Hubungan Indonesia dengan Uzbekistan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hubungan Indonesia–Uzbekistan
Peta memperlihatkan lokasiIndonesia and Uzbekistan

Indonesia

Uzbekistan

Hubungan Indonesia dengan Uzbekistan secara resmi dimulai pada 23 Juni 1992, kedua negara telah menyadari pentingnya potensi masing-masing, Uzbekistan menyadari betapa penting dan strategisnya Indonesia, rumah bagi penduduk Muslim terbesar di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara,[1] sementara Indonesia menyadari betapa penting dan strategisnya Uzbekistan sebagai pintu gerbang ke Asia Tengah, ekonomi yang sedang berkembang dan juga pasar yang potensial.[2] Indonesia memiliki kedutaan besar di Tashkent, sedangkan Uzbekistan memiliki kedutaan besar di Jakarta. Keduanya adalah negara mayoritas Muslim, dan keduanya juga adalah anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Berdasarkan beberapa sumber Islam, hubungan antara Uzbekistan dengan Indonesia sudah dimulai tahun 1400-an. Salah satu pendakwah awal yang membawa Islam ke Indonesia, Maulana Ibrahim As Samarkandi (dijawakan: Asmoro Kandi) adalah berasal dari Samarkand, Uzbekistan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Hubungan bersejarah Indonesia dengan Uzbekistan dimulai lebih awal, sebelum kemerdekaan Uzbekistan. Pada bulan September tahun 1956, Presiden Indonesia Soekarno telah mengunjungi makam Imam Bukhari di Samarkand. Permintaan khusus ini dibuat Soekarno kepada Nikita Khrushchev di sela-sela kunjungan resminya ke Uni Soviet.[3]

Pada tanggal 28 Desember 1991, Indonesia telah mengakui kemerdekaan Republik Uzbekistan dari Uni Soviet yang dibubarkan. Hubungan diplomatik dimulai pada 23 Juni 1992, yang ditandatangani oleh Presiden Uzbekistan Islam Karimov selama kunjungan resminya ke Indonesia. Pada bulan April 1995 Presiden Indonesia Soeharto mengunjungi Uzbekistan. Indonesia membuka kedutaan besarnya di Tashkent pada Mei 1994, dan membalas dua tahun kemudian dengan pembukaan kedutaan besar Uzbekistan di Jakarta pada Desember 1996.[4]

Perdagangan dan Investasi[sunting | sunting sumber]

Perdagangan Bilateral antara Indonesia dan Uzbekistan berada pada kisaran US$10 juta - US$30 juta. Pada 2007 mencapai US$28,27 juta dan US$13,75 juta pada 2008.[1] Uzbekistan ekspor ke Indonesia terdiri dari jasa, peralatan listrik, kapas, wol dan mesin otomotif. Sementara ekspor Indonesia ke Uzbekistan termasuk kakao, teh, tembakau, hewan dan minyak sayur, ban karet, sasis ban, kain katun, tenun tulle, renda, bordir, pita, hiasan dan barang-barang kecil lainnya.[4]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1997, Bahasa Indonesia mulai diajarkan sebagai salah satu mata kuliah di Tashkent Institute of Foreign Languages (sekarang: Uzbekistan World Language University) dengan dua orang pengajar, yaitu: Muhasan, bekas mahasiswa ikatan dinas masa Soekarno, dan Amir Astapradja, staf KBRI Tashkent saat itu. Pada tahun 2001, berkat upaya Professor Namozov bekerjasama dengan KBRI Tashkent, Pusat Studi bahasa dan budaya Indonesia dibuka di Samarkand. Lembaga tersebut setiap tahun melatih lebih dari 20 siswa. Bahasa dan budaya Indonesia juga diajarkan di Samarkand State Institute of World Languages.[1] Pada tahun 2003, di Tashkent Institute of Oriental Studies juga dibuka Pusat Bahasa Indonesia. Pertukaran budaya antara kedua negara sering terjadi untuk mempromosikan hubungan yang lebih erat. Pada 1 Mei 2013, The Indonesia-Uzbekistan Cultural Performance dipentaskan di Conservatory Hall of Tashkent, menampilkan tarian Indonesia yang dilakukan oleh penari Uzbek dan juga pertunjukan musik dari Surya Vista Orchestra yang memainkan lagu-lagu Indonesia dan Uzbekistan.[5]

Pada tahun 2003 atas inisiatif beberapa jurnali Uzbekistan, didirikan sebuah organisasi non-formal, Press Morning Club, yang anggotanya terdiri dari para jurnalis terkemuka dari berbagai media Uzbekistan. Club tersebut banyak melakukan kegiatan-kegiatan kerjasama budaya Indonesia-Uzbekistan. Salah satu kegiatannya yang signifikan, adalah penyelenggaraan Malam Konser Solidaritas Uzbekistan untuk Korban Tsunami di Aceh untuk penggalangan dana bagi para korban melalui Red Crescent of Uzbekistan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Veeramalla Anjaiah and Kanupriya Kapoor (September 1, 2009). "Uzbekistan wants to reshape relations with Indonesia" (dalam bahasa Inggris). The Jakarta Post. Diakses tanggal April 27, 2014. 
  2. ^ Priyambodo RH (March 17, 2008). "Indonesia-Uzbekistan Sepakat Tingkatkan Kerjasama Perdagangan". Antara News. Diakses tanggal April 27, 2014. 
  3. ^ Budi Hermana (June 24, 2012). "Mesranya Indonesia dan Uzbekistan". Kompasiana. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-04-27. Diakses tanggal April 27, 2014. 
  4. ^ a b "Indonesia–Uzbekistan Cooperation" (dalam bahasa Inggris). Uzbekistan Embassy in Jakarta. April 27, 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-03. Diakses tanggal April 27, 2014. 
  5. ^ "Indonesia-Uzbekistan Cultural Performance Mempererat Persahabatan Masyarakat Kedua Negara". KBRI Tashkent. May 3, 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-04-27. Diakses tanggal April 27, 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]