Departures

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Departures
Okuribito (2008).jpg
Poster film Okuribito
Sutradara Yojiro Takita
Penulis Kundo Koyama
Pemeran Masahiro Motoki
Ryoko Hirosue
Tsutomu Yamazaki
Kimiko Yo
Kazuko Yoshiyuki
Takashi Sasano
Musik Joe Hisaishi
Sinematografi Takeshi Hamada
Penyunting Akimasa Kawashima
Distributor Shochiku
Regent Releasing (AS)
Tanggal rilis
Bendera Jepang 13 September 2008
Durasi
131 menit
Negara Jepang
Bahasa bahasa Jepang
Pendapatan kotor $70 juta[1]

Departures (bahasa Indonesia: Keberangkatan) (おくりびと Okuribito?) adalah sebuah film Jepang produksi tahun 2008 dari sutradara Yojiro Takita. Film ini memenangi Academy Award 2008 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Selain itu, film ini juga memenangi Penghargaan Akademi Jepang ke-32 untuk kategori Film Terbaik.[2]

Ide untuk film ini muncul setelah Motoki, dipengaruhi oleh upacara pemakaman yang dilihatnya ketika berkunjung ke India, membaca subjek mengenai kematian dan menemukan Coffinman, sebuah memoir karya Shinmon Aoki. Ia merasa bahwa cerita ini dapat diadaptasi ke dalam sebuah film, dan Departures selesai satu dekade kemudian. Karena sifat orang Jepang bertentangan dengan mereka yang menangani kematian, penyalur film enggan merilis film ini hingga memenangkan Japan Academy Prize for Picture of the Year dan menjadi film lokal yang paling laris. Kesuksesan ini mencapai puncaknya pada tahun 2009, ketika memperoleh penghargaan Academy Award for Best Foreign Language Film.[a]

Film ini memperoleh ulasan yang bervariasi hingga sambutan positif, dengan agregator Rotten Tomatoes sebesar 81% peringkat dari 103 pengulas.[3] Kritikan-kritikan memuji unsur humor film ini, keindahan upacara penataan jenazah, dan kualitas akting pemeran, namun bermasalah dengan prediktabilitas dan sentimentalitas terbuka. Pengulas juga menyorot berbagai tema, namun khususnya fokus pada manusia yang meninggal dibawa ke permukaan dan bagaimana ia mempererat tali kekeluargaan. Kesuksesan Departures menyebabkan tingginya pembangunan tempat-tempat wisata pada lokasi terkait dengan film tersebut dan meningkatkan minat pada upacara penataan jenazah, dan adaptasi cerita pada berbagai media, termasuk manga dan drama panggung.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) adalah seorang pemain cello di sebuah orkestra di Tokyo. Pada suatu hari, ia kehilangan pekerjaan setelah orkestra tempatnya bergabung dibubarkan secara tiba-tiba. Setelah sadar kemampuannya dalam bermain cello hanya biasa-biasa saja, ia memutuskan untuk mengakhiri karier sebagai pemusik. Cello yang dulu dibeli seharga 18 juta ¥ dijual. Bersama istrinya, ia pulang ke kota kelahirannya di Sakata, Prefektur Yamagata.

Ketika sedang mencari pekerjaan, ia melihat lowongan kerja dari perusahaan yang sedang mencari orang yang bisa membantu bidang "perjalanan", dan gajinya pun terbilang bagus. Nama perusahaan tersebut adalah NK Agent. Daigo mengira NK Agent adalah sebuah biro perjalanan. Ketika diwawancara, ia baru tahu bahwa NK adalah singkatan untuk noukan (納棺?), yang dalam bahasa Jepang berarti memasukkan ke peti mati. Di tengah kebimbangan, ia langsung diterima bekerja. Sebagai pemikat, ia langsung diberi uang ¥ 20.000 dan direktur langsung menawarkan gaji sebesar 500.000 ¥ per bulan. Daigo tidak bisa menolak lagi, dan setuju untuk bekerja sebagai perias jenazah. Ketika kembali di rumah, ia tidak berani berterus terang kepada istrinya. Ia hanya berkata diterima bekerja di perusahaan bidang "upacara". Di tempat kerjanya yang baru, Daigo ditugaskan berperan sebagai jenazah. Rumah duka tempatnya bekerja sedang membuat DVD tentang penjelasan tata cara penanganan jenazah. Pekerjaan pertamanya adalah menangani wanita tua yang meninggal dalam kesendirian, dan jenazahnya baru ditemukan dua minggu setelah meninggal. Daigo ingin minta berhenti, namun sulit baginya karena ia terus menerima uang setiap hari. Daigo akhirnya memutuskan untuk terus bekerja, dan mulai menyukai pekerjaan barunya.

Pada suatu hari, DVD yang berisi Daigo sedang berperan sebagai jenazah ditonton oleh istrinya, dan rahasianya sebagai petugas rumah duka terbongkar. Daigo lalu diminta berhenti bekerja. Permintaan sang istri tidak didengar Daigo hingga sang istri pulang ke rumah orang tua. Salah seorang kawan dekat bernama Yamashita juga ikut tidak mau lagi berteman dengan Daigo. Setelah beberapa lama, sang istri kembali, dan memberi tahu dirinya sedang hamil. Istri Daigo ternyata masih meminta Daigo untuk berhenti bekerja. Tiba-tiba, ada telepon dari kantor tempat Daigo bekerja. Ibu Yamashita meninggal dunia, dan Daigo diminta untuk menanganinya. Daigo mempersiapkan jenazahnya di depan keluarga Yamashita dan Mika, yang mengenal pemilik permandian umum tersebut. Ritual tersebut mendatangkan sanjungan dari seluruh orang yang hadir, dan Mika berhenti meminta Daigo mengubah pekerjaannya.

Beberapa waktu kemudian, mereka mengetahui bahwa ayah Daigo meninggal dunia. Daigo dan Mika pergi ke desa lainnya untuk melihat jenazahnya. Daigo mula-mula tak mengenalinya, namun memberikan tawaran saat mengetahui bahwa para pekerja pemakaman lokal tak memperdulikan jenazah tersebut. Ia memutuskan untuk mengenakannya busana. Saat hal tersebut dilakukan, ia menemukan sepucuk surat yang ia berikan kepada ayahnya, yang berada di genggaman sang almarhum. Ia pun kembali teringat akan kenangan masa kecilnya dengan ayahnya, dan setelah ia menyelesaikan upacara tersebut, Daigo membacakan surat tersebut kepada bayi dalam kandungan Mika.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Produksi[sunting | sunting sumber]

Latar belakang kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Prosesi pemakaman Jepang umumnya dilakukan dalam tata cara ritual agama Buddha.[4] Saat mempersiapkan pemakaman, tubuh mayat dibasuh dan rongga-rongga tubuh ditutupi dengan kapas atau kain kasa. Ritual pemakaman (disebut dengan nōkan, bermakna keberangkatan), jarang dilakukan, dan hanya dilakukan di daerah pinggiran.[5] Upacara tersebut bukan sebuah standar, namun umumnya melibatkan pemeriksa tubuh jenazah yang profesional (disebut nōkanshi)[b], yang mempersiapkan tubuh jenazah, memakaikan pakaian putih, dan kadang kala memakaikan riasan wajah. Jenazah itu lalu diletakkan di atas es kering dalam peti mati, bersama dengan barang-barang pribadi yang diperlukan dalam perjalanan ke akhirat.[6]

Meskipun pentingnya ritual kematian, dalam budaya tradisional Jepang subjek dianggap tidak suci karena semuanya terkait dengan kematian diduga menjadi sumber kegare (kotoran). Setelah bersentuhan dengan jenazah, orang tersebut harus menyucikan diri melalui ritual pemurnian.[7] Orang yang bekerja di dekat jenazah, seperti pemeriksa mayat, dianggap tidak suci, dan selama era feodal mereka yang bekerja dengan kematian menjadi burakumin (tak boleh disentuh), dan dipaksa untuk tinggal di dusun mereka sendiri dan didiskriminasikan oleh masyarakat luas. Meskipun pergeseran budaya sejak Restorasi Meiji tahun 1868, stigma kematian masih memiliki kekuatan yang cukup besar dalam masyarakat Jepang, dan diskriminasi terhadap mereka yang tak boleh disentuh terus menerus berlaku dalam masyarakat.[c][8]

Hingga tahun 1972, sebagian besar kematian ditangani oleh keluarga, rumah duka, atau nōkanshi. Pada 2014, sekitar 80% kematian yang terjadi di rumah sakit, persiapan jenazah sering dilakukan oleh staf rumah sakit; dalam kasus tersebut, keluarga sering tidak melihat tubuh sampai siap untuk dimakamkan.[9] Sebuah survei tahun 1998 menemukan bahwa 29,5% dari penduduk Jepang percaya adanya kehidupan lain setelah kematian, dan selanjutnya 40% menyatakan ingin percaya akan hal itu; keyakinan tertinggi terjadi di kalangan muda. Kepercayaan akan adanya jiwa (54%) dan hubungan antara dunia yang hidup dan yang mati (64,9%) adalah hal yang umum.[10]

Konsep dan praproduksi[sunting | sunting sumber]

Pada awal tahun 1990-an, Motoki yang berusia 27 tahun dan temannya berkunjung ke India; sebelum berangkat, ia membaca buku Momento Mori (Ingatlah bahwa engkau akan mati) karangan Shin'ya Fujiwara.[11] Ketika di India, ia mengunjungi Varanasi, di mana ia melihat sebuah upacara di mana jenazah dikremasi dan abunya diapungkan di Sungai Gangga.[12] Peristiwa ini sangat memberi bekas dalam ingatan Motoki.[11] Ketika ia kembali ke Jepang, ia membaca banyak buku mengenai kematian, dan pada tahun 1993, ia menulis sebuah buku mengenai hubungan antara hidup dan mati: Tenkuu Seiza–Hill Heaven.[d][13] Di antara buku yang dibaca olehnya, salah satunya adalah Coffinman: The Journal of a Buddhist Mortician karangan Shinman Aoki. Motoki berkata bahwa ia menemukan sebuah rasa misteri dan erotisisme yang dekat dengan profesi yang dekat dengan dunia perfilman.[e][14]

Pendanaan untuk proyeknya sulit diperoleh karena berkenaan dengan hal tabu (mengenai kematian), dan kru harus berusaha mendekatkan diri dengan beberapa perusahan sebelum Departures disetujui oleh Toshiaki Nakazawa dan Yasuhiro Mase.[15] Menurut sutradara film, Yojiro Takita, pertimbangan dalam mengambil film ini adalah usia para kru: "kita sampai pada titik tertentu dalam hidup kita di mana kematian naik menjadi sebuah alasan di sekitar kita". Kundō Koyama merupakan penulis naskah dalam film ini, menjadi pengalaman pertama untuk sebuah film karangan; pengalamannya sebelum ini adalah penulis naskah untuk televisi dan panggung.[16] Takita, yang baru membangun kariernya dalam film merah muda sebelum memasuki arus pembuatan film pada tahun 1986 dengan Comic Magazine,[f] mengambil peran sutradara pada tahun 2006, setelah produser Toshiaki Nakazawa memberikannya sebuah draf naskah pertama.[17] Dalam wawancara setelah itu, ia menyatakan, "Saya ingin membuat sebuah film dari sudut pandang orang yang berhubungan dengan sesuatu yang begitu universal dan belum dipandang rendah, dan bahkan belum didiskriminasi."[18] Walaupun ia mengetahui perihal upacara encoffin, namun ia sama sekali belum pernah melihat prosesinya secara langsung.[5]

Produksi film ini memakan waktu selama 10 tahun, dan pengerjaan hanya diadaptasi dari Coffinman;[19] versi lanjutan dari naskah dikerjakan secara bersama-sama oleh pemeran dan kru film. Walaupun aspek keagamaan dari pemakaman sangat pentingan dalam karya asli, di dalam film tersebut tidak ditampilkan. Hal ini disebabkan karena pemfilman dilakukan di Yamagata dan bukan di prefektur Aoki berasal, sehingga menyebabkan ketagangan antara staf produksi dan pengarang. Aoki menyatakan keprihatinan bahwa film ini tidak dapat menunjukkan "nasib akhir orang yang meninggal".[20] Edisi pertama buku tersebut dibagi menjadi tiga bagian; bagian ketiga, "Cahaya dan Kehidupan", merupakan sebuah renungan Buddha bercorak esai mengenai kehidupan dan kematian, yang absen dari film tersebut.[21] Aoki percaya bahwa pendekatan humanistik film tidak jauh dari aspek keagamaan yang terpusat pada penekanan pada buku dalam menjaga hubungan antara orang yang hidup dan yang telah meninggal sehingga ia merasa hanya agama yang dapat memberikan – dan menolak mencantumkan namanya dan bukunya untuk digunakan.[22] Untuk judul bukunya yang baru, Koyama menciptakan istilah okuribito sebagai sebuah eufemisme untuk nōkanshi, yang berasal dari kata okuru ("mengirimkan") dan hito ("orang").[23]

Walaupun buku dan film ini memiliki dasar pemikiran yang sama, detail dalam keduanya sangat berbeda; Aoki menyandangi perubahan-perubahan itu kepada studio yang membuat cerita agar lebih menjual.[24] Keduanya memilih seorang protagonis yang bertahan dalam kegelisahan dan prasangka karena ia bekerja sebagai nōkanshi,[22] yang mengalami perkembangan kepribadian sebagai hasil dari pengalamannya, dan menemukan makna kehidupan ketika dihadapkan dengan kematian.[25] Dalam film dan buku, karakter utama menghadapi prasangka sosial dan kesalahpahaman mengenai pekerjaannya.[26] Dalam Coffinman, protagonis adalah seorang yang memiliki sebuah kafe yang sudah bangkrut; dalam perselisihan dengan istrinya, ia menemukan sebuah iklan lowongan pekerjaan sebagai nōkanshi dalam surat kabar.[27] Ia bangga dengan pekerjaannya itu ketika menghadapi jenazah mantan pacarnya.[26] Koyama mengganti protagonis dari pemilik bar menjadi seorang pemain cello karena ia ingin menghadirkan orkestra cello dalam musik filmnya.[28] Perbedaan lainnya adalah pergerakan latar cerita dari Toyama ke Yamagata untuk memudahkan perekaman film, sehingga membuat "surat batu" menjadi bagian besar dari alur cerita,[29] dan menghindari adegan yang berat, seperti adegan mengenai agama dan adegan pembicaraan di mana Aoki melihat "cahaya" dari segerombolan belatung.[22] Koyama juga menambahkan subalur di mana Daigo mampu memaafkan mendiang ayahnya; diambil dari cerita novel yang ia tulis, itu dimaksudkan untuk menutup cerita dengan "beberapa makna kebahagiaan".[30]

Pemilihan pemeran[sunting | sunting sumber]

Ryōko Hirosue, yang awalnya berkarya dengan Takita, berperan sebagai Mika.

Sejak usia 40 tahunan dan membangun reputasinya sebagai seorang yang realis, berperan sebagai Daigo.[g][31] Aktor kawakan Tsutomu Yamazaki terpilih untuk memerankan Sasaki;[32] Takita pernah bekerja sama dengan Yamazaki dalam We Are Not Alone (1993).[33] Meskipun karakter Mika pada awalnya direncanakan memiliki usia yang sama seperti Daigo, peran itu kemudian diberikan kepada seorang penyanyi pop Ryoko Hirosue, yang sebelumnya berperan dalam film Takita berjudul Himitsu pada tahun 1999.[h] Takita berasalan bahwa aktris yang lebih muda akan lebih baik dalam mewakili pertumbuhan keluar dari kenaifan pasangan utama tersebut.[32] Dalam wawancara pada tahun 2009, Takita menyatakan bahwa ia telah memilih "semua orang yang ada dalam daftar yang ia inginkan".[34]

Motoki belajar seni pemakaman dari seorang ahli mayat, dan dibantu dalam upacara pemakaman; ia lalu mengatakan bahwa pengalaman mengajarinya dengan "sebuah rasa yang bertujuan … untuk mencoba menggunakan sebanyak mungkin kehangatan manusia untuk mengembalikan [jiwa yang telah meninggal] sebagai keberadaan yang hidup bagi keluarganya."[35] Motoki terus-menerus berlatih dengan manajer bakatnya sampai ia telah menguasai prosedur gerakan yang halus dibandingkan dengan upacara minum teh Jepang.[36] Takita menghadiri upacara pemakaman untuk memahami perasaan keluarga yang ditinggalkan, dan Yamazaki tidak pernah ikut dalam latihan tersebut.[37] Motoki juga belajar bagaimana memainkan cello untuk penampilan dalam bagian awal film itu.[38]

Untuk memberikan peranan jenazah yang tampil seperti aslinya, kru film memilih peran ekstra yang dapat berperan sebaik mungkin. Untuk pemilik rumah pemandian Tsuyako Yamashita, hal ini tidak memungkinkan karena kebutuhan untuk melihatnya masih bernyawa terlebih dahulu, dan pencarian pemeran pengganti tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya, kru film menggunakan efek digital untuk membenamkan gambar diam pemeran selama adegan pemakaman untuk membuat efek yang lebih realistis.[34]

Perekaman film dan produksi akhir[sunting | sunting sumber]

Organisasi nirlaba Sakata Location Box dibangun pada bulan Desember 2007 untuk menangani masalah-masalah di lokasi perekaman film seperti mencari pemeran tambahan dan bernegosiasi tempat. Setelah memutuskan akan melakukan pemfilman di Sakata, staf Location Box memiliki waktu selama dua bulan untuk mempersiapkan anggota sebanyak 80 orang untuk dijadikan kru film.[39] Negosiasi berlangsung lambat, karena pemilik properti tidak tertarik setelah mendengar bahwa tempatnya akan digunakan untuk adegan pemakaman; mereka yang setuju bersikeras agar proses pemfilman dilakukan di luar jam kerja.[40]

Bekas restoran ini digunakan sebagai lokasi kantor NK Agent.

Toyama merupakan latar film Coffinman dan prefektur Takita berasal, namun pemfilman dilakukan di Yamagata; hal ini disebabkan Asosiasi Nokan nasional, yang berkantor di Hokkaido, memiliki cabang di Sakata.[41] Beberapa adegan awal berlatar lanskap salju direkam pada tahun 2007, dan perekaman utama dimulai pada April 2008, berlangsung selama 40 hari.[42] Lokasi pemfilman berlangsung di Kaminoyama, Sakata, Tsuruoka, Yuza, dan Amarume.[43] Kantor Agensi NK difilmkan dalam bangunan tiga lantai bergaya Amerika di Sakata yang dibangun pada Periode Meiji dan Periode Taisho (1880-an–1920-an). Restoran bernama Kappo Obata ditutup pada tahun 1998.[44] Kafe Kobayashi, Concerto, terletak di Kaminoyama. Dari 100 kandidat, Takita memilihnya karena suasana bangunan kuno dengan pemandangan jelas ke sungai terdekat dan dikelilingi pula oleh pegunungan.[45] Tempat pengambilan gambar dari pelatihan DVD dilakukan di Sakata Minato-za, teater film pertama Yamagata, yang telah ditutup sejak 2002.[46]

Lagu latar film ini diciptakan oleh Joe Hisaishi, seorang komposer yang telah dikenal oleh dunia untuk karyanya dengan Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Sebelum pemfilman dimulai, Takita memintanya untuk menyiapkan sebuah lagu latar yang mewakili adegan perpisahan Daigo dan ayahnya, serta cinta pemeriksa jasad tersebut dengan istrinya.[47] Berkat adanya musik cello pada awal film, Hisaishi menekankan instrumen itu dalam lagu latarnya;[48] ia memberikan upaya memusatkan sebuah musik di sekeliling cello adalah salah satu hal yang sulit yang pernah ia lakukan.[49] Lagu tersebut dimainkan selama pemfilman, yang menurut Takita, "memberikan visualisasi emosi [kepada kru] dalam film" sehingga memberikan hasil yang baik pada kualitas karya akhir nantinya.[50]

Hingga akhir produksi, Takita mendeklarasikan Departures sebagai karya yang sempurna, dan memuji para kru film dalam mengembangkan isi dan kualitas film.[51] Shinmon Aoki juga memuji penampilan Motoki dan kemampuannya dalam menampilkan pentingnya sebuah keluarga dan hubungan antarpersonal, walaupun ia kecewa dengan aspek religius yang dihilangkan dalam cerita film tersebut.[22]

Gaya[sunting | sunting sumber]

Upacara penataan jenazah dalam Departures menerima berbagai macam komentar.[52] Mike Scott, dalam The Times-Picayune, mengatakan bahwa adegan-adegan upacara tersebut sangat menyentuh dan indah, dan Nicholas Barber dalam The Independent mendeskripsikannya dengan "elegan serta bermartabat".[53] James Adams dalam The Globe and Mail menyatakan bahwa hal tersebut merupakan ritual dari ketenangan, anugerah yang dapat menghipnotis, dengan kemahiran yang dapat menyihir."[54] Seiring berlalunya film tersebut, Paul Byrnes dari The Sydney Morning Herald berpendapat bahwa penonton dapat memperoleh pengetahuan serta pentingnya upacara tersebut.[52] Penonton melihat bahwa upacara itu bukan hanya mengenai bagaimana mempersiapkan jenazah, namun juga membawa martabatnya dalam kematian, menghargai orang yang meninggal tersebut dan menghibur bagi keluarga yang sedang berkabung.[55]

Terdapat sebuah idealisasi dari nōkanshi yang ditampilkan dalam film ini. Semuanya kecuali satu hal, orang yang meninggal adalah orang yang usianya masih muda atau mereka yang dibuat-buat, sehingga penonton dapat mengambil kebijaksanaan dalam mentoleransikan gambar-gambar tersebut.[56] Jenazah yang belum ditemukan selama beberapa hari[56] atau jenazah yang bertubuh kurus atau memiliki luka dan memar tidak pernah ditampilkan dalam film.[57] Ahli mengenai Jepang, Mark R. Mullins, menulis bahwa rasa syukur yang ditampilkan dalam film ini mungkin tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata; menurut Coffinman, tidak ada strata yang paling rendahdaripada perawat mayat, dan sebenarnya masyarakat Jepang takut dengan penata jenazah dan pengremasi jenazah seperti mereka takut dengan kematian dan mayat.[58]

Simbolisme ditemukan pada penggunaan sakura dalam film tersebut.

Dalam sebuah montase, adegan di mana Daigo memainkan cello pada masa kanak-kanak ketika duduk di halaman terbuka diselingi oleh adegan upacara penataan jenazah. Byrnes percaya bahwa adegan tersebut sengaja diciptakan untuk menampilkan emosional dalam film,[52] dan Roger Ebert, dari Chicago Sun-Times memandang hal itu sebagai adegan fantasi yang bagus yang disisipkan di antara adegan biasa.[59] Yoshiko Okuyama dari Universitas Hawaii menemukan bahwa gerakan cekatan Daigo dalam memainkan cello mencerminkan profesionalisme tingkat tinggi yang ia capai.[60] Beberapa pengulas, seperti Leigh Paatsch dari Herald Sun, mempertanyakan pentingnya adegan itu.[61] Melalui lagu tema film ini, permainan musik cello sangatlah dominan.[54] Takita menyatakan

Byrnes menemukan bahwa Departures menggunakan simbol sakura, bunga yang mekar setelah musim dingin hanya untuk melayukan dirinya setelahnya, untuk menggambarkan kefanaan sebuah kehidupan; melalui pemahaman ini, ia menulis bahwa masyarakat Jepang mencoba untuk menegaskan keberadaan diri mereka. Simbol alami ditampilkan lebih lanjut melalui perubahan musim, yang memberi kesan perubahan emosional dengan halus dalam karakter,[52] juga batu-batu surat, yang menggambarkan cinta, hubungan, dan jiwa pemimpin yang diwariskan dari sebuah generasi ke generasi selanjutnya.[63] Latar film ini digunakan pula untuk menyampaikan sensasi berbeda, termasuk suasana pedesaan yang sunyi dan suasana pribadi dari rumah mandi umum.[64] Warna putih, yang dibawakan oleh salju, krisantium, dan objek lain, merupakan hal yang menonjol dalam film; Okuyama mengacukan bahwa ini, bersama-sama dengan musik klasik dan gerakan tangal yang diritualkan, mewakili kesucian dan kemurnian dari upacara kematian.[65]

Departures menggabungkan aspek humor dalam adegan di mana Ebert mengacukan bahwa hal ini digunakan untuk mengaburkan ketakutan penonton.[66] Betsy Sharkey, dari Los Angeles Times, beropini bahwa melalui penggunaan humor, film ini menghindari "terlalu gelap" dan bukan menggabungkan imajinasi dan ironi.[55] Humor ini ditunjukkan dalam berbagai keadaan, seperti adegan di mana Daigo yang pemalu, hanya mengenakan sebuah lampin dewasa, adalah adalah model untuk video pembelajaran mengenai proses penataan jenazah, begitu pula dengan adegan di mana Daigo menyadari bahwa orang yang ia persiapkan adalah seorang transwanita.[i][67] Takita menyatakan bahwa penambahan unsur humor merupakan hal yang disengaja karena manusia pada dasarnya menyukai hal yang lucu, dan humor itu tidak bertentangan dengan unsur gelap film tersebut.[18]

Tema[sunting | sunting sumber]

Beberapa kritikan mengenai tema kematian dilontarkan untuk film ini. Scott menyoroti perbedaan antara budaya tabu kematian dan nilai pekerjaan yang terkait dengannya. Ia juga menandai peran dari penata jenazah dalam menampilkan adegan keibaan dengan menunjukkan jenazah dengan cara menyimpan kenangan dari kehidupan mereka.[68] Pada awalnya, Daigo dan keluarganya tidak dapat mengatasi budaya tabu dan ketersinggungan masyarakat jika dikaitkan dengan kematian. Daigo menjauhkan dirinya dari istri dan teman-temannya karena nilai tradisional ini.[64] Pada akhirnya, melalui karyanya Daigo menemukan penyelesaian, dan seperti Peter Howell dari Toronto Star simpulkan, penonton menyadari bahwa kematian mungkin akhir dari kehidupan, namun bukan akhir dari umat manusia seluruhnya.[64] Okuyama menulis pula, film ini (dan buku yang menjadi dasar ceritanya) menjadi sebuah pembangkangan yang halus dan gigih menghadapi diskriminasi di mana orang-orang yang menghadapi kematian terus-menerus menghadapinya dalam era Jepang modern: kematian merupakan bagian normal kehidupan, bukan sesuatu yang memuakkan.[69]

Sejalan dengan tema kematian, Takita percaya bahwa Departures merupakan cerita tentang kehidupan yang mencari rasa kemanusiaan yang hilang;[27] Daigo memperoleh perspektif dalam hidupnya dan mengetahui perbedaan kehidupan orang-orang hanya setelah mempertemukannya dengan kematian.[70] Kehidupan ini termasuk ikatan kekeluargaan: Kedatangan Daigo kepada ayahnya untuk berdamai merupakan motif utama, adegan penata jenazah memfokuskan pada kehidupan anggota keluarga daripada jenazah itu sendiri, dan bahkan di kantor NK Agent, pembicaraan sering kali berputar dan membicarakan masalah keluarga. Kehamilan Mika juga sebagai pembangkit agar hubungannya dapat kembali dengan Daigo.[22]

Ebert menulis bahwa, seperti film Jepang lainnya seperti Tokyo Story (1953) dan The Funeral (1984), Departures fokus pada efek kematian pada orang yang selamat; kehidupan sesudah mati tidak banyak didiskusikan.[71] Ia menganggap bahwa indikasi penerimaan kematian dalam budaya Jepang ini adalah sesuatu yang harus dipenuhi tanpa harus merasa berduka secara berlebihan, namun cukup dengan merenung.[72] Takita menyatakan pula bahwa ia berniat untuk fokus pada dialog antara orang yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkannya.[18] Film ini menimbulkan pertanyaan tentang kehidupan setelah mati: kremasi menyamakan kematian dengan "sebuah gerbang", dan Okuyama merasa bahwa orang yang mengremasi merupakan penunggu pintu gerbang dan penata jenazah adalah orang yang memandu mereka.[23]

Byrnes menemukan bahwa Departures menyebabkan orang-orang bertanya sejauh mana efek modernitas budaya Jepang mencatat sikap dan nilai tradisional arus bawah seperti yang ditampilkan dalam film ini. Meskipun upacara penataan jenazah tersebut biasanya diselesaikan oleh keluarga almarhum, kepentingan almarhum didalamnya membuka sebuah "pasar kesukaan" bagi para penata jenazah profesional.[52] Okuyama menyatakan bahwa melalui film tersebut, Takita sedang mengisi kekosongan jiwa yang disebabkan oleh penyimpangan tradisi dalam era Jepang modern.[73] Tadao Sato menghubungkan tema modernisasi ini sebagai perjalanan evolusi masyarakat Jepang tentang hidup dan mati. Ia menilai perlakuan nōkan dalam film ini sebagai nilai seni daripada upacara keagamaan untuk merefleksikan sikap agnostik Jepang modern.[22]

Perilisan[sunting | sunting sumber]

Subyek tabu Departures membuat para distributor prospektif ragu untuk mengambil film tersebut.[74] Survei yang dilakukan saat penayangan pra-perilisan menempatkannya pada bagian bawah daftar film yang audien ingin tonton.[74] Meskipun demikian, debut film tersebut di Festival Film Dunia Montreal pada Agustus 2008, yang menganugerahinya dengan penghargaan besar dari festival tersebut, memberikan kesempatan bagi para distributor untuk memilih Departures; pada akhirnya, film tersebut dirilis secara domestik di Jepang pada 13 September 2008.[75] Karena mengangkat hal tabu tentang kematian, Takita menghiraukan tanggapan dari film tersebut dan tak mengharapkan kesuksesan komersial, dan yang lainnya mengekspresikan sorotan bahwa film tersebut kurang bisa mencapai target audien.[76]

Kekhawatiran tersebut kemudian sirna; Departures melakukan debut di Jepang pada peringkat kelima, dan pada minggu kelima penayangannya, film tersebut mencapai posisi puncak di urutan ketiga.[74] 2.6 juta tiket terjual di Jepang dan 3.2 miliar yen ($32 juta) diraih dalam pendapatan box office pada lima bulan setelah debutnya.[77] Film tersebut masih ditayangkan di 31 bioskop saat film tersebut sukses di Academy Awards pada Februari 2009; jumlah bioskop yang menayangkannya meningkat menjadi 188 dan film tersebut meraih lagi ¥2.8 miliar ($28 juta), membuat total keuntungannya menjadi sebanyak ¥6 miliar ($60 juta). Hal ini membuat Departures menjadi film domestik dengan keuntungan tertinggi dan film dengan keuntungan teratas ke-15 pada 2008.[78] Produser eksekutif Yasuhiro Mase menyatakan kesuksesan tersebut merupakan dampak dari Resesi Besar di Jepang: para penonton mulai mencari pekerjaan setelah berempati dengan Daigo.[79]

Dari permulaan perilisan internasional film tersebut dilakukan; karena bahasa Inggris dianggap merupakan bahasa penting dalam festival-festival film internasional, subjudul Inggris disiapkan. Penerjemahannya ditangani oleh Ian MacDougall.[80] Ia meyakini bahwa pekerjaan di dunia penata jenazah jauh dari pengalaman sebagian besar orang Jepang seperti halnya audien non-Jepang. Karena itu, ia merasa terjemahannya menjadi yang terbaik, tanpa mengkhawatirkan unsur lintas-budaya yang tak dimengerti oleh para audien luar negeri.[81]

Pada September 2008, ContentFilm mengakuisisi hak internasional untuk Departures, yang pada waktu itu memiliki lisensi untuk menayangkan film di negara-negara seperti Yunani, Australia, dan Malaysia; film tersebut tayang di 36 negara.[82] Distribusi Amerika Utara ditangani oleh Regent Releasing, dan Departures meraih perilisan terbatas di sembilan bioskop pada permulaan 29 Mei 2009. Secara keseluruhan, film tersebut meraih hampir $1.5 juta saat penayangan Amerika Utara-nya sebelum ditutup pada 24 Juni 2010.[1] Di Britania Raya, Departures tayang perdana pada 4 Desember 2009 dan didistribusikan oleh Arrow Film Distributors.[83] Film tersebut meraih keuntungan seluruh dunia sebanyak hampir $70 juta.[84]

Adaptasi dan media lainnya[sunting | sunting sumber]

Komposer film tersebut Joe Hisaishi berkarya dengan Ai pada lagu image "Okuribito/So Special".

Sebelum Departures tayang perdana, sebuah adaptasi manga karya Akira Sasō diserialisasikan dalam dua belas instalmen dalam majalah dwi-mingguan Big Comic Superior, dari Februari sampai Agustus 2008. Sasō sepakat untuk mengadaptasikannya karena ia tersanjung dengan naskahnya. Ia diberi kesempatan untuk melihat film tersebut sebelum memulai adaptasi tersebut, dan merasa bahwa sebuah adaptasi terlalu literal tidaklah memuaskan. Ia membuat perubahan pada setting dan penampilan fisik karakter, dan meningkatkan fokus pada peran musik dalam cerita tersebut.[85] Kemudian pada 2008, serial tersebut dikompilasikan dalam volume 280 halaman yang dirilis oleh Shogakukan.[86]

Pada 10 September 2008, tiga hari sebelum penayangan perdana Jepang Departures, sebuah album lagu tema untuk sembilan belas track yang berasal dari film tersebut dan menampilkan penampilan orkestra dari para anggota Metropolitan Tokyo dan Orkestra Simfoni NHK dirilis oleh Universal Music Japan.[87] Penyanyi pop Ai menyediakan lirik-lirik untuk musik karya Hisaishi untuk lagu image "Okuribito/So Special"; yang ditampilkan oleh Ai dengan aransemen cello dan orkestra, singel tersebut dirilis oleh Universal Sigma pada 10 September 2008 bersama dengan sebuah video promosional.[88] Lembar musik untuk soundtrack film tersebut diterbitkan oleh KMP pada 2008 (untuk cello dan piano) dan Onkyō pada 2009 (untuk cello, biola, dan piano).[89]

Shinobu Momose, seorang penulis yang mengkhususkan diri dalam novelisasi, mengadaptasi Departures sebagai sebuah novel. Novel tersebut diterbitkan oleh Shogakukan pada 2008. Pada tahun tersebut, perusahaan tersebut juga merilis Ishibumi[j] (Batu Tulis), sebuah buku berilustrasi tentang tema-tema pada film tersebut yang berkisah dari sudut pandang sebuah batu berbicara; buku tersebut ditulis oleh Koyama dan diilustrasikan oleh Seitarō Kurota.[90] Pada tahun berikutnya, Shogakukan menerbitkan sebuah edisi dari konsep permainan latar pertama Koyama.[91] Sebuah versi permainan panggung dari film tersebut, yang juga berjudul Departures, ditulis oleh Koyama dan disutradarai oleh Takita. Versi permainan panggung tersebut melakukan debut di Teater Akasaka ACT pada 29 Mei 2010, yang menampilkan aktor kabuki Nakamura Kankurō sebagai Daigo dan Rena Tanaka sebagai Mika.[92] Ceritanya, yang berlatar belakang tujuh tahun dari akhir film tersebut, mengisahkan ketidakamanan putra pasangan tersebut terhadap profesi Daigo.[93]

Perilisan DVD[sunting | sunting sumber]

Perilisan DVD dual-layer, dengan fitus khusus termasuk cuplikan singkat, dokumentasi pembuatan film, dan rekaman upacara encoffin, dilakukan di Jepang pada tanggal 18 Maret 2009.[94] Edisi DVD Amerika Utara, termasuk wawancara dengan sutradara, dirilis oleh Koch Vision pada tanggal 12 Januari 2010; film tersebut tidak disertai pengisi suara bahasa Inggris, namun hanya disediakan teks berbahasa Inggris dan suara berbahasa Jepang. Perilisan dalam bentuk Blu-ray dilakukan pada bulan Mei 2010.[95] Perilisan untuk edisi rumahan ini mendapat ulasan bermacam-macam. Franck Tabouring dari DVD Verdict sangat memuji film dan transfer digital tersebut, mengingat gambar yang bersih dan suara yang jernih (khususnya musik) "sebuah kenikmatan ketika mendengarnya".[96] Thomas Spurlin, yang menulis untuk DVD Talk, memberikan peringkat rilis ini sebagai "Sangat Dianjurkan", yang fokus pada "pembangkit tenaga yang tidak terduga" dari kualitas film tersebut.[97] Penulis lain dari situs web itu, Jeremy Mathews, menganjurkan pembaca untuk "Melewatkan (film itu)", karena menemukan unsur komedi, terkesan kaku, dan terdapat adegan yang mudah membuat penonton menangis secara berulang-ulang.[98] Kedua pengulas DVD Talk itu setuju bahwa kualitas audio dan visualnya sedikit lagi hampir sempurna, dan mereka juga menyatakan bahwa isi tambahan DVD; Mathews menjelaskan bahwa wawancara dengan sutradara itu sebagai "pertanyaan membosankan dalam dengan cara yang membosankan".[99]

Sambutan[sunting | sunting sumber]

Ulasan[sunting | sunting sumber]

Departures meraih ulasan yang umumnya positif dari para kritikus. Agregator ulasan Rotten Tomatoes mengambil 103 ulasan dan menyatakan bahwa 81% dari mereka menyatakan hal positif, dengan rata-rata skor 7.0 dari 10.[100] Agregator Metacritic memberikan film tersebut dengan skor 68 dari 100, berdasarkan pada 27 ulasan.[101]

Ulasan domestik[sunting | sunting sumber]

Ulasan-ulasan awal di Jepang bersifat positif. Dalam Kinema Junpo, Tokitoshi Shioda menyebut Departures sebagai titik balik dalam karir Takita, sebuah drama yang menangkap tawa sekaligus tangisan,[102] sementara dalam publikasi yang sama, Masaaki Nomura menyebut film tersebut sebagai karya suplai mendalam yang mungkin mengindikasikan perubahan dalam periode kedewasaan Takita, memuji sutradaranya karena menangkap perasaan manusia dari penampilan penataan jenazah terawal Motoki.[103] Dalam tulisannya pada Yomiuri Shimbun, Seichi Fukunaga mempermasalahkan Takita karena menggunakan cerita emosif yang berubah-ubah dengan humor yang disajikan melawan sebuah subyek tabu. Ia menyinggung penampilan Motoki dan Yamazaki, terutama saat mereka mempermainkan keseriusan Daigo dalam melawan penugasan Sasaki.[104]

Dalam Asahi Shimbun, Sadao Yamane menemukan bahwa film tersebut membangun dan meninggikan penampilan aktor-aktornya. Yamane secara khusus menyoroti pergerakan tangan Motoki yang disorot saat ia melakukan upacara penataan jenazah.[105] Tomomi Katsuta dalam Mainichi Shimbun menyatakan bahwa Departures merupakan sebuah cerita paling berarti yang membuat penontonnya berpikir tentang kehidupan orang yang berbeda, dan memaknai orang yang sekarat. Dalam penulisan pada surat kabar yang sama, Takashi Suzuki menyatakan bahwa film tersebut mengenang namun terprediksi, dan Yūji Takahashi berpendapat bahwa kemampuan film tersebut untuk menemukan ketenaran dalam sebuah subyek yang ditekan adalah sebuah penyertaan yang bagus.[106] Shōko Watanabe memberikan Departures dengan empat dari lima bintang dalam surat kabar The Nikkei serta memuji penampilan tak dipaksakan dari para aktor.[107]

Setelah kesuksesan Departures di Academy Awards, kritikus Saburō Kawamoto menyatakan bahwa film tersebut menampilkan sebuah Jepang yang orang Jepang dapat kaitkan dalam sebuah negara yang kebiasaannya mengambil keberatan besar terhadap kunjungan makam leluhur,[k] sebuah kematian selalu menjadi urusan keluarga. Ia meyakini bahwa film tersebut memiliki keindahan samurai di dalamnya, dengan beberapa adegan keluarga yang menduduki seiza.[22] Kritikus Yūichi Maeda (ja) memberikan film tersebut dengan rating 90%, dan menyatakan bahwa penampilan dua pemeran utamanya sebagai bagian besar dari kesuksesan film tersebut. Ia memuji dampak emosionalnya dan keseimbangan keseriusan dan humornya, namun lebih mengkritik hubungan ayah-putra, yang ia anggap terlalu berlebihan. Maeda menyatakan bahwa kesuksesan internasional film tersebut karena penggambaran Jepang yang jelas terhadap kehidupan dan kematian, meskipun kontennya sangat kejepang-jepangan. Ia menyatakan bahwa skala konseptual film tersebut memiliki sebuah kemampuan yang dimiliki Hollywood (yang terkadang ia anggap kurang ada dalam sebagian besar film Jepang).[108]

Pengulas Takurō Yamaguchi memberikan film tersebut dengan rating 85%, dan menyatakan bahwa penayangan subyeknya menawan. Ia memuji dampak emosional dan humornya, menyinggung adegan lagu cello Hisaishi, dan jiwa kejepang-jepangan dari film tersebut.[109] Kritikus media Sadao Yamane (ja) menyinggung keindahan pergerakan dalam gerakan tangan Sasaki saat sedang mengajari penyiapan jenazah kepada Daigo, dan meyakini bahwa pembacaan naskah asli sebelumnya akan mendalami pemahaman tindakan tersebut kepada para penonton.[110] Mark Schilling dari The Japan Times memberikan film tersebut dengan empat dari lima bintang, memuji akting meskipun mengkritik tampilan idealisasi dari para penata jenazah. Ia menyatakan bahwa film tersebut "membuat sorotan baik terhadap adat pemakaman Jepang."[111]

Ulasan internasional[sunting | sunting sumber]

Kritikus Chicago Sun-Times Roger Ebert memberikan empat bintang kepada Departures

Secara internasional, Departures meraih ulasan campuran dan kebanyakan positif. Ebert memberikan empat bintang kepada film tersebut[72] dan menyebutnya sebagai "batu bijakan dalam fundamentalnya"[59] dan menyoroti sinematografi, musik dan pemeranan Yamazaki sebagai Sasaki. Ia menyatakan bahwa pada akhirnya menghasilkan "fungsi-fungsi tak cacat" dan "sempurna dalam meraih akhir naratif yang universal".[59] Derek Armstrong dari AllMovie memberikan empat dari lima bintang terhadap film tersebut serta menyebutnya sebagai "sebuah film dengan lirik yang indah" yang "berhias dengan kesenangan kecil".[112] Dalam sebuah ulasan empat bintang, Byrnes menyebut film tersebut sebagai "meditasi pergerakan pada peralihan kehidupan" yang menampilkan "kemanusiaan yang besar," sesambil menyatakan bahwa "itu adalah sebuah film indah namun memakai dua sapu tangan."[52] Howell memberikan tiga dari empat bintang terhadap film tersebut serta memuji akting dan sinematografinya. Ia menyatakan bahwa Departures "sangat menunjung aestetik dan ekspektasi emosional" tanpa menghilangkan "keputusan berpemikiran tinggi".[64] Dalam sebuah ulasan tiga setengah bintang, Claudia Puig dari USA Today menyatakan bahwa Departures merupakan film "berkomposisi indah", yang "emosional, pedih" dan "berdampak mendalam", meskipun terbaca.[113]

Philip French dari The Observer menyatakan bahwa Departures merupakan sebuah film "bergerak, sangat berasumsi", yang sutradaranya "komposisikan secara cepat".[114] Sharkey menyatakan bahwa film tersebut merupakan sebuah "perjalanan yang memilukan secara emosional dengan seorang pria pendiam," yang orangnya merupakan pemeran terkenal dengan "aktor-aktor yang bergerak secara terang-terangan dan anggun" dalam berbagai setting.[55] Dalam Entertainment Weekly, Owen Gleiberman memberikan nilai B− terhadap film tersebut, menganggap film tersebut "terlalu halus, beberapa kali, ketimbang licin", meskipun pada hal tertentu mempengaruhi siapa saja yang kehilangan orangtuanya.[115] Barber menyatakan bahwa Departures bersifat "tulis, bersahaja, [dan] cerdik melucu" serta layak ditonton (meskipun akhirannya terbaca).[116] Mike Scott memberikan tiga setengah dari empat bintang terhadap film tersebut dan menyatakan bahwa film tersebut merupakan "sebuah percobaan yang menyoroti kehidupan dan kehilangan secara mengejutkan", dengan humor yang secara sempurna sejalan dengan "pergerakan dan cerita yang berarti", namun menyayangkan karakter-karakter yang "tersoroti kamera".[68]

Selain itu, Kevin Maher dari The Times menyebut Departures sebagai "komedi verklempt" dengan pengenaan "tangisan tombol tekan", meskipun ia menganggapnya diselamatkan oleh kualitas akting, penyutradaraan "terarah" dan papan lagu "bermimpi".[117] Ulasan campuran lainnya diterbitkan dalam The Daily Telegraph, yang menyebut film tersebut sebagai "kerumunan penyenang yang main aman dan emosional" yang layak untuk Academy Award-nya.[118] Philip Kennicott menulis dalam The Washington Post bahwa film tersebut "dipoles seperti penanganan berat", terbacanya pemecahan ketabuan, mengartikan kematian dengan lari dari "selera Jepang yang memburukkan secara sentimental".[119] Dalam Variety, Eddie Cockrell menyatakan bahwa film tersebut menawarkan "kemenarikan sekilas" dari upacara penataan jenazah namun memiliki jangka waktu yang terlalu pendek.[120] Paatsch memberikan tiga dari lima bintang kepada Departures serta menyebutnya sebagai "cuplikan yang sangat menyedikan" yang "tak terbendung dengan selera dan presisi yang secara perlahan ditangkap oleh penontonnya" namun menganggap beberapa adegan, seperti adegan-adegan yang dipotong, "percuma ditampilkan".[61] Edward Porter dari The Sunday Times menyatakan bahwa kesuksesan film tersebut di Academy Awards akan memunculkan "tuduhan Academy mendukung sentimentalitas hambar".[121]

Keith Phipps karya The A.V. Club memberikan nilai C- kepada Departures dengan menyatakan bahwa melalui penampilan "sorotan tangan pada beberapa adegan" dan adegan-adegan penataan jenazah dengan "kualitas puitis" membuat film tersebut "meneteskan emosi berlebihan terhadap adegan berikutnya".[122] A. O. Scott menulis dalam The New York Times bahwa film tersebut "sangat biasa-biasa saja", terbaca, dan dangkal dalam kombinasi humor dan melodramanya. Disamping beberapa momen menyentuh, ia menganggap Departures "lebih sebagai indeks tak diharapkan yang memalukan dan selera konvensional Academy".[123] Tony Rayns dari Film Comment memberikan ulasan pedas dimana ia menyatakan bahwa naskahnya "kikuk dan terbaca", aktingnya "seadanya", namun memuji film tersebut karena terlihat baik dalam menampilkan jenazah.[124] Adams memberikan dua dari empat bintang kepada Departures, memuji adegan penataan jenazah yang emosional dan dapat ditangkap secara visual dan "menyukai perhatian tekstur, selera, dan perilaku Jepang semi-pedesaan" namun menyayangkan alurnya yang dapat terbaca; ia menyatakan bahwa "Selama empat puluh lima menit, [para penonton] menyiapkan daftar pengecekan mental setiap Daigo Kobayashi akan berhadapan, kemudian bernegosiasi – dan mengkhawatirkan jika Takita tidak memberikan kesempatan apapun".[54]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Di acara Penghargaan Akademi Jepang ke-32 yang diadakan pada Februari 2009, Departures mendominasi kompetisi tersebut. Film tersebut meraih sebanyak tiga belas nominasi, memenangkan sepuluh, termasuk Film Tahun Ini, Permainan Latar Tahun Ini (Koyama), Sutradara Tahun Ini (Takita), dan Penampilan Menakjubkan oleh seorang Aktor dalam sebuah Peran Utama (Motoki).[125] Dalam kategori Penampilan Menakjubkan oleh seorang Aktris dalam sebuah Peran Utama, Hirosue kalah dengan Tae Kimura dari All Around Us, sementara pada kategori Prestasi Menakjubkan dalam Penyutradaraan Seni, Tomio Ogawa dari Departures kalah dengan Towako Kuwashima dari Paco and the Magical Book. Hisaishi, yang dinominasikan untuk dua Prestasi Menakjubkan dalam penghargaan Musik, menang untuk lagunya dari film animasi Studio Ghibli Ponyo.[48] Dalam menanggapi kemenangan tersebut, Motoki berkata, "Aku merasa bahwa setiap hal datang bersamaan dalam penyeimbangan waktu ini dengan Okuribito".[l][48]

Departures diajukan pada Academy Awards ke-81 sebagai perwakilan Jepang untuk penghargaan Film Berbahasa Asing Terbaik. Meskipun sebelas film Jepang sebelumnya telah memenangkan Academy Awards dalam kategori lainnya, seperti Film Fitur Animasi Terbaik dan Rancangan Kostum Terbaik, penghargaan Film Berbahasa Asing Terbaik menjadi yang paling disoroti dalam industri film Jepang.[a][126] Departures tidak diharapkan untuk menang, karena persaingan ketat dari perwakilan Israel dan Perancis (masing-masing Waltz with Bashir karya Ari Folman dan The Class Laurent Cantet), namun rupanya malah dinyatakan menang pada acara Februari 2009.[5] Hal ini dianggap sebagai sebuah kejutan bagi beberapa kritikus film,[127] dan David Itzkoff dari The New York Times menyebut Departures sebagai "Film Yang Mengalahkan Kolam Oscarmu bagi Kamu".[128] Motoki, yang memperkirakan perwakilan "menakjubkan" Israel yang menang, juga terkejut; ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang "penggantung-pada siapapun yang menonton acara tersebut" dan menyesal "tak berjalan dengan lebih percaya diri" saat kedatangannya.[m][38]

Departures meraih penghargaan di berbagai festival film, yang meliputi Audience Choice Award di Festival Film Internasional Hawaii ke-28, Grand Prix des Amériques di Festival Film Dunia Montreal ke-32,[129] dan Film Naratif Terbaik di Festival Film Internasional Palm Springs ke-20.[130] Motoki terpilih sebagai aktor terbaik di beberapa acara, yakni di Festival Film Asia,[131] Asia Pacific Screen Awards,[132] Blue Ribbon Awards;[133] ia juga pilihan para pengulas untuk aktor terbaik di Golden Rooster Awards.[134] Di Penghargaan Film Hong Kong ke-29, Departures terpilih sebagai Film Asia Terbaik, mengalahkan tiga film Tiongkok dan Ponyo.[135] Setelah acara Penghargaan Film Olahraga Nikkan ke-21, di mana Departures memenangkan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, Takita mengekspresikan rasa terkejut di penghargaan film tersebut, dengan berkata "Aku tidak tahu bagaimana karyaku diterima."[n][136] Pada Desember 2009, film tersebut telah memenangkan 98 penghargaan.[137]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Sebuah kamar yang diset untuk penataan jenazah di dalam film tersebut, dijadikan sebagai tempat wisata

Keberhasilan internasional Departures meraih sambutan dari pers di Jepang, sebagian karena kemenangannya di Academy Awards.[138] Kemenangan tersebut membuat perilisan ulang film tersebut di bioskop-bioskop Jepang dan buku karya Aoki terjual sebanyak lebih dari 230.000 salinan di toko-toko.[139]

Setelah kesuksesan film tersebut, Sakata Location Box membuat sebuah layanan bantuan yang disebut Mukaebito—sebuah pleseta dari judul Jepang film tersebut yang artinya "orang yang mengambil atau menjemput" yang lainnya, ketimbang "orang yang mengirim". Layanan tersebut memberitahukan lokasi syuting dan menyediakan peta lokasi bagi para turis.[40] Pada 2009, Location Box membuka gedung yang dijadikan sebagai kantor NK Agent untuk umum.[140] Untuk biayanya, para pengunjung dapat memasuki dan melihat proses pembuatan film tersebut. Di bawah program pembuatan karya, antara 2009 dan 2013, organisasi tersebut meraih ¥30 juta dari Prefektur Yamagata dan ¥8 juta dari Kota Sakata untuk kepengurusan dan perawatan gedung tersebut.[44] Tempat tersebut didatangi sekitar 120,000 pengunjung pada 2009, meskipun jumlahnya cepat menurun; pada 2013 terdapat kurang dari 9,000 pengunjung. Ketakutan keamanan karena usia bangunan tersebut membuat pemerintah munisipal Sakata mengakhiri kontrak organisasi tersebut, dan bangunan tersebut ditutup lagi pada akhir Maret 2014. Pada masa itu, divisi Pariwisata Kota memberikan opsi, seperti pembatasan kunjungan hanya boleh sampai ke dua lantai pertama.[140] Gedung yang digunakan sebagai kafe Concerto dibuka untuk umum sejak 2009 sebagai Museum Concerto Kaminoyama,[45] dan sinema Sakata Minato-za juga dibuka kepada para turis.[46] Museum Sumber Daya Film berdiri di kampung halaman Takita Takaoka, Toyama; staf mengabarkan bahwa sepanjang waktu, seratus penggemar Takita mengunjunginya per hari.[141]

Kesuksesan film tersebut mendorong pemahaman lebih dalam penataan jenazah dan nōkanshi.[62] Bahkan model kendaraan yang terlihat dalam film tersebut dibuat dalam bentuk pernak-pernik: Mitsuoka Limousine Type 2-04, sebuah versi yang lebih kecil dan murah dari kendaraan dari film tersebut, dipasarkan pada 24 Februari 2009. Pabriknya, Mitsuoka Motors, terletak di prefektur kampung halaman Takita, Toyama.[142] Pada 2013, Mitsuki Kimura, dari keluarga nōkanshi, mendirikan Akademi Okuribito bersama dengan perawat dan wirausahawan Kei Takamaru. Sekolah tersebut menawarkan pelatihan penataan jenazah, pembalseman, dan praktek-praktek terkait.[143]

Catatan penjelas[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Sebelum kategori tersebut dibentuk pada 1956, tiga film Jepang meraih penghargaan kehormatan: Rashomon (Akira Kurosawa; 1951), Gate of Hell (Teinosuke Kinugasa; 1954), dan Samurai, The Legend of Musashi (Hiroshi Inagaki; 1955) (MMPAJ). Film hasil kerjasama Jepang-Soviet Dersu Uzala (Akira Kurosawa; 1975) memenangkan penghargaan tersebut, namun film tersebut diwakilkan untuk Uni Soviet (Armstrong).
  2. ^ Juga disebut pemeriksa mayat (湯灌師 yukanshi?); yukan adalah upacara pembersihan jasad yang diadakan sebelum nōkan dilakukan.
  3. ^ Untuk pembahasan lebih jelas tentang posisi kegare dan kematian dalam masyarakat Jepang, lihat Okuyama 2013, hlmn. 8–12.
  4. ^ Motoki, Masahiro; Silver Insects, ed. (1993). Tenkū Seiza―Hill Heaven 天空静座―Hill Heaven [Tenkuu Seiza—Hill Heaven] (dalam Japanese). Tōa Dōbunshoin International. ISBN 978-4-8103-7183-3. 
  5. ^ Asli: 「その職業はとてもミステリアスで、ある種、エロチックで、すごく映画の世界に近いと感じたんです」.
  6. ^ Karya-karya Takita dalam genre film pink meliputi Chikan Onna Kyōshi (Guru Perempuan yang Mengganggu, 1981), Renzoku Bōran (ja) (Kekerasan Pemerkosaan Berantai, 1983) dan Mahiru no Kirisaki-Ma (Pencabik Tengah Hari, 1984) (Suzuki 2012). Pada waktu ia menyutradarai Departures, karya untuk kalangan umumnya telah meraih pengakuan dan penghargaan internasional: film 2003 When the Last Sword Is Drawn, yang membuat Takita memenangkan Penghargaan Akademi Jepang pertamanya untuk Film Terbaik (Sapia staff 2009). Susunan karir semacam itu merupakan hal tak umum bagi sutradara di Jepang pada 1970an dan 1980an; pemenang Penghargaan AKademi Jepang Masayuki Suo, membuat debutnya dengan Kandagawa Pervert Wars (Suzuki 2012).
  7. ^ Motoki lahir pada 1965 di Saitama dan membuat debut akting profesionalnya pada 1981 dalam drama TV 2-nen B-gumi Senpachi Sensei (Mr Senpachi of Class 2-B). Pada 1989, ia memenangkan Penghargaan Akademi Jepang untuk Aktor Baru Terbaik untuk perannya dalam Four Days of Snow and Blood (ja) (Weekly Biz staff 2009).
  8. ^ Dalam Himitsu, kepreibadian jenazah istri dari pria tersebut mengambil jasad dari putri remaja pasangan tersebut; Hirosue memerankan ibu sekaligus putrinya (Schilling 2009, Funereal flick). Ia doniminasikan pada Penghargaan Akademi Jepang untuk penampilannya (Nippon Academy-shō Association, 2000).
  9. ^ Menurut Takita, pencantuman transwanita dalam adegan pembuka memperlihatkan "rahmat dan gravitasi dari upacara tersebut serta mengindikasikan bahwa film tersebut tidak "terlalu berat" (Takita 2008, 03:30–03:55).
  10. ^ Original: ishibumi (いしぶみ?) "Monumen batu terinskripsi".
  11. ^ Ini adalah kebiasaan Jepang untuk melakukan haka-mairi (墓参り?) dengan mengunjungi haka (?) keluarga, sebuah monumen makam bagi para leluhur yang sudah tiada.
  12. ^ Original: 今回の「おくりびと」っていうのはすべてのバランスが奇跡的につながっていったっていう感じがします。
  13. ^ Departures bukanlah satu-satunya film Jepang yang meraih Academy dalam acara 2009; La Maison en Petits Cubes karya Kunio Katō meraih Film Pendek Animasi Terbaik (Oscar) (Tourtellotte & Reynolds 2009).
  14. ^ Asli: "「作品がどういうふうに受け入れられるか分からなかった」と。"

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Box Office Mojo staff.
  2. ^ "日本アカデミー賞公式サイト". japan-academy-prize.jp (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 Agustus 2013. Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  3. ^ "Okuribito (Departures) (2009)". rottentomatoes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 12 Februari 2016. 
  4. ^ Sosnoski 1996, hlm. 70.
  5. ^ a b c Olsen 2009.
  6. ^ Kim 2002, hlmn. 225–257; Okuyama 2013, hlm. 4.
  7. ^ Plutschow 1990, hlm. 30.
  8. ^ Pharr 2006, hlmn. 134–135.
  9. ^ Hosaka 2014, hlm. 58.
  10. ^ Ide 2009, hlm. 2.
  11. ^ a b Takabe & Wakatsuki 2009, hlmn. 194–195.
  12. ^ Iwata 2008, hlm. 9.
  13. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 195.
  14. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 196.
  15. ^ Schilling 2009, Funereal flick; Hale 2009.
  16. ^ Yoshida 2010, hlm. 43.
  17. ^ Schilling 2009, Funereal flick; Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 198.
  18. ^ a b c Blair 2009, Departures (Japan).
  19. ^ Tourtellotte & Reynolds 2009; Gray 2009.
  20. ^ Mullins 2010, hlm. 102.
  21. ^ Handa 2010, hlmn. 64, 76; Tanabe 2009, hlm. 9.
  22. ^ a b c d e f g Tanabe 2009, hlm. 9.
  23. ^ a b Okuyama 2013, hlm. 13.
  24. ^ Handa 2010, hlmn. 74–75; Okuyama 2013, hlm. 3.
  25. ^ Handa 2010, hlmn. 73–74.
  26. ^ a b Handa 2010, hlm. 75.
  27. ^ a b Handa 2010, hlm. 74.
  28. ^ Handa 2010, hlmn. 76–77.
  29. ^ Handa 2010, hlm. 77.
  30. ^ Okuyama 2013, hlmn. 313.
  31. ^ Weekly Biz staff 2009.
  32. ^ a b Schilling 2009, Funereal flick.
  33. ^ Nomura 2008, hlm. 60.
  34. ^ a b Blair 2009, Just a Minute.
  35. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 199; Hale 2009.
  36. ^ Nomura 2008, hlm. 60; Tsukada 2008, hlm. 2; Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 199.
  37. ^ Iwata 2008, hlm. 8; Tourtellotte & Reynolds 2009.
  38. ^ a b Tourtellotte & Reynolds 2009.
  39. ^ Hagiwara 2009, hlm. 8.
  40. ^ a b Hagiwara 2009, hlm. 9.
  41. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 198.
  42. ^ Nomura 2008, hlm. 59; Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 199.
  43. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 199.
  44. ^ a b Yamagata News Online staff 2014.
  45. ^ a b Yamagata Community Shinbun staff 2009.
  46. ^ a b Yamagata Television System staff 2009.
  47. ^ Takita 2008, 06:08–06:16.
  48. ^ a b c Nippon Academy-shō Association, 2009.
  49. ^ Takita 2008, 06:28–06:50.
  50. ^ Takita 2008, 06:17–06:28.
  51. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 201.
  52. ^ a b c d e f Byrnes 2009.
  53. ^ Mike Scott 2009; Barber 2009.
  54. ^ a b c Adams 2009.
  55. ^ a b c Sharkey 2009.
  56. ^ a b Okuyama 2013, hlm. 5.
  57. ^ Okuyama 2013, hlm. 17.
  58. ^ Mullins 2010, hlm. 103.
  59. ^ a b c Ebert, Great Movies.
  60. ^ Okuyama 2013, hlm. 16.
  61. ^ a b Paatsch 2009.
  62. ^ a b Moore 2009.
  63. ^ Takita 2008, 09:35–09:55.
  64. ^ a b c d Howell 2009.
  65. ^ Okuyama 2013, hlm. 8.
  66. ^ Ebert, Departures; Mike Scott 2009.
  67. ^ Adams 2009; Sharkey 2009.
  68. ^ a b Mike Scott 2009.
  69. ^ Okuyama 2013, hlm. 10.
  70. ^ Katsuta 2008, hlm. 11; Iwata 2008, hlm. 8.
  71. ^ Ebert, Great Movies; Ebert, Departures.
  72. ^ a b Ebert, Departures.
  73. ^ Okuyama 2013, hlm. 18.
  74. ^ a b c Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 203.
  75. ^ Kinema Junpo; Schilling 2009, Producer; Blair 2009, Yojiro Takita; Kilday 2009, Regent.
  76. ^ Tourtellotte & Reynolds 2009; Schilling 2009, Producer.
  77. ^ Eiga Ranking Dot Com staff; Blair 2009, 'Departures' welcomed; Schilling 2009, Funereal flick.
  78. ^ Eiga Ranking Dot Com staff; Blair 2009, 'Departures' welcomed; Schilling 2009, Funereal flick; .
  79. ^ Schilling 2009, Producer.
  80. ^ Shinohara 2013, hlm. 81.
  81. ^ Shinohara 2013, hlm. 82.
  82. ^ Frater 2008; Danielsen.
  83. ^ British Board of Film Classification.
  84. ^ Tourtellotte & Reynolds 2009; Box Office Mojo staff.
  85. ^ Takahashi 2008.
  86. ^ WorldCat, Okuribito.
  87. ^ Billboard Japan; Universal Music.
  88. ^ CinemaCafé.net staff 2008.
  89. ^ WorldCat, おくりびと : ピアノ&チェロ・ピース /; WorldCat, おくりびと : on record.
  90. ^ Handa 2010, hlm. 59.
  91. ^ Handa 2010, hlmn. 58, 76.
  92. ^ Asahi Shimbun staff 2010, hlm. 1; Asahi Shimbun staff 2010, hlm. 2.
  93. ^ Asahi Shimbun staff 2010, hlm. 1.
  94. ^ Cinema Topics Online staff 2009.
  95. ^ Releases.
  96. ^ Tabouring 2010.
  97. ^ Spurlin 2010.
  98. ^ Mathews 2010.
  99. ^ Spurlin 2010; Mathews 2010.
  100. ^ Rotten Tomatoes.
  101. ^ Metacritic.
  102. ^ Shioda 2008, hlm. 62.
  103. ^ Nomura 2008, hlm. 61.
  104. ^ Fukunaga 2008, hlm. 11.
  105. ^ Yamane 2008, hlm. 5.
  106. ^ Katsuta 2008, hlm. 11.
  107. ^ Watanabe 2008, hlm. 20.
  108. ^ Maeda 2008.
  109. ^ Yamaguchi.
  110. ^ Yamane 2012, hlm. 352.
  111. ^ Schilling 2008, 'Okuribito'.
  112. ^ Armstrong.
  113. ^ Puig 2009.
  114. ^ French 2009.
  115. ^ Gleiberman 2009.
  116. ^ Barber 2009.
  117. ^ Maher 2009.
  118. ^ The Daily Telegraph 2009.
  119. ^ Kennicott 2009.
  120. ^ Cockrell 2008.
  121. ^ Potter 2009.
  122. ^ Phipps 2009.
  123. ^ A. O. Scott 2009.
  124. ^ Rayns 2009.
  125. ^ Kilday 2009, Regent; Nippon Academy-shō Association, 2009.
  126. ^ Sapia staff 2009.
  127. ^ Adams 2009; Armstrong; Howell 2009.
  128. ^ Itzkoff 2009.
  129. ^ Kilday 2009, Regent.
  130. ^ Kilday 2009, Palm Springs.
  131. ^ Asian Film Awards.
  132. ^ APSA, 2009 Winners.
  133. ^ Sports Nippon staff 2009.
  134. ^ Oricon staff 2008; Ping and Ying 2008.
  135. ^ Hong Kong Film Awards Association.
  136. ^ Nikkan Sports, Best Film.
  137. ^ Schilling 2009, A decade.
  138. ^ Ide 2009, hlm. 1.
  139. ^ Kyodo News Staff 2009; Mullins 2010, hlm. 103.
  140. ^ a b Yomiuri Shimbun staff 2014.
  141. ^ Takabe & Wakatsuki 2009, hlm. 3.
  142. ^ Sōma 2009, hlm. 1; Kyodo News Staff 2009.
  143. ^ Aera staff 2013.

Karya yang dkutip[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
The Counterfeiters
 Austria
Film Berbahasa Asing Terbaik
2008
Diteruskan oleh:
The Secret in Their Eyes
 Argentina