Bank Bumi Arta
Nama sebelumnya | PT Bank Bumi Arta Indonesia (1967–1992) |
|---|---|
Jenis perusahaan | Perseroan terbatas publik, anak usaha |
| Kode emiten | BEI: BNBA |
| Industri | Jasa keuangan |
| Pendahulu | Bank Duta Nusantara |
| Didirikan | 3 Maret 1967 |
| Kantor pusat | Jl. Wahid Hasyim No. 234-236 Jakarta Pusat, DKI Jakarta |
Wilayah operasi | Indonesia |
Tokoh kunci | Wikan Aryono (Direktur Utama) Hendra Jonathan (Komisaris Utama)[1] |
| Produk | |
| Jasa |
|
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Pemilik | Ajaib Group dan keluarga Suryahusada[1] |
Karyawan | 620 (2025)[1] |
| Induk | PT Takjub Financial Teknologi (33,45%) PT Surya Husada Investment (29,53%) PT Dana Graha Agung (17,72%) PT Budiman Kencana Lestari (10,95%)[1] |
| Situs web | www |
PT Bank Bumi Arta Tbk (disingkat BBA) adalah perusahaan perbankan swasta devisa yang berdiri sejak 1967 dan berkantor pusat di Jakarta. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank kecil beraset Rp 8,5 triliun ini memiliki 11 kantor cabang, 13 kantor cabang pembantu, 9 kantor fungsional dan 19 ATM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.[1]
Perkembangan
[sunting | sunting sumber]Bank Bumi Arta sesungguhnya merupakan bank yang cukup senior di industri perbankan nasional. Bank ini didirikan pada 3 Maret 1967 di Jakarta dengan nama PT Bank Bumi Arta Indonesia (disingkat BBAI). Bank Bumi Arta Indonesia selanjutnya mendapatkan izin sebagai bank umum swasta non-devisa lewat Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. D.15.6.1.2.29 tertanggal 28 Maret 1967.[1] Saat itu kantor pusatnya ada di Jl. Tiang Bendera No. 3/24, Jakarta Kota,[2] yang belakangan berpindah ke Jl. Roa Malaka No. 12-14, Jakarta.[3]
Pada tanggal 18 September 1976, BBAI mendapatkan izin dari Menkeu RI bernomor Kep. 436/DJM/III.3/9/197 untuk melakukan penggabungan dengan PT Bank Duta Nusantara.[1] Bank yang dahulu bernama "Bank Pegawai" ini diketahui berdiri terlebih dahulu dibanding Bank Bumi Arta Indonesia.[4][5] Merger tersebut mulai berlaku pada 20 September 1976,[3] yang membuat 8 kantor Bank Duta Nusantara di Jakarta, Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Magelang menjadi kantor cabang BBAI. Kantor cabang Yogyakarta dan Magelang kemudian dipindahkan ke Medan dan Bandar Lampung sehingga bank ini bisa memiliki jaringan di Pulau Sumatra.[1] Selain itu, proses merger juga meningkatkan modal bank menjadi Rp 10 miliar.[3]
Memasuki tahun 1988 Bank Bumi Arta Indonesia telah memiliki 9 kantor cabang dan 5 kantor cabang pembantu di berbagai kota yang memperkerjakan 500 orang.[3] Dengan adanya liberalisasi perbankan lewat Pakto 88, Bank Bumi Arta Indonesia menaikkan statusnya menjadi bank devisa pada 20 Agustus 1991. Status ini membuat BBAI bisa menjalankan bisnis remitansi, collection, trade finance, serta penukaran valas sejak 2 Desember 1991. Lalu, untuk memodernisasi citranya, pada 14 September 1992 nama bank disederhanakan dari PT Bank Bumi Arta Indonesia menjadi PT Bank Bumi Arta (BBA) saja. Bank ini juga memindahkan kantor pusat dari Roa Malaka ke Jl. Wahid Hasyim No. 234 Jakarta pada 10 Juni 1992, yang tetap ditempati sampai sekarang.[2] Setelah ekspansi, pada tahun 1995 BBA memiliki 24 kantor yang tersebar di sejumlah daerah.[6] Dengan adanya nasabah-nasabah loyal, Bank Bumi Arta mampu bertahan dari krisis moneter di akhir 1990-an tanpa menerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.[7]
Menjadi perusahaan publik
[sunting | sunting sumber]Bank Bumi Arta sejak awal merupakan kongsi sejumlah pengusaha. Mulanya bank ini dimiliki tiga pebisnis: Dasuki Angkosubroto (pendiri Grup Gunung Sewu) yang pernah memegang 28% saham,[8] Hadi Budiman (pemilik PT Imora Motor, agen tunggal mobil Honda) dan Rachmat Mulia Suryahusada.[9] Namun, sejak akhir 1980-an bank ini hanya dimiliki dan dikelola oleh keluarga Budiman dan Suryahusada.[3][6] Keduanya kemudian mengonsolidasi kepemilikan dalam tiga perusahaan induk, yaitu Hadi Budiman melalui PT Budiman Kencana Lestari[10] (20% saham di BBA), sedangkan R.M. Suryahusada melalui PT Surya Husada Investment dan PT Dana Graha Agung (masing-masing 50% dan 30% saham di BBA).[11] Selain di bank ini, kongsi keduanya juga terlihat di sejumlah perusahaan keuangan seperti Asuransi Artarindo,[12] Asuransi Jiwa Bumiarta Reksatama, Bumi Arta Securindo[13][1] dan Balimor Finance.[14]
Pada tanggal 1 Juni 2006, BBA melakukan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dengan melepas 9,10% saham ke masyarakat seharga Rp 160/lembar. Adapun dana segar yang berhasil diperoleh adalah sebesar Rp 33,6 miliar, yang ditujukan untuk penyaluran kredit, pembukaan kantor cabang baru dan pengembangan teknologi informasi.[15] Pasca-IPO, pemegang saham BBA tetap didominasi PT Surya Husada Investment dan PT Dana Graha Agung (keluarga Suryahusada) sebesar 72,72% dan PT Budiman Kencana Lestari (keluarga Budiman) sebesar 18,18%.[16] Pra-IPO (2005), bank ini mencatatkan aset Rp 1,267 triliun, ekuitas Rp 298,25 miliar dan laba bersih 27,6 miliar. Adapun jaringannya meliputi 9 kantor cabang, 17 kantor cabang pembantu, 7 kantor kas dan 17 payment points,[15] yang selanjutnya bertambah menjadi 18 KCP, 10 KK dan 33 payment points di tahun 2009.[17]
Meskipun dikenal sebagai bank yang konservatif, Bank Bumi Arta memiliki kinerja yang cukup solid. Per tahun 2015, BBA memiliki rasio kecukupan modal sebesar 15,07% dan NPL (kredit macet) dibawah 1%,[18] sedangkan di Juni 2024, keduanya mencapai 72,87% dan 3,03%.[7] Fokus bisnis perusahaan sejak lama adalah di bidang ritel, khususnya pembiayaan UMKM[19] perdagangan dan industri. Adapun strategi bisnisnya adalah lewat pendekatan nasabah berbasis personal dengan kecepatan dan birokrasi singkat, dengan perhatian tinggi ala bank kecil/menengah namun memberikan fasilitas setara bank besar. Sejak tahun 2000 bank juga mulai mengembangkan sistem teknologi informasinya.[7] Nasabah Bank Bumi Arta dapat melakukan beragam aktivitas transaksi perbankan melalui jaringan ATM PRIMA, ditambah keberadaan Phone Banking, SMS Banking dan e-BBA Internet Banking.[20]
Masuknya Ajaib Group
[sunting | sunting sumber]Memasuki awal 2020-an, BBA dihadapkan pada kewajiban Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pemenuhan modal inti Rp 3 triliun di tahun 2022. Kewajiban tersebut membuat pemegang sahamnya memutuskan membuka diri pada calon investor strategis, maupun menjajaki peluang pengembangan bisnis bersama layanan modern seperti fintech dan e-commerce. Rumor terawal yang muncul adalah bahwa Sea Limited (yang baru saja melahirkan Bank Seabank Indonesia) tengah mencari bank kecil lain untuk dimerger, salah satunya BBA. Namun, kabar tersebut kemudian ditampik oleh manajemen bank ini. Tak pelak, isu pengakuisisian membuat harga saham BNBA melonjak tinggi di pasar modal, hingga harus disuspensi BEI.[21][22]
Akhirnya, penantian investor baru terjawab dengan masuknya fintech investasi Ajaib Group (PT Takjub Finansial Teknologi) yang membeli saham BBA secara bertahap, yaitu pada 17 November 2021 dan 8 April 2022. Dana yang dikeluarkan dalam transaksi itu senilai Rp 745,66 miliar dan Rp 596,53 miliar untuk 24% dan 16% saham BNBA. Pasca-akuisisi, Ajaib menjadi pemegang saham terbesar (40%) di Bank Bumi Arta,[23] dan kini menjadi pengendali BBA bersama keluarga Suryahusada.[1] Ajaib juga melibatkan diri dalam rights issue yang dilakukan BBA di akhir 2021 dan 2022,[24][25] dimana proses ini berhasil membuat bank memenuhi kewajiban modal intinya sebelum tenggat waktu.[26] Ajaib kemudian menempatkan perwakilannya di jajaran direksi Bank Bumi Arta, yaitu Aditya Putra Utama, John Engelen, dan Juliana Eteng.[27]
Manajemen
[sunting | sunting sumber]- Presiden Komisaris: T. Hendra Jonathan
- Wakil Presiden Komisaris/Komisaris Independen: Daniel Budi Dharma
- Komisaris Independen: R. Mohammad Sjariffudin
- Komisaris: I Gusti Agung Rai Wirajaya
- Presiden Direktur: Wikan Aryono S.
- Direktur: Hendrik Atmaja
- Direktur: John David Nehemia Engelen
- Direktur: Edwin Suryahusada
- Direktur: Aditya Putra Utama
- Sekretaris Perusahaan: Lyvinia Sari
Produk dan Layanan
[sunting | sunting sumber]Pendanaan
[sunting | sunting sumber]- Rekening Koran (IDR/USD)
- Tabungan BBA (IDR/USD)
- Tabungan Pensiun
- Tabungan Kesra BBA
- TabunganKu
- Tabungan Multiguna (TaMu) BBA
- Tabungan Berjangka Super (TangKas) BBA
- Deposito Berjangka (IDR/USD)
Pembiayaan
[sunting | sunting sumber]- Pinjaman Rekening Koran
- Pinjaman Tetap
- Pinjaman On Demand
- Pinjaman Pemilikan Rumah (PPR)
- Pinjaman Pemilikan Mobil (PPM)
- Pinjaman Pensiun
- Pinjaman Berjangka
- Pinjaman Investasi
- Pinjaman Aneka Guna
- Pinjaman Personal Umum
- Trade Finance
Produk Jasa Lainnya
[sunting | sunting sumber]- Transfer dan Inkaso (Domestik dan Luar Negeri)
- Pembukaan Letter of Credit (Ekspor & Impor) dan Bills Collection
- Penukaran Valuta Asing
- Pelayanan Setoran Penerimaan Negara
- Pembayaran Tagihan Listrik dan Telepon
- Bank Garansi (Performance Bond, Bid Bond, dll)
- Virtual Account BBA
- Financial Supply Chain
Perbankan Elektronik
[sunting | sunting sumber]- ATM Bank Bumi Arta
- ATM dan Kartu Debit Jaringan ATM PRIMA
- ATM Jaringan ATM Bersama
- Internet Banking Corporate
- e-Personal BBA
- Mobile Banking
- QRIS Mobile Banking
- Deposito Online
- Transfer BI-FAST
- BBA Flazz
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Annual BNBA 2025
- 1 2 Sejarah BBA
- 1 2 3 4 5 Banks and Financial Institutions in Indonesia
- ↑ Perkembangan industri perbankan dan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) di Indonesia: suatu pengantar
- ↑ Risalah lengkap rapat anggota Perbanas
- 1 2 Bankers Handbook for Asia
- 1 2 3 Laporan Public Expose Tahunan 19 Juni 2024
- ↑ Indonesia's Economy: Briefing Book
- ↑ Polk's World Bank Directory
- ↑ Imora Group.
- ↑ Dunia EKUIN dan PERBANKAN
- ↑ Asuransi Artarindo Siap Ekspansi Pasar
- ↑ Indonesian Capital Market Directory
- ↑ Bank Bumi Arta Lepas Saham Baltimor
- 1 2 Aksi Bank Bumi Artha Beri Gain 40%
- ↑ Lapkeu Q3 BNBA 2009
- ↑ Indonesia Bank Directory
- ↑ Press release BNBA 2014
- ↑ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis
- ↑ LapTahunan BNBA 2016
- ↑ Geber Modal Rp 3 T, BNBA Jajaki Gandeng E-Commerce & Fintech
- ↑ Bersiap! Deretan Bank Mini Ini Bakal Punya Investor Baru
- ↑ Ajaib Resmi Jadi Investor Terbesar Bank Bumi Arta usai Borong Saham
- ↑ Ajaib Janji Suntik Rp 16 Miliar, Harga Saham Bank Bumi Arta Melambung
- ↑ Bank Bumi Arta (BNBA) Rights Issue Rp 828 Miliar, Ajaib Tak Eksekusi Seluruh Haknya
- ↑ Ajaib Group 'Pasang Badan', BNBA Penuhi Modal Rp 3 T
- ↑ Ajaib Masuk, Bank Bumi Arta Punya 3 Bos Baru! Ini Profilnya