Buddhabhāva

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Patu Buddha dari Dinasti Tang Cina, Provinsi Hebei.

Dalam Buddhisme, Buddhabhāva (bahasa Indonesia: Jalan Kebuddhaan, bahasa Inggris: buddhahood, bahasa Sanskerta: बुद्धत्व buddhatva, bahasa Pali: बुद्धत्त buddhatta atau बुद्धभाव, buddhabhāva) merupakan tingkat pencerahan sempurna (bahasa Sanskerta: सम्यक्सम्बोधि samyaksambodhi, bahasa Pali: सम्मासम्बोधि sammāsambodhi) yang telah dicapai oleh Buddha (pengucapan bahasa Inggris: [ˈbuːdə] atau /ˈbʊdə/; Sanskrit pronunciation: [ˈbud̪d̪ʱə]  ( listen); Pali/Sanskrit untuk "yang tercerahkan"). Istilah buddha biasanya merujuk kepada ia yang telah menjadi tercerahkan (contoh: kesadaran akan kebenaran, atau Dhamma). Tingkatan dimana perubahan ini membutuhkan pemisahan dari kehidupan sehari-hari (tindakan asketisme) beragam dari tidak ada sama sekali hingga persyaratan mutlak, tergantung kepada ajaran yang dijalani.

Dalam tradisi Buddhisme Theravada, diketahui bahwa seseorang mencapai tingkatan ini dengan sendirinya, tanpa guru untuk menunjukkan Dhamma, disaat ketika ajaran Empat Kesunyataan Mulia atau Delapan Jalan Utama belum lagi ada di dunia, dan mengajarkannya kepada yang lain. Bertolak belakang, beberapa tradisi Mahayana (terlebih kepada mereka yang menilai pengajaran Sutra Teratai lebih penting, yang mencakup konsep ini).

Buddhabhāva (Jalan Kebuddhaan) dianggap sebagai sifat kebijaksanaan mutlak yang universal dan asli yang dinyatakan dalam hidup seseorang melalui praktik Buddhis, tanpa pelepasan dari kesenangan atau "hasrat duniawi" tertentu. Oleh karenanya, ada gambaran yang lebih luas mengenai pendapat tentang keuniversalan dan metode pencapaian Buddhabhāva (Jalan Kebuddhaan) yang berhubungan dengan ajaran oleh Buddha Shakyamuni yang diikuti oleh sekolah Buddhisme.

Lebih luas lagi, istilah ini sering digunakan untuk merujuk pada mereka yang telah mencapai nirvana.[1] Dalam artian luas ini, hal ini serupa dengan Arahant. Menurut tradisi Theravada, semua Arahant (atau para Buddha dalam artian yang lebih luas) adalah sama dalam hal aspek penting akan Pembebasan (Nirvana), tetapi berbeda dalam pelaksanaan menuju kesempurnaan seluruh parami. Akan tetapi, dalam Buddhisme Mahayana, menganggap adanya perubahan fundamental antara Buddha dan arahant biasa, dalam rangka menjadi seorang Buddha, seorang Buddhis melanjutkannya melalui tingkatan bodhisattva. Umat Buddhis tidak menganggap bahawa Siddharta Gautama sebagai satu-satunya Buddhya. Kanon Pali merujuk ke beberapa nama terdahulu (lihat Daftar 28 Buddha), sedangkan tradisi Mahayana memiliki beberapa tambahan Buddha surgawi, selain berdasarkan catatan sejarah, maupun asal (lihat Amitabha atau Vairocana sebagai contoh, untuk daftar-daftar ribuan nama Buddha lihat Taishō Shinshū Daizōkyō nomor 439–448). Umat Buddhis Theravada dan Mahayana bersama-sama percaya bahwa Buddha berikut akan bernama Maitreya (bahasa Pali: Metteyya).

Jenis Buddhabhāva[sunting | sunting sumber]

Dalam pemahaman Buddhisme, terdapat tiga jenis Buddhabhāva.[1]

  • Samyaksambuddha (Pāli: sammasambuddha), seringkali digunakan untuk merujuk sebagai Buddha, ia yang telah mencapai samyaksambodhi
  • Pratyekabuddha (Pāli: paccekabuddha)
  • Śrāvakabuddha (Pāli: sāvakabuddha)

Dua jenis pertama mencapai Nirvana melalui usaha mereka sendiri, tanpa panduan seorang guru untuk menjelaskan tentang Dhamma. Istilah Sāvakabuddha tidak tampil dalam naskah Kanon Pali Theravada tetapi disebut dalam tiga karya komentar Theravada[diragukan ] dan merujuk kepada seorang pengikut Buddha yang mencapai pencerahan.

Samyaksambuddha[sunting | sunting sumber]

Samyaksambuddhas (Pāli: sammasambuddha) mencapai Nirvana dengan usaha sendiri, dan menemukan Dhamma tanpa bimbingan seorang guru. Mereka selanjutnya memimpin lainnya untuk mencapai pencerahan dengan mengajarkan Dhamma dalam suatu waktu atau dunia dimana telah dilupakan atau yang sebelumnya belum pernah diajarkan, karena Samyaksambuddha tidak bergantung pada sebuah tradisi yang berasal dari Samyaksambuddha sebelumnya, akan tetapi menemukan langkah baru.[2] Buddha dalam sejarah, Buddha Gautama merupakan seorang Samyaksambuddha. Lihat pula daftar 28 Buddha.

Tiga perbedaan dapat dikenali dalam upaya mencapai tahapan Samyaksambuddha. Dengan kebijaksanaan yang lebih (prajñādhika), dengan upaya yang lebih (vīryādhika) atau dengan kepercayaan yang lebih (śraddhādhika). Śākyamuni adalah seorang Buddha Prajñādhika (melalui kebijaksanaan yang lebih). Buddha yang datang kemudian di dunia ini, Maitreya (Pāli: Metteyya) akan menjadi seorang Buddha Vīryādhika (melalui upaya yang lebih).

Pratyekabuddha[sunting | sunting sumber]

Pratyekabuddha (Pāli: paccekabuddha) serupa dengan Samyaksambuddha dalam upaya mencapai Nirvāṇa tanpa bimbingan seorang guru. Akan tetapi, tidak seperti Samyaksambuddha, mereka tidak mengajarkan Dhamma yang mereka temukan. Mereka juga tidak membentuk Saṅgha bagi para pengikutnya untuk menlanjutkan pengajaran, oleh karena pada awalnya mereka sendiri tidak mengajar. Dalam beberapa karya, mereka disebut pula sebagai "Buddha diam". Beberapa naskah Buddhis membandingkan (dari sumber kemudian; setelah manggatnya Buddha, seperti Jātakas), menceritakan Pratyekabuddha memberikan pengajaran. Seorang Paccekabuddha terkadang dapat mengajar dan menegur orang, tetapi teguran mereka bertujuan untuk tingkah laku baik dan layak (Pāli: abhisamācārikasikkhā), dan bukan mengenai Nirvana.

Dalam beberapa naskah, mereka digambarkan sebagai 'ia yang mengerti Dhamma melalui upayanya sendiri, tetapi mencapai kemahatahuan atau keahalian akan Buah' (phalesu vasībhāvam).[3]

Śrāvakabuddha[sunting | sunting sumber]

Śrāvaka (Sanskerta; Pāli: sāvaka; berarti "pendengar" atau "pengikut") adalah seorang pengikut Samyaksambuddha. Pengikut tercerahkan biasanya disebut arahant (Yang Mulia) atau ariya-sāvaka (Pengikut Mulia). (Istilah ini memiliki artian sedikit beragam tetapi keduanya dapat digunakan untuk menggambarkan pengikut yang tercerahkan.) Komentar versi Theravada untuk Udana menggunakan istilah sāvaka-buddha (Pāli; Sanskerta: śrāvakabuddha) untuk menggambarkan pengikut yang tercerahkan[4]

Para pengikut yang tercerahkan juga mencapai Nirvana seperti kedua jenis Buddha yang disebutkan terdahulu. Setelah mencapai pencerahana, para pengikut dapat pula membimbing lainnya ke arah pencerahan. Seseorang tidak dapat menjadi pengikut Buddha dalam suatu waktu atau dunia dimana ajaran Buddha telah dilupakan atau belum pernah diajarkan sebelumnya, karena jenis pencerahan seperti ini tergantung kepada tradisi yang ditarik mundur ke tradisi seorang Samyaksambuddha.

Kata yang jarang digunakan, anubuddha, adalah sebuah istilah yang digunakan Buddha dalam Khuddakapatha[5] untuk mereka yang menjadi buddha setelah mendapatkan petunjuk.

Dalam Kanon Pāli sendiri, dua nama terdahulu disebutkan dengan menggunakan nama tersebut, sedangkan beragam contoh dari tipe ketiga, tidak menggunakan istilah itu. Tipe-tipe Buddha tidak disebutkan secara langsung, walau kata buddha itu sendiri memang beberapa kali tertulis guna mencakup artian luas dari semua tipe di atas.

Karakteristik Buddha[sunting | sunting sumber]

Sepuluh Gelar[sunting | sunting sumber]

Beberapa umat Buddhis melakukan meditasi (atau perenungan) mengenai Buddha yang memiliki sepuluh karakteristik (Tionghoa Jepang: 十號):

  1. Tathāgata (Sanskerta ; Pali) : yang telah pergi, yang telah kembali[6]
  2. Arahat (Sanskerta; Pali: Arhat) : yang patut dipuja[7] Juga berarti seorang suci tingkat tertinggi dalam tradisi Theravada sedangkan dalam tradisi Mahayana dikenal dengan sebutan Bodhisattva
  3. Samyak-saṃbuddha (Sanskerta ; Pali : Samma-Sambuddha) :
  4. vidyā-caraṇa-saṃpanna (Sanskerta) :
  5. Sugata (Sanskerta ; Pali) :
  6. Anuttara (Sanskerta ; Pali) :
  7. Loka-vid (Sanskerta ; Pali Loka-Vidu) :
  8. Puruṣa-damya-sārathi (Sanskerta ; Pali : Purisa-damma-sarathi) :
  9. śāsta deva-manuṣyāṇaṃ (Sanskerta ; Pali : Sattha-Deva-Manussanam) :
  10. Bhagavān (Sanskerta ; Pali : Bhagava) (Buddha-Lokanatha) :

Karakteristik ini disebutkan berulang kali di Kanon Pali dan juga dalam pengajaran Mahayana, dan digumamkan (berdoa) di banyak biara Buddhis.

Kebanyakan kelompok Buddhis juga mempercayai bahwa Buddha adalah maha mengetahui. Akan tetapi, beberapa naskah awal menuliskan penolakan jelas akan pernyataan tersebut mengenai Buddha.[8][9]

Sepuluh gelar juga seringkali dimasukkan dalam "Dunia Menghormati Yang Tercerahkan" (Inggris: "The World Honored Enlightened One") (Sanskerta: Buddha-Lokanatha) atau "Sang Tercerahkan yang Terberkati" (Inggris:"The Blessed Enlightened One") (Sanskerta: Buddha-Bhagavan).[10]

Dalam komentar yang ditulis oleh Yang Mulis Guru Hsuan Hua mengenai Surangama Sutra, ia menjelaskan perumpamaan lucu berikut.

Pada dasarnya setiap Buddha memiliki puluhan ribu nama. Dari puluhan ribu nama ini dikurangi menjadi seribuan karena manusia menjadi bingung karena mencoba mengingat semua itu. Untuk sementara waktu setiap Buddha memiliki seribuan nama, akan tetapi manusia tetap tidak dapat mengingat begitu banyak, sehingga dikurangi menjadi seratusan nama. Setiap Buddah memiliki seratusan nama dan mahluk hidup menghadapi kesulitan mengingatnya, sehingga nama-nama tersebut dikurangi menjadi sepuluh.[11]

Realisasi spiritual[sunting | sunting sumber]

Sang Buddha, dalam gaya Greko-Buddhis, abad ke 1-2 Masehi, Gandhara (sekarang Pakistan). (Buddha Berdiri (Musium Nasional Tokyo)).

Seluruh tradisi Buddhis mempercayai bahwa Buddha telah membersihkan pikirannya akan keinginan, kebencian dan kebodohan sepenuhnya, dan ia tidak lagi terikat dalam lingkaran Samsara. Seorang Buddha adalah seseorang yang tersadarkan penuh dan menyadari kebenaran yang hakiki, sifat non-dualistik akan kehidupan, dan oleh karenanya mengakhiri penderitaan (untuk dirinya) yang tidak-membangkitkan pengalaman manusia dalam hidup.

Sifat dasar Buddha[sunting | sunting sumber]

Berbagai kelompok Buddhis memiliki berbagai interprestasi beragam akan sifat Buddha (lihat dibawah).

Buddha sebagai mahluk agung[sunting | sunting sumber]

Kelompok-kelompok berbeda menganggap Buddha berbeda-beda, dimana Buddhisme Theravada menampilkan pandangan akan Buddha sebagai manusia, diberkati dengan kekuatan batiniah yang luar biasa (Kevatta Sutta). Tubuh dan pikiran (lima khanda) Buddha tidaklah abadi dan senantiasa berubah, sama seperti tubh dan pikiran manusia biasa. Akan tetapi, seorang Buddha mengenali sifat ketidak-berubahan akan Dhamma, yang merupakan pedoman abadi dan merupakan peristiwa yang tidak terkondisi dan tidak terbatas oleh waktu. Pandangan ini sangatlah umum dalam kelompok Theravada dan beberapa kelompok awal Buddhis

Pernyataan dari umat Theravada modern bahwa Buddha adalah "hanya seorang manusia" sering kali ditujukan untuk menyeimbangkan pandangan mereka akan Buddha dengan pandangan dari umat Mahayana, dan pandangan umat Kristiani akan Yesus. Menurut Kanon, Siddharta lahir sebagai manusia, walaupun kondisi spiritualnya sangat berkembang sebagai hasil dari kehidupan-kehidupan lampaunya dalam perjalanan bodhisatta. Dengan pencerahannya, oleh karenanya, ia menyempurnakan dan melampaui kondisi manusiawinya. Ketika ditanya apa ia adalah seorang deva atau seorang manusia, ia menjawab bahwa ia telah melenyapkan sifat yang secara tidak sadar telah mendarah-daging yang akan membuatnya menjadi salah satu dari hal itu, dan lebih baik dipanggil Buddha; ia yang telah tumbuh dewasa di dunia tetapi sekarang telah pergi melampauinya, seperti teratai yang tumbuh dari air tetapi berkembang di atasnya, tidak bertanah.[12]

Walaupun kelompok Theravada tidak menekankan pada aspek supernatural dan ilahi atas sang Buddha seperti yang terdapat pada Kanon Pali, unsur-unsur manusia agung sang Buddha ditemukan diseluruh kanon.

Dalam MN 18 Madhupindika Sutta, Buddha digambarkan dalam istilah Tuhan akan Dhamma yang kuasa (Pāli: Dhammasami, Sanskerta: Dharma Swami) dan penganugerah keabadian (Pāli: Amatassadata).

Serupa, dalam Anuradha Sutta (SN 44.2), sang Buddha digambarkan sebagai "sang Tathagata—lelaki agung, lelaki terbaik, pencapai pencapaian terbaik". Buddha ditanya mengenai apa yang terjadi kepada Tathagata setelah kematian atas tubuh fisik.

Buddha menjawab, "Dan oleh karenanya, Anuradha—ketika anda tidak dapat menempatkan sang Tathagata sebagai suatu kebenaran atau kenyataan bahkan di kehidupan ini—layakkah kamu untuk menyatakan, 'Teman-teman, sang Tathagata&mdashlelaki agung, lelaki terabik, pencapai pencapaian terbaik—sebagaimana digambarkan, juga digambarkan sebaliknya dengan empat posisi berikut: Sang Tathagata berada setelah kematian, tidak berada setelah kematian, keduanya ada dan tidak ada setelah kematian, begitupula ada atau tidak ada setelah kematian'?"

Dalam Vakkali Sutta, sang Buddha memperkenalkan dirinya bersama dengan Dhamma:

O Vakkali, siapapun yang melihat Dhamma, melihat aku [sang Buddha]

Rujukan lain dari Aggana Sutta dari Digha Nikaya, menyatakan kepada pengikut Vasettha:

O Vasettha! Kata Dhammakaya sesungguhnya merupakan nama sang Tathagata

Dalam Kanon Pāli Buddha Gautama dikenal sebagai "guru para tuhan dan manusia", lebih tinggi dari para tuhan dan manusia dalam artian memiliki nirvana atau kebahagiaan terbesar (dimana para dewa atau tuhan yang masih merupakan subyek kemarahan, ketakutan, kesedihan, dan lainnya).


Buddha Abadi dalam Buddhisme Mahayana[sunting | sunting sumber]

Sebuah patung Buddha Sakyamuni di Tawang Gompa, India.

Dalam beberapa sutra dalam Buddhisme Mahayana, Buddha mengajarkan bahwa Buddha pada intinya bukan lagi merupakan mahluk hidup tetapi telah menjadi mahluk dari golongan yang berbeda sepenuhnya dan oleh karena itu, dalam bentuk "tubuh/pikiran" utama yang sulit dipahami sebagai Dharmakaya, ia memiliki kehidupan abadi dan tidak teratas, yang hadi dalam semua bentuk (contoh: merupakan "tidak terbatas dharmadhatu", menurut Nirvana Sutra), dan dimiliki oleh sifat agung dan tak terukur. Dalam Mahaparinirvana Sutra, Buddha menyatakan: "Nirvana dinyatakan sebagai sesuatu yang kekal abadi. Sang Tahtagata [Budha] juga demikian, kekal abadi, tanpa perubahan." Hal ini adalah pengertian metafisik dan soteriologis peting dalam Lotus Sutra dan sutra-sutra Tathagatagarbha. Menurut sutra-sutra Tathagatagarbha, kelalaian mengenai keabadian Buddha dan, lebih buruk lagi, penyangkalan tegas akan keabadian itu, dianggap sebagai rintangan utama dalam mencapai kebangkitan penuh (bodhi).

Untuk guru Buddhis Tibetan, Dolpopa, dan kelompok Jonangpa, sang Buddha dimengerti sebagai Inti yang mengagumkan dan pengabul-keinginan yang suci akan seluruh mahluk, melampaui pemahaman:

"Buddha—sebuah intisari dari hal yang tidak terukur, tidak dipahami, tidak terduga, tubuh mulia yang luar biasa, kebijaksanaan, bermutu, dan aktivitas menakjubkan dan luar biasa—yang luas seperti angkasa dan sumber suci, membangkitkan seluruh mahluk sebagaimana diharapkan oleh mahluk suci seperti permata pengabul-hasrat, pohon pengabul-hasrat …"[13]

Sang Buddha sebagaimana dibandingkan dengan Tuhan[sunting | sunting sumber]

Pengertian umum yang salah di antara non-Buddhis adalah bahwa sang Buddha adalah rekan seimbang dengan "Tuhan". Akan tetapi dalam Buddhisme, pada umumnya adalah tanpa-tuhan (non-theistic), dalam artian tidak mengajarkan keberadaan tuhan pencipa agung (lihat Tuhan dalam agama Buddha) atau ketergantungan akan mahluk agung untuk mencapai pencerahan. Sang Buddha adalah seorang petunjuk dan guru yang menunjukkan jalan menuju pencerahan, akan pergumulan guna mencapai pencerahan adalah milik sendiri. Definisi umum yang diterima akan istilah "Tuhan" adalah mahluk yang mengatur dan menciptakan alam semesta (lihat mitos penciptaan). Sang Buddha pada naskah-naskah awal memberikan argumentasi sanggatan mengenai keberadaan akan mahluk yang demikian.[14]

Akan tetapi, sutra-sutra Mahayana tertentu (seperti Nirvana Sutra dan Lotus Sutra) dan khususnya tantra tertentu sebagaimana diungkapkan oleh Kunjed Gyalpo Tantra akan pandangan mengenai sang Buddha sebagai yang ada dimana-mana, mengetahui segalanya, inti yang membebaskan dan kebenaran yang tidak mati akan seluruh mahluk, dan oleh karenanya, sampai jangkauan tertentu, perwujudan sang Buddha ini mendekatkan ke konsep pantheistik akan ketuhanan, akan tetapi hal ini berbeda dengan yang ada dalam tradisi Mahayana, siapapun dapa tmenjadi seorang Buddha, sebagaimana dibandingkan kepada agama-agama theistik pada umumnya yang mana biasanya dianggap tidak mungkin untuk menjadi seorang tuhan atau Tuhan. Juga, umat Buddha di Indonesia menyatakan kepercayaannya akan Tuhan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Penggambaran Buddha dalam seni[sunting | sunting sumber]

Patung Buddha di Swedagon Paya
Patung Buddha Berbaring di Sri Lanka

Para Buddha seringkali digambarkan dalam bentuk patung-patung dan lukisan. Bentuk yang seringkali ditemui termasuk:

  • Buddha yang Duduk
  • Buddha yang Berbaring
  • Buddha yang Berdiri
  • Hotei atau Budai, Buddha Tertawa yang gemuk, biasanya ditemukan di Cina (tokoh ini dipercaya sebagai penjelmaan bhikkhu Cina abad pertengahan yang berhubungan dengan Maitreya, Buddha masa datang, dan secara teknis bukan merupakan penggambaran Buddha.)
  • Buddha yang tampak kurus, penggambaran Siddharta Gautama semasa pelaksanaan tapa keras dengan menahan lapar.


Penandaan[sunting | sunting sumber]

Penggambaran Buddha yang paling umum memiliki beberapa tanda yang pasti, hal yang dianggap sebagai tanda pencerahannya. Tanda-tanda ini beragam berdasarkan wilayah, tetapi dua hal yang umum adalah:

  • sebuan jendulan di atas kepala (menggambarkan ketajaman mental yang agung)
  • cuping telinga yang panjang (menggambarkan wawasan yang agung)

Di dalam Kanon Pali seringkali dikatakan mengenai sebuah daftar 32 tanda fisik sang Buddha.

Isyarat tangan[sunting | sunting sumber]

Posisi dan isyarat tangan dari patung-patung ini, secara berurutan dikenal sebagan asana dan mudra, memberikan arti keseluruhan yang berarti. Popularitas dari bentuk mudra atau asana cenderung berdasarkan wilayah tertentu, seperti untuk mudra Vajra (atau Chi Ken-in), yang terkenal di Jepang dan Korea tetapi jarang sekali terlihat di India. Lainnya lebih umum; contoh, mudra Varada (Pengabulan Keinginan)yang seringkali terdapat pada patung Buddha yang berdiri, terlebih ketika dipasangkan dengan mudra Abhaya (Ketidaktakutan dan Perlindungan).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b (Inggris)Udana Commentary, tr Peter Masefield, volume I, 1994, Pali Text Society, page 94
  2. ^ Dalam Bahudhātuka Sutta ("Many Kinds of Elements Discourse," MN 115), Sang Buddha mengatakan kepada Ven. Ānanda:
    'It is impossible, it cannot happen that two Accomplished Ones, Fully Enlightened Ones, could arise contemporaneously in one world-system—there is no such possibility.' (Bhikkhu Ñāamoli & Bhikkhu Bodhi, 2001, The Middle Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya, Wisdom Pubs, p. 929, para. 14)
    According to Ñāamoli & Bodhi (2001), pp. 1325-6, n. 1089, the Pali commentary associated with the above text from MN 115 states:
    The arising of another Buddha is impossible from the time a bodhisatta takes his final conception in his mother's womb until his Dispensation has completely disappeared. The problem is discussed at Miln 236–39.
    The referenced Milindapanha section is entitled, Ekabuddhadhāraī - pañho.
  3. ^ (Inggris) Buddhist Dictionary of Pali Proper Names, Pacceka Buddha
  4. ^ (Inggris)Udana Commentary, tr Peter Masefield, volume I, 1994, Pali Text Society, hal. 94).
  5. ^ Ratanasutta:56. Lihat pula AN 4.1, berjudul "Anubuddha Sutta" (Thanissaro, 1997).
  6. ^ Vacchagotta-samyutta, Khanda Vagga, Samyutta Nikaya 33
  7. ^ Majjhima Nikaya 1, Mulapariyaya Sutta, 22-23
  8. ^ (Inggris) A. K. Warder, Indian Buddhism. Third edition published by Motilal Banarsidass Publ., 2000, pages 132–133.
  9. ^ David J. Kalupahana, A History of Buddhist Philosophy: Continuities and Discontinuities. University of Hawaii Press, 1992 , page 43: [1].
  10. ^ (Inggris)10 Titles, also see Thomas Cleary and J. C. Cleary The Blue Cliff Record, page 553.
  11. ^ (Inggris)From the Chapter on "The General Explanation of the Title", The Surangama Sutra, English translation by the Buddhist Text Translation Society.
  12. ^ Peter Harvey, An Introduction to Buddhism: Teachings, History, and Practices. Cambridge University Press, 1990, page 28.
  13. ^ (Inggris) (Dolpopa, Mountain Doctrine, tr. by Jeffrey Hopkins, Snow Lion Publications, 2006, p. 424).
  14. ^ (Inggris) David Kalupahana, Causality: The Central Philosophy of Buddhism. The University Press of Hawaii, 1975, pages 20–22.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]