Perumpamaan orang kaya dan Lazarus yang miskin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini tentang perumpamaan Yesus dari Injil Lukas. Untuk Lazarus yang dibangkitkan Yesus, lihat Lazarus dari Betania. Untuk kegunaan lain dari Lazarus, lihat Lazarus (disambiguasi).

Bagian dari seri tentang
Yesus Kristus

Title jesus.jpg

Nama dan julukan
YesusKristusMesiasIsa AlmasihJuruselamat

Yesus Kristus dan Kekristenan
KronologiKelahiranSilsilah
PembaptisanPelayananMukjizat
PerumpamaanPerjamuan TerakhirPenangkapan
PengadilanPenyalibanKematian
PenguburanKebangkitanKenaikan
Kedatangan keduaPenghakiman

Ajaran utama Yesus Kristus
MesiasKotbah di Bukit
Doa Bapa KamiHukum Kasih
Perjamuan MalamAmanat Agung

Pandangan terhadap Yesus
Pandangan Kristen
Pandangan Islam
Pandangan Yahudi
Yesus dalam sejarah
Yesus dalam karya seni

Perumpamaan orang kaya dan Lazarus yang miskin adalah sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya Kisah ini tercantum di dalam Lukas 16:19-31.

Orang kaya dan Lazarus yang miskin[sunting | sunting sumber]

Meister des Codex Aureus Epternacensis 001.jpg

Dalam perumpamaan ini, Yesus mengisahkan tentang kehidupan dua orang yang sangat kontras: seorang yang sangat kaya-raya, yang digambarkan selalu mengenakan pakaian yang mahal dan berpesta-pora dalam kemewahan, dan pengemis yang bernama Lazarus yang badannya penuh dengan borok dan menantikan belas-kasihan orang di dekat pintu si orang kaya itu. Untuk mengobati kelaparannya, Lazarus hanya mengharapkan sekadar pemberian sisa-sisa makanan yang jatuh dari meja si orang kaya. Namun jangankan belas-kasihan, yang datang menghampiri Lazarus justru adalah anjing-anjing yang menjilati boroknya. Dari gambaran ini, tampak Yesus ingin melukiskan betapa hinanya keadaan si miskin Lazarus di dunia.

Pada suatu hari, baik Lazarus maupun si orang kaya itu meninggal dunia. Kini keadaan malah berbalik seratus delapan puluh derajat. Lazarus yang miskin justru disambut oleh para malaikat dan dibawa ke pangkuan Abraham, leluhur Israel. Dari gambaran ini terlihat bahwa Lazarus memperoleh kemuliaan yang tinggi.

Tentang si orang kaya, ternyata ia menderita sengsara di alam maut. Ia hanya dapat melihat dari kejauhan Abraham dan Lazarus yang duduk di pangkuannya. Melihat ini, si orang kaya berseru kepada Abraham agar kiranya Lazarus dapat disuruh meneteskan setitik air di lidahnya, karena ia sangat menderita. Namun Abraham mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi.

Mendengar jawaban itu, si orang kaya kini memohon agar kiranya Abraham mengutus seseorang kepada sanak-keluarganya yang masih hidup, untuk memperingatkan mereka agar tidak mengulangi gaya hidupnya di dunia dahulu. Namun Abraham menjawab bahwa mereka telah mendengar ajaran Musa dan para nabi, dan itu mestinya sudah cukup bagi mereka.

Penjelasan[sunting | sunting sumber]

Melalui perumpamaan ini Yesus mengajarkan bahwa kepada manusia sudah cukup diberikan segala petunjuk bagaimana semestinya mereka menunjukkan kepedulian kepada sesamanya. Ia hanya perlu mengikuti semua ajaran Musa dan para nabi, dan tidak perlu menunggu keajaiban seperti mendengar laporan dari orang yang kembali dari kematian.

Beberapa penulis menganggap bahwa perumpamaan adalah parodi terhadap Imam Besar Kayafas.[1][2][3]

Di sini pun terlihat bahwa orang kaya yang masih mengandalkan kekayaannya hingga masuk ke dalam penderitaan abadi masih berlaku sombong. Dengan menitipkan pesan kepada Abraham agar di sampaikan kepada Lazarus untuk meneteskan air ke lidahnya yang sebenarnya hanya berada dalam pangkuan Abraham, mencerminkan betapa keangkuhan orang kaya masih merasa gengsi berbicara langsung kepada Lazarus.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sepp, J.N. Thaten und Lehren Jesu (Perbuatan dan ajaran Yesus) Jerman 1864
  2. ^ Drioux C.J. La Bible populaire (Pelajaran Alkitab) Perancis 1864
  3. ^ Whittaker, H.A. Studies in the Gospels (Studi dalam Injil) Inggris 1989 p497