Telesera

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PT Telekomindo Selular Raya
Telesera
Anak perusahaan
IndustriOperator dan layanan telekomunikasi seluler Indonesia
NasibMerger dengan Mobile-8 Telecom
PenerusMobile-8 Telecom
Didirikan1990
Ditutup11 Juni 2007
Kantor
pusat
Denpasar, Indonesia
ProdukAMPS (1996-2003)
PemilikTelekomindo Primabhakti (Rajawali Wira Bhakti Utama) (1990-2001)
Telkom (2001-2003)
Centralindo Pancasakti Cellular (Bimantara Citra/Bhakti Investama) (2003)
Mobile-8 Telecom (2003-2007)

Telesera (singkatan dari PT Telekomindo Selular Raya) pertama kali didirikan pada 1990 dan sahamnya awalnya dimiliki oleh PT Rajawali Wira Bhakti Utama (yang dimiliki oleh Peter Sondakh) sebesar 90% dengan sisanya dimiliki oleh Abram Makimawu. Namun, perusahaan ini baru beroperasi pada tahun 1996, dengan 100% sahamnya dialihkan ke perusahaan Grup Rajawali lain, yaitu PT Telekomindo Primabhakti. Perusahaan ini mengoperasikan sistem jaringan berbasis AMPS di beberapa daerah yang ditetapkan pemerintah, yaitu di Bali, Kalimantan dan Sumatera Selatan menggunakan frekuensi 800 MHz.[1][2][3] Modal awal pengguna Telesera adalah operasional bagi hasil AMPS PT Telekomindo Primabhakti yang dialihkan ke Telesera. Perlu diketahui sebelumnya bahwa PT Telekomindo Primabhakti adalah sebuah perusahaan komunikasi yang juga menjadi pengelola sistem AMPS untuk telepon mobil (istilah resminya STKB-N, Sistem Sambungan Telepon Kendaraan Bermotor Nasional) di daerah Palembang, Denpasar dan Samarinda-Balikpapan-Banjarmasin menggunakan sistem dari Motorola dan menargetkan sekitar 7.800 pengguna.[4][5] Setelah pendirian Telesera, maka operasional PT Telekomindo dialihkan pada Telesera.

Bagaimanapun, dikarenakan pasar di wilayah yang diberikan oleh pemerintah padanya tidak terlalu besar, maka Telesera tetap menjadi perusahaan operator AMPS terkecil di Indonesia. Sejak awal berdirinya, Telesera hanya memiliki 6.000-7.000 pelanggan: pada awal 1996 sebanyak 7.500, pada 1997 sebesar 6.705 (walaupun mempunyai kapasitas pelanggan sebesar 11.500), pada April 1999 menjadi 6.792, dan menjadi 7.556 pada akhir 2001.[1][2] Mungkin, karena itulah, perusahaan ini merupakan satu-satunya perusahaan AMPS yang tetap mempertahankan sistem bagi hasil yang telah dijalankannya sejak operasionalnya masih berada di bawah PT Telekomindo. Sistem bagi hasil antara keduanya dipatok sebesar 30% untuk Telkom dan 70% untuk Telesera. Keuntungan Telkom pun tidak besar, pada 1998 misalnya hanya mendapat Rp 6,1 miliar dan pada 1999 sebesar Rp 5,7 miliar.[6][7] Seiring waktu, kerjasama bagi hasil antara Telkom dan PT Telekomindo berakhir sehingga seluruh saham dan aset Telesera beralih ke Telkom sejak 5 Desember 2001.[8] Transaksi pengalihan kepemilikan ini, juga melibatkan pertukaran saham dimana Telkom melepaskan sahamnya di Telekomindo Primabhakti. Seluruh transaksi ini memakan biaya lebih dari Rp 200 miliar.[9] Awalnya, setelah Telesera 100% menjadi anak perusahaan Telkom, perusahaan ini sempat direncanakan untuk diubah sistemnya menjadi CDMA. (Rencana ini tidak dilanjutkan karena penjualan Telesera, dan Telkom pada 2003 akan meluncurkan Flexi sebagai layanan CDMA-nya).[1]

Seiring dengan kondisi ekonomi dan program restrukturisasi perusahaan, PT Telkom kemudian memutuskan untuk melepas seluruh saham anak perusahaannya yang menggunakan AMPS, termasuk Telesera.[10] Pada 8 Agustus 2003, penjualan itu akhirnya tercapai ketika PT Centralindo Pancasakti Cellular (yang terafiliasi dengan Bimantara Citra dan Bhakti Investama) dan Telkom sepakat melakukan pertukaran saham. Dalam transaksi ini, Telkom menjual 100% sahamnya di Telesera kepada PT Centralindo (ditambah 14,20% saham Komselindo dan 20,17% saham Metrosel) dengan biaya Rp 185,10 miliar, dan sebagai gantinya, PT Centralindo menyerahkan saham PT Indonusa Telemedia (penyelenggara TV kabel TelkomVision) sebesar 35% dan memberi hak untuk membeli 16,85% sahamnya di Pasifik Satelit Nusantara pada Telkom. Manajemen sendiri menyediakan dana sebesar Rp 900 miliar untuk menuntaskan transaksi ini.[11][12]

Manajemen Bimantara/Bhakti (via PT Centralindo) yang kemudian menjadi pengelola baru Telesera memutuskan untuk membangun perusahaan operator seluler baru dengan sistem baru, yaitu CDMA. Perusahaan baru itu dikenal dengan nama Mobile-8 Telecom yang didirikan akhir 2002, dan sebagai persiapannya Bimantara/Bhakti menjadikan perusahaan komunikasi yang telah diakusisinya, yaitu Telesera, Metrosel dan Komselindo menjadi anak perusahaan Mobile-8.[13][14][15] Pada akhirnya, sebagai "penerus" Telesera adalah Fren yang diluncurkan pada 8 Desember 2003 yang berbasis CDMA2000 dengan modal awal salah satunya adalah bekas pelanggan AMPS Telesera. Sejak saat itu, Telesera hanya menjadi anak perusahaan Mobile-8 yang tidak terlalu aktif, yaitu (bersama Metrosel dan Komselindo) hanya menjadi pemegang izin jaringan CDMA yang dioperasikan oleh Mobile-8. Pada akhirnya, Telesera dimerger dengan induknya, Mobile-8 pada 11 Juni 2007.[16]Merger ini mengakibatkan izin operasional Mobile-8, yang sebelumnya salah satunya atas nama Telesera, kini beralih ke Mobile-8.[17]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]