Hubungan Indonesia dengan Kuwait

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Hubungan Indonesia–Kuwait
Peta memperlihatkan lokasiIndonesia and Kuwait

Indonesia

Kuwait

Hubungan Indonesia dengan Kuwait secara resmi dimulai 28 Februari 1968.[1] Hubungan difokuskan pada sektor ekonomi dan perdagangan, terutama pada energi (minyak) dan sumber daya manusia (buruh migran). Kuwait memiliki kedutaan besar di Jakarta, sementara Indonesia memiliki kedutaan besar di Kuwait City. Kedua negara adalah anggota dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok.

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Kuwait pada 29-30 April 2006 dan dibalas dengan kunjungan Perdana Menteri Kuwait, Sheikh Nasser Mohammed Al-Ahmed Al-Sabah ke Indonesia pada 30 Mei - 1 Juni 2007.[1]

Perdagangan dan Investasi[sunting | sunting sumber]

Impor Kuwait dari Indonesia adalah kertas, semen, kayu lapis, karet, arang, makanan, furniture, keramik, elektronik, bahan bangunan, peralatan dapur dan peralatan rumah. Sedangkan impor Indonesia dari Kuwait didominasi oleh minyak dan produk minyak seperti etilena dan polimer, juga mengimpor karung dan tas, dan produk kulit kambing. Volume perdagangan bilateral mencapai US$1,47 milyar pada tahun 2010. [1] Kuwait juga menyatakan minat mereka untuk membangun US$7 milyar kilang minyak di Indonesia.[2]

Buruh Migran[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2012 ada sekitar 16.574 pekerja migran Indonesia yang bekerja di Kuwait. 1.982 dari mereka bekerja di sektor formal, sedangkan mayoritas 14.592 pekerja bekerja di sektor informal sebagai pembantu rumah tangga. Pada 2013 ada sekitar 2.000 pekerjaan yang tersedia dan ditawarkan kepada pekerja Indonesia di sektor formal dan profesional.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Hubungan Bilateral Indonesia-Kuwait". Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal April 20, 2014. 
  2. ^ Veeramalla Anjaiah (February 27, 2013). "Kuwait keen to build $7 billion oil refinery in RI to boost ties". The Jakarta Post. Diakses tanggal April 20, 2014. 
  3. ^ "Kuwait Butuh 2.000 TKI Formal, Berminat?". Republika Online. March 11, 2013. Diakses tanggal April 20, 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]