan penyelidikan. Saat menginterogasinya, Gaohuan menyadari bahwa Sun Jingde adalah korban fitnahan, tetapi masih merasa tidak yakin bahwa Sun Jingde tidak memiliki ilmu kebal. Ia kemudian memerintahkan semua tahanan yang hendak dihukum mati untuk membaca Sutra Avalokitesvara Penyelamat Dunia sebanyak 1000 kali, dan ternyata semuanya tidak mempan dipenggal. Perdana Menteri Gao kemudian melapor kepada raja untuk memohon pengampunan bagi Sun Jingde serta mengembalikan nama baiknya dan sekaligus menugaskannya kembali ke posnya semula. [1][2][4]

Karena mukzizat yang ditunjukkan dengan membaca sutra tersebut, Gaohuan memerintahkan seluruh staf istana dan masyarakat untuk menyalin serta membaca sutra tersebut. Sun Jingde yang kembali ke tempat tugasnya semula melihat leher pratima Kwan Im yang ia dirikan dulu cacat di tiga tempat seperti bekas tebasan golok. Karena terharu, selain lebih giat membacakan sutra itu, ia juga mengajak penduduk setempat untuk ikut menyalin dan membaca Guan Shi Yin Jing.[1]

Perubahan nama[sunting | sunting sumber]

Gaoyang, putra Gaohuan, merebut kekuasaan raja dan mendirikan Dinasti Qi Utara. Ia beranggapan bahwa Sutra Avalokitesvara Penyelamat Dunia menjadi populer berkat jasa ayahnya. Itulah sebabnya ia mengganti nama sutra tersebut menjadi Gao Huang Guan Shi Yin Jing atau Sutra Avalokitesvara dari Kaisar Gao. Karena penulisan aksara Huang 皇 dirasa sulit, masyarakat menggantinya menjadi Wang 王.[1] Ada pula kalangan yang menambahkan kata Zhen 真 (sejati) dalam nama sutra ini,[2] seperti dalam gelar Zhenren.

Lu Jingyu dari Dinasti Qi[sunting | sunting sumber]

Lu Jingyu adalah seorang pejabat dan sarjana di istana kerajaan. Ia senang meneliti sutra Buddha dan mengerti semua prinsip utama ajaran Buddha. Suatu ketika, Lu Zhongli dan Xing Mona, kedua kakaknya, menjadi tersangka pemberontakan sehingga membuat Lu Jingyu terlibat dan dipenjara. Saat berada di penjara, ia membaca Sutra Avalokitesvara Penyelamat Dunia dengan tulus, beberapa hari kemudian semua belenggu di tubuhnya terlepas secara gaib. Pengawal penjara melaporkan hal tersebut kepada Raja Xianwu. Raja kembali mempelajari kasusnya kemudian membebaskan Lu Jingyu serta menaikkan pangkatnya.[2]

Sutra Raja Agung Avalokitesvara[sunting | sunting sumber]

Aksara Hanzi[sunting | sunting sumber]

觀世音菩薩◦南無佛◦南無法◦南無僧◦佛國有緣, 佛法相因◦常樂 我淨, 有緣佛法◦南無摩訶般若波羅蜜, 是大神咒◦南無摩訶般若波羅蜜, 是大明咒◦南無摩訶般若波羅蜜, 是無上咒◦南無摩訶般若波羅蜜, 是無等等咒◦南無淨光秘密佛◦法藏佛◦獅子吼神足幽王佛◦佛告須彌燈王佛◦法護佛◦金剛藏獅子遊戲佛◦寳勝佛◦神通佛◦藥師琉璃光王佛◦普光功德山王佛◦善住功德寳王佛◦過去七佛◦未來賢劫千佛◦千五百佛◦萬五千佛◦五百花勝佛◦百億金剛藏佛◦定光佛◦六方六佛名號◦東方寳光月殿月妙尊音王佛◦南方樹根華王佛◦西方皂王神通燄花王佛◦北方月殿情淨佛◦上方無數精進寳首佛◦下方善寂月音王佛◦無量諸佛◦多寳佛◦釋迦牟尼佛◦彌勒佛◦阿閦佛◦彌陀佛◦中央一切眾生◦在佛世界中者◦行住於地上, 及在虛空中◦慈憂於一切眾生◦各令安穩休息◦晝夜修持◦心常求誦此經◦能滅生死苦, 消除諸毒害◦南無大明觀世音◦觀明觀世音◦高明觀世音◦開明觀世音◦藥王菩薩◦藥上菩薩◦文殊師利菩薩◦普賢菩薩◦虛空藏菩薩◦地藏王菩薩◦清涼寶山億萬菩薩◦普光王如來化勝菩薩◦念念誦此經◦七佛世尊, 即說咒曰◦
離婆離婆帝, 求訶求訶帝, 陀羅尼帝, 你訶羅帝, 毗黎尼帝, 摩訶迦帝, 真陵乾帝, 梭哈 (7x)

Ejaan Hanyu Pinyin[sunting | sunting sumber]

Guan Shi Yin Pu Sa ◦ Na Mo Fo◦Na Mo Fa ◦ Na Mo Seng ◦ Fo Guo You Yuan, Fo Fa Xiang Yin ◦ Chang Le Wo Jing, You Yuan Fo Fa ◦ Na Mo Mo Ho Bo Re Bo Luo Mi Shi Da Shen Zhou ◦ Na Mo Mo He Bo Ruo Bo Luo Mi Shi Da Ming Zhou ◦ Na Mo Mo He Bo Ruo Bo Luo Mi Shi Wu Shang Zhou ◦ Na Mo Mo He Bo Ruo Bo Luo Mi Shi Wu Deng Deng Zhou ◦ Na Mo Jing Guang Mi Mi Fo ◦ Fa Zang Fo◦Shi Zi Hou Shen Zu You Wang Fo ◦ Fo Gao Xu Mi Deng Wang Fo ◦ Fa Hu Fo ◦ Jin Gang Zang Shi Zi You Xi Fo ◦ Bao Sheng Fo ◦ Shen Tong Fo ◦ Yao Shi Liu Li Guang Wang Fo ◦ Pu Guang Gong De Shan Wang Fo ◦ Shan Zhu Gong De Bao Wang Fo ◦ Guo Qu Qi Fo ◦ Wei Lai Xian Jie Qian Fo ◦ Qian Wu Bai Fo ◦ Wan Wu Qian Fo ◦ Wu Bai Hua Sheng Fo ◦Bai Yi Jin Gang Zang Fo ◦ Ding Guang Fo ◦ Liu Fang Liu Fo Ming Hao: Dong Fang Bao Guang Yue Dian Yue Miao Zun Yin Wang Fo ◦ Nan Fang Shu Gen Hua Wang Fo ◦ Xi Fang Zao Wang Shen Tong Yan Hua Wang Fo ◦ Bei Fang Yue Dian Qing Jing Fo ◦ Shang Fang Wu Shu Jing Jin Bao Shou Fo ◦ Xia Fang Shan Ji Yue Yin Wang Fo ◦ Wu Liang Zhu Fo ◦ Duo Bao Fo ◦ Shi Jia Mou Ni Fo ◦ Mi Le Fo ◦ Ah Chu Fo ◦ Mi Tuo Fo ◦ Zhong Yang Yi Qie Zhong Sheng ◦ Zai Fo Shi Jie Zhong Zhe ◦ Xing Zhu Yu Di Shang, Ji Zai Xu Kong Zhong ◦ Ci You Yu Yi Qie Zhong Sheng ◦ Ge Ling An Wen Xiu Xi ◦ Zhou Ye Xiu Chi ◦ Xin Chang Qiu Song Ci Jing ◦ Neng Mie Sheng Si Ku, Xiao Chu Zhu Du Hai ◦ Na Mo Da Ming Guan Shi Yin ◦ Guan Ming Guan Shi Yin ◦ Gao Ming Guan Shi Yin ◦ Kai Ming Guan Shi Yin ◦ Yao Wang Pu Sa ◦ Yao Shang Pu Sa ◦ Wen Shu Shi Li Pu Sa ◦ Pu Xian Pu Sa ◦ Xu Kong Zang Pu Sa ◦ Di Zang Wang Pu Sa ◦ Qing Liang Bao Shan Yi Wan Pu Sa ◦ Pu Guang Wang Ru Lai Hua Sheng Pu Sa ◦ Nian Nian Song Ci Jing ◦ Qi Fo Shi Zun, Ji Shou Zhou Yue:
Li Po Li Po Di, Qiu He Qiu He Di, Tuo Luo Ni Di, Ni He Luo Di, Pi Li Ni Di, Mo He Jia Di, Zhen Ling Qian Di, Suo Ha. (7x)

Dialek Hokkien[sunting | sunting sumber]

Kuan See Iem Pho Sat ◦ Lam Bu Hut ◦ Lam Bu Huat ◦ Lam Bu Cheng ◦ Hut Kok Yu Yan ◦ Hut Huat Siang Ien ◦ Siang Lok Ngo Cing ◦ Yu Yan Hu Huat ◦ Lam Bu Mo Hoo Phoan Jiak Po Lo Bit Si Tai Sin Ciu ◦ Lam Bu Mo Hoo Phoan Jiak Po Lo Bit Si Tai Beng Ciu ◦ Lam Bu Mo Hoo Phoan Jiak Po Lo Bit Si Bu Siang Ciu ◦ Lam Bu Mo Hoo Phoan Jiak Po Lo Bit Si Bu Teng Teng Ciu ◦ Lam Bu Ceng Kong Pi Bi Hut ◦ Huat Ciong Hut ◦ Su Cu Kiong Hut ◦ Ciok Yu Ong Hut ◦ Hut Ko Si Ni Teng Ong Hut ◦ Huat Hok Hut ◦ Kim Kong Cong Sai Cu Yu Hi Hut ◦ Po Sien Hut ◦ Sien Kong Hut ◦ Yok Su Liu Lie Kong Hut ◦ Po Kong Kong Tik San Ong Hut ◦ Sien Cu Kong Tik Po Ong Hut ◦ Ko Kie Cu Hut ◦ Ji Lai Hian Kiap Chian Hut ◦ Ceng Ngo Pek Hut ◦ Ban Ngo Cien Hut ◦ Ngo Pek Hua Sien Hut ◦ Pek Ik Kiem Kong Cong Hut ◦ Thing Kong Hut Liok Hong Liok Hut ◦ Beng Hoo Tong Hong Po Kong Guat Thian Guat Biao Cun Iem Ong Hut ◦ Lam Hong Sie Kien Hua Ong Hut ◦ See Hong Co Ong Sin Tong Yam Hua Ong Hut ◦ Pak Hong Guat Tian Cheeng Ceng Hut ◦ Siang Hong Bu Sou Ceng Cien Po Sin Hut ◦ Hee Hong Sian Ceek Guat Iem Ong Hut ◦ Bu Liang Cu Hut ◦ Too Pho Hut Sek Kia Bo Ni Hut ◦ Mie Lek Hut ◦ O Che Hut ◦ O Mie Tho Hut ◦ Tiong Yang It Chiat Chiong Seng ◦ Cu Hut Sie Kai Tiong Cia ◦ Heng Cu I Te Siang ◦ Kit Cai Hie Kong Cong ◦ Cu Yu I Ci Ciong Sing ◦ Kok Leng An Wen Hiu Sit Tiu Ya Siu Ti ◦ Siem Siang Kiu Siong Chu Kheeng ◦ Leng Biat Seng See Kou ◦ Siau To Ie Tok Hai ◦ Lam Bu Tai Beng Kuan See Iem ◦ Kuan Beng Kuan See Iem ◦ Kho Beng Kuan See Iem ◦ Kai Beng Kuan See Iem ◦ Yo Ong Pho Sat ◦ Yo Siang Pho Sat ◦ Bun Cu Siu Li Pho Sat ◦ Pho Hian Pho Sat ◦ Hie Kong Cong Pho Sat ◦ Tee Cong Ong Pho Sat ◦ Cing Liang Pho Sat ◦ Ek Ban Pho Sat ◦ Pou Kong Ong Jie Lai Hoa Sien Pho Sat ◦ Liam Liam Siong Cu Kiat ◦ Chi Hut Si Cun Chi Suat Ciu Uat:
Li Po Li Po Tee, Khiu Hoo Khiu Hoo Tee, Tho Lo Ni Tee, Ni Hoo Lo Tee, Pi Li Ni Tee, Po Lo Ka Tee, Cin Leng Kian Tee, So Pho Hoo.(7X)

Terjemahan bahasa Indonesia[sunting | sunting sumber]

Terpujilah Avalokiteshvara Bodhisattva.
Terpujilah Buddha, Terpujilah Dharma, Terpujilah Sangha.
Bagi siapa yang ingin mencapai loka Buddha, maka Buddha Dharma akan menjadi penolongnya. Jika senantiasa senang berlaku suci dan bersih dari “keakuan”, pasti dapat membantu diperolehnya Buddha Dharma.
Namo Maha Prajnaparamita adalah Mantra Yang Maha Agung.
Namo Maha Prajnaparamita adalah Mantra Yang Sempurna Pengetahuannya. Namo Maha Prajnaparamita adalah Mantra Yang Tertinggi.
Namo Maha Prajnaparamita adalah Mantra Yang Tiada Bandingnya.
Namo Cing Kuang Mi Mi Fo, Fa Cang Fo, She Ce Hou Shen Cu You Wang Fo, Fo Kao Si Mi Teng Wang Fo, Fa Hu Fo, Cin Kang Cang She Ce You Si Fo, Pao Sheng Fo, Sen Thung Fo, Yao She Lui Li Kuang Wang Fo, Phu Kuang Kung Te Shan Wang Fo, Shan Cu Kung Te Pao Wang Fo.
Tujuh Buddha Masa Lampau, Ribuan Buddha dari Bhadra Kalpa sekarang dan yang akan datang, seribu lima ratus Buddha, lima belas ribu Buddha, lima ratus Buddha Kemenangan Bunga, Seratus Juta Buddha Harta Vajra, Buddha Cahaya Tetap, Enam Buddha dari enam penjuru, yakni:
Buddha Pao Kuang Ye Tien Ye Miao Cun Yin Wang Fo dari Timur,
Buddha Shu Ken Hua Wang Fo dari Selatan,
Buddha Cao Wang Shen Thung Yen Hua Wang Fo dari Barat,
Buddha Ye Tien Ching Cing Fo dari Utara,
Buddha Wu Su Cing Cin Pao Sou Fo dari Atas,
Buddha Shan Ci Ye Yin Wang Fo dari Bawah.
Semua Buddha yang tak terhitung jumlahnya, para Buddha Permata, Buddha Sakyamuni, Buddha Maitreya, Buddha Akhsobya, Buddha Amitabha. Semua makhluk di dunia tengah, dan yang berada di Tanah Suci, yang berjalan di bumi maupun yang terang di angkasa. Melimpahi belas kasih tak terbatas kepada semua makhluk, menitahkan agar masing-masing diasuh dengan aman dan tenang, setiap siang dan malam senantiasa membina diri, dalam hati senantiasa melafalkan sutra ini. Dengan berbuat demikian, dapat memadamkan api penderitaan dari kehidupan dan kematian, serta memusnahkan segala marabahaya.
Namo Avalokiteshvara yang Maha Cemerlang,
Avalokiteshvara Bodhisattva sebagai Pengawas Yang Cemerlang,
Avalokiteshvara Bodhisattva sebagai Pelindung Maha Agung Yang Cemerlang,
Avalokiteshvara Bodhisattva sebagai Pembuka Pintu Keselamatan, Kebahagiaan yang Cemerlang.
Bodhisattva Raja Pengobatan, Bodhisattva Pengobatan Tertinggi, Manjushri Bodhisattva, Samantabhadra Bodhisattva, Akasagarbha Bodhisattva, Ksitigarbha Bodhisattva, para Bodhisattva di Gunung Ching Liang Pao Shan, Phu Kuang Wang Ju Lai Hua Seng Phu Sa.
Terus-menerus melafalkan sutra ini, tujuh Buddha Lokadjyechtha melafal mantra ini:
Li Pho Li Pho Ti, Ciu Ho Ciu Ho Ti, Thuo Lo Ni Ti, Ni Ho Lo Ti, Pi Li NI Ti, Mo Ho Chie Ti, Cen Ling Chien Ti, Svaha.

Sapta Atitabuddha Karasaniya Dharani[sunting | sunting sumber]

Pada bagian akhir Sutra Raja Agung Avalokitesvara terdapat pengulangan tujuh kali yang sebenarnya merupakan Sapta Atitabuddha Karasaniya Dharani (Bahasa Sanskerta) atau Chi Fo Mieh Tsui Chen Yan dalam bahasa China.

Dalam bahasa Sanskerta, Dharani ini ditulis sebagai berikut:

"Reva Revate Guha Guhate Dharanite Niharate Vrnite Mahagate Chelingante Svaha"

Menurut kisahnya, ketika Bodhisatwa Manjusri sedang bermeditasi, ia mengamati situasi pada masa akhir Dharma. Terdapat para Bhikkhu, Bhikkhuni, dan umat yang menjalani laku suci yang melanggar peraturan. Oleh karena itu, ia mengajarkan Dharani yang dahulu telah diucapkan tujuh Buddha pada masa lampau, supaya orang yang membacakannya akan dihapuskan dosanya sehingga suci kembali.[5]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g vincentspirit. 28 Februari 2013. Akses=19 April 2013. Asal Usul Kao Ong Kuan Shi Im Keng.
  2. ^ a b c d e f g h Lu Sheng Yen. Daya Pembuka Alam Suci – Menyadari Nilai Kehidupan dengan Sutra Raja Agung Avalokitesvara, Tidak Dijual. Medan: Budaya Daden.
  3. ^ Hengki Tjiang. 24 Januari 2008. Akses=29 April 2013. Buku Bhiksu Wu Thung, Bab 3, Umat Buddha dan Gunung Emas.
  4. ^ a b c Kitab Suci Ko Ong Kuan See Iem Keng, Tidak Dijual.
  5. ^ oocities. Sapta Atitabuddha Karasaniya Dharani.