Agama di Tiongkok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Upacara sembahyang publik di Kuil Shennong-Yandi, di Suizhou, Hubei.
Kelenteng Pemberkatan Filial, sebuah tempat untuk penghormatan leluhur, di Wenzhou, Zhejiang.
Sebuah kuil Taois di Shangrao, Jiangxi, yang didedikasikan kepada Dongyue, dewa Gunung Tai, salah satu Lima Gunung Besar.

Tiongkok memiliki sejarah panjang dalam hal kepercayaan dan menjadi tempat dari asal muasal berbagai tradisi agama-filsafat di dunia. Konghucu dan Tao, ditambah Buddha, yang disebut "tiga pengajaran", memiliki pengaruh siginifikan dalam pembentukan budaya Tionghoa.[1][2] Unsur-unsur dari tiga sistem kepercayaan tersebut masuk ke dalam agama tradisional atau populer.[3] Agama-agama Tionghoa berorientasi keluarga. Beberapa sarjana tidak menggunakan istilah "agama" untuk menyebut sistem kepercayaan di Tiongkok, dan menganggap sebutan "praktik kebudayaan", "sistem berpikir" atau "filsafat" sebagai istilah yang lebih cocok.[4] Terdapat perdebatan mengenai apa yang harus disebut agama dan yang harus disebut beragama di Tiongkok.[5] Kaisar-kaisar Tiongkok mengklaim Mandat Surga dan ikut dalam praktik-praktik keagamaan Tionghoa, Sejak 1949, Tiongkok diperintah oleh Partai Komunis Tiongkok, yang, dalam teori, merupakan sebuah institusi ateis dan melarang para anggota partai tersebut untuk masuk sebuah agama.[6] Pada masa pemerintahan Mao Zedong, gerakan keagamaan ditentang.[7] Dibawah pemimpin yang paling terkini, organisasi-organisasi keagamaan lebih diberi otonomi.[8] Pada waktu yang bersamaan, Tiongkok dianggap sebagai sebuah negara dengan sejarah humanis dan sekuler yang panjang, yang dikatakan, telah ada sejak zaman Konghucu[9][note 1] yang menekankan shisu (Hanzi: 世俗; Pinyin: shìsú, "berada di dunia").[11] Partai secara resmi dan secara institusional mengakui lima doktrin agama: Buddha, Tao, Islam, Protestan, dan Katolik (meskipun memiliki hubungan sejarah, Partai memaksa pemisahan Gereja Katolik Tiongkok dari Gereja Katolik Roma),[12] dan terdapat peningkatan pengakuan institusional Konghucu dan agama asli Tionghoa.[13][14]

Secara demografi, sistem agama terbesar adalah "agama Tionghoa", yang tak hanya terdiri dari ajaran Konghucu dan Taois, unsur-unsur Buddha, namun juga berbagai tradisi lainnya, dan terdiri dari persekutuan dengan shen (神), sebuah karakter yang memadukkan berbagai dewa-dewa, yang dapat merupakan deitas lingkungan alam atau prinsip leluhur kelompok manusia, konsep sipilitas, pahlawan budaya, beberapa diantaranya menampilkan sejarah dan mitologi Tionghoa.[15] Beberapa dewa yang menyebarkan kultus adalah Mazu (dewi laut),[16] Huangdi (patriarkh ilahi seluruh Tiongkok, "Volksgeist" negara Tiongkok),[17][18] Guandi (dewa perang dan usaha), Caishen (dewa kemakmuran dan kekayaan), Pangu dan lain-lain. Tiongkok memiliki beberapa patung-patung tertinggi di dunia. Kebanyakan dari patung tersebut mewakili buddha-buddha dan dewa-dewa dan dibangun pada 2000an. Patung tertinggi di dunia adalah Wihara Musim Semi Buddha, yang terletak di Henan. Saat ini, pagoda tertinggi di dunia juga dibangun di negara tersebut di Wihara Tianning, dan stupa tertinggi di dunia di Wihara Famen. Buddha Tionghoa telah berkembang sejak abad ke-1, dan memberikan pengaruh besar di Tiongkok modern.

Para cendekiawan menyatakan bahwa di Tiongkok tidak ada batasan yang jelas antara agama-agama, khususnya Buddha, Tao dan praktik agama asli populer lokal.[19] Menurut analisis demografi paling terkini, sekitar 80% populasi di Tiongkok, yang meliputi ratusan juta orang, mempraktikan beberapa jenis agama asli Tionghoa dan Tao, 10–16% adalah Buddhis, 2–4% adalah Kristen, dan 1–2% adalah Muslim. Selain agama lokal dan tradisional suku Tionghoa Han, terdapat juga kelompok etnis minoritas yang memeluk agama yang dapat ditemukan dimana ia berada. sekte-sekte agama asli meliputi 2–3% sampai 13% populasi, seentara Konghusu sebagai agama rancangan diri terkenal pada kalangan intelektual.

Kepercayaan-kepercayaan tertentu secara khusus terikat dengan kelompok etnis tertentu yang meliputi Buddha Tibet dan Islam Hui dan Uighur. Kekristenan di Tiongkok diperkenalkan dua kali pada abad ke-7 dan ke-15, namun tixak mengakar sampai diperkenalkan kembali pada abad ke-16 oleh para misionaris Yesuit.[20] Misi-misi Protestan dan kemudian misionaris-misionaris Katolik menyebarkan agama Kristen, yang mempengaruhu Pemberontakan Taiping pada abad ke-19.[21] Di bawah Komunismr, para misionaris asing diusir, sebagian besar gereja ditutup dan sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit dan panti-panti asuhan dirampas.[22] Pada masa Revolusi Kebudayaan, beberapa pendeta ditahan.[23] Setelah akhir 1970an, kebebasan beragam untuk Kristen diperlonggar.[24]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kuno dan pra-sejarah[sunting | sunting sumber]

Ekspresi budaya kuno Tiongkok
Xiwangmu, "Ibu Ratu dari Barat". Dari sebuah mural dinasti Han.
Leishen ("Dewa Petir"), menghukum orang-orang jahat atas perantara Surga (1923).

Sebelum pembentukan sipilisasi Tiongkok dan persebaran agama-agama dunia di wikayah yang umumnya sekarang dikenal sebagai Asia Timur (yang meliputi perbatasan teritorial Tiongkok saat ini), suku-suku lokal disatukan oleh animistik, shamanik dan totemik, dan tokoh-tokoh pengajar seperti shaman yang dijadikan jalan dimana para pendoa, barang-barang keramat dan sesembahan terhubung dengan dunia spiritual. Warisan shamanik dan spiritual kuno tersaji pada masa sekarang dalam bentuk agama asli Tionghoa, termasuk Taoisme.[25][26]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Beberapa sarjana menanggap ajaran Konghucu sebagai humanis dan sekuleris. Meskipun demikian, Herbert Fingarette menganggap ajaran Konghucu sebagai sebuah agama yang "mensakralkan sekuler".[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Yao, 2011. p. 11
  2. ^ Miller, 2006. p. 57
  3. ^ Xie, 2006. p. 73
  4. ^ Rodney L. Taylor. Proposition and Praxis: The Dilemma of Neo-Confucian Syncretism. On: Philosophy East and West, Vol. 32, No. 2, April 1982. p. 187
  5. ^ Appropriation and Control: the Category of "Religion", and How China Defines It. Chapter Three in: Torri Gunn, Defining Religion with Chinese Characters: Interrogating the Criticism of the Freedom of Religion in China. (Master's thesis: University of Ottawa, 2011). pp. 17–50
  6. ^ Kuhn, 2011. p. 373
  7. ^ Kuhn, 2011. p. 362
  8. ^ Kuhn, 2011. p. 368
  9. ^ Mark Juergensmeyer. Religion in Global Civil Society. Oxford University Press, 2005. p. 70, quote: «[...] humanist philosophies such as Confucianism, which do not share a belief in divine law and do not exalt faithfulness to a higher law as a manifestation of divine will [...]».
  10. ^ Herbert Fingarette. Confucius: The Secular As Sacred. Waveland, 1998. ISBN 1-57766-010-2
  11. ^ Chen (2012), hlm. 127.
  12. ^ Rowan Callick. Party Time: Who Runs China and How. Black Inc, 2013. p. 112
  13. ^ Laliberté (2011), hlm. 7-8.
  14. ^ Wang (2011).
  15. ^ Steven F. Teiser. What is Popular Religion?. Part of: Living in the Chinese Cosmos, Asia for Educators, Columbia University. Extracts from: Stephen F. Teiser. The Spirits of Chinese Religion. In: Religions of China in Practice. Princeton University Press, 1996.
  16. ^ China Zentrum: Religions & Christianity in Today's China. Vol. IV, 2014, No. 1. ISSN 2192-9289. pp. 22-23
  17. ^ Laliberté (2011), hlm. 7.
  18. ^ Sautman (1997), hlm. 80-81.
  19. ^ Yao (2010), hlm. 9-10.
  20. ^ Bays (2012), hlm. 7-15, 18-21.
  21. ^ Bays (2012), hlm. 48-52 ff.
  22. ^ Geoffrey Blainey. A Short History of Christianity. Viking, 2011. p. 508
  23. ^ Geoffrey Blainey. A Short History of Christianity. Viking, 2011. p. 531
  24. ^ Geoffrey Blainey. A Short History of Christianity. Viking, 2011. p. 532
  25. ^ Wang (2004), hlm. 60-61.
  26. ^ Yang & Lang (2011), hlm. 112.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Akademik

Media[sunting | sunting sumber]

Templat:Agama di Tiongkok