Sampoerna Telekomunikasi Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Net1 Indonesia
PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia
Privat
IndustriOperator telekomunikasi seluler
Didirikan30 November 1995 (sebagai PT Mobile Seluler Indonesia)
22 Desember 2003 (sebagai PT Mandara Selular Indonesia)
26 Januari 2006 (sebagai PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia)
Kantor
pusat
Awalnya: Graha Mobisel, Jalan Mampang Prapatan Raya 139
Saat ini: Sampoerna Strategic Square, Jalan Jend. Sudirman 45-46
Jakarta Bendera Indonesia Indonesia
Produk4G LTE 450 MHz (Band 31) (2017-sekarang)
CDMA2000 (2003-2017)
NMT (1996-2006)
MerekNet1 Indonesia
Sebelumnya:
Mobisel (1996-2003), Neo_n (2003-2006), Ceria (2006-2017)
IndukRajasa Hazanah Perkasa (1996-2005)
Telkom (1996-2006)
Inquam Inc. (2001-2005)
Sampoerna Strategic Group (2005-sekarang)
Access Industries Nordic Mobile Telecom International Holdings (2016-sekarang)
Situs webwww.sampoernastrategic.com
www.net1.co.id

PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia atau dikenal dengan nama STI atau Sampoerna Telekom (sebelumnya bernama PT Mobile Seluler Indonesia dan PT Mandara Selular Indonesia) merupakan penyedia jasa telekomunikasi seluler mobilitas penuh di Indonesia. STI adalah bagian dari Sampoerna Strategic Group. STI merupakan satu-satunya operator telekomunikasi di Indonesia yang beroperasi pada frekuensi 450MHz.

Produknya beragam mulai dari layanan telepon hingga layanan broadband nirkabel dengan merek utama Net1 Indonesia, dan pelanggan didukung penuh oleh kantor-kantor cabang STI dan jaringan distribusi di seluruh wilayah layanan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia awalnya didirikan dengan nama PT Mobile Selular Indonesia, atau dikenal dengan nama Mobisel. Perusahaan ini didirikan pada 30 November 1995,[1] dan pada saat itu dimiliki secara patungan oleh PT Rajasa Hazanah Perkasa (yang dimiliki oleh Hutomo Mandala Putra dan Sigit Harjojudanto dan perusahaan AS Bell Atlantic)[2] sebesar 70%, PT Telekomunikasi Indonesia 25% dan Yayasan Dana Pensiun Pegawai Telkom 5%. Perusahaan ini didirikan untuk mengelola jaringan NMT-450.[3] Sebagai modal awal dari perusahaan ini adalah pengguna jasa NMT-450 PT Rajasa yang dialihkan menjadi pelanggan Mobisel. Perlu diketahui sebelumnya bahwa PT Rajasa sendiri sudah mengelola jaringan dengan sistem NMT-450 ini sejak tahun 1985, yang pada waktu itu digunakan untuk sistem telepon mobil (istilah resminya STKB-C, Sistem Sambungan Telepon Kendaraan Bermotor Cellular). Pengelolaan jaringan ini dilakukan dengan pola bagi hasil bersama PT Telkom Indonesia (d.h. Perumtel) (44% untuk Perumtel, 56% untuk PT Rajasa) dengan target pelanggan awalnya sebesar 30.000 di wilayah Jakarta dan Jawa Barat dan dengan menggunakan perangkat dari Ericsson.[4] Dibanding dengan perusahaan lain, operasi jaringan seluler hasil kerjasama antara PT Rajasa dan Telkom ini bisa dikatakan salah satu yang terawal di Indonesia, sehingga bisa dianggap sebagai salah satu pionir komunikasi seluler di Tanah Air.[5] Awalnya kerjasama ini sempat kurang berhasil,[6] dan baru mulai diperkenalkan di publik pada tahun 1986.[7] Kemudian, PT Rajasa memperluas wilayah operasinya ke Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.[8] Kerjasama bagi hasil ini berakhir pada akhir 1995, dan kemudian pelanggan akhir PT Rajasa (24.200 orang) dialihkan ke Mobisel yang baru dibentuk.[9]

Untuk membantu kinerjanya, perusahaan ini berusaha meningkatkan sistemnya menjadi NMT-450i dan NMT-470i[10] dan juga berusaha menarik investor strategis dari perusahaan Eropa pada Agustus 1997.[11] Tercatat, pada 1997 pengguna Mobisel sebesar 29.000, walaupun sayangnya seiring dengan krisis ekonomi 1997-1998 dan persaingan yang hebat dari operator GSM, pengguna Mobisel terus menurun. Seiring dengan masalah tersebut, kebetulan Mobisel juga mengalami perubahan kepemilikan, dimana pada 2001 perusahaan ini diakuisisi oleh Inquam Inc, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Qualcomm. Dalam rencananya, pada saat itu Mobisel akan mengonversi sistem jaringannya menjadi CDMA namun dengan tetap menggunakan frekuensi 450 MHz.[12] Kemudian Mobisel mengalami perubahan pemilik kembali seiring dengan konversi hutang menjadi saham pada Juli 2003 dan Januari 2004 sehingga menjadi dimiliki oleh beberapa pihak, yang terdiri dari pemilik lama (Telkom, YDPP, PT Rajasa dan PT Inquam) ditambah Brighton Corp Inc., Sojitz Corp., Deltona Satya Dinamika, Pilar Datatel Mediatama, Jan Darmadi Investindo dan Property Java.[13] Pada 22 Desember 2003, Mobisel mengganti namanya menjadi PT Mandara Seluler Indonesia (MSI).[14] Dengan perubahan nama tersebut, Mandara kemudian memantapkan niatnya untuk berpindah ke CDMA 450 dengan mulai menghentikan jaringan NMT-450nya[15]dan meluncurkan produk baru bernama Neo_n yang beroperasi di CDMA2000. Walaupun demikian, namun tetap ada sisa pelanggan NMT Mandara sebesar 3.000 pengguna yang masih belum dikonversi pada 2006 (dan seiring waktu, pengguna NMT akhirnya baru lenyap ketika berganti nama menjadi Ceria).[16]

Dalam perkembangannya, di tahun 2005 pemilik saham yang ada kemudian memutuskan menjual 82% sahamnya kepada Twinwood Venture Ltd. (yang berbasis di Seychelles, sebesar 58%) dan Polaris Mobile (yang berbasis di Singapura sebesar 24,7%) dengan harga Rp 545 miliar.[17] Walaupun awalnya tidak jelas siapa pemilik kedua perusahaan tersebut, namun terungkap bahwa kemudian saham kedua perusahaan itu dimiliki oleh Putera Sampoerna, yang baru saja mendapatkan keuntungan dari penjualan perusahaan rokok HM Sampoerna dan berusaha menginvestasikan uangnya itu dalam berbagai bidang, salah satunya telekomunikasi.[18][19] Kemudian, seiring waktu pemegang saham lain yang tersisa pada perusahaan ini melepaskan sahamnya kepada pihak Sampoerna, misalnya Telkom pada 13 Januari 2006.[20][21] Selanjutnya, pada 26 Januari 2006, nama Mandara Selular Indonesia diganti menjadi PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.[22] Seiring dengan pergantian nama perusahaan, merek Neo_n resmi digantikan oleh Ceria.

Dalam mengembangkan operasionalnya, Sampoerna Telekom melakukan sejumlah upaya, seperti melanjutkan ekspansi ke Bali dan Lombok yang direncanakan oleh manajemen sebelumnya dan berencana mengikuti tender jaringan 3G (walaupun kemudian mengundurkan diri).[23][24] Namun, bisa dikatakan tidak mudah langkah Sampoerna untuk masuk dalam bisnis telekomunikasi ini karena Ceria kalah pamor dan kurang promosi dibandingkan dengan operator CDMA lain. Mungkin karena sulitnya bersaing, maka kemudian manajemen Sampoerna Telekomunikasi memutuskan untuk memfokuskan pemasaran produk mereka untuk kebutuhan komunikasi bisnis, terutama UMKM. Selain itu, Ceria juga difokuskan untuk beroperasi di daerah pedesaan.[25][26][27]

Pada tahun 2012, Sampoerna Telekom sempat menarik perhatian media karena perusahaan ini mengumumkan kerjasama dengan Bakrie Telecom. Dalam rencana kerjasama keduanya lewat penandatanganan perjanjian jual beli pada Selasa 13 Maret 2012, Bakrie Telecom rencananya akan mengakuisisi 35% saham Sampoerna Telekom dari Sampoerna Strategic Group dan Polaris. Direncanakan dalam tiga tahun ke depan Bakrie Telecom akan menguasai 100% di Sampoerna Telekom, dan sebagai imbalannya, Sampoerna Strategic akan menjadi pemegang saham Bakrie Telecom sebesar 6%.[28] Awalnya, rencana ini akan dilaksanakan dengan skema rights issue Bakrie Telecom di bursa efek yang sahamnya akan dibeli oleh Sampoerna Telekom. Bahkan, direncanakan keduanya juga akan bekerjasama dalam pengelolaan frekuensi dan sistem CDMA, dan merek Ceria dan Esia akan dilebur menjadi merek baru.[29][30] Namun, seiring kesulitan keuangan yang terus dialami Bakrie Telecom, maka Bakrie Telecom terpaksa mengurungkan niatnya.[31] Kondisi internal perusahaan sejak saat itu sendiri kurang banyak yang mengetahui, namun kemungkinan terdampak oleh turunnya pengguna CDMA dibanding GSM.[32]

Seiring waktu, pada 2014, pihak STI dikabarkan hendak melakukan ujicoba di sistem 4G LTE dan berencana bermain di "daerah" baru ini.[33] Untuk membangun sistem ini, Sampoerna sebelumnya sudah bekerjasama dengan perusahaan asing bernama AINMT (Access Industries Nordic Mobile Telecom) International Holdings pada Januari 2016 dalam bentuk investasi di STI.[34] Namun, baru pada Februari 2017 izin untuk menggelar jaringan 4G LTE didapatkan oleh STI, dengan frekuensi yang tetap yaitu 450 MHz, operasi tetap secara nasional dan target pasar tetap pedesaan. Awalnya, pihak STI berminat untuk meremajakan merek Ceria dalam memasarkan teknologi baru ini[35]dan sistem ini rencananya akan diluncurkan pada April 2017 setelah persiapan dalam berbagai hal seperti infrastruktur, pemasaran dan jaringan.[36] Namun, kemudian STI membatalkan rencananya menggunakan merek Ceria kembali. Pada akhirnya, STI resmi "menanggalkan" sistem CDMA-nya dan meluncurkan sistem 4G LTE bersama merek baru yaitu Net1 Indonesia pada 27 Juli 2017. Biaya yang dianggarkan oleh STI dalam proses konversi ini adalah senilai US$ 130 juta.[37] Untuk membantu proses ini, STI menggaet Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) bagi membantu penyediaan alatnya.[38]

Net1 diklaim lebih terjangkau dan sinyalnya jauh lebih luas dibanding pesaingnya, terutama di desa.[39] Seiring dengan pengubahan nama tersebut, STI melakukan perluasan jaringan ke seluruh wilayah Indonesia, seperti Sulawesi, Kalimantan dan Indonesia Timur. Menurut pihak STI, upaya ini berdampak positif pada perusahaan misalnya pada 2019 pendapatan mereka tumbuh sebanyak 44% dibanding sebelumnya.[40]

Layanan dan Produk Perusahaan[sunting | sunting sumber]

Net1 Indonesia[sunting | sunting sumber]

Logo Net1 Indonesia, yang diluncurkan pada 2017

Awalnya, pihak STI berminat untuk meremajakan merek Ceria dalam memasarkan teknologi yang baru diadopsinya, yaitu 4G LTE.[41] Namun, kemudian STI membatalkan rencananya menggunakan merek Ceria kembali dan mengibarkan merek baru bernama Net1 Indonesia yang diperkenalkan pada Mei 2017.[42] Merek Net1 Indonesia diluncurkan pada 27 Juli 2017, dengan awalnya beroperasi di Sulawesi Selatan, Maluku, Lombok, Aceh dan Serang. Perlu diketahui bahwa merek Net1 sendiri bukanlah merek lokal, melainkan berasal dari Norwegia. Merek ini dapat digunakan oleh STI setelah mereka menjalin kerjasama berupa investasi strategis dengan pemilik asli merek ini, AINMT pada 2016.

Net1 merupakan satu-satunya operator yang menyediakan layanan telekomunikasi seluler menggunakan teknologi 4G LTE yang berada di frekuensi 450 MHz (band 31) yang sampai saat ini lisensi pada frekuensi tersebut hanya dimiliki oleh Sampoerna Telekom. Dengan teknologi ini Net1 bisa memberikan layanan yang lebih luas sehingga layanan 4G LTE dapat di nikmati oleh masyarakat baik di pelosok pedesaan hingga di perkotaan.

Net1 diklaim lebih terjangkau dan sinyalnya jauh lebih luas dibanding pesaingnya, terutama di desa.[43] Net1 sendiri menargetkan pengembangan Internet of Things (IoT) di desa, mengutamakan sistem business to business dan berusaha memaksimalkan layanannya selama ini sebelum akhirnya merambah daerah perkotaan.[44] Seiring dengan pengubahan nama tersebut, STI melakukan perluasan jaringan ke seluruh wilayah Indonesia, seperti Sulawesi, Kalimantan dan Indonesia Timur. Pada 2018, Net1 sudah mencakup 261 kabupaten/kota dan 26.124 desa di seluruh Indonesia.[45] Dalam rangka peningkatan kinerja, Net1 terus berusaha melakukan penetrasi internet di wilayah terpencil termasuk di sejumlah tempat wisata,[46][47] dan menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar seperti BRI, ASDP dan Astra International.

Produk Net1[sunting | sunting sumber]

Pribadi
  • Net1 Mobile Wifi
  • Net1 Unlimited 20
  • Net1 Unlimited Xtra
Bisnis
  • 4G Fixed Wifi Router
  • Net1 Business Light
  • Net1 Business Pro
  • Net1 Business Custom

Sebelumnya[sunting | sunting sumber]

Ceria[sunting | sunting sumber]

Logo Ceria sebelum berganti nama menjadi Net1 Indonesia

Ceria diluncurkan pada 1 Maret 2006 sebagai pengganti merek Neo_n di Lampung.[48] Seperti Neo_n, Ceria tetap menggunakan sistem CDMA 450 MHz (sepesifiknya 450-455 dan 460-467,5). Dalam mengembangkan Ceria, Sampoerna Telekom melakukan sejumlah upaya, seperti melanjutkan ekspansi ke Bali dan Lombok yang direncanakan oleh manajemen sebelumnya, berencana mengikuti tender jaringan 3G (walaupun kemudian mengundurkan diri pada Februari 2006),[49][50] dan membantu penyediaan internet di Lampung.[51] Pada Maret 2006, tercatat pelanggan Ceria mencapai 9.979 pelanggan.[52] Manajemen sendiri menargetkan pada 2007, produk Ceria sudah bisa dipasarkan di seluruh Indonesia.[53] Untuk mewujudkannya, pada Oktober 2006 direncanakan jaringan Sampoerna Telecom diperluas hingga ke Sumatera Selatan, Riau, Jambi, disusul Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan target meraih 750.000 pelanggan (namun kemudian rencana ini beru terealisasi pada 2007). Selain itu, manajemen juga menjalin kerjasama dengan Assextel Inc. dari AS untuk membuat infrastrukturnya, berusaha mengajukan izin fixed wireless access (FWA) kepada pemerintah dan menggandeng Dewi Persik sebagai bintang iklan. Pada saat itu, Ceria menawarkan harga Rp 150.000 untuk 1 GB internet dan menyediakan telepon rumah dengan harga Rp 299.000 serta mengklaim harga produknya lebih terjangkau.[54][55]

Memang tidak mudah langkah Sampoerna untuk masuk dalam bisnis telekomunikasi ini. Bisa dikatakan, Ceria kalah pamor dan kurang promosi dibandingkan dengan operator CDMA lain, seperti Flexi dan Esia. Selain itu, masalah jaringan juga cukup mempengaruhi dimana pada April 2008 Ceria baru tersedia di 9 provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Lombok. Sampoerna Telekom sebenarnya sudah merencanakan pada tahun 2008 untuk memperluas jaringannya di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Madura, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat dan pulau Sumbawa. Di sini tampak Ceria terlambat untuk membangun jaringan di wilayah yang memiliki pasar besar, yaitu Jakarta dan Jabar, walaupun sebenarnya hal ini bisa dimaklumi mengingat target pasar Ceria sejak dahulu adalah pedesaan.[56] Pada 2007 pun, Ceria baru berhasil menggaet 130.000 pemakai, jauh jika dibanding dengan Telkomsel yang mencapai 47 juta dan dibawah target manajemen sebelumnya sebesar 750.000 pelanggan.[57][58][59][60] Pada 2010, Ceria tercatat memiliki 636.868 pelanggan dan memiliki ratusan BTS serta kantor cabang di berbagai daerah di Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Mungkin karena sulitnya bersaing, maka kemudian manajemen Sampoerna Telekomunikasi memutuskan untuk memfokuskan pemasaran produk mereka untuk kebutuhan komunikasi bisnis, terutama UMKM dengan harga terjangkau sejak Maret 2011 dengan tetap menggunakan merek Ceria. Ceria juga difokuskan untuk beroperasi di daerah pedesaan.[61][62][63]

Setelah lama tidak terdengar, Ceria pada 2014 dikabarkan hendak melakukan ujicoba di sistem 4G LTE demi beroperasi di sistem ini.[64] Seiring dengan berhasilnya Sampoerna Telekom mendapatkan izin 4G LTE, Ceria awalnya hendak digunakan kembali. Namun, kemudian rencana ini dibatalkan dan Ceria digantikan kemudian oleh Net1 Indonesia yang diperkenalkan pada Mei 2017. Pelanggan Ceria sendiri nantinya akan ditawari penukaran perangkat dengan router dan Mi-Fi seiring upaya memigrasikan mereka ke sistem 4G LTE.[65]

Produk[sunting | sunting sumber]
  • Kartu Perdana Ceria
  • Ceria Internet
  • Ceria Business Solution

Neon[sunting | sunting sumber]

Neon (ditulis Neo_n) beroperasi dengan sistem CDMA (namun tetap menggunakan frekuensi Mobisel sebelumnya di 450 Mhz) secara nasional sejak Mei 2004, dan diluncurkan seiring pergantian nama perusahaan menjadi Mandara Selular Indonesia. Manajemen Mandara mengklaim pada tahun tersebut, perusahaan sudah mendapatkan 10.000 pelanggan dengan wilayah layanan awal Provinsi Lampung. Seiring waktu, Mandara berencana memperluas wilayahnya ke Bali dan Lombok, dengan target pasar utamanya di pedesaan dan berhasil meningkatkan pelanggannya menjadi 50.000 pengguna.[66][67] Untuk membantu operasinya, Mandara juga menggandeng Huawei untuk menyediakan infrastrukturnya dan menyiapkan anggaran senilai US$ 2 juta.[68] Seiring dengan pergantian nama perusahaan, pada 1 Maret 2006 merek Neo_n resmi digantikan oleh Ceria.[69]

Mobisel[sunting | sunting sumber]

Logo Mobisel

Seperti telah disebutkan sebelumnya, pada awalnya bisnis dari PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (dahulu bernama PT Mobile Selular Indonesia) adalah mengelola jaringan NMT-450 (Nordic Mobile Telephone, Telepon Bergerak Nordik) dengan wilayah layanan Jakarta, Tangerang, Bekasi, Cikampek, Indramayu, Cilegon, Bandar Lampung dan Kalianda. Untuk membantu kinerjanya, perusahaan ini berusaha meningkatkan sistemnya menjadi NMT-450i dan NMT-470i yang lebih canggih dibanding NMT-450.[70] Demi mewujudkannya, pada Mei 1996 perusahaan ini mentandatangani kerjasama dengan Nokia untuk membangun sistem tersebut dan membantu pembangunan jaringan Mobisel yang direncanakan pada saat itu akan diperluas ke seluruh Indonesia dengan kontrak bernilai US$ 30 juta.[71]Selain itu, Mobisel juga meluncurkan produknya yang dikenal dengan nama Orbit yang diklaim lebih canggih dibanding sistem lainnya.[72] Tercatat, pada 1997 pengguna Mobisel sebesar 29.000 (mayoritas di Jakarta) dan manajemen menargetkan pelanggannya menjadi 80.000. Namun, sayangnya seiring dengan krisis ekonomi 1997-1998 dan persaingan yang hebat dari operator GSM, pengguna Mobisel terus menurun, dimana pada 1998 menjadi 16.000 dan menurun lagi menjadi 1999 menjadi 12.801. Bahkan, pada Januari 2001 pengguna Mobisel hanya bertambah sebesar 1.236 pelanggan,[73] dan pada 2003 turun tajam menjadi hanya 5.070 pelanggan.[74] Seiring akuisisi Mobisel oleh Inquam Inc, Mobisel rencananya akan mengonversi jaringannya menjadi CDMA namun dengan jaringan tetap di 450 MHz pada April 2001.[75] Pada akhirnya, rencana ini baru terwujud ketika nama perusahaan diubah dari PT Mobile Selular Indonesia menjadi PT Mandara Selular Indonesia, dan peluncuran merek Neo_n pada awal 2004.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Perusahaan Perseroan (Persero) P.T. Telekomunikasi Indonesia Tbk.
  2. ^ Korupsi Kepresidenan
  3. ^ JP/Mobisel offers shares to foreign investors
  4. ^ 50 tahun peranan pos & telekomunikasi
  5. ^ Untold Story IPO Telkom di NYSE & BEJ
  6. ^ Telecommunications in the Pacific Basin: An Evolutionary Approach
  7. ^ Parlementaria, Volume 120-131
  8. ^ Yearbook of asia-pacific telecommunications
  9. ^ Untold Story IPO Telkom di NYSE & BEJ
  10. ^ Yearbook of Asia-Pacific Telecommunications
  11. ^ JP/Mobisel offers shares to foreign investors
  12. ^ AsiaCom Yearbook
  13. ^ Indonesian Commercial Newsletter, Volume 29,Masalah 387-394
  14. ^ Laporan Keuangan Tahunan Telkom 2003
  15. ^ Indonesian Commercial Newsletter, Volume 29,Masalah 379-386
  16. ^ Sampoerna Telekom
  17. ^ Indonesian Commercial Newsletter, Volume 30,Masalah 411-416
  18. ^ Jurus 369 Membidik Kiani
  19. ^ Indonesian Commercial Newsletter, Volume 30,Masalah 411-416
  20. ^ UNITED STATES SECURITIES AND EXCHANGE COMMISSION: PT Telkom Indonesia
  21. ^ Telkom 2009 Annual Report
  22. ^ Seven firms to bid for 3G spectrum
  23. ^ Masalah Frekuensi Penyebab Mundur Sampoerna
  24. ^ Seven firms to bid for 3G spectrum
  25. ^ Website tidak resmi Ceria, 2012
  26. ^ Wireless PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, Ceria
  27. ^ SAMPOERNA TELEKOMUNIKASI CERIA (SATRIA)
  28. ^ Bakrie Telecom Akuisisi Sampoerna Telekom
  29. ^ Sampoerna masuk Bakrie Telecom
  30. ^ RUMOR: Sampoerna & Bakrie akan gabungkan Esia & Ceria
  31. ^ Fokus ke Internal, Esia Lupakan Sejenak Ceria
  32. ^ CDMA Nan Kian Merana
  33. ^ JARINGAN 4G LTE : Ceria Mau Ikut Jajal 4G LTE
  34. ^ Adopsi 4G, Ceria berubah menjadi Net1 Indonesia?
  35. ^ STI Kantongi Izin Gelar Jaringan 4G LTE
  36. ^ Ceria berevolusi dari CDMA ke 4G LTE
  37. ^ Net1 siapkan US$ 130 juta swap CDMA jadi 4G LTE
  38. ^ Net1 gaet INTI produksi perangkat telekomunikasi
  39. ^ Geber 4G, Sampoerna Ganti Ceria dengan Net1
  40. ^ Kinerja Operator Seluler: Pendapatan Net1 Ditopang Sektor Ritel
  41. ^ STI Kantongi Izin Gelar Jaringan 4G LTE
  42. ^ Adopsi 4G, Ceria berubah menjadi Net1 Indonesia?
  43. ^ Geber 4G, Sampoerna Ganti Ceria dengan Net1
  44. ^ Incar IoT Pedesaan, Net1 Indonesia Fokus Garap B2B
  45. ^ Geber 4G, Sampoerna Ganti Ceria dengan Net1
  46. ^ Net1 Indonesia buka akses internet ke pedesaan terpencil
  47. ^ Net1 klaim jaringannya ada di setiap pelosok tujuan wisata
  48. ^ Sampoerna Telekomunikasi Indonesia
  49. ^ Masalah Frekuensi Penyebab Mundur Sampoerna
  50. ^ Seven firms to bid for 3G spectrum
  51. ^ Siaran Pers No. 89/DJPT.1/KOMINFO/VII/2005, Peresmian Telekomunikasi Perdesaan dan Komputer Sekolah di Kabupaten Way Kanan - Lampung
  52. ^ PT Telkom Beri Insentif Percepat Registrasi Prabayar
  53. ^ 2007, Sampoerna Ingin Pasarkan 'Ceria' di Seluruh Indonesia
  54. ^ Internet Murah Ceria dari Sampoerna Telekom
  55. ^ ayo miliki telp rumah ceria
  56. ^ Mengenal PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (CERIA)
  57. ^ Data Pelanggan Mobile Indonesia 2007
  58. ^ Mengenal PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (CERIA)
  59. ^ Internet Murah Ceria dari Sampoerna Telekom
  60. ^ PERKEMBANGAN INDUSTRI TELEKOMUNIKASI SELULER DI INDONESIA - 2011
  61. ^ Website tidak resmi Ceria, 2012
  62. ^ Wireless PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, Ceria
  63. ^ SAMPOERNA TELEKOMUNIKASI CERIA (SATRIA)
  64. ^ JARINGAN 4G LTE : Ceria Mau Ikut Jajal 4G LTE
  65. ^ Garap Bali, Sampoerna Telekom Ubah Ceria Jadi Net1
  66. ^ Brasil implementasi CDMA 450
  67. ^ Akses Lokal di Mana-mana
  68. ^ Gatra, Volume 11,Masalah 29-32
  69. ^ Sampoerna Telekomunikasi Indonesia
  70. ^ Yearbook of Asia-Pacific Telecommunications
  71. ^ Indonesia News Service, Masalah 1130-1208
  72. ^ Eksekutif, Masalah 211-216
  73. ^ AsiaCom: Asia-Pacific TV, Cable, Satellite, and Telecommunications, Volume 6
  74. ^ Yearbook of asia-pacific telecommunication
  75. ^ AsiaCom Yearbook

Pranala luar[sunting | sunting sumber]