Pandangan Yahudi tentang Yesus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Pandangan Yahudi tentang Yesus adalah kumpulan pendapat dari orang Yahudi mengenai figur Yesus Kristus yang menjadi pusat kepercayaan Kristen. Kebanyakan orang Yahudi mengaku sebagai penganut Yudaisme. Namun ada pula orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias dan mereka disebut "Messianic Jews" (orang Yahudi Mesianik). Perlu diingat bahwa Yesus Kristus lahir dan hidup sebagai orang Yahudi selama di dunia. Demikian pula murid-murid-Nya yang dipilih-Nya dan ditinggalkan-Nya untuk meneruskan pemberitaan Injil, yaitu Keduabelas rasul, semuanya orang Yahudi asli. Demikian pula rasul Paulus, penulis sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Baru adalah seorang Yahudi yang dibesarkan dan dididik dalam aliran Yudaisme yang sangat konservatif.

Pandangan Yudaisme[sunting | sunting sumber]

Yudaisme umumnya memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak mesias palsu yang muncul dalam sejarah.[1] Yesus dipandang sebagai yang paling berpengaruh, dan akibatnya paling menimbulkan kerusakan, di antara semua mesias palsu.[2] Namun, karena kebanyakan orang Yahudi percaya bahwa Mesias belum datang dan zaman Mesianik belum tiba, maka penolakan Yesus secara keseluruhan baik sebagai Mesias maupun sebagai ilah bukanlah masalah sentral dalam Yudasime. Inti Yudaisme adalah Taurat, semua Mitzvot atau perintah, Tanakh, dan monoteisme etika seperti Shema — semuanya lebih kuno daripada Yesus.

Yudasime tidak pernah menerima klaim penggenapan apapun yang diberikan oleh orang Kristen kepada Yesus. Yudaisme juga melarang orang menyembah seseorang dalam bentuk penyembahan berhala, karena kepercayaan utama dalam Yudaisme adalah satu Allah yang mutlak Esa.[3]

Kepercayaan akan keilahian Yesus dianggap tidak kompatibel dengan Yudaisme, misalnya dari kutipan-kutipan berikut

  • "Poinnya adalah: seluruh Kristologi Gereja - seluruh doktrin kompleks tentang Anak Allah yang mati disalibkan untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian - tidak kompatiblel dengan Yudaisme, dan merupakan diskontinuitas dengan Hebraisme yang mendahuluinya." [4]
  • "Selain dari kepercayaan bahwa Yesus adalah Mesias, Kekristenan telah mengubah banyak konsep paling fundamental dari Yudaisme."[5]
  • "...doktrin Kristus dulu dan sekarang tetap asing bagi pemikiran agamawi Yahudi."[6]
  • "Bagi seorang Yahudi, bentuk shituf apapun dianggap penyembahan berhala dalam arti yang paling penuh. Tidak ada jalan bagi seorang Yahudi untuk menerima Yesus sebagai suatu ilahi, perantara atau Juruselamat (Mesias), atau bahkan sebagai nabi, tanpa mengkhianati Yudaisme."[7]
  • "Jika engkau percaya Yesus adalah Mesias, mati untuk dosa-dosa orang lain, putra pilihan Allah, atau dogma lain dalam kepercayaan Kristen, engkau bukan orang Yahudi. Engkau adalah orang Kristen. Titik." [8]
  • "Selama dua ribu tahun, orang Yahudi menolak klaim bahwa Yesus menggenapi nubuatan mesianik dalam Alkitab Ibrani, maupun klaim dogmatik tentang dia yang dibuat oleh bapa-bapa gereja - bahwa ia dilahirkan oleh seorang perawan, putra Allah, bagian dari suatu Trinitas ilahi, dan dibangkitkan dari kematian. ... Selama dua ribu tahun, harapan sentral Kekristenan adalah untuk menjadi objek yang diinginkan oleh orang Yahudi, di mana perpindahan kepercayaan mereka mendemonstrasikan penerimaan bahwa Yesus telah menggenapi nubuatan Alkitab mereka."[9]
  • "Tidak ada orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias. Jika seseorang membuat suatu komitmen iman, mereka menjadi Kristen. Tidak mungkin seseorang menjadi Kristen dan Yahudi bersamaan." [10]

Eskatologi Yahudi percaya bahwa kedatangan Mesias akan dihubungkan dengan runtunan peristiwa tertentu yang belum terjadi, termasuk kembalinya orang Yahudi ke tanah air mereka dan pembangunan Bait Suci, suatu era Mesianik yang penuh kedamaian[11] dan pengertian di mana selama itu "pengetahuan akan Allah" memenuhi bumi,[12] dan karena orang Yahudi percaya bahwa tidak ada di antara peristiwa ini terjadi dalam kehidupan Yesus (atau setelahnya, kecuali kepulangan orang "And it is tradition: On the eve of Passover they hung Jeshu [the Nazarene]. And the crier went forth before him forty days (saying), [Jeshu the Nazarene] goeth forth to be stoned, because he hath practiced magic and deceived and led Israel astray. Anyone who knoweth aught in his favor, let him come and declare concerning him. And they found naught in his favor. And they hung him on the eve of the Passover. Ulla said, 'Would it be supposed that [Jeshu the Nazarene] a revolutionary, had aught in his favor?' He was a deceiver and the Merciful (i.e. God) hath said (Deut. xiii 8), ‘Thou shalt not spare, neither shalt thou conceal him.’ But it was different with [Jeshu the Nazarene] for he was near the kingdom.'" (Sanhedrin 43a) Would you believe that any defense would have been so zealously sought for him? He was a deceiver, and the All-merciful says: "You shall not spare him, neither shall you conceal him." It was different with Jesus, for he was near to the kingship. (McDowell & Wilson, p. 65)Yahudi ke tanah Israel), maka Yesus bukan Mesias.

Teks otoritatif Yudaisme yang menyebutkan Yesus[sunting | sunting sumber]

Talmud[sunting | sunting sumber]

Sejumlah karya sastra rabbinik klasik Yahudi ditemukan memuat rujukan kepada Yesus, termasuk beberapa naskah Talmud Babilonia yang tidak disensor (disunting kira-kira sebelum tahun 600 M) dan sastra midrash klasik yang ditulis antara tahun 250 dan 700 M. Terdapat berbagai pandangan luas berapa referensi yang sesungguhnya merujuk kepada Yesus. Karena umumnya ditulis setelah Skisma antara Kekristenan dan Yudaisme, maka tidak heran bahwa rujukan-rujukan itu pada dasarnya bersifat negatif, bahkan cenderung melecehkan figur Yesus maupun perbuatan dan ajaran-ajarannya, bahkan termasuk juga ibunya dan murid-muridnya.[13]

Otoritas Kristen di Eropa umumnya tidak tahu mengenai kemungkinan adanya rujukan mengenai Yesus dalam Talmud sampai tahun 1236, ketika seorang konvert dari Yudaisme, Nicholas Donin, memaparkan 35 tuduhan formal terhadap Talmud di hadapan Paus Gregorius IX, dan tuduhan ini diperhadapkan kepada rabbi Yehiel dari Paris untuk mengajukan pembelaan pada Disputation of Paris tahun 1240.[14] Pembelaan utama Yehiel adalah "Yeshu" yang disebut-sebut dalam literatur rabbinik adalah seorang murid dari Joshua ben Perachiah, dan jangan dirancukan dengan Yesus (Vikkuah Rabbenu Yehiel mi-Paris). Dalam Disputation of Barcelona (1263) yang merupakan kelanjutannya Nahmanides mengemukakan poin yang sama.[15] Rabbi Jacob ben Meir (Rabbeinu Tam) (12th century),[16] Jehiel Heilprin (17th century) dan Jacob Emden (18th century) mendukung pandangan ini. Namun, tidak semua Rabbi menerima pendapat tersebut.

Hal ini tidak menghentikan upaya gereja Katolik Roma untuk menekan orang Yahudi agar menghapuskan catatan negatif mengenai Yesus dalam literatur mereka, tak jarang dengan kekerasan dan penganiayaan berat. McDowell dan Wilson menulis:

"... sehubungan dengan adanya penganiayaan, komunitas Yahudi menerapkan sensor terhadap diri sendiri untuk membuang rujukan-rujukan mengenai Yesus dalam tulisan-tulisan mereka supaya tidak lagi menjadi sasaran serangan. Morris Goldstein, bekas Profesor "Old and New Testament Literature" pada Pacific School of Religion, menceritakan:
Maka, pada tahun 1631 "Jewish Assembly of Elders" di Polandia menyatakan: ‘Kami menginstruksikan kalian di bawah ancaman larangan besar untuk tidak menerbitkan dalam edisi baru Mishnah atau Gemara apapun yang merujuk kepada Yesus orang Nazaret... Kalau kalian tidak dengan cermat mematuhi surat ini, melainkan melakukan yang berlawanan dan terus menerbitkan buku-buku kita dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kalian dapat menimpakan kepada kami dan kalian sendiri penderitaan yang lebih besar dari waktu-waktu silam.’
Mula-mula, bagian yang dihapus dalam cetakan Talmud ditandai dengan lingkaran kecil atau spasi kosong, tetapi kemudian inipun dilarang oleh sensor. Akibat dari sensor berlipat dua ini maka volume-volume literatur Rabbinik biasa hanya memuat sisa-sisa yang tidak jelas dari informasi yang seharusnya berkaitan dengan Yesus ..."[17]

Dr. Robert Morey menulis:

"Untunglah, salinan-salinan teks sebelum tahun 1631 yang tidak disensor masih tersimpan di Oxford University dan beberapa perpustakaan Eropa lainnya. jadi pernyataan-pernyataan mengenai Yesus tidak pernah benar-benar 'hilang'. Naskah-naskah itu diterbitkan terpisah dalam sejumlah edisi dan dipelajari oleh para pakar Yahudi secara privat. Tidak ada orang yang membantah fakta-fakta itu lagi ... Meskipun Talmud Babilonia edisi Soncino termasuk teks yang sudah disensor, tetapi para penyuntingnya biasanya menyisipkan bacaan aslinya pada catatan kaki. Kami telah mengembalikan pernyataan-pernyataan mengenai Yesus ke tempat asalnya pada teks yang bersangkutan dan menandai dengan [ ]."[18]

Berikut adalah rangkuman bagian-bagian Talmud yang mendukung fakta-fakta mengenai Yesus:

  • Yesus dilahirkan dalam situasi yang tidak lazim, mendorong beberapa rabbi menyebutnya sebagai "ben Pandira" dan "seorang anak haram dari wanita pezinah."
  • Maria, ibu Yesus, adalah putri Heli atau Eli.
  • Yesus disalibkan (atau "digantung", istilah Yahudi untuk "penyaliban") pada hari menjelang Paskah.[19]
  • Yesus membuat dirinya sendiri hidup dengan nama Allah.
  • Yesus adalah putra seorang perempuan. (bandingkan Galatia 4:4)
  • Yesus mengklaim sebagai Allah, Anak Allah dan anak manusia.
  • Yesus naik ke langit dan mengklaim akan datang kembali.
  • Yesus dekat dengan kerajaan dan dengan jabatan raja.
  • Yesus mempunyai sedikitnya lima murid.
  • Yesus melakukan mujizat, yaitu "mempraktekkan ilmu sihir"
  • Nama Yesus mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan
  • Ajaran Yesus mengesankan bagi seorang rabbi.[17]

Maimonides[sunting | sunting sumber]

Maimonides (Rabbi Moshe ben Maimon) meratapi kesakitan yang dirasakan oleh orang Yahudi sebagai akibat kepercayaan baru yang mencoba menggantikan ajaran Yudaisme, secara spesifik Kekristenan dan Islam. Pemikirannya tercatat dalam "Mishneh Torah" dan "Epistle to Yemen" ("Surat kepada orang [Yahudi] Yaman", ditulis tahun 1172). Mengenai Yesus, ia menulis:

Juga Yesus orang Nazaret yang membayangkan bahwa ia adalah Mesias dan dibunuh oleh pengadilan, sudah dinubuatkan oleh Daniel. Demikianlah dikatakan, “Dan anggota kelompok pelanggar hukum dari bangsamu akan terbawa untuk membuat suatu penglihatan terlaksana. Dan mereka tersandung.” (Daniel 11:14). Karena, apakah ada batu sandungan yang lebih besar dari orang ini? Sedemikian semua nabi berbicara berkata mengenai Mesias untuk menebus Israel, dan menyelamatkan mereka, dan mengumpulkan orang-orang terbuang, dan menguatkan hukum-hukum mereka. Tapi orang ini menyebabkan (bangsa-bangsa) menghancurkan Israel dengan pedang, dan menceraiberaikan sisanya, dan membuat mereka terhina, dan menukar Taurat, dan membuat mayoritas dunia melakukan kesalahan untuk melayani suatu sosok ilahi di samping Allah.[20]

Pandangan alternatif[sunting | sunting sumber]

Di luar teks-teks otoritatif tersebut di atas yang umum di kalangan Yudaisme, minoritas kecil para Rabbi menganut pandangan yang lebih positif tentang Yesus, dengan argumen bahwa ia sendiri tidak meninggalkan Yudaisme dan/atau bahwa ia menguntungkan orang bukan-Yahudi. Di antaranya adalah Jacob Emden,[21][22] Moses Mendelssohn (beserta beberapa pemikir agama lain dari gerakan Haskalah), dan Elijah Benamozegh.[23][24]

Pandangan Yahudi Mesianik[sunting | sunting sumber]

Sebuah aliran sinkretisme muncul dari Yudaisme di mana pengikutnya dikenal sebagai "Messianic Jews" ("Yahudi Mesianik")[25] yang mulai mencuat pada tahun 1960-an dan 70-an.[26][27][28][29][30][31][32] Gerakan keagamaan ini memadukan teologi Kristen evangelis dengan unsur Yahudi dan terminologi ritual. Mesianik Yudaisme umumnya menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias Yahudi dan "Anak Allah" (satu orang dari Trinitas),[33][34][35] meskipun beberapa di dalam gerakan ini tidak percaya pada keyakinan Trinitarian. keselamatan di Mesianik Yudaisme dicapai hanya melalui penerimaan Yesus sebagai penyelamat seseorang. Setiap hukum Yahudi atau kebiasaan yang diikuti adalah budaya dan tidak memberikan kontribusi untuk mencapai keselamatan. Kepercayaan pada kemesiasan dan keilahian Yesus, yang Mesianik Yudaisme pahami, dipandang oleh banyak denominasi Kristen, dan gerakan keagamaan Yahudi sebagai perbedaan mendefinisikan antara Kristen dan Yudaisme.[36]

Banyak anggota gerakan ini adalah etnis Yahudi, dan beberapa dari mereka berpendapat bahwa Mesianik Yudaisme adalah sekte dari Yudaisme. Organisasi-organisasi Yahudi dan gerakan keagamaan, dan Mahkamah Agung Israel (mengenai Hukum), menolak ini, dan bukannya menganggap Mesianik Yudaisme menjadi bentuk agama Kristen. Kelompok Kristen umumnya menerima Yudaisme Mesianik sebagai bentuk agama Kristen. Dari tahun 2003 sampai 2007, gerakan tumbuh dari 150 rumah ibadah Mesianik di Amerika Serikat menjadi sebanyak 438, dengan lebih dari 100 di Israel dan di seluruh dunia. Sering jemaat menjadi anggota organisasi Mesianik yang lebih besar atau aliansi pada tahun 2008, gerakan itu dilaporkan memiliki antara 6.000 dan 15.000 anggota di Israel dan 250.000 di Amerika Serikat. [37][38]

Cikal bakal gerakan ini sebenarnya kembali ke abad pertama ketika Paulus berbicara pertama-tama di rumah-rumah ibadah atau sinagoge Yahudi di setiap kota yang dikunjunginya.[39] Namun berkhotbah kepada orang Yahudi pada abad-abad awal yang diikuti, seperti misalnya dalam Epiphanius dari Salamis, kisah perpindahan agama atau "konversi". konversi Count Yusuf dari Tiberias, atau Sozomen tentang konversi Yahudi, tidak menyebutkan orang Yahudi diubah memainkan setiap peran utama dalam konversi.[40] Konversi terkemuka dari Yudaisme yang mereka sendiri berusaha untuk mengubah orang-orang Yahudi lain yang lebih terlihat dari setidaknya 13 abad, ketika Yahudi masuk Kristen Pablo Christiani mencoba untuk mengkonversi orang Yahudi lainnya. Kegiatan ini, bagaimanapun, biasanya kurang memiliki Yahudi-Kristen jemaat independen, dan sering dipaksakan dengan kekerasan.[41]

Pada abad 15 dan 16, orang Kristen Yahudi yang menduduki jabatan guru besar di universitas-universitas Eropa mulai menyediakan terjemahan dari teks Ibrani. Pria seperti Paul Nuñez Coronel, Alfonso de Zamora, Alfonso de Alcalá, Domenico Gerosolimitano dan Giovanni Battista Jona terlibat secara aktif dalam menyebarkan pembelajaran Yahudi.[42][43]

Di Eropa Timur, Yusuf Rabinowitz membentuk misi Kristen dan jemaat Ibrani disebut "Israel dari Perjanjian Baru" di Kishinev, Ukraina tahun 1884 . Rabinowitz didukung dari luar negeri oleh teolog Kristen Franz Delitzsch, penerjemah modern pertama Ibrani Perjanjian Baru. Pada tahun 1865, Rabinowitz membuat pesanan sampel ibadah kebaktian pagi hari Sabat didasarkan pada campuran dari unsur-unsur Yahudi dan Kristen. Mark John Levy mengusulkan Gereja Inggris untuk memungkinkan anggotanya untuk memakai lagi kebiasaan Yahudi.

Di Amerika Serikat, jemaat bertobat Yahudi ke Kristen mendirikan Messianik di New York City pada 1885. Pada 1890-an, petobat Yahudi imigran ke Kristen beribadah pada gereja Metodis "Hope of Israel" . Misi Metodis di Lower East Side New York sementara mempertahankan beberapa ritual Yahudi dan adat Pada tahun 1895., edisi 9 "Harapan kami" pada majalah Hope of Israel memuat subjudul "Sebuah Bulanan Mengabdi pada Studi Nubuat dan Mesianik Yudaisme", penggunaan pertama dari istilah "Mesianik Yudaisme". "Hope of Israel" menjadi kontroversial. Kelompok misionaris lain menuduh anggotanya menjadi Yahudi, dan salah satu dari dua editor majalah ini, Arno C. Gaebelein, akhirnya menolak pandangan-pandangannya, dan, sebagai hasilnya , kemudian menjadi pemimpin dalam gerakan evangelikal arus utama Kristen.

Misi kepada orang Yahudi melihat masa pertumbuhan antara tahun 1920 dan 1960-an. Pada tahun 1940-an dan 50-an, para misionaris di Israel seperti Baptis Selatan mengadopsi istilah "meshichyim" (משיחיים "Messianics") untuk melawan konotasi negatif kata "notsrim" (נוצרים "Kristen", dari "Nasrani"); istilah ini digunakan untuk menunjuk semua orang Yahudi yang telah menjadi Kristen injili Protestan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jesus of Nazareth
  2. ^ Maimonides. Mishneh Torah, Sefer Shofetim, Melachim uMilchamot, Chapter 11, Halacha 4. Chabad translation by Eliyahu Touge.
  3. ^ Devarim (Deuteronomy) 6:4
  4. ^ Rayner, John D. A Jewish Understanding of the World, Berghahn Books, 1998, p. 187. ISBN 1-57181-974-6
  5. ^ Kaplan, Aryeh. The Aryeh Kaplan Anthology: Volume 1, Illuminating Expositions on Jewish Thought and Practice, Mesorah Publication, 1991, p. 264. ISBN 0-89906-866-9.
  6. ^ Wylen, Stephen M. Settings of Silver: An Introduction to Judaism, Paulist Press, 2000, p. 75. ISBN 0-8091-3960-X
  7. ^ Schochet, Rabbi J. Immanuel. "Judaism has no place for those who betray their roots", Canadian Jewish News, July 29, 1999. Judaism and Jesus Don't Mix (foundationstone.com)
  8. ^ (Jews for Jesus: Who's Who & What's What oleh Rabbi Susan Grossman (beliefnet - virtualtalmud) August 28, 2006)
  9. ^ Jewish Views of Jesus ("Pandangan orang Yahudi mengenai Yesus") oleh Susannah Heschel, dalam Jesus In The World's Faiths: Leading Thinkers From Five Faiths Reflect On His Meaning oleh Gregory A. Barker, editor. (Orbis Books, 2005) ISBN 1-57075-573-6. p.149.
  10. ^ Why don't Jews accept Jesus as the Messiah? ("Mengapa orang Yahudi tidak menerima Yesus sebagai Mesias?") oleh Rabbi Barry Dov Lerner
  11. ^ Yesaya 2:4
  12. ^ Yesaya 11:9
  13. ^ Delbert Burkett. The Blackwell Companion to Jesus. 2010. p. 220. "Karenanya, analisis para pakar mempunyai rentang luas, dari kelompok minimalists (misalnya Lauterbach 1951) – yang mengakui hanya relatif sedikit bacaan yang sesungguhnya menyangkut tentang Yesus dalam pemikirannya – sampai kelompok moderat (misalnya Herford [1903] 2006), sampai ke kelompok maksimalis (Klausner 1943, , 17–54; khususnya Schäfer 2007)."
  14. ^ Saadia R. Eisenberg Reading Medieval Religious Disputation: The 1240 "Debate" Between Rabbi Yehiel of Paris and Friar Nicholas Donin
  15. ^ paragraph 22. Vikuach HaRamban found in Otzar Havikuchim by J. D. Eisenstein, Hebrew Publishing Society, 1915 and Kitvey HaRamban by Rabbi Charles D. Chavel, Mosad Horav Kook, 1963
  16. ^ David R. Catchpole The trial of Jesus: a study in the Gospels and Jewish Historiography from 1770 to the Present Day, Leiden, 1971 Page 62 "(c) Rabbenu Tam (b.Shabb. 104b) declared: 'This was not Jesus of Nazareth.' But his view, from the 12th century, constitutes no evidence."
  17. ^ a b Josh McDowell & Bill Wilson. "He Walked Among Us: Evidence For The Historical Jesus". Thomas Nelson Publishers-Nashville TN, 1993, halaman 58-59.
  18. ^ Robert A. Morey. "Jesus in the Mishnah and the Talmud". California Institute of Apologetics. Halaman 1-2.
  19. ^ "Dan inilah tradisi: Pada hari menjelang Paskah mereka menggantung Yeshu [ha-Natzri, "orang Nazaret"]. Seorang penteriak sebelumnya selama 40 hari sudah berkata, [Yeshu ha-Natzri] akan dirajam! karena ia mempraktikkan sihir dan menipu dan menceraiberaikan Israel. Barangsiapa yang mendapati sesuatu yang membenarkannya, biarlah ia maju dan menyatakannya mengenai dia. Dan mereka tidak mendapati apapun yang membenarkannya. Dan mereka menggantungnya pada hari menjelang Paskah. Ulla berkata, 'Apakah kalau dianggap [Yeshu ha-Natzri] seorang revolusioner, itu akan membenarkannya?' Ia adalah penipu dan yang Maha Pemurah (= Allah) telah berfirman (Ulangan 13:8), ‘Engkau tidak boleh membiarkannya, maupun menyembunyikannya.' Tetapi berbeda dengan [Yeshu ha-Natzri] karena ia dekat dengan kerajaan.'" (Sanhedrin 43a) atau "ia dekat dengan jabatan raja." (McDowell & Wilson, p. 65)
  20. ^ A. James Rudin. Christians & Jews Faith to Faith: Tragic History, Promising Present, Fragile Future, Jewish Lights Publishing, 2010, pp. 128–129.
  21. ^ "Emden's letter about Jesus", Journal of Ecumenical Studies, 19:1, Winter 1982, pp. 105-111. "Orang Nazaret ini menampilkan suatu kebaikan ganda di dunia. Di satu sisi, ia menguatkan Taurat Musa secara mulia! sebagaimana disebutkan sebelumnya! dan tidak satupun Sage (orang bijak) kita berbicara lebih tegas mengenai ketidak berubahan Taurat. Dan di sisi lain, ia melakukan banyak hal yang baik terhadap orang asing."
  22. ^ Gregory A. Barker and Stephen E. Gregg. Jesus beyond Christianity: The Classic Texts, Oxford University Press, 2010, ISBN 0-19-955345-9, p. 29-31.
  23. ^ Matthew B. Hoffman, From rebel to rabbi: reclaiming Jesus and the making of modern Jewish culture, Stanford University Press, 2007, ISBN 0-8047-5371-7, p. 22: "Mendelssohn depicts Jesus as a model rabbinical Jew... as a loyal rabbi"; p. 259: "Mendelssohn was not the first to make such claims. Jacob Emden (1696-1776), a leading figure of traditional Judaism in eighteenth-century Germany, also looked vary favorably on Jesus"; p. 50: "Elijah Benamozegh (1823-1901) showed the resemblance between parables and ethical imperatives in the gospels and the Talmud, concluding that 'when Jesus spoke these words he was in no way abandoning Judaism'"; p. 258: "Levinsohn menegaskan bahwa Yesus adalah seorang Yahudi yang taat hukum."
  24. ^ Elijah Benamozegh, Israel and Humanity, Paulist Press, 1995, ISBN 0-8047-5371-7, p. 329. "Yesus adalah seorang Yahudi yang baik, yang tidak bermimpi untuk mendirikan gereja tandingan".
  25. ^ Kessler, Edward (2005). "Messianic Jews". In Edward Kessler and Neil Wenborn (eds.) A Dictionary of Jewish-Christian Relations. Cambridge University Press. p. 292. "Sinkretisme [Yudaisme Mesianik] membingungkan orang Kristen dan orang Yahudi ...".
  26. ^ Feher, Shoshanah. Passing over Easter: Constructing the Boundaries of Messianic Judaism, Rowman Altamira, 1998, ISBN 978-0-7619-8953-0, p. 140. "Ketertarikan untuk mengembangkan identitas etnis Yahudi tidak mengherankan jika kita mempertimbangkan tahun 1960-an ketika Yudaisme Mesianik muncul."
  27. ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". In Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America 2. Westport, Conn: Greenwood Publishing Group. hlm. 191. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. "Pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an, baik orang Yahudi maupun orang Kristen di Amerika Serikat terkejut melihat bangkitnya gerakan kuat Kristen Yahudi atau Yahudi Kristen." 
  28. ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". In Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America 2. Westport, Conn: Greenwood Publishing Group. hlm. 194. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. "Kebangkitan Yudaisme Mesianik. Dalam fase pertama gerakan ini, selama permulaan dan pertengahan tahun 1970-an, orang Yahudi yang menjadi Kristen mendirikan beberapa Kongregasi atas inisiatif sendiri. Tidak seperti komunitas Yahudi Kristen sebelumnya, kongregasi-kongregasi Yahudi Mesianik ini kebanyakan tidak tergantung dari kontrol yayasan misionaris atau denominasi Kristen, meskipun mereka masih menginginkan diterima oleh komunitas evangelikal yang lebih luas." 
  29. ^ Melton, J. Gordon. Encyclopedia of Protestantism. Infobase Publishing, 2005, ISBN 978-0-8160-5456-5, p. 373. "Yudaisme Mesianik adalah suatu gerakan Protestan yang muncul pada pertengahan kedua abad ke-20 di antara orang-orang percaya yang secara etnis dari bangsa Yahudi tetapi telah mengadopsi iman Kristen Evangelikal ... Sampai tahun 1960-an, sebuah usaha baru untuk menciptakan suatu budaya Kekristenan Protestan Yahudi di antara individu-individu yang mulai menyebut diri mereka sendiri. Yahudi Mesianik."
  30. ^ Lewis, James R. (2001). Odd Gods: New Religions & the Cult Controversy. Prometheus Books. hlm. 179. ISBN 978-1-57392-842-7. "The origins of Messianic Judaism date to the 1960s when it began among American Jews who converted to Christianity." 
  31. ^ Cohn-Sherbok, Dan (2010). Judaism Today. Continuum International Publishing Group. p. 100. "Pada tahun 1970-an a number of American Jewish converts to Christianity, known as Hebrew Christians, were committed to a church-based conception of Hebrew Christianity. Yet, at the same time, there emerged a growing segment of the Hebrew Christian community that sought a more Jewish lifestyle. Eventually, a division emerged between those who wished to identify as Jews and those who sought to pursue Hebrew Christian goals... In time, the name of the movement was changed to Messianic Judaism."
  32. ^ Dr. Bülent Şenay. "Messianic Judaism/Jewish Christianity". University of Cumbria. Diakses 8 November 2011. "Hebrew Christians are quite happy to be integrated into local Christian churches, but Messianic Jews seek an 'indigenous' expression of theology, worship and lifestyle within the whole church. The latter group emerged in the 1960s when some Christian Jews adopted the name Messianic Jews..." 
  33. ^ Cohn-Sherbok, Dan (2000). "Messianic Jewish theology". Messianic Judaism. London: Continuum International Publishing Group. hlm. 170. ISBN 978-0-8264-5458-4. OCLC 42719687. Diakses August 10, 2010. "Regarding the doctrine of God, Messianic Jews are united in their belief in the Trinity. Despite the use of the Shema in the liturgy, the conviction that God is triune is a central feature of the faith.…For Messianic Jews the concept of the trinity sounds overly Gentile; hence, within Messianic Judaism, a different terminology is used to depict the same divine reality. Nonetheless, the belief God is triune is based on the conviction that Yeshua is God." 
  34. ^ "What are the Standards of the UMJC?". FAQ. Union of Messianic Jewish Congregations. June 2004. Diakses September 13, 2010. "1. We believe that there is one G-d, eternally existent in three persons, Father, Son and Holy Spirit.
    2. We believe in the deity of the L-RD Yeshua, the Messiah, in His virgin birth, in His sinless life, in His miracles, in His vicarious and atoning death through His shed blood, in His bodily resurrection, in His ascension to the right hand of the Father, and in His personal return in power and glory."
     
  35. ^ "Our Beliefs". Memphis, Tennessee: B'rit Hadasha Messianic Jewish Synagogue. 2005. Diakses October 20, 2010. "WE BELIEVE:…
    *There is one God as declared in the Shema [Deuteronomy 6:4], who is “Echad,” a compound unity, eternally existent in three persons: God the Father, God the Son, and God the Holy Spirit [Isaiah 48:16-17; Ephesians 4:4-6]. *In the Deity of our Lord, Messiah Yeshua, in His virgin birth, in His sinless life, in His miracles, in His vicarious atoning death, in His bodily resurrection, in His ascension to the right hand of the Father, in His personal future return to this earth in power and glory to rule."
     
  36. ^ Lotker, Michael (May 2004). "It’s More About What is the Messiah than Who is the Messiah". A Christian’s guide to Judaism. New York, New York: Paulist Press. hlm. g. 35. ISBN 0-8091-4232-5. LCCN 2003024813. "It should now be clear to you why Jews have such a problem with ‘Jews for Jesus’ or other presentations of Messianic Judaism. I have no difficulty with Christianity. I even accept those Christians who would want me to convert to Christianity so long as they don't use coercion or duplicity and are willing to listen in good faith to my reasons for being Jewish. I do have a major problem with those Christians who would try to mislead me and other Jews into believing that one can be both Jewish and Christian." 
  37. ^ McGirk, Tim (June 6, 2008). "Israel's Messianic Jews Under Attack". Time. Diakses August 4, 2010. 
  38. ^ Wagner, Matthew (June 26, 2006). "Messianic Jews to protest 'discrimination'". The Jerusalem Post. Diarsipkan dari aslinya tanggal 2008. Diakses August 9, 2010. "There are an estimated 12,000 Messianic Jews living in Israel, most of whom made aliya under the Law of Return. There are about a quarter of a million Messianic Jews living in the US." 
  39. ^ Paul Barnett Jesus & the Rise of Early Christianity: A History of New Testament- 2002 p367 Bagaimanapun, Paulus nampaknya selalu berkhotbah pertama-tama di sinagoga-sinagoga untuk menawarkan orang Israel sebangsanya kesempatan pertama untuk mendengar mengenai Mesias mereka. (bandingkan Roma 1:16).
  40. ^ Günter Stemberger Jews and Christians in the Holy Land: Palestine in the fourth century 2000 "For example, Sozomen reports that in Constantinople (under Constantine?) countless Jews also converted to Christianity.92 The question remains to what extent it could still be expected of Jewish converts of this period that they should join a Jewish Christian congregation. Would they not rather attempt to make a radical break with their past? The Judaizers mentioned again and again, for example, in Jerome, are not automatically Jewish Christians."
  41. ^ Edward H. Flannery The anguish of the Jews: twenty-three centuries of antisemitism 1985 p129 "One of his more famous converts was Pablo Christiani, who became a Dominican brother and a zealous missionary to the Jews. He was authorized to preach in all Jewish synagogues."
  42. ^ Cohn-Sherbok, Dan (2000). Messianic Judaism. Continuum. hlm. 12.  [1]
  43. ^ jewishencyclopedia.com

Pranala luar[sunting | sunting sumber]