Agama di Vietnam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Agama di Vietnam (2014)[1]

  Buddhisme (12.2%)
  Katolik (6.8%)
  Caodaisme (4.8%)
  Protestantisme (1.5%)
  Hoahaoisme (1.4%)
  Lain-lain (0.1%)

Agama di Vietnam telah ada sejak lama yang meliputi kepercayaan asli Vietnam, yang dalam sejarah dibentuk dari doktrin-doktrin Konghucu dan Taoisme dari China, serta tradisi yang kuat dari Buddhisme (yang disebut tiga pengajaran atau tam giáo). Vietnam adalah salah satu negara beragama di dunia. Menurut statistik resmi dari pemerintah, pada 2014 terdapat 24 juta orang yang teridentifikasi dengan salah satu agama yang disahkan dari jumlah penduduk berjumlah 90 juta. 11 juta orang diantaranya adalah penganut Buddha (12.2%), 6.2 juta adalah penganut Katolik (6.8%), 4.4 juta adalah penganut Caodai (4.8%), 1.4 juta adalah penganut Protestan (1.6%), 1.3 juta adalah penganut Hoahao (1.4%), dan terdapat 75,000 Muslim, 7,000 Bahai, 1,500 Hindu dan kelompok kecil lainnya (<1%).[1] Kepercayaan asli (pemujaan kepada dewa, dewi dan leluhur) telah lahir kembali sejak 1980an.[2]

Menurut perkiraan Pew Research Center, pada 2010 kebanyakan orang Vietnam mempraktikan kepercayaan asli (45.3%), penganut Buddha meliputi 16.4% dari jumlah penduduknya, sekitar 8.2% dari masyarakat Vietnam adalah penganut Kristen (kebanyakan Katolik), dan sekitar 30% tak berafiliasi ke agama manapun.[3][4] Secara resmi, Republik Sosialis Vietnam adalah sebuah negara ateis seperti yang dideklarasikan oleh pemerintah komunis-nya.[5]

Ikhtisar[sunting | sunting sumber]

Meskipun menurut sensus 1999, kebanyakan orang Vietnam menyatakan diri mereka sendiri sebagai orang yang tak berafiliasi dalam agama,[6] agama, yang didefinisikan menurut kepercayaan dan praktik yang diberikan, masih menjadi bagian mendalam dari kehidupan Vietnam,[7] menuntun perilaku sosial dan praktik-praktik spiritual dari orang-orang Vietnam baik di Vietnam dan di luar negeri. Agama tripel (bahasa Vietnam: tam giáo), merujuk kepada percampuran sinkretis dari Buddha Mahayana, Konghucu, dan Taoisme, dan kepercayaan asli Vietnam (juga sering dicampur dengan mereka), masih memiliki pengaruh yang kuat pada kepercayaan dan praktik Vietnam. Salah satu praktik spiritual umum dan paling terkenal adalah penghormatan leluhur, sebuah praktik yang berkembang pada budaya Tionghoa dan kebanyakan budaya Asia lainnya.

Sebuah laporan Pew Research Center 2002 mengklaim bahwa 24% dari penduduk Vietnam memandang agama "sangat berpengaruh".[8]

Buddha[sunting | sunting sumber]

Pagoda Satu Pilar di Hà Nội, sebuah kuil Buddha bersejarah.
Buddha Amitabha, figur utama Buddha Tanah Murni, sedang memberkati seorang perempuan saleh dalam sebuah relief di Pagoda Quan Am, Cholon.

Buddhisme datang ke Vietnam pada awal abad kedua Masehi di bagian Utara dari China dan melalui rute Selatan dari India.[9] Buddha Mahayana pertama kali menyebar dari China ke wilayah Delta Sungai Merah di Vietnam pada sekitar tahun 300 Masehi. Buddha Theravada datang dari India di selatan wilayah Delta Mekong beberapa tahun kemudian, antara 300-600 Masehi. Buddhisme yang dipraktikan oleh orang Vietnam biasanya adalah aliran Mahayana, meskipun beberapa etnis minoritas (seperti Khmer Krom di wilayah Delta selatan Vietnam) masuk aliran Theravada.[10]

Praktik Buddha di Vietnam berbeda dari negara Asia lainnya, dan tidak berisi struktur, hierarki, atau sangha institusional yang sama dengan tradisi Buddha lainnya. Agama tersebut berkembang dari hubungan simbiosis dengan Taoisme, spiritualitas Tionghoa, dan agama asli Vietnam, dengan kebanyakan praktisioner Buddha berfokus pada ritual devosional ketimbang meditasi.[11]

Kekristenan[sunting | sunting sumber]

Katolik[sunting | sunting sumber]

Katedral Notre Dame di Ho Chi Minh City, Vietnam.

Sejauh perkembangan gereja Kristen terbesar di Vietnam tersebut, Katolik Roma pertama kali masuk negara tersebut melalui para misionaris Katolik Portugis pada abad ke-16 dan pengaruhnya menguat pada masa pemerintahan kolonial Prancis. Meskipun misi-misi terawal hanya berhasil melakukan perpindahan agama, misi-misi selanjutnya yang dilakukan oleh para misonaris Yesuit kemudian mendirikan pusat-pusat Kristen terhadap para penduduk lokal.

Misionaris Yesuit Alexandre de Rhodes, yang berkarya di Vietnam antara 1624 dan 1644, menjadi misionaris terkenal pada masa tersebut.[12] Selain itu, ia membuat jasa-jasa signifikan terhadap budaya Vietnam dengan mengembangkan abjad pada bahasa Vietnam bersama dengan para sarjana Vietnam dan berdasarkan pada karya para misionaris Portugis awal. Penggunaan abjad tersebut, yang berdasarkan pada aksara Latin dengan penambahan tanda-tanda diakritik, aslinya digunakan untuk membantu pengajaran dan upaya-upaya penginjilan. Abjad tersebut masih digunakan, dan sekarang disebut sebagai Quốc Ngữ (bahasa nasional).

Pastor misionaris Prancis Pigneau de Behaine memainkan peran penting dalam sejarah Vietnam pada akhir abad ke-18 dengan berteman dengan Nguyễn Ánh, anggota paling senior dari kepala-kepala pemerintahan Nguyễn untuk kabur dari pemberontakan Tây Sơn bersaudara pada 1777.[13][14][15][16][17][18] Menjadi orang kepercayaan dan penasihat militer Nguyễn Ánh pada saat dibutuhkan,[19][20][21][22] ia meraih kesepakatan besar bagi Gereja. Pada saat Nguyễn Ánh menjadi Kaisar Gia Long, aktivitas misionaris Katolik diberi izin tanpa halangan sebagai tanda balas budi.[23] pada waktu kenaikan tahta Kaisar tersebut pada 1802, Vietnam memiliki 3 keuskupan Katolik dengan 320,000 anggota dan lebih dari 120 imam/pastor Vietnam.[24]

Menurut Katalog Hierarki Katolik, saat ini terdapat 5,658,000 penganut Katolik di Vietnam, mewakili 6.87% dari seluruh penduduknya.[25] Terdapat 26 keuskupan (termasuk tiga keuskupan agung) dengan 2228 paroki dan 2668 imam/pastor.[25]

Protestan[sunting | sunting sumber]

Protestan diperkenalkan di Da Nang pada 1911 oleh seorang misionaris Kanada yang bernama Robert A. Jaffray; selama bertahun-tahun, ia disusul oleh lebih dari 100 misionaris, para anggota dari Aliansi Kristen dan Misionaris, sebuah denominasi Protestan Evangelikal. Dua organisasi Protestan yang secara resmi disahkan oleh pemerintah adalah Gereja Evangelikal Selatan Vietnam (GESV), yang disahkan pada 2001, dan Gereja Evangelikal Utara Vietnam (GEUV) yang lebih kecil, yang disahkan sejak 1963.[26]

Saat ini, diperkirakan jumlah penganut Protestan menurut sumber pemerintahan adalah 500,000 orang sementara menurut sumber gereja adalah 1 juta orang. Perkembangan terbanyak terjadi pada suku-suku minoritas (Montagnard) seperti Mnong, Ede, Jarai, dan Bahnar, dengan perkiraan yang mengklaim bahwa dua dari tiga penganut Protestan di Vietnam adalah anggota dari etnis minoritas.[27] Menurut beberapa perkiraan, pertumbuhan penganut Protestan di Vietnam bertumbuh 600 persen dari sepuluh tahun sebelumnya. beberapa orang yang baru berpindah agama masuk dalam gereja-gereja rumah evangelikal yang tak terdaftar, yang jumlah pengikutnya dikatakan secara keseluruhan berjumlah sekitar 200,000 orang.[27]

Gerakan Baptis dan Mennonite secara resmi diakui oleh Hanoi pada Oktober 2007, yang dipandang sebagai pengaruh terbesar dalam tingkat kebebasan beragama yang dinikmati oleh penganut Protestan di Vietnam.[28] Hal yang serupa juga terjadi pada Oktober 2009, gerakan Majelis Allah secara resmi mendapatkan izin dari pemerintah untuk beroperasi, yang merupakan langkah awal untuk menjadi sebuah organisasi yang disahkan.[29]

Majelis-Majelis Allah dikatakan terdiri dari sekitar 40,000 pengikut pada 2009,[29] Gereja Baptis sekitar 18,400 pengikut dengan 500 tempat pelayanan pada 2007,[28] dan Gereja Mennonite sekitar 10,000 pengikut.

Ortodoks Timur[sunting | sunting sumber]

Untuk Kristen Ortodoks, Gereja Ortodoks Rusia diwakili di Vũng Tàu, Vietnam, yang utamanya berasal dari para karyawan pemakai bahasa Rusia dari perusahaan hasil kerjasama Rusia-Vietnam "Vietsovpetro". Paroki yang mengambil nama dari ikon Bunda dari Kazan dibuka pada 2002 dengan pemberkatan dari Sinode Kudus Gereja Ortodoks Rusia, yang diberikan di Troitse-Sergiyeva Lavra. Para perwakilan dari departemen hubungan luar negeri Gereja Ortodoks Rusia datang ke Vũng Tàu dari waktu ke waktu untuk memberikan pelayanan ilahi Ortodoks.[30]

Vietnam juga disebut sebagai wilayah dibawah yuridiksi Metropolitan Hong Kong & Asia Tenggara Nikitas (Kepatriarkan Ekumenikal Konstantinopel), meskipun disana tidak ada kabar tentang aktivitas terorganisirnya disana.

Hindu[sunting | sunting sumber]

Hindu di Vietnam dikaitkan dengan etnis minoritas Cham; agama pertama dari kerajaan Champa merupakan sebuah bentuk dari Hindu Saiwis, yang dibawa melalui laut dari India. Suku Cham mendirikan kuil-kuil Hindu (Bimong) di wilayah Tengah Vietnam, beberapa diantaranya masih digunakan saat ini; Mỹ Sơn yang sekarang sudah tidak digunakan, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, adalah kompleks candi Cham paling terkenal.

Sekitar 50,000 etnis Cham di wilayah pesisir selatan-tengah mempraktikan bentuk devosional dari Hindu. Kebanyakan Hindu Cham masuk dalam kasta Nagavamshi Kshatriya,[31] namun sebagian kecil merupakan Brahmin.[32] 4,000 penganut Hindu lainnya (kebanyakan Tamil, dan yang lainnya berasal dari keturunan Cham atau campuran India-Vietnam) yang tinggal di Ho Chi Minh City, di mana Kuil Mariamman dijadikan sebagai titik penting pada komunitasnya. Di Provinsi Ninh Thuận, di mana kebanyakan Cham di Vietnam bermukim, Cham Balamon (Hindu Cham) berjumlah 32,000 orang; di antara 22 desa di Ninh Thuận, 15 desa diantaranya adalah desa Hindu.[33]

Catatan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Home Office: Country Information and Guidance — Vietnam: Religious minority groups. December 2014. Quoting United Nations' "Press Statement on the visit to the Socialist Republic of Viet Nam by the Special Rapporteur on freedom of religion or belief". Hanoi, Viet Nam 31 July 2014. Vietnamese. Quote, p. 8: "[...] According to the official statistics presented by the Government, the overall number of followers of recognized religions is about 24 million out of a population of almost 90 million. Formally recognized religious communities include 11 million Buddhists, 6.2 million Catholics, 1.4 million Protestants, 4.4 million Cao Dai followers, 1.3 million Hoa Hao Buddhists as well as 75,000 Muslims, 7000 Baha’ís, 1500 Hindus and others. The official number of places of worship comprises 26,387 pagodas, temples, churches and other religious facilities. [...] While the majority of Vietnamese do not belong to one of the officially recognized religious communities, they may nonetheless – occasionally or regularly – practise certain traditional rituals, usually referred to in Viet Nam under the term "belief". Many of those traditional rituals express veneration of ancestors. [...]"
  2. ^ Philip Taylor. Goddess on the Rise: Pilgrimage and Popular Religion in Vietnam.
  3. ^ The Global Religious Landscape 2010. The Pew Forum.
  4. ^ "Global Religious Landscape". The Pew Forum. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  5. ^ Jan Dodd, Mark Lewis, Ron Emmons. The Rough Guide to Vietnam, Vol. 4, 2003. p. 509: "After 1975, the Marxist-Leninist government of reunified Vietnam declared the state atheist while theoretically allowing people the right to practice their religion under the constitution."
  6. ^ "Vietnam". World Factbook. Central Intelligence Agency. Diakses tanggal 17 Mei 2010. 
  7. ^ "Beliefs and religions". Embassy of Vietnam (USA). Diakses tanggal 17 Mei 2010. 
  8. ^ "Among Wealthy Nations, U.S. Stands Alone In Its Embrace of Religion". Pew Global Attitudes Project. Pew Research Center. 2002-12-19. Diakses tanggal 2010-06-22. 
  9. ^ Cuong Tu Nguyen. Zen in Medieval Vietnam: A Study of the Thiền Uyển Tập Anh. Honolulu: University of Hawaii Press, 1997, pg 9.
  10. ^ Cuong Tu Nguyen & A.W. Barber. "Vietnamese Buddhism in North America: Tradition and Acculturation". in Charles S. Prebish and Kenneth K. Tanaka (eds). The Faces of Buddhism in America. Berkeley: University of California Press, 1998, pg 130.
  11. ^ Cuong Tu Nguyen & A.W. Barber 1998, pg 132.
  12. ^ Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Indo-China". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  13. ^ Hall, D. G. E. (1981). A History of South-east Asia. Macmillan. ISBN 0-333-24163-0. , p. 423.
  14. ^ Cady, John F. (1964). "Southeast Asia: Its Historical Development". McGraw Hill. , p. 282.
  15. ^ Buttinger, p. 266.
  16. ^ Mantienne, p. 520.
  17. ^ McLeod, Mark W. (1991). The Vietnamese response to French intervention, 1862–1874. Praeger. ISBN 0-275-93562-0. , p. 7.
  18. ^ Karnow, Stanley (1997). Vietnam: A history. New York: Penguin Books. ISBN 0-670-84218-4. , p. 75.
  19. ^ Buttinger, p. 234.
  20. ^ McLeod, Mark W. (1991). The Vietnamese response to French intervention, 1862–1874. Praeger. ISBN 0-275-93562-0. , p. 9.
  21. ^ Cady, John F. (1964). "Southeast Asia: Its Historical Development". McGraw Hill. , p. 284.
  22. ^ Hall, D. G. E. (1981). A History of South-east Asia. Macmillan. ISBN 0-333-24163-0. , p. 431.
  23. ^ Buttinger, pp. 241, 311.
  24. ^ "Catholic Church in Vietnam with 470 years of Evangelization". Rev. John Trần Công Nghị, Religious Education Congress in Anaheim. 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-06-14. Diakses tanggal 2007-05-17. 
  25. ^ a b (Inggris) "Statistics by Country". Catholic-Hierarchy.org. David M. Cheney. Diakses tanggal 21 January 2015. 
  26. ^ "Vietnam". International Religious Freedom Report 2005. Departemen Negara AS: Biro Demokrasi, Hak Asasi manusia, dan Buruh. 2005-06-30. Diakses tanggal 2010-05-19. 
  27. ^ a b Compass Direct (2002-09-20). "Vietnam Protestants Call Conference 'Miraculous'". Christianity Today. Diakses tanggal 2006-07-21. 
  28. ^ a b "Hanoi officially recognises Baptists and Mennonites". Asianews.it. 2007-10-03. Diakses tanggal 2010-05-19. 
  29. ^ a b Vietnam News (2009-10-20). "Assemblies of God receive permit covering 40 provinces". Vietnam News. Diakses tanggal 2012-07-28. 
  30. ^ "Holy Week and Easter celebrated in Vietnam" (dalam bahasa Russian). Educational Orthodox Society "Russia in colors" in Jerusalem. Diakses tanggal 2010-05-19. 
  31. ^ India's interaction with Southeast Asia, Volume 1, Part 3 By Govind Chandra Pande, Project of History of Indian Science, Philosophy, and Culture, Centre for Studies in Civilizations (Delhi, India) p.231,252
  32. ^ "Vietnam". International Religious Freedom Report 2004. Departemen Negara AS: Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Buruh. 2002-10-22. Diakses tanggal 2010-05-19. 
  33. ^ Champa and the archaeology of Mỹ Sơn (Vietnam) by Andrew Hardy, Mauro Cucarzi, Patrizia Zolese p.105

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Templat:Topik Vietnam