First Media

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PT First Media Tbk
Publik
Simbol sahamIDX: KBLV
IndustriTelekomunikasi
PendahuluAditirta Indonusa
Didirikan13 Januari 1994 (sebagai Safira Ananda)
1995 (sebagai Tanjung Bangun Semesta)
28 April 2000 (sebagai Broadband Multimedia)
1 Juni 2007 (sebagai First Media)
PendiriJames Riady
Datakom Asia
Kantor
pusat
BeritaSatu Plaza, Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 62, Kuningan, Jakarta Selatan
Tokoh
kunci
Harianda Noerlan (Direktur Utama)
R. Soeparmadi (Komisaris Utama)
ProdukInternet pita lebar
Televisi berlangganan
Komunikasi data
PemilikTrijaya Putra Mulia (43,58%)
Reksa Puspita Karya (33,76%)[1]
Situs webwww.firstmedia.com

PT First Media Tbk (sebelumnya bernama PT Broadband Multimedia Tbk, PT Tanjung Bangun Semesta Tbk dan PT Safira Ananda) adalah perusahaan publik Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. First Media menyediakan jasa layanan internet pita lebar, televisi kabel dan komunikasi data yang secara keseluruhan diperkenalkan sebagai "Triple Play". Jaringannya meliputi Jabodetabek, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Bali, Malang dan Batam.

First Media merupakan anak perusahaan Lippo Group. First Media juga memegang penuh kepemilikan saham PT Ayunda Prima Mitra yang menguasai 49% saham PT Direct Vision, perusahaan yang mengoperasikan jasa televisi satelit Astro Nusantara. Astro Nusantara sendiri tidak beroperasi lagi sejak pada tanggal 20 Oktober 2008 tengah malam pada pukul 00:00 WIB.

Pada tahun 2008, First Media memiliki sekitar 180.000 pelanggan internet dan sekitar 130.000 pelanggan televisi. Jaringan serat optik First Media memiliki panjang 2.597 kilometer yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, dan Bandung. First Media menargetkan satu juta rumah akan terjangkau jaringan mereka sebelum awal 2009.

Pada bulan Mei 2015 bersama dengan LinkNet, First Media meluncurkan 2 Combo HD Pack terbaru. Combo Ultimate X1 HD dengan kecepatan 100Mbps dan Combo Infinite X1 HD dan untuk kecepatan 200Mbps serta meningkatkan paket Combo Maxima X1 HD dengan layanan dual broadband.[2] Hingga saat ini First Media memiliki 8 paket combo yaitu Family, Family plus, D'Lite, Elite, Supreme, Maxima, Ultimate, Dan Infinite.[3]

Sejarah

PT First Media Tbk awalnya didirikan pada 6 Januari 1994 dengan nama PT Safira Ananda. Pada 1995, namanya menjadi PT Tanjung Bangun Semesta, dan mulai beroperasi sebagai perusahaan internet kecil di Surabaya.[4][5] Pada tahun 1998, PT Tanjung Bangun mengakuisisi 78% saham PT Aditirta Indonusa, yang memegang lisensi televisi berlangganan sejak 1996 dengan menggunakan sistem TV kabel (awalnya, PT Aditirta sempat merencanakan beroperasi pada pertengahan 1996, dengan 25 kanal menggunakan merek Multivision).[6][7][8][9] Dengan akuisisi ini, PT Tanjung bisa bermain dalam bisnis televisi berbayar kabel pertama di Indonesia. Bisnis TV kabel (dan kemudian ditambah layanan jasa internet sejak 2001)[10] ini kemudian diluncurkan pada 1 Maret 1999 dengan merek KabelVision.[11] Sebagai persiapannya, KabelVision sudah menggandeng perusahaan internet PT Indonusa dan membangun jaringan kabel di Jakarta (1.700 km), dilanjutkan di Bali dan Surabaya pada 2000-2001. Sempat juga KabelVision melayani di daerah Batam, untuk karyawan Caltex secara singkat.[12][13][14][15][16] Selain layanan TV kabel dan internet ini, KabelVision juga merencanakan untuk menyediakan layanan seperti e-commerce dan video on demand dan telah disiapkan 6 kanal in-house.[17] Kanal yamg ditawarkan pada konsumen pada saat itu mencapai 50 kanal internasional.[18] Induk PT Tanjung, Lippo Group berusaha membantu permodalan perusahaan ini karena telah sungguh-sungguh ingin terjun ke bisnis televisi berbayar, dengan menyuntikkan dana miliaran rupiah.[19][20]

Pada 27 Januari 2000 PT Tanjung Bangun resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya dengan harga IPO Rp 500/saham. Beberapa waktu kemudian, pada 28 April 2000 namanya diubah kembali menjadi PT Broadband Multimedia Tbk.[21][22] Sahamnya pada saat itu dimiliki oleh Lippo Group (lewat AcrossAsia Multimedia Ltd) sebesar 57,6% dan PT Datakom Asia (milik Peter F. Gontha, Bambang Trihatmodjo, Anthony Salim dkk, juga memiliki saham di SCTV, Cipta Aneka Selaras, Indovision dan TelkomVision), pemegang saham PT Aditirta sebelumnya sebesar 13,31%.[23][24] Pada awal 2000an, pelanggannya tercatat sebesar 74.000, bertumbuh dari sebelumnya sebesar 13.712 orang pada akhir 1999.[25][26] Pada 2001 jaringannya sudah mencapai 2,263 km, 193.000 rumah,[27] dan pada 2006 diharapkan bisa diperluas ke 5 kota lain dari sebelumya hanya di Jakarta, Bali dan Surabaya.[28] Layanan di Bali sendiri awalnya dikelola oleh perusahaan khusus bernama PT Bali Interaktif.[29] Selain untuk pelanggan, PT Broadband juga menyediakan layanan bagi pelanggan korporat, seperti anak usaha Grup Lippo.[30] Pada tahun-tahun berikutnya, produk-produk baru dibawah PT Broadband Multimedia diluncurkan dengan merek Digital1 (Agustus 2005) dan MyNet (2004), dan pada 2003 pelanggannya sudah mencapai 100.000.[31][32] Seiring waktu, kepemilikan Datakom menghilang, meninggalkan Lippo sebagai pemegang saham utama.

Pada 16 Juni 2007, Broadband Multimedia mengganti namanya menjadi PT First Media Tbk, sekaligus meluncurkan identitas dan merek baru sebagai penyedia layanan "Triple Play". Kabelvision dan Digital1 disatukan di bawah produk HomeCable, sementara MyNet menjadi FastNet.

Pada akhir Agustus 2007. Lippo Group mengumumkan kucuran investasi sebesar $650 juta selama empat tahun kedepan kepada First Media. Kucuran dana tadi akan diinvestasikan keberbagai layanan pengembangan konten dan belanja internet, TV kabel, HDTV, akses pita lebar, layanan nirkabel, fasilitas pentimpanan data, serta layanan telepon. Dalam kucuran dana tersebut, Lippo Group menggandeng perusahaan Shanghai Media Entertainment Group (melalui anak perusahaan STR), Cisco, dan Motorola untuk pembangunan jaringan serta pembiayaan proyek tersebut.

Pada akhir 2019, Lippo Group mulai melepas saham First Media, setelah juga sebelumnya melepas saham OVO, dompet digital mereka.[33] Pada Agustus 2021, Axiata (pemilik XL Axiata) mengakusisi lebih dari 60% saham PT Link Net Tbk., perusahaan induk First Media.[34]

Teknologi

Saat ini First Media memiliki dan mengoperasikan teknologi jaringan kabel Hybrid Fiber-Coaxial (‘HFC’) dua arah pada frekuensi 870 Mhz yang memiliki ujung terminal sebagai berikut.

Digitalisasi memungkinkan kompresi data yang lebih besar untuk ditransmisikan melalui kabel, dengan demikian meningkatkan kapasitas kabel untuk melakukan transmisi internet berkecepatan tinggi, hingga mampu mentransmisi 100 saluran TV secara serempak, serta volume data yang sangat besar yang diperlukan demi kelancaran aplikasi beberapa industri.

Produk

Produk First Media disebut Triple Play, yang merupakan layanan berbasiskan teknologi pita lebar digital mencakup jasa akses internet berkecepatan tinggi melalui jaringan kabel pita lebar dengan merek FastNet, penyedia televisi kabel digital berlangganan dengan merek HomeCable (penggabungan dua produk First Media sebelumnya, Kabelvision dan Digital1), layanan over-the-top dengan merek First Media X, dan layanan komunikasi data berkecepatan tinggi dan berkapasitas besar untuk aplikasi bisnis dan komersial dengan merek DataComm.

DataComm

DataComm menyediakan layanan data komunikasi untuk korporasi atau bisnis. Layanan ini didukung oleh salah satu jaringan backbone digital serat optik yang paling luas di kawasan Metropolitan Jakarta. Layanan ini kini mendukung 303 sambungan jaringan yang disewakan kepada hampir 200 pelanggan di sektor perbankan dan jasa keuangan, berbagai korporasi maupun lembaga pemerintahan. First Media juga merupakan penyedia tunggal layanan data komunikasi bagi sistem JATS Remote Trading Bursa Efek Jakarta (kini Bursa Efek Indonesia) yang memungkinkan para pialang saham untuk melakukan perdagangan efek secara remote dari kantor mereka masing-masing lewat jaringan serat optik. DataComm mempunyai 2 jenis layanan, yaitu First Metro dan FastNet Corporate.

Anak perusahaan

Berikut ini anak usaha PT First Media Tbk.[35][36]

Mantan perusahaan

Referensi

  1. ^ STRUKTUR PEMEGANG SAHAM
  2. ^ Link Net-First Media Luncurkan Combo HD Packs Terbaru
  3. ^ First Media - Paket internet dan tv kabel
  4. ^ First Media
  5. ^ Country Commerce: Spain
  6. ^ Default MENIKMATI TELEVISI ASING TANPA PARABOLA
  7. ^ AsiaCom: Asia-Pacific TV, Cable, Satellite, and Telecommunications, Volume 5
  8. ^ Tempo interaktif, Volume 5
  9. ^ Imagi-Nations and Borderless Television: Media, Culture and Politics Across Asia
  10. ^ pendahuluan
  11. ^ Panji masyarakat
  12. ^ AsiaCom: Asia-Pacific TV, Cable, Satellite, and Telecommunications, Volume 5
  13. ^ Asia, Inc: The Region's Business Magazine, Volume 9,Masalah 1-4
  14. ^ Panji masyarakat
  15. ^ Asia, Inc: The Region's Business Magazine, Volume 9,Masalah 1-4
  16. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 13,Masalah 26-34
  17. ^ AsiaCom: Asia-Pacific TV, Cable, Satellite, and Telecommunications, Volume 6
  18. ^ Lippo Group develops business in information technology and telecommunications. (Conglomeration).
  19. ^ Lippo Ke Televisi
  20. ^ ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 12,Masalah 20-28
  21. ^ ANGGARAN DASAR
  22. ^ Laporan Keuangan First Media 2020
  23. ^ AsiaCom: Asia-Pacific TV, Cable, Satellite, and Telecommunications, Volume 6
  24. ^ JP/Artha Graha, Datakom to establish alliance
  25. ^ Kabelvision
  26. ^ Imagi-Nations and Borderless Television: Media, Culture and Politics Across Asia
  27. ^ AsiaCom Yearbook
  28. ^ AsiaCom Yearbook
  29. ^ Panji masyarakat
  30. ^ Asiamoney, Volume 11
  31. ^ MILESTONE
  32. ^ Pelayanan Buruk Digital 1
  33. ^ Safitri, Kiki (2019-12-03). "Setelah OVO, Kini Lippo Group Lepas Saham First Media, Mengapa?". Kompas.com. Diakses tanggal 2021-08-10. 
  34. ^ "XL Axiata Akuisisi 66 Persen Saham Link Net, Dampak ke Pelanggan First Media?". Tempo.co. 2021-08-01. Diakses tanggal 2021-08-10. 
  35. ^ Lap Keuangan KBLV Q3 2020
  36. ^ LinkNet Q3 2020
  37. ^ [1]
  38. ^ Astro Minta Pengadilan Tolak Gugatan PT Ayunda

Pranala luar