3 Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PT Hutchison 3 Indonesia
3 Indonesia
3
Privat
IndustriOperator dan layanan telekomunikasi seluler Indonesia
Didirikan2000 (sebagai PT Cyber Access Communication)
Kantor
pusat
Capital Place Lt. 31-33
Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 18
Jakarta Selatan, Indonesia
Tokoh
kunci
Cliff Woo (CEO)
ProdukKartu prabayar seluler GSM
MerekTri (3)
PemilikCK Hutchison Holdings
IndukCharoen Pokphand (2000-2013)
Hutchison Asia Telecom (2005-sekarang)
Trinugraha Thohir (2013-sekarang)
Indosat Ooredoo (2021-sekarang)
Situs webhttp://www.tri.co.id
Kartu 3 versi Indonesia

Tri Indonesia adalah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi seluler terkemuka di Indonesia yang mengoperasikan jaringan nasional berlisensi 2G, 3G/WCDMA dan 4G LTE GSM. Tri Indonesia menghadirkan pengalaman gaya hidup mobile yang didukung oleh teknologi 4.5G Pro yang lebih luas dan kuat di lebih dari 37.000 desa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali dan Lombok, melalui fiber optic yang membentang sepanjang 16.000 Km.

Seiring dengan keberadaannya di Indonesia sejak tahun 2007, Tri tumbuh menjadi mobile lifestyle provider. 95% pelanggan 3 adalah anak muda dengan gaya hidup digital yang tinggi. Keberhasilan Tri Indonesia dibangun oleh komitmen untuk menghadirkan pengalaman dan nilai terbaik bagi pelanggan, juga semangat untuk memberdayakan anak muda Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

PT Hutchison 3 Indonesia awalnya didirikan dengan nama PT Cyber Access Communication (CAC) pada tahun 2000. Perusahaan ini 100% sahamnya dimiliki oleh Charoen Pokphand, sebuah perusahaan konglomerasi Thailand (di Indonesia lebih dikenal sebagai pemain besar di industri peternakan dan perikanan). Upaya PT CAC untuk masuk ke industri telekomunikasi bermula ketika mereka mengikuti tender 3G di sistem UMTS yang diadakan pemerintah pada September 2003 (bersama dengan PT Tira Austenite Tbk, PT Astratel Nusantara, PT Surya Waringin Mas, PT Global Media Seluler, dan PT Catur Surya Lestari).[1] Pada 9 Oktober 2003, PT CAC ditetapkan sebagai pemenang tunggal dalam tender tersebut, sehingga diperkirakan akan menjadi operator pertama menggunakan teknologi ini.[2][3]

Namun, belum juga beroperasi, pada 9 Mei 2005 Charoen dan Hutchison Asia Telecom menyepakati perjanjian untuk menjual 60% saham Charoen di PT CAC kepada Hutchison Telecom. Sementara itu, Charoen akan tetap mempertahankan 40% saham sisanya. Walaupun sempat ada rumor Hutchison akan menunda transaksi ini (dan sempat menuai kontroversi karena penentangan pemerintah), pada akhirnya jual-beli ini tuntas dilaksanakan pada akhir Juli 2005 dengan harga US$ 120 juta.[4][5][6] Dalam transaksi tersebut, kedua pihak sepakat untuk mengembangkan operator seluler kerjasama mereka dengan menyediakan dana US$ 300 juta, dengan pengendalian berada di bawah Hutchison.[7][8] Pada 2006, nama perusahaan diubah menjadi PT Hutchison CP Telecommunications (HCPT), dan manajemen sendiri menyatakan bahwa mereka siap untuk meluncurkan layanan mereka pada tahun tersebut.[9] Namun, baru pada 29 Maret 2007 layanan 3G perusahaan ini (diberi nama 3 atau Tri) diluncurkan dengan wilayah jangkauan awalnya terbatas di Jakarta.[10]

Tri kemudian berekspansi dengan cepat hingga pada Juli 2007, Tri sudah beroperasi di 67 kota di Jawa dan Bali, serta meluaskan operasionalnya pada Agustus 2007 ke pulau Sumatera serta ke Kalimantan dan Sulawesi pada akhir 2008. Untuk membantu pengembangan jaringannya, Tri menggandeng beberapa perusahaan seperti Siemens (pembangunan BTS), Nokia (jaringan), dan Converge Mbt (dealing system).[11] Saat itu, Tri telah mendapatkan 2.3 juta pelanggan sampai kuartal kedua tahun 2008. Pada tanggal 8 September 2008, Tri mempromosikan SMS gratis ke semua operator, semua orang, dan tercatat pada akhir tahun itu Tri memiliki 6.300 BTS (serta menargetkan untuk menambah 2.700 BTS lagi).[12] Pada tahun 2009, Tri menjadi salah satu sponsor tur Asia Manchester United, dan akhirnya dijadikan salah satu sponsor resmi Manchester United.

Pada Februari 2013, Garibaldi Thohir bekerjasama dengan Northstar Pacific (perusahaan yang terafiliasi dengan TPG Capital) membeli 35% saham milik Charoen Pokphand Group di PT Hutchison CP Indonesia. Dalam transaksi yang sudah berhembus kabarnya sejak September 2012 ini, saham Hutchison juga mengalami perubahan dengan meningkat menjadi 65% (dengan membeli 5% saham Charoen Pokphand).[13] Dengan adanya perubahan kepemilikan saham, maka nama perusahaan PT Hutchison CP Telecommunications (HCPT) diubah menjadi PT Hutchison 3 Indonesia pada 10 April 2013.[14]

Sesuai dengan komitmennya, Tri melakukan berbagai upaya dalam memperkuat dan memperluas jaringannya untuk memberikan layanan telekomunikasi maksimal kepada masyarakat. Pada 30 Maret 2016, Tri meluncurkan jaringan 4G LTE di Batam, Makassar, Pontianak, Jakarta, Bandung, dan Denpasar.[15] Lalu, Tri berpartisipasi untuk mengikuti lelang 5G yang diadakan pemerintah dan keluar sebagai salah satu pemenangnya di blok B, frekuensi 2,3 GHz pada 18 Desember 2020.[16] Hal ini merupakan upaya Tri untuk terus memperkuat dan memperluas jaringannya.[17] Namun, pada 25 Januari 2021, Kemenkominfo membatalkan hasil lelang tersebut. Selain itu, isu bahwa perusahaan ini akan merger dengan beberapa operator lain juga terdengar misalnya pada akhir 2020 dengan Smartfren,[18] pada September 2019 dengan XL Axiata,[19] namun, yang akhirnya terbukti adalah rencana merger antara 3 dan Indosat. Pada 29 Desember 2020, pemilik Indosat, Ooredoo menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemilik Tri, CK Hutchison Holdings untuk menggabungkan perusahaan mereka. Namun, sampai saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai rencana merger tersebut. Saat ini, kedua perusahaan masih dalam proses mengkaji data perusahaan satu sama lain.[20][21] Pada tanggal 16 September 2021, Tri resmi mengumumkan merger dengan Indosat Ooredoo, dan direncanakan akan selesai pada akhir tahun.

Saat ini 3 Indonesia berada di posisi keempat sebagai operator terbesar berdasarkan jumlah pelanggan. Hingga Januari 2021, 3 telah memiliki 39,8 juta pelanggan. Hingga awal tahun 2021 Tri sudah memiliki 44.000 BTS 4G.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]