Orang Indonesia perantauan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Diaspora Indonesia)
Lompat ke: navigasi, cari
Diaspora Indonesia
Anggun C. Sasmi
Arief Budiman
Daniel Sahuleka
Dutamardin Umar
Giovanni van Bronckhorst
Leila Chairani Budiman
Nadya Hutagalung
Paul Slamet Somohardjo
Radja Nainggolan
Rais Yatim
Ranomi Kromowidjojo
Sehat Sutardja
Shamsi Ali
Shamsiah Fakeh
Sonita Lontoh
Zubir Said
Total populasi
7.000.000 – 8.000.000 [1][2][3]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
 Malaysia ± 2.500.000
 Arab Saudi ±1.500.000[4]
 Belanda 395.800
 Singapura ±200.000
 Taiwan 161.000
 Hong Kong 102.100[5]
 Suriname 90.000[6]
 Australia 86.196[7]
 Uni Emirat Arab 75.000[8]
 Amerika Serikat 70.000
 Filipina 43.871
 Qatar 36.000
 Jepang 30.567[9][10]
 Korea Selatan 30.000
 Kanada 14.300
 Kaledonia Baru 7.000
Bahasa
Indonesia, Jawa, Minangkabau, Bugis, bahasa lainnya di Indonesia, Inggris, Mandarin dan bahasa asing lain.
Agama
Islam; Katolik; Protestan
Kelompok etnis terkait
Pribumi, Tionghoa-Indonesia

Diaspora Indonesia atau Orang Indonesia perantauan (bahasa Inggris: Indonesian Diaspora) adalah orang-orang Indonesia yang menetap di luar Indonesia. Istilah ini berlaku bagi orang-orang yang lahir di Indonesia dan berdarah Indonesia yang menjadi warga negara tetap ataupun menetap sementara di negara asing.[11]

Sebagai aset bangsa yang potensial, kaum diaspora merupakan golongan yang mempunyai karakteristik tersendiri karena mereka adalah orang-orang yang terbiasa dalam kompetisi global.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejak zaman dahulu banyak orang yang berasal dari berbagai etnis yang ada di Indonesia (dulu disebut nusantara) pergi meninggalkan kampung halamannya ke berbagai wilayah mencari kehidupan yang diharapkan lebih baik. Seperti etnis Aceh, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, Mandailing, Minangkabau, dan lainnya yang keturunannya berkembang biak di tanah semenanjung, yang kemudian menjadi negara Malaysia dan Singapura. Juga ada yang sampai ke Filipina, Thailand (Pattani), Kamboja, dan lainnya. Pada masa modern juga banyak warga negara Indonesia dari berbagai etnis yang pergi ke luar negeri sebagai profesional, akademisi, mahasiswa, atau tenaga kerja (dikenal dengan TKI). Sebagian besar dari mereka menetap di Malaysia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Australia, dan lainnya.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Diaspora Indonesia yang telah berlangsung berbilang abad dilatar-belakangi oleh berbagai faktor, di antaranya:

  • Perdagangan klasik, seperti penghijrahan orang-orang Minangkabau, Bugis, Jawa, Banjar, Bawean, dan lainnya ke tanah semenanjung ketika jayanya Kesultanan Malaka. Keturunan mereka kemudian hari ikut membentuk masyarakat Malaysia sekarang, dan juga dalam jumlah yang lebih sedikit menjadi masyarakat Singapura saat ini.
  • Peperangan, seperti yang terjadi pada masyarakat Mandailing dan Minangkabau yang hijrah ke semenanjung Malaya untuk menghindari Perang Padri yang berkecamuk di wilayah Tapanuli dan Minangkabau.
  • Harapan yang lebih baik tentang kehidupan di negeri Belanda dan Eropah pada umumnya, seperti yang terjadi pada masyarakat Maluku yang banyak hijrah ke Belanda pada masa awal kemerdekaan.
  • Globalisasi, di mana sekat antar-bangsa sudah makin cair. Pada masa ini hampir semua etnis di Indonesia, seperti suku Aceh, Bali, Batak, Bugis, Jawa, Minahasa, Minangkabau, Sunda, Tionghoa-Indonesia, dan lainnya bisa berada di mana saja di dunia ini. Mereka mencari kehidupan sebagai profesional, pengusaha, dan pelayanan jasa lainnya. Kini diperkirakan ada sekitar 7 hingga 8 juta orang Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia.[2][3]

Dwi-Kewarganegaraan[sunting | sunting sumber]

Dari sekitar 7 hingga 8 juta orang diaspora Indonesia dapat dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang Indonesia yang karena berbagai alasan dan kondisi telah melepas status kewarganegaraan Indonesianya dan secara penuh menjadi warga negara asing. Kelompok lainnya yang berjumlah sekitar 4,6 juta merupakan warga Indonesia yang berkarier di luar negeri namun masih memegang status kewarganegaraan Indonesia.[1]

Karena kecintaannya pada bangsa dan negara Indonesia, banyak di antara para diaspora tersebut tidak mau melepas status kewarganegaraan Indonesianya. Sementara pemerintah Indonesia sampai saat ini belum mengeluarkan kebijakan tentang dwi-kewarganegaraan. Sedangkan negara-negara lainnya, seperti India dan Filipina memberlakukan status dwi-kewarganegaraan bagi para warganya yang berkarier di luar negeri, sehingga memberi manfaat besar bagi kedua negara tersebut. Menipisnya rasa nasionalisme kadang juga menjadi isu yang diapungkan terhadap kaum diaspora yang berstatus dwi-kewarganegaraan tersebut.[1]

Potensi besar kaum diaspora Indonesia yang tersebar di banyak negara terabaikan dalam tempo yang cukup lama. Baru pada bulan Juli 2012, atas gagasan Dino Patti Djalal ketika ia menjabat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia diadakan Congress of Indonesian Diaspora (CID) di Los Angeles Convention Center. Kongres yang dihadiri lebih dari 2000 orang diaspora Indonesia dari lima benua tersebut menghasilkan "Deklarasi Diaspora Indonesia" yang salah satu kesepakatannya adalah membangun komunitas global diaspora Indonesia yang dinamai "Jaringan Diaspora Indonesia".[12]

Organisasi diaspora Indonesia[sunting | sunting sumber]

Populasi diaspora Indonesia yang berkisar 7 hingga 8 juta orang masih kalah dibanding diaspora China dan India yang masing-masing berjumlah 70 juta dan 60 juta orang. Jutaan orang diaspora Indonesia diwadahi oleh berbagai organisasi atau perkumpulan. Banyak di antara organisasi itu masih dibatasi oleh sekat-sekat, baik sekat suku, agama, maupun profesi.[2] Beberapa organisasi atau perkumpulan itu di antaranya:

  • Dewan Diaspora Indonesia yang diketuai oleh Sonita Lontoh.[3]
  • Indonesian Diaspora Business Council (IDBC) yang diketuai oleh Edward Wanandi.[13]
  • Indonesian Diaspora Network (Jaringan Diaspora Indonesia) yang dipimpin oleh Muhammad Al Arif. Organisasi ini merupakan organisasi diaspora Indonesia yang bersifat global.[1][2]
  • Indonesian Muslim Association in America (IMAAM)
  • MinangUSA Foundation yang dipimpin oleh Dutamardin Umar.[14]

Terdapat banyak organisasi lainnya yang bersifat lokal, seperti Rumah Minang, Paguyuban Pasundan, dan lainnya yang berlokasi di Washington yang dihuni sekitar 13 ribu orang diaspora Indonesia. Sedangkan di Los Angeles ada komunitas diaspora Indonesia dengan populasi sekitar 40 ribu orang.[1]

Tokoh diaspora Indonesia yang mendunia[sunting | sunting sumber]

Dari jutaan kaum diaspora Indonesia, beberapa di antaranya menggapai kesuksesan taraf internasional sehingga namanya dikenal di dunia. Beberapa nama, seperti Sehat Sutardja, CEO Marvell Technology Group, adalah salah satu orang Indonesia yang sukses di Amerika Serikat di bidang bisnis,[15] Sonita Lontoh, seorang teknokrat dan ekonom yang namanya harum sebagai pakar teknologi hijau dan merupakan eksekutif di sebuah perusahaan teknologi hijau cukup ternama di Silicon Valley, California,[3] Syamsi Ali, seorang pendakwah Islam yang amat dikenal di New York,[16] dan beberapa nama lainnya yang berkarier di berbagai bidang. Tidak asing juga nama Anggun Cipta Sasmi yang bermukim di Perancis sebagai salah satu penyanyi Internasional disamping menjadi Duta PBB, Adapun untuk pemain Holywood ada beberapa nama salah satunya adalah Tania Gunadi.

Sebaran diaspora Indonesia[sunting | sunting sumber]

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Di Amerika Serikat, sebagian besar orang Indonesia adalah mahasiswa dan profesional. Universitas Boston dan Universitas Harvard adalah dua perguruan tinggi yang menjadi tujuan utama pelajar Indonesia. Di Silicon Valley, California, terdapat banyak orang Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi seperti Cisco Systems, KLA Tencor, Google, Yahoo, Sun Microsystems, dan IBM. Pada bulan April 2011, Voice of America melaporkan bahwa semakin banyak pelajar Indonesia yang belajar di Amerika Serikat.[17]

Arab Saudi[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar orang Indonesia di Arab Saudi adalah tenaga kerja wanita, dan selebihnya adalah tenaga kerja migran lainnya dan mahasiswa.

Australia[sunting | sunting sumber]

Sebelum pelaut Belanda dan Inggris tiba di Australia, orang Indonesia dari Sulawesi Selatan telah menjelajahi pantai utara Australia. Setiap tahun, para pelaut Bugis berlayar ke Australia dengan menggunakan perahu pinisi. Mereka menetap di Australia selama beberapa bulan untuk berdagang sebelum kembali ke Makassar pada musim kemarau. Aktifitas ini terus berlangsung sampai tahun 1907.[butuh rujukan]

Belanda[sunting | sunting sumber]

Indonesia adalah bekas koloni Belanda. Pada awal abad ke-20, banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda. Sebagian besar dari mereka tinggal di Leiden dan aktif dalam Perhimpunan Indonesia. Selama Revolusi Nasional Indonesia, banyak penduduk Maluku yang bermigrasi ke Belanda. Kebanyakan dari mereka adalah mantan tentara KNIL. Akibatnya, sekitar 12.500 orang Indonesia menetap di Belanda. Giovanni Van Bronckhorst, Denny Landzaat, Roy Makaay, Mia Audina, dan Daniel Sahuleka adalah orang-orang terkenal keturunan Indonesia di Belanda.

Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2013, sekitar 20.000 orang Indonesia menetap di Jepang, termasuk sekitar 3.000 pendatang ilegal. Angka ini turun dari tahun-tahun sebelumnya karena berbagai alasan. Dua alasan utama adalah biaya hidup yang tinggi dan kesulitan untuk menemukan pekerjaan di Jepang.[butuh rujukan]

Malaysia[sunting | sunting sumber]

Diperkirakan terdapat sekitar 2.500.000 warga negara Indonesia di Malaysia pada waktu tertentu, yang disebabkan oleh adanya migrasi yang konstan sejak zaman kuno dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi serta pengiriman tenaga kerja. Jumlah warga negara Malaysia yang berdarah Indonesia mungkin bisa sampai jutaan lebih.

Qatar[sunting | sunting sumber]

Terdapat sekitar 36.000 warga negara Indonesia di Qatar.

Singapura[sunting | sunting sumber]

Menurut Kedutaan Besar Indonesia di Singapura, pada 2010 terdapat 180.000 warga negara Indonesia di Singapura. Sebanyak 80.000 orang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, 10.000 sebagai pelaut, dan sisanya adalah mahasiswa atau kalangan profesional.

Suriname[sunting | sunting sumber]

Orang Indonesia, terutama orang Jawa, berjumlah sekitar 15% dari populasi Suriname. Pada abad ke-19, Belanda mengirimkan orang Jawa ke Suriname sebagai pekerja kontrak di perkebunan. Orang keturunan Indonesia yang paling terkenal di Suriname salah satunya adalah Paul Somohardjo, juru bicara Majelis Nasional Suriname.[18]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f "Presiden Indonesian Diaspora Network: Diaspora Tuntut Kewarganegaraan Ganda" Detik, 19 Agustus 2015. Diakses 22 November 2015.
  2. ^ a b c d "Kongres Diaspora Indonesia Digelar 12-14 Agustus" CNN Indonesia, 07 Agustus 2015. Diakses 22 November 2015.
  3. ^ a b c d "Sonita Lontoh, Ahli Energi dari Silicon Valley" Nova, 27 Mei 2014. Diakses 21 November 2015.
  4. ^ "Indonesia, Taiwan sign agreement on migrant protections" The Jakarta Post, 30 April 2011. Diakses 21 November 2015.
  5. ^ Media Indonesia Online, 2006-11-30.
  6. ^ [1] Joshuaproject.net.
  7. ^ "Statistics" Australian Bureau of Statistics
  8. ^ "Expatriates celebrate 64th Indonesian Independence Day in Abu Dhabi" Gulf News, 17 Agustus 2009. Diakses 21 November 2015.
  9. ^ Sakurai 2003: 33
  10. ^ Sakurai 2003: 41
  11. ^ "RI diaspora expected to boost economy" The Jakarta Post, 20 Agustus 2013. Diakses 21 November 2015.
  12. ^ "Dino Pati Djalal: “Mereka Punya Kekuatan Besar dan Luar Biasa”" SWA, 29 Agustus 2012. Diakses 24 November 2015.
  13. ^ "Rangkul Warga Diaspora Indonesia, Kemenlu Segera Terbitkan Kartu Diaspora" Kompas, 12 Agustus 2015. Diakses 22 November 2015.
  14. ^ "Board of Trustees" MinangUSA Foundation. Diakses 22 November 2015.
  15. ^ "Sehat Sutardja dalam Peta Dunia" Kompas, 19 Juni 2011. Diakses 22 November 2015.
  16. ^ "Ustad Indonesia Orang Berpengaruh di New York" Tempo, 16 April 2013. Diakses 22 November 2015.
  17. ^ "A Push to Get More Indonesians to Study in US" VOA, 13 April 2011. Diakses 21 November 2015.
  18. ^ "English Not On Menu For Wednesday's Press Briefing" Bernama, 22 September 2005. Diakses 21 November 2015.

Catatan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]