Centralindo Panca Sakti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PT Centralindo Panca Sakti
Anak perusahaan
IndustriTelekomunikasi
Didirikan27 Februari 1985
Kantor
pusat
Kompleks Perkantoran Duta Merlin Blok C 49-50
Jl. Gajah Mada 3
Jakarta, Indonesia
PemilikBhakti Investama (2001-2004)
Napan Group (1985-sekarang)
Situs webwww.cps.co.id

PT Centralindo Panca Sakti, ada juga yang menyebutnya PT Centralindo Pancasakti Cellular merupakan sebuah perusahan telekomunikasi yang berbasis di Jakarta, Indonesia yang menyediakan, memberi jasa serta membangun berbagai sarana komunikasi. Perusahaan ini dimiliki oleh Napan Group, dan didirikan pada 27 Februari 1985.[1] Awalnya, perusahaan ini hanya menjadi penyuplai dari produk telekomunikasi untuk kepentingan beberapa pihak seperti Perumtel dan ABRI, namun seiring waktu meluaskan operasinya ke berbagai bidang, terutama jasa.[2]

Terdapat beragam bisnis dari perusahaan ini (pada awalnya), yang meliputi:[3]

  • Pengelolaan telepon umum kartu (TUK), sebesar 12.000 sambungan pada 2001, menjadikannya operator terbesar.[4]
  • Pengelolaan kerjasama operasional (KSO) jaringan telepon untuk wilayah Sumatra Barat yaitu di Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang dan Solok sejak 2004. Kerjasama ini akhirnya dihentikan setelah pada 2007 dibeli oleh Telkom.[5]
  • Membangun jaringan serat optik untuk Telkom di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat.
  • Membangun sarana FWA untuk Flexi.
  • Jasa call center, internet, integrasi sistem, operasional telepon kabel (di Surabaya sejak 1992), perawatan kabel tembaga LAN, dan lain-lain.[6]
  • Jasa penyeranta (pager) dengan merek Metrotel, dengan anak usahanya yang bernama PT Selarasindo Mulia yang didirikan pada 1996. Bisnis ini bertahan hingga 2002. Kemudian, PT Selarasindo menjadi perusahaan yang menangani jasa televoting, free call dan premium call.
  • Pembangunan sistem CDMA di Bangka Belitung lewat anak usaha PT Hamparan Persada.
  • Menjadi salah satu operator jaringan komunikasi seluler berbasis AMPS di Indonesia sejak 2 Juli 1991 (operator pertama, dengan masa kontrak 7 tahun). Proyek ini awalnya dimaksudkan untuk telepon mobil di kota-kota seperti Jakarta dan Surabaya (walaupun akhirnya hanya di Surabaya saja) bekerjasama dengan Industri Telekomunikasi Indonesia dan Telkom dalam bentuk bagi hasil. Selanjutnya, proyek ini dilanjutkan ke Semarang-Yogyakarta-Solo dan Surabaya-Malang dengan kapasitas total 9.500 pengguna. Perangkat yang ditawarkan berasal dari Motorola dan NEC.[7][8][9] Pada 30 November 1995, kerjasama bagi hasil ini ditransformasikan menjadi PT Metro Selular Nusantara (Metrosel) dan pelanggan AMPS Centralindo digabungkan dalam operasi Metrosel yang mulai beroperasi pada akhir 1995.[10] Saham Centralindo di perusahaan ini berubah-ubah, dari awalnya sebesar 51,20%, lalu menjadi 36,7% pada 1996.[11]

Selain itu, PT Centralindo juga pernah diberikan konsesi untuk mengelola hutan tanaman industri pada tahun 1991, dan mulai beroperasi pada 30 Juni 1992. Izin ini berlaku sampai 2004 ketika dicabut pemerintah.[12]

Awalnya, PT Centralindo dimiliki oleh Napan Group (Nawa Panduta, dimiliki oleh Henry Pribadi). Sempat dikabarkan bahwa 40% saham mayoritas perusahaan ini akan dijual ke perusahaan milik Henry lain (bersama Eddy Kusnadi Sariaatmadja), Econ International Ltd pada 1997.[13] Namun, baru pada tahun 2001, terjadi perubahan kepemilikan dimana 37% saham PT Centralindo beralih ke Bhakti Investama, setelah Bhakti membeli obligasi PT Centralindo di Chase Manhattan Bank. Kemudian, saham Bhakti meningkat menjadi 100% dengan menggelontorkan dana US$ 35 juta/Rp 259 miliar.[14][15][16]

Bhakti Investama, dan anak usahanya Bimantara Citra kemudian melakukan beberapa perubahan ketika Centralindo ada di bawah kendali mereka, terutama pada struktur pemegang saham di anak usaha Centralindo, Metrosel. Pada 21 Maret 2003, salah satu pemegang saham lain di Metrosel, Asialink sepakat mengonversi sahamnya sebesar 35% di Metrosel menjadi 14,6% kepemilikannya di anak perusahaan Bhakti lain, PT Mobile-8 Telecom pada 21 Maret 2003.[17] Lalu, pada RUPSLB pada 14 Mei 2003, kemudian juga pemilik saham Metrosel, yaitu Centralindo (sebagai pemegang saham utama) dan PT Dwimarga (ditambah Asialink sebelumnya) sepakat untuk menyerahkan 76,3% kepemilikan sahamnya di Metrosel kepada Mobile-8 dengan ganti kepemilikan saham minoritas di Mobile-8.[18] Selanjutnya pada 8 Agustus 2003, Centralindo dan Telkom sepakat melakukan pertukaran saham: Telkom menjual 20,17% sahamnya di Metrosel, 14,20% saham Komselindo dan 100% saham Telesera ke Centralindo dengan biaya Rp 185,10 miliar, dan sebagai gantinya, PT Centralindo menyerahkan saham PT Indonusa Telemedia (penyelenggara TV kabel TelkomVision) sebesar 35% dan memberi hak untuk membeli 16,85% sahamnya di Pasifik Satelit Nusantara pada Telkom (kemungkinan, saham Centralindo di PSN dan Indonusa merupakan pengalihan dari saham perusahaan lain milik Bhakti/Bimantara). Manajemen sendiri menyediakan dana sebesar Rp 900 miliar untuk menuntaskan transaksi ini.[19][20] Dengan posisi ini, Bhakti/Bimantara lewat Centralindo (dan juga Mobile-8) bisa menguasai saham mayoritas Telesera, Komselindo dan Metrosel. Kemudian, seluruh saham anak usaha Centralindo ini dialihkan/dijual kepada Mobile-8 Telecom sehingga 100% seluruh saham ketiga anak usahanya yang bersistem AMPS tersebut menjadi milik Mobile-8.[21] Sebagai ganti dari penyerahan saham itu, Centralindo memiliki 5% saham di Mobile-8 Telecom (hingga 2005).

Setelah transaksi tersebut, Centralindo muncul lagi di pemberitaan ketika pada Juni 2003, Bimantara Citra memutuskan menjual 25% sahamnya di Metro TV kepada Centralindo. Selain menjual sahamnya, piutang Rp 80 miliar Bimantara juga dijual ke Metro TV. Penjualan ini didasarkan oleh Metro TV yang tidak mendapatkan keuntungan dan terus merugi.[22][23] Dalam penjualan tersebut, pemegang saham mayoritas Metro TV, Surya Paloh menyatakan bahwa ia berada di balik Centralindo. Kurang jelas apa arti dari pernyataan Paloh tersebut, mengingat sepertinya tidak pernah saham Centralindo dialihkan kepada Surya Paloh. Kemungkinan ada "perjanjian" antara Bhakti dan Paloh mengenai penjualan ini. Yang pasti, kemudian Centralindo tidak lagi terlihat memegang saham Metro TV.

Pada tahun 2004-2005, kemudian Bhakti (lewat anak usahanya yang lain, PT Agis Tbk.) memutuskan untuk melepaskan sahamnya di Centralindo kepada perusahaan lain lewat beberapa skema obligasi, kepada perusahaan lain bernama Gallantry Ltd. Tidak jelas siapa pemilik dari Gallantry, namun kemungkinan adalah pemegang saham sebelumnya, yaitu Napan Group.[24] Lalu, pada 4 Maret 2005, saham Centralindo di Mobile-8 Telecom (sebesar 4,6%) dialihkan kepada pemegang saham utamanya, Bimantara Citra.[25][26]

Setelah tahun 2007, Centralindo sepertinya sudah kembali menjadi milik Napan Group, dengan menghilangnya nama Centralindo dari laporan Bimantara dan pada tahun itu juga sisa saham yang tersisa di Mobile-8 resmi dilepaskan.[27] Saat ini, bukti dari kepemilikan keluarga Pribadi di perusahaan ini adalah adanya nama keluarga Henry Pribadi, yaitu Andry Pribadi dan Wilson Pribadi di perusahaan ini, yang keduanya memegang jabatan juga di perusahaan lain milik Napan Group seperti PT Argha Karya Prima Industry Tbk.[28][29][30] Saat ini, PT Centralindo masih beroperasi, sebagai sebuah perusahaan telekomunikasi yang cukup dikenal di Indonesia dengan beberapa kantor cabang di berbagai daerah. Perusahaan ini juga menjadi perusahaan induk dari sejumlah perusahaan seperti:

  • PT Total Info Kharisma (NetStar)[31]
  • PT Solusi Sistem Integrasi
  • Penyedia jasa internet, dengan merek Blitz dan Central[32]
  • Dan penyediaan jasa komunikasi lainnya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]