Departures

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Departures
Okuribito (2008).jpg
Poster film Okuribito
Sutradara Yojiro Takita
Penulis Kundo Koyama
Pemeran Masahiro Motoki
Ryoko Hirosue
Tsutomu Yamazaki
Kimiko Yo
Kazuko Yoshiyuki
Takashi Sasano
Musik Joe Hisaishi
Sinematografi Takeshi Hamada
Penyunting Akimasa Kawashima
Distributor Shochiku
Regent Releasing (AS)
Tanggal rilis
Bendera Jepang 13 September 2008
Durasi
131 menit
Negara Jepang
Bahasa bahasa Jepang
Pendapatan kotor $70 juta[1]

Departures (おくりびと Okuribito?) adalah sebuah film Jepang produksi tahun 2008 dari sutradara Yojiro Takita. Film ini memenangi Academy Award 2008 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Selain itu, film ini juga memenangi Penghargaan Akademi Jepang ke-32 untuk kategori Film Terbaik.[2]

Ide untuk film ini muncul setelah Motoki, dipengaruhi oleh upacara pemakaman yang dilihatnya ketika berkunjung ke India, membaca subjek mengenai kematian dan menemukan Coffinman, sebuah memoir karya Shinmon Aoki. Ia merasa bahwa cerita ini dapat diadaptasi ke dalam sebuah film, dan Departures selesai satu dekade kemudian. Karena sifat orang Jepang bertentangan dengan mereka yang menangani kematian, penyalur film enggan merilis film ini hingga memenangkan Japan Academy Prize for Picture of the Year dan menjadi film lokal yang paling laris. Kesuksesan ini mencapai puncaknya pada tahun 2009, ketika memperoleh penghargaan Academy Award for Best Foreign Language Film.[a]

Film ini memperoleh ulasan yang bervariasi hingga sambutan positif, dengan agregator Rotten Tomatoes sebesar 81% peringkat dari 103 pengulas.[3] Kritikan-kritikan memuji unsur humor film ini, keindahan upacara encoffin, dan kualitas akting pemeran, namun bermasalah dengan prediktabilitas dan sentimentalitas terbuka. Pengulas juga menyorot berbagai tema, namun khususnya fokus pada manusia yang meninggal dibawa ke permukaan dan bagaimana ia mempererat tali kekeluargaan. Kesuksesan Departures menyebabkan tingginya pembangunan tempat-tempat wisata pada lokasi terkait dengan film tersebut dan meningkatkan minat pada upacara encoffin, dan adaptasi cerita pada berbagai media, termasuk manga dan drama panggung.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) adalah seorang pemain cello di sebuah orkestra di Tokyo. Pada suatu hari, ia kehilangan pekerjaan setelah orkestra tempatnya bergabung dibubarkan secara tiba-tiba. Setelah sadar kemampuannya dalam bermain cello hanya biasa-biasa saja, ia memutuskan untuk mengakhiri karier sebagai pemusik. Cello yang dulu dibeli seharga 18 juta ¥ dijual. Bersama istrinya, ia pulang ke kota kelahirannya di Sakata, Prefektur Yamagata.

Ketika sedang mencari pekerjaan, ia melihat lowongan kerja dari perusahaan yang sedang mencari orang yang bisa membantu bidang "perjalanan", dan gajinya pun terbilang bagus. Nama perusahaan tersebut adalah NK Agent. Daigo mengira NK Agent adalah sebuah biro perjalanan. Ketika diwawancara, ia baru tahu bahwa NK adalah singkatan untuk noukan (納棺?), yang dalam bahasa Jepang berarti memasukkan ke peti mati. Di tengah kebimbangan, ia langsung diterima bekerja. Sebagai pemikat, ia langsung diberi uang ¥ 20.000 dan direktur langsung menawarkan gaji sebesar 500.000 ¥ per bulan. Daigo tidak bisa menolak lagi, dan setuju untuk bekerja sebagai perias jenazah. Ketika kembali di rumah, ia tidak berani berterus terang kepada istrinya. Ia hanya berkata diterima bekerja di perusahaan bidang "upacara". Di tempat kerjanya yang baru, Daigo ditugaskan berperan sebagai jenazah. Rumah duka tempatnya bekerja sedang membuat DVD tentang penjelasan tata cara penanganan jenazah. Pekerjaan pertamanya adalah menangani wanita tua yang meninggal dalam kesendirian, dan jenazahnya baru ditemukan dua minggu setelah meninggal. Daigo ingin minta berhenti, namun sulit baginya karena ia terus menerima uang setiap hari. Daigo akhirnya memutuskan untuk terus bekerja, dan mulai menyukai pekerjaan barunya.

Pada suatu hari, DVD yang berisi Daigo sedang berperan sebagai jenazah ditonton oleh istrinya, dan rahasianya sebagai petugas rumah duka terbongkar. Daigo lalu diminta berhenti bekerja. Permintaan sang istri tidak didengar Daigo hingga sang istri purik, pulang ke rumah orang tua. Salah seorang kawan dekat bernama Yamashita juga ikut tidak mau lagi berteman dengan Daigo. Setelah beberapa lama, sang istri kembali, dan memberi tahu dirinya sedang hamil. Istri Daigo ternyata masih meminta Daigo untuk berhenti bekerja. Tiba-tiba, ada telepon dari kantor tempat Daigo bekerja. Ibu Yamashita meninggal dunia, dan Daigo diminta untuk menanganinya.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Produksi[sunting | sunting sumber]

Latar belakang kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Prosesi pemakaman Jepang umumnya dilakukan dalam tata cara ritual agama Buddha.[4] Saat mempersiapkan pemakaman, tubuh mayat dibasuh dan rongga-rongga tubuh ditutupi dengan kapas atau kain kasa. Ritual encoffin (disebut dengan nōkan, bermakna keberangkatan), jarang dilakukan, dan hanya dilakukan di daerah pinggiran.[5] Upacara tersebut bukan sebuah standar, namun umumnya melibatkan pemeriksa tubuh jenazah yang profesional (disebut nōkanshi), yang mempersiapkan tubuh jenazah, memakaikan pakaian putih, dan kadang kala memakaikan riasan wajah. Jenazah itu lalu diletakkan di atas es kering dalam peti mati, bersama dengan barang-barang pribadi yang diperlukan dalam perjalanan ke akhirat.[6][7]

Meskipun pentingnya ritual kematian, dalam budaya tradisional Jepang subjek dianggap tidak suci karena semuanya terkait dengan kematian diduga menjadi sumber kegare (kotoran). Setelah bersentuhan dengan jenazah, orang tersebut harus menyucikan diri melalui ritual pemurnian.[8] Orang yang bekerja di dekat jenazah, seperti pemeriksa mayat, dianggap tidak suci, dan selama era feodal mereka yang bekerja dengan kematian menjadi burakumin (tak boleh disentuh), dan dipaksa untuk tinggal di dusun mereka sendiri dan didiskriminasikan oleh masyarakat luas. Meskipun pergeseran budaya sejak Restorasi Meiji tahun 1868, stigma kematian masih memiliki kekuatan yang cukup besar dalam masyarakat Jepang, dan diskriminasi terhadap mereka yang tak boleh disentuh terus menerus berlaku dalam masyarakat.[9]

Hingga tahun 1972, sebagian besar kematian ditangani oleh keluarga, rumah duka, atau nōkanshi. Pada 2014, sekitar 80% kematian yang terjadi di rumah sakit, persiapan jenazah sering dilakukan oleh staf rumah sakit; dalam kasus tersebut, keluarga sering tidak melihat tubuh sampai siap untuk dimakamkan.[10] Sebuah survei tahun 1998 menemukan bahwa 29,5% dari penduduk Jepang percaya adanya kehidupan lain setelah kematian, dan selanjutnya 40% menyatakan ingin percaya akan hal itu; keyakinan tertinggi terjadi di kalangan muda. Kepercayaan akan adanya jiwa (54%) dan hubungan antara dunia yang hidup dan yang mati (64,9%) adalah hal yang umum.[11]

Konsep dan praproduksi[sunting | sunting sumber]

Pada awal tahun 1990-an, Motoki yang berusia 27 tahun dan temannya berkunjung ke India; sebelum berangkat, ia membaca buku Momento Mori (Ingatlah bahwa engkau akan mati) karangan Shin'ya Fujiwara.[12] Ketika di India, ia mengunjungi Varanasi, di mana ia melihat sebuah upacara di mana jenazah dikremasi dan abunya diapungkan di Sungai Gangga. Peristiwa ini sangat memberi bekas dalam ingatan Motoki.[12] Ketika ia kembali ke Jepang, ia membaca banyak buku mengenai kematian, dan pada tahun 1993, ia menulis sebuah buku mengenai hubungan antara hidup dan mati: Tenkuu Seiza–Hill Heaven.[12] Di antara buku yang dibaca olehnya, salah satunya adalah Coffinman: The Journal of a Buddhist Mortician karangan Shinman Aoki. Motoki berkata bahwa ia menemukan sebuah rasa misteri dan erotisisme yang dekat dengan profesi yang dekat dengan dunia perfilman.[12]

Pendanaan untuk proyeknya sulit diperoleh karena berkenaan dengan hal tabu (mengenai kematian), dan kru harus berusaha mendekatkan diri dengan beberapa perusahan sebelum Departures disetujui oleh Toshiaki Nakazawa dan Yasuhiro Mase.[13][14] Menurut sutradara film, Yojiro Takita, pertimbangan dalam mengambil film ini adalah usia para kru: "kita sampai pada titik tertentu dalam hidup kita di mana kematian naik menjadi sebuah alasan di sekitar kita". Kundō Koyama merupakan penulis naskah dalam film ini, menjadi pengalaman pertama untuk sebuah film karangan; pengalamannya sebelum ini adalah penulis naskah untuk televisi dan panggung.[15] Takita, yang baru membangun kariernya dalam film merah muda sebelum memasuki arus pembuata film pada tahun 1986 dengan Comic Magazine, mengambil peran sutradara pada tahun 2006, setelah produser Toshiaki Nakazawa memberikannya sebuah draf naskah pertama.[12][13] Dalam wawancara setelah itu, ia menyatakan, "Saya ingin membuat sebuah film dari sudut pandang orang yang berhubungan dengan sesuatu yang begitu universal dan belum dipandang rendah, dan bahkan belum didiskriminasi."[16] Walaupun ia mengetahui perihal upacara encoffin, namun ia sama sekali belum pernah melihat prosesinya secara langsung.[5]

Produksi film ini memakan waktu selama 10 tahun, dan pengerjaan hanya diadaptasi dari Coffinman;[17] versi lanjutan dari naskah dikerjakan secara bersama-sama oleh pemeran dan kru film. Walaupun aspek keagamaan dari pemakaman sangat pentingan dalam karya asli, di dalam film tersebut tidak ditampilkan. Hal ini disebabkan karena pemfilman dilakukan di Yamagata dan bukan di prefektur Aoki berasal, sehingga menyebabkan ketagangan antara staf produksi dan pengarang. Aoki menyatakan keprihatinan bahwa film ini tidak dapat menunjukkan "nasib akhir orang yang meninggal".[18] Edisi pertama buku tersebut dibagi menjadi tiga bagian; bagian ketiga, "Cahaya dan Kehidupan", merupakan sebuah renungan Buddha bercorak esai mengenai kehidupan dan kematian. Aoki percaya bahwa pendekatan humanistik film tidak jauh dari aspek keagamaan yang terpusat pada penekanan pada buku dalam menjaga hubungan antara orang yang hidup dan yang telah meninggal sehingga ia merasa hanya agama yang dapat memberikan – dan menolak mencantumkan namanya dan bukunya untuk digunakan.[19] Untuk judul bukunya yang baru, Koyama menciptakan istilah okuribito sebagai sebuah eufemisme untuk nōkanshi, yang berasal dari kata okuru ("mengirimkan") dan hito ("orang").[7]

Walaupun buku dan film ini memiliki dasar pemikiran yang sama, detail dalam keduanya sangat berbeda; Aoki menyandangi perubahan-perubahan itu kepada studio yang membuat cerita agar lebih menjual.[7] Keduanya memilih seorang protagonis yang bertahan dalam kegelisahan dan prasangka karena ia bekerja sebagai nōkanshi,[19] yang mengalami perkembangan kepribadian sebagai hasil dari pengalamannya, dan menemukan makna kehidupan ketika dihadapkan dengan kematian. Dalam film dan buku, karakter utama menghadapi prasangka sosial dan kesalahpahaman mengenai pekerjaannya. Dalam Coffinman, protagonis adalah seorang yang memiliki sebuah kafe yang sudah bangkrut; dalam perselisihan dengan istrinya, ia menemukan sebuah iklan lowongan pekerjaan sebagai nōkanshi dalam surat kabar. Ia bangga dengan pekerjaannya itu ketika menghadapi jenazah mantan pacarnya. Koyama mengganti protagonis dari pemilik bar menjadi seorang pemain cello karena ia ingin menghadirkan orkestra cello dalam musik filmnya. Perbedaan lainnya adalah pergerakan latar cerita dari Toyama ke Yamagata untuk memudahkan perekaman film, sehingga membuat "surat batu" menjadi bagian besar dari alur cerita, dan menghindari adegan yang berat, seperti adegan mengenai agama dan adegan pembicaraan di mana Aoki melihat "cahaya" dari segerombolan belatung.[19] Koyama juga menambahkan subalur di mana Daigo mampu memaafkan mendiang ayahnya; diambil dari cerita novel yang ia tulis, itu dimaksudkan untuk menutup cerita dengan "beberapa makna kebahagiaan".[7]

Pemilihan pemeran[sunting | sunting sumber]

Ryōko Hirosue, yang awalnya berkarya dengan Takita, berperan sebagai Mika.

Sejak usia 40 tahunan dan membangun reputasinya sebagai seorang yang realis, berperan sebagai Daigo.[20] Aktor kawakan Tsutomu Yamazaki terpilih untuk memerankan Sasaki;[13] Takita pernah bekerja sama dengan Yamazaki dalam We Are Not Alone (1993). Meskipun karakter Mika pada awalnya direncanakan memiliki usia yang sama seperti Daigo, peran itu kemudian diberikan kepada seorang penyanyi pop Ryoko Hirosue, yang sebelumnya berperan dalam film Takita berjudul Himitsu pada tahun 1999. Dalam wawancara pada tahun 2009, Takita menyatakan bahwa ia telah memilih "semua orang yang ada dalam daftar yang ia inginkan".[21]

Motoki belajar seni encoffin dari seorang ahli mayat, dan dibantu dalam upacara encoffin; ia lalu mengatakan bahwa pengalaman mengajarinya dengan "sebuah rasa yang bertujuan … untuk mencoba menggunakan sebanyak mungkin kehangatan manusia untuk mengembalikan [jiwa yang telah meninggal] sebagai keberadaan yang hidup bagi keluarganya."[14] Motoki terus-menerus berlatih dengan manajer bakatnya sampai ia telah menguasai prosedur gerakan yang halus dibandingkan dengan upacara minum teh Jepang.[12] Takita menghadiri upacara pemakaman untuk memahami perasaan keluarga yang ditinggalkan, dan Yamazaki tidak pernah ikut dalam latihan tersebut. Motoki juga belajar bagaimana memainkan cello untuk penampilan dalam bagian awal film itu.[17]

Untuk memberikan peranan jenazah yang tampil seperti aslinya, kru film memilih peran ekstra yang dapat berperan sebaik mungkin. Untuk pemilik rumah pemandian Tsuyako Yamashita, hal ini tidak memungkinkan karena kebutuhan untuk melihatnya masih bernyawa terlebih dahulu, dan pencarian pemeran pengganti tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya, kru film menggunakan efek digital untuk membenamkan gambar diam pemeran selama adegan pemakaman untuk membuat efek yang lebih realistis.[21]

Perekaman film dan produksi akhir[sunting | sunting sumber]

Organisasi nirlaba Sakata Location Box dibangun pada bulan Desember 2007 untuk menangani masalah-masalah di lokasi perekaman film seperti mencari pemeran tambahan dan bernegosiasi tempat. Setelah memutuskan akan melakukan pemfilman di Sakata, staf Location Box memiliki waktu selama dua bulan untuk mempersiapkan anggota sebanyak 80 orang untuk dijadikan kru film.[22] Negosiasi berlangsung lambat, karena pemilik properti tidak tertarik setelah mendengar bahwa tempatnya akan digunakan untuk adegan pemakaman; mereka yang setuju bersikeras agar proses pemfilman dilakukan di luar jam kerja.[22]

Bekas restoran ini digunakan sebagai lokasi kantor NK Agent.

Toyama merupakan latar film Coffinman dan prefektur Takita berasal, namun pemfilman dilakukan di Yamagata; hal ini disebabkan Asosiasi Nokan nasional, yang berkantor di Hokkaido, memiliki cabang di Sakata.[12] Beberapa adegan awal berlatar lanskap salju direkam pada tahun 2007, dan perekaman utama dimulai pada April 2008, berlangsung selama 40 hari.[12] Lokasi pemfilman berlangsung di Kaminoyama, Sakata, Tsuruoka, Yuza, dan Amarume.[12] Kantor Agensi NK difilmkan dalam bangunan tiga lantai bergaya Amerika di Sakata yang dibangun pada Periode Meiji dan Periode Taisho (1880-an–1920-an). Restoran bernama Kappo Obata ditutup pada tahun 1998. Kafe Kobayashi, Concerto, terletak di Kaminoyama. Dari 100 kandidat, Takita memilihnya karena suasana bangunan kuno dengan pemandangan jelas ke sungai terdekat dan dikelilingi pula oleh pegunungan.[23]

Lagu latar film ini diciptakan oleh Joe Hisaishi, seorang komposer yang telah dikenal oleh dunia untuk karyanya dengan Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Sebelum pemfilman dimulai, Takita memintanya untuk menyiapkan sebuah lagu latar yang mewakili adegan perpisahan Daigo dan ayahnya.[24] Berkat adanya musik cello pada awal film, Hisaishi menekankan instrumen itu dalam lagu latarnya;[25] ia memberikan upaya memusatkan sebuah musik di sekeliling cello adalah salah satu hal yang sulit yang pernah ia lakukan.[24] Lagu tersebut dimainkan selama pemfilman, yang menurut Takita, "memberikan visualisasi emosi [kepada kru] dalam film" sehingga memberikan hasil yang baik pada kualitas karya akhir nantinya.[24]

Hingga akhir produksi, Takita mendeklarasikan Departures sebagai karya yang sempurna, dan memuji para kru film dalam mengembangkan isi dan kualitas film.[12] Shinmon Aoki juga memuji penampilan Motoki dan kemampuannya dalam menampilkan pentingnya sebuah keluarga dan hubungan antarpersonal, walaupun ia kecewa dengan aspek religius yang dihilangkan dalam cerita film tersebut.[19]

Gaya[sunting | sunting sumber]

Upacara penataan jenazah dalam Departures menerima berbagai macam komentar.[26] Mike Scott, dalam The Times-Picayune, mengatakan bahwa adegan-adegan upacara tersebut sangat menyentuh dan indah, dan Nicholas Barber dalam The Independent mendeskripsikannya dengan "elegan serta bermartabat".[27] James Adams dalam The Globe and Mail menyatakan bahwa hal tersebut merupakan ritual dari ketenangan, anugerah yang dapat menghipnotis, dengan kemahiran yang dapat menyihir."[28] Seiring berlalunya film tersebut, Paul Byrnes dari The Sydney Morning Herald berpendapat bahwa penonton dapat memperoleh pengetahuan serta pentingnya upacara tersebut.[26] Penonton melihat bahwa upacara itu bukan hanya mengenai bagaimana mempersiapkan jenazah, namun juga membawa martabatnya dalam kematian, menghargai orang yang meninggal tersebut dan menghibur bagi keluarga yang sedang berkabung.[29]

Terdapat sebuah idealisasi dari nōkanshi yang ditampilkan dalam film ini. Semuanya kecuali satu hal, orang yang meninggal adalah orang yang usianya masih muda atau mereka yang dibuat-buat, sehingga penonton dapat mengambil kebijaksanaan dalam mentoleransikan gambar-gambar tersebut.[7] Jenazah yang belum ditemukan selama beberapa hari atau jenazah yang bertubuh kurus atau memiliki luka dan memar tidak pernah ditampilkan dalam film.[7] Ahli mengenai Jepang, Mark R. Mullins, menulis bahwa rasa syukur yang ditampilkan dalam film ini mungkin tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata; menurut Coffinman, tidak ada strata yang paling rendahdaripada perawat mayat, dan sebenarnya masyarakat Jepang takut dengan penata jenazah dan pengremasi jenazah seperti mereka takut dengan kematian dan mayat.[18]

Simbolisme ditemukan pada penggunaan sakura dalam film tersebut.

Dalam sebuah montase, adegan di mana Daigo memainkan cello pada masa kanak-kanak ketika duduk di halaman terbuka diselingi oleh adegan upacara penataan jenazah. Byrnes percaya bahwa adegan tersebut sengaja diciptakan untuk menampilkan emosional dalam film,[26] dan Roger Ebert, dari Chicago Sun-Times memandang hal itu sebagai adegan fantasi yang bagus yang disisipkan di antara adegan biasa.[30] Yoshiko Okuyama dari Universitas Hawaii menemukan bahwa gerakan cekatan Daigo dalam memainkan cello mencerminkan profesionalisme tingkat tinggi yang ia capai.[7] Beberapa pengulas, seperti Leigh Paatsch dari Herald Sun, mempertanyakan pentingnya adegan itu. Melalui lagu teman film ini, permainan musik cello sangatlah dominan. Takita menyatakan

Byrnes menemukan bahwa Departures menggunakan simbol sakura, bunga yang mekar setelah musim dingin hanya untuk melayukan dirinya setelahnya, untuk menggambarkan kefanaan sebuah kehidupan; melalui pemahaman ini, ia menulis bahwa masyarakat Jepang mencoba untuk menegaskan keberadaan diri mereka. Simbol alami ditampilkan lebih lanjut melalui perubahan musim, yang memberi kesan perubahan emosional dengan halus dalam karakter,[26] juga batu-batu surat, yang menggambarkan cinta, hubungan, dan jiwa pemimpin yang diwariskan dari sebuah generasi ke generasi selanjutnya.[32] Latar film ini digunakan pula untuk menyampaikan sensasi berbeda, termasuk suasana pedesaan yang sunyi dan suasana pribadi dari rumah mandi umum.[33] Warna putih, yang dibawakan oleh salju, krisantium, dan objek lain, merupakan hal yang menonjol dalam film; Okuyama mengacukan bahwa ini, bersama-sama dengan musik klasik dan gerakan tangal yang diritualkan, mewakili kesucian dan kemurnian dari upacara kematian.[7]

Departures menggabungkan aspek humor dalam adegan di mana Ebert mengacukan bahwa hal ini digunakan untuk mengaburkan ketakutan penonton.[27][30] Betsy Sharkey, dari Los Angeles Times, beropini bahwa melalui penggunaan humor, film ini menghindari "terlalu gelap" dan bukan menggabungkan imajinasi dan ironi.[34] Humor ini ditunjukkan dalam berbagai keadaan, seperti adegan di mana Daigo yang pemalu, hanya mengenakan sebuah lampin dewasa, adalah adalah model untuk video pembelajaran mengenai proses penataan jenazah, begitu pula dengan adegan di mana Daigo menyadari bahwa orang yang ia persiapkan adalah seorang transwanita.[28] Takita menyatakan bahwa penambahan unsur humor merupakan hal yang disengaja karena manusia pada dasarnya menyukai hal yang lucu, dan humor itu tidak bertentangan dengan unsur gelap film tersebut.[35]

Tema[sunting | sunting sumber]

Beberapa kritikan mengenai tema kematian dilontarkan untuk film ini. Scott menyoroti perbedaan antara budaya tabu kematian dan nilai pekerjaan yang terkait dengannya. Ia juga menandai peran dari penata jenazah dalam menampilkan adegan keibaan dengan menunjukkan jenazah dengan cara menyimpan kenangan dari kehidupan mereka.[26] Pada awalnya, Daigo dan keluarganya tidak dapat mengatasi budaya tabu dan ketersinggungan masyarakat jika dikaitkan dengan kematian. Daigo menjauhkan dirinya dari istri dan teman-temannya karena nilai tradisional ini.[33] Pada akhirnya, melalui karyanya Daigo menemukan penyelesaian, dan seperti Peter Howell dari Toronto Star simpulkan, penonton menyadari bahwa kematian mungkin akhir dari kehidupan, namun bukan akhir dari umat manusia seluruhnya.[26] Okuyama menulis pula, film ini (dan buku yang menjadi dasar ceritanya) menjadi sebuah pembangkangan yang halus dan gigih menghadapi diskriminasi di mana orang-orang yang menghadapi kematian terus-menerus menghadapinya dalam era Jepang modern: kematian merupakan bagian normal kehidupan, bukan sesuatu yang memuakkan.[7]

Sejalan dengan tema kematian, Takita percaya bahwa Departures merupakan cerita tentang kehidupan yang mencari rasa kemanusiaan yang hilang;[36] Daigo memperoleh perspektif dalam hidupnya dan mengetahui perbedaan kehidupan orang-orang hanya setelah mempertemukannya dengan kematian. Kehidupan ini termasuk ikatan kekeluargaan: Kedatangan Daigo kepada ayahnya untuk berdamai merupakan motif utama, adegan penata jenazah memfokuskan pada kehidupan anggota keluarga daripada jenazah itu sendiri, dan bahkan di kantor NK Agent, pembicaraan sering kali berputar dan membicarakan masalah keluarga. Kehamilan Mika juga sebagai pembangkit agar hubungannya dapat kembali dengan Daigo.[19]

Ebert menulis bahwa, seperti film Jepang lainnya seperti Tokyo Story (1953) dan The Funeral (1984), Departures fokus pada efek kematian pada orang yang selamat; kehidupan sesudah mati tidak banyak didiskusikan.[30] Ia menganggap bahwa indikasi penerimaan kematian dalam budaya Jepang ini adalah sesuatu yang harus dipenuhi tanpa harus merasa berduka secara berlebihan, namun cukup dengan merenung.[30] Takita menyatakan pula bahwa ia berniat untuk fokus pada dialog antara orang yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkannya.[35] Film ini menimbulkan pertanyaan tentang kehidupan setelah mati: kremasi menyamakan kematian dengan "sebuah gerbang", dan Okuyama merasa bahwa orang yang mengremasi merupakan penunggu pintu gerbang dan penata jenazah adalah orang yang memandu mereka.[7]

Byrnes menemukan bahwa Departures menyebabkan orang-orang bertanya sejauh mana efek modernitas budaya Jepang mencatat sikap dan nilai tradisional arus bawah seperti yang ditampilkan dalam film ini. Okuyama menyatakan bahwa melalui film tersebut, Takita sedang mengisi kekosongan jiwa yang disebabkan oleh penyimpangan tradisi dalam era Jepang modern.[7] Tadao Sato menghubungkan tema modernisasi ini sebagai perjalanan evolusi masyarakat Jepang tentang hidup dan mati. Ia menilai perlakuan nōkan dalam film ini sebagai nilai seni daripada upacara keagamaan untuk merefleksikan sikap agnostik Jepang modern.[19]

Perilisan[sunting | sunting sumber]

Adaptasi dan media lainnya[sunting | sunting sumber]

Komposer film tersebut Joe Hisaishi berkarya dengan Ai pada lagu image "Okuribito/So Special".

Sebelum Departures tayang perdana, sebuah adaptasi manga karya Akira Sasō diserialisasikan dalam dua belas instalment dalam majalah dwi-mingguan Big Comic Superior, dari Februari sampai Agustus 2008.

Pada 10 September 2008, tiga hari sebelum penayangan perdana Jepang Departures, sebuah album lagu tema untuk sembilan belas track yang berasal dari film tersebut dan menampilkan penampilan orkestra dari para anggota Metropolitan Tokyo dan Orkestra Simfoni NHK dirilis oleh Universal Music Japan.[37] Penyanyi pop Ai menyediakan lirik-lirik untuk musik karya Hisaishi untuk lagu image "Okuribito/So Special"; yang ditampilkan oleh Ai dengan aransemen cello dan orkestra, singel tersebut dirilis oleh Universal Sigma pada 10 September 2008 bersama dengan sebuah video promosional.[38] Lembar musik untuk soundtrack film tersebut diterbitkan oleh KMP pada 2008 (untuk cello dan piano) dan Onkyō pada 2009 (untuk cello, biola, dan piano).[32]

Shinobu Momose, seorang penulis yang mengkhususkan diri dalam novelisasi, mengadaptasi Departures sebagai sebuah novel. Novel tersebut diterbitkan oleh Shogakukan pada 2008. Pada tahun tersebut, perusahaan tersebut juga merilis Ishibumi (Batu Tulis), sebuah buku berilustrasi tentang tema-tema pada film tersebut yang berkisah dari sudut pandang sebuah batu berbicara; buku tersebut ditulis oleh Koyama dan diilustrasikan oleh Seitarō Kurota.[36] Pada tahun berikutnya, Shogakukan menerbitkan sebuah edisi dari konsep permainan latar pertama Koyama.[36] Sebuah versi permainan panggung dari film tersebut, yang juga berjudul Departures, ditulis oleh Koyama dan disutradarai oleh Takita. Versi permainan panggung tersebut melakukan debut di Teater Akasaka ACT pada 29 Mei 2010, yang menampilkan aktor kabuki Nakamura Kankurō sebagai Daigo dan Rena Tanaka sebagai Mika.[39]

Perilisan DVD[sunting | sunting sumber]

Perilisan DVD dual-layer, dengan fitus khusus termasuk cuplikan singkat, dokumentasi pembuatan film, dan rekaman upacara encoffin, dilakukan di Jepang pada tanggal 18 Maret 2009.[40] Edisi DVD Amerika Utara, termasuk wawancara dengan sutradara, dirilis oleh Koch Vision pada tanggal 12 Januari 2010; film tersebut tidak disertai pengisi suara bahasa Inggris, namun hanya disediakan teks berbahasa Inggris dan suara berbahasa Jepang. Perilisan dalam bentuk Blu-ray dilakukan pada bulan Mei 2010.[41] Perilisan untuk edisi rumahan ini mendapat ulasan bermacam-macam. Franck Tabouring dari DVD Verdict sangat memuji film dan transfer digital tersebut, mengingat gambar yang bersih dan suara yang jernih (khususnya musik) "sebuah kenikmatan ketika mendengarnya". Thomas Spurlin, yang menulis untuk DVD Talk, memberikan peringkat rilis ini sebagai "Sangat Dianjurkan", yang fokus pada "pembangkit tenaga yang tidak terduga" dari kualitas film tersebut.[42] Penulis lain dari situs web itu, Jeremy Mathews, menganjurkan pembaca untuk "Melewatkan (film itu)", karena menemukan unsur komedi, terkesan kaku, dan terdapat adegan yang mudah membuat penonton menangis secara berulang-ulang.[43] Kedua pengulas DVD Talk itu setuju bahwa kualitas audio dan visualnya sedikit lagi hampir sempurna, dan mereka juga menyatakan bahwa isi tambahan DVD; Mathews menjelaskan bahwa wawancara dengan sutradara itu sebagai "pertanyaan membosankan dalam dengan cara yang membosankan".[42][43]

Sambutan[sunting | sunting sumber]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Departures meraih penghargaan di berbagai festival film, yang meliputi Audience Choice Award di Festival Film Internasional Hawaii ke-28, Grand Prix des Amériques di Festival Film Dunia Montreal ke-32,[44] dan Film Naratif Terbaik di Festival Film Internasional Palm Springs ke-20.[2][44] Motoki terpilih sebagai aktor terbaik di beberapa acara, yakni di Festival Film Asia,[45] Asia Pacific Screen Awards,[46] Blue Ribbon Awards;[47] ia juga pilihan para pengulas untuk aktor terbaik di Golden Rooster Awards.[48][49] Di Penghargaan Film Hong Kong ke-29, Departures terpilih sebagai Film Asia Terbaik, mengalahkan tiga film Tiongkok dan Ponyo.[50] Setelah acara Penghargaan Film Olahraga Nikkan ke-21, di mana Departures memenangkan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, Takita mengekspresikan rasa terkejut di penghargaan film tersebut, dengan berkata "Aku tidak tahu bagaimana karyaku diterima."[b][51] Pada Desember 2009, film tersebut telah memenangkan 98 penghargaan.[52]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Sebuah kamar yang diset untuk penataan jenazah di dalam film tersebut, dijadikan sebagai tempat wisata

Keberhasilan internasional Departures meraih sambutan dari pers di Jepang, sebagian karena kemenangannya di Academy Awards.[11] Kemenangan tersebut membuat perilisan ulang film tersebut di bioskop-bioskop Jepang dan buku karya Aoki terjual sebanyak lebih dari 230.000 salinan di toko-toko.[18][53]

Catatan penjelas[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sebelum kategori tersebut dibentuk pada 1956, tiga film Jepang meraih penghargaan kehormatan: Rashomon (Akira Kurosawa; 1951), Gate of Hell (Teinosuke Kinugasa; 1954), dan Samurai, The Legend of Musashi (Hiroshi Inagaki; 1955) (MMPAJ). Film hasil kerjasama Jepang-Soviet Dersu Uzala (Akira Kurosawa; 1975) memenangkan penghargaan tersebut, namun film tersebut diwakilkan untuk Uni Soviet (Armstrong).
  2. ^ Asli: "「作品がどういうふうに受け入れられるか分からなかった」と。"

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Box Office Mojo staff.
  2. ^ a b "日本アカデミー賞公式サイト". japan-academy-prize.jp (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 Agustus 2013. Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  3. ^ "Okuribito (Departures) (2009)". rottentomatoes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  4. ^ Daniel Sosnoski (15 Juni 1996). Introduction to Japanese Culture. Tuttle Publishing. p. 70. ISBN 978-0-8048-2056-1. 
  5. ^ a b "Foreign-language film: 'Departures'". latimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  6. ^ "The Purification Process of Death: Mortuary Rites in a Japanese Rural Town". nanzan-u.ac.jp (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  7. ^ a b c d e f g h i j k "Shinto and Buddhist Metaphors in Departures". unomaha.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 Februari 2016. 
  8. ^ Herbert E. Plutschow (1990). Chaos and Cosmos: Ritual in Early and Medieval Japanese Literature. BRILL. p. 30. ISBN 90-04-08628-5. 
  9. ^ Michael Weiner (2004). Race, Ethnicity and Migration in Modern Japan: Indigenous and colonial others. Taylor & Francis. pp. 134–135. ISBN 0-415-20856-4. ID Google Books: NxGTRiFdNQgC. Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  10. ^ 保坂 隆. 医者が考える「見事」な最期の迎え方. 角川書店. p. 58. 
  11. ^ a b "第38回 映画「おくりびと」と日本人の死生観". china.org.cn (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  12. ^ a b c d e f g h i j Takabe, Tsutomu; Wakatsuki, Yūji (2009). もうひとりの「おくりびと [Mō hitori no Okuribito] (dalam bahasa Jepang). Toho Publishing. ISBN 978-4-8094-0786-4. 
  13. ^ a b c "Funereal flick out to reap Japan an Oscar". japantimes.co.jp (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  14. ^ a b "Film – Yojiro Takita's Oscar-Winning ‘Departures’". nytimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 Februari 2016. 
  15. ^ 吉田 就彦. アイデアをカタチにする仕事術: ビジネス・プロデューサーの7つの能力. 東洋経済新報社, 2010. p. 43. ISBN 4-492-04367-5. 
  16. ^ "Departures (Japan) – Hollywood Reporter". hollywoodreporter.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 Februari 2016. 
  17. ^ a b "UPDATE 3-Mortician tale Departures surprises with Oscar". reuters.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 Februari 2016. 
  18. ^ a b c "101-112 - JR35 1&2 Mullins.pdf" (PDF). japanese-religions.jp (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 Februari 2016. 
  19. ^ a b c d e f Tanabe, Hideyuki (2 Maret 2009). "Dai 81-kai Bei Akademī-shō gaikokygo eiga jushō Okuribito" 第81回米アカデミー賞 外国語映画受賞 「おくりびと」 [81st American Academy Awards Foreign-Language Film Winner Okuribito]. Mainichi Shimbun (dalam bahasa Jepang) (Tokyo). p. 9. 
  20. ^ "ガチ!BOUT.52.51 本木雅弘/滝田洋二郎". weeklybiz.us (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  21. ^ a b "Just a Minute With: Japan's Oscar-winning Yojiro Takita". reuters.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  22. ^ a b "映画「おくり 「むかえび" (PDF). f-ric.co.jp (dalam bahasa Jepang). p. 8. Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  23. ^ "おくりびとロケ地ブーム 上山も熱いぞ! - 山形のフリーペーパー やまがたコミュニティ新聞 ONLINE". yamacomi.com (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  24. ^ a b c "Departures. (DVD video, 1900s)". worldcat.org. Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  25. ^ "日本アカデミー賞公式サイト". japan-academy-prize.jp. Diakses tanggal 14 Februari 2016. 
  26. ^ a b c d e f "Departures - Film Reviews". smh.com.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  27. ^ a b "Oscar-winning 'Departures' a surprisingly uplifting examination of loss". nola.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  28. ^ a b "Departures". theglobeandmail.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  29. ^ "'Departures' is an emotionally wrenching trip with a quiet man". latimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  30. ^ a b c d "Departures Movie Review & Film Summary (2009)". rogerebert.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  31. ^ "foreign film, Oscar winner, departures, Yohiro Takita, Oscar". latimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  32. ^ a b "Okuribito : On record (Book, 2009)". worldcat.org (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  33. ^ a b "Departures: Sentimental journey". thestar.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  34. ^ "'Departures' is an emotionally wrenching trip with a quiet man". latimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  35. ^ a b "Departures (Japan)". hollywoodreporter.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  36. ^ a b c "福岡大学人文論叢42-1 - L4201 0057.pdf" (PDF). adm.fukuoka-u.ac.jp (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  37. ^ "久石譲「おくりびと オリジナル・サウンドトラック」". billboard-japan.com (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  38. ^ "『おくりびと』イメージソングでAI×久石譲による異色のコラボレーションが実現!". cinemacafe.net (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  39. ^ "舞台 おくりびと(1/2) - 編集部イチオシ!". asahi.com (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Mei 2013. Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  40. ^ "本年度映画賞総なめ!!『おくりびと』いよいよ3月18日(水)DVDリリース!". cinematopics.com (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  41. ^ "Departures (2008)". allmovie.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  42. ^ a b "Departures : DVD Talk Review of the DVD Video". dvdtalk.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  43. ^ a b "Departures : DVD Talk Review of the DVD Video". dvdtalk.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2016. 
  44. ^ a b "Regent acquires 'Departures' rights". hollywoodreporter.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  45. ^ "Asian Film Awards 2009". asianfilmawards.asia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  46. ^ "Asia Pacific Screen Awards » 2009 Winners Annouced". asiapacificscreenacademy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  47. ^ Sports Nippon staff 2009.
  48. ^ "本木雅弘、自分がおくられる頃“往年の名作”となった「おくりびと」観たい". oricon.co.jp (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  49. ^ "金鸡国际影展举行颁奖典礼_网易新闻中心". 163.com (dalam bahasa Mandarin). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  50. ^ Hong Kong Film Awards Association.
  51. ^ "作品賞&監督賞ー「おくりびと」滝田洋二郎監督 - シネマ 日刊スポーツ映画大賞". nikkansports.com (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  52. ^ "A decade when Japan's cinema stood up to Hollywood menace". japantimes.co.jp (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Februari 2016. 
  53. ^ "光岡自動車の霊きゅう車 「おくりぐるま」を発売". 47news.jp. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Agustus 2014. Diakses tanggal 17 Februari 2016. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
The Counterfeiters
 Austria
Film Berbahasa Asing Terbaik
2008
Diteruskan oleh:
The Secret in Their Eyes
 Argentina