Pertempuran Khaibar
| Pertempuran Khaibar | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Arab Muslim |
Yahudi dari Khaibar Bani Nadhir | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Muhammad Ali bin Abi Thalib Umar bin Khattab Abu Bakar |
Al-Harits bin Abu Zainab ⚔[1] Marhab bin Abu Zainab ⚔[1] | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| 1,600 | 10.000 | ||||||
| Korban | |||||||
| 15 | 100 | ||||||
Pertempuran Khaibar adalah pertempuran yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin Muhammad dengan umat Yahudi yang hidup di oasis Khaybar, sekitar 150 km dari Madinah, Arab Saudi pada 628 M / 7 H. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam, dan Muhammad berhasil memperoleh harta, senjata, dan dukungan kabilah setempat. Pertempuran ini terjadi sekitar dua pekan kemudian, Muhammad bahkan memimpin sendiri ekspedisi militer menuju Khaibar, daerah sejauh tiga hari perjalanan dari Madinah. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di jazirah Arab. Terutama setelah Yahudi di Madinah ditaklukkan oleh Muhammad.
Yahudi tak mempunyai cukup kekuatan untuk menggempur kaum Muslimin. Namun mereka cerdik. Mereka mampu menyatukan musuh-musuh Muhammad dari berbagai kabilah yang sangat kuat. Hal itu terbukti pada Perang Khandaq. Bagi warga Muslim di Madinah, Yahudi lebih berbahaya dibanding musuh-musuh lainnya.
Persiapan
[sunting | sunting sumber]Pertempuran ini adalah salah satu dari sekian banyak ghazwah (misi ekspansi) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam misi beliau menyebarkan Islam.[2][3][4] Nabi memberikan bendera perang pada Miqdad bin Amr sementara Madinah dititipkan pada Abdullah bin Umi Maktum, riwayat lain menyebutkan pada Siba' bin Urfuthah.[5]

Pimpinan kaum munafik Madinah, Abdullah bin Ubay, segera memberitahukan pada pimpinan yahudi Madinah akan kedatangan pasukan muslimin. Pimpinan Yahudi segera meminta bantuan pada Bani Ghatafan untuk menghadapi muslimin dengan imbalan separuh kebun kurma. Di tengah jalan pasukan Ghatafan membatalkan bantuannya karena khawatir kampungnya diserang muslimin dari belakang.[5]
Muhammad tiba di dekat Khaibar di pagi hari. Penduduk Khaibar keluar dari rumah mereka sambil membawa sekop dan keranjang seperti biasanya, menuju kebun. Saat melihat pasukan Muslimin, mereka berteriak, "Itu Muhammad. Demi Allah, Muhammad dan pasukannya." Kemudian mereka kembali lagi ke kota mereka dengan berlarian. Muhammad berseru, "Allah Akbar, runtuhlah Khaibar! Allahu Akbar, runtuhlah Khaibar! Jika kita tiba di pelataran suatu kaum, maka amat buruklah bagi orang-orang yang mendapatkan peringatan."[5]
Muhammad memilih suatu tempat untuk dijadikan markas pasukan Muslimin. Al-Hubab bin Al-Mundzir menemui beliau dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah tempat yang engkau pilih ini merupakan ketetapan yang diturunkan Allah, ataukah ini hanya sekedar pendapat dalam siasat perang?" "Ini adalah pendapatku," jawab Muhammad. "Wahai Rasulullah, tempat ini terlalu dekat dengan benteng Nathat dan para prajurit Khaibar yang dipusatkan di benteng itu, dengan begitu mereka bisa mengetahui keadaan kita, sementara kita tidak bisa mengetahui keadaan mereka. Anak panah mereka juga bisa ke tempat kita ini sementara anak panah kita tidak bisa mencapai ke tempat mereka. Kita tidak bisa aman dari sergapan mereka sewaktu-waktu. Di sini banyak terdapat pohon-pohon korma, tempatnya rendah dan tanahnya kurang baik. Andaikan saja engkau berkenan memerintahkan pindah ke suatu tempat yang tidak seperti ini, lalu kita ambil sebagai markas." Muhammad menyetujui dan memindahkan markas pasukannya.[5] Muhammad serahkan tongkat komando pada Ali bin Abi Thalib.
Khaibar terdiri dari 2 bagian wilayah, setiap wilayah terdiri dari beberapa benteng. Wilayah pertama terdiri dari 5 benteng yaitu :
- Benteng Na'im
- Benteng Ash-Shah bin Muadz (Ash-Sha'b)
- Benteng Qal'ahAz-Zubair
- Benteng Ubay
- Benteng An-Nizar
Wilayah kedua terdiri dari :
- Benteng Al-Qamush, benteng milik Bani Abul Huqaiq dari Bani Nadhir
- Benteng Al-Wathih
- Benteng As-Salalim
Peperangan
[sunting | sunting sumber]
Maka Muhammad menyerbu ke jantung pertahanan musuh. Suatu pekerjaan yang tak mudah dilakukan. Pasukan Romawi yang lebih kuat pun tak mampu menaklukkan benteng Khaibar yang memiliki sistem pertahanan berlapis-lapis yang sangat baik. Sallam anak Misykam mengorganisasikan prajurit Yahudi. Perempuan, anak-anak dan harta benda mereka tempatkan di benteng Watih dan Sulaim. Persediaan makanan dikumpulkan di benteng Na’im. Pasukan perang dikonsentrasikan di benteng Natat. Sedangkan Sallam dan para prajurit pilihan maju ke garis depan.
Benteng pertama yang diserbu orang-orang Muslim dari delapan benteng ini adalah benteng Na'im dan sekaligus merupakan garis pertahanan yang pertama bagi orang-orang Yahudi, karena tempatnya yang lebih strategis. Benteng ini ditempati para tokoh dan pahlawan Yahudi, yang jumlahnya ada sekitar 1000 orang.
Ali bin Abu Thalib bersama orang-orang Muslim menghampiri benteng ini dan menyeru orang-orang Yahudi agar mau masuk Islam. Mereka menolak seruan ini. Bersama rajanya yang bemama Marhab, mereka keluar untuk menghadapi orang-orang Muslim. Setelah kedua belah pihak berada di kancah pertempuran, Marhab menantang untuk adu tanding, tetapi ia terbunuh di tangan Ali. Lalu saudara Marhab, Yasir keluar membalas tetapi berhasil dibunuh Zubair bin Awwam.[5]
Pada Khaibar inilah nama Ali menjulang. Keberhasilannya merenggut pintu benteng untuk menjadi perisai selalu dikisahkan dari abad ke abad.
Selanjutnya Benteng Ash-Sha'b bisa ditaklukkan muslimin dibawah komando Hubab bin Mudzir selama 3 hari, pada benteng ini diperoleh paling banyak simpanan makanan dan ternak.
Lalu pasukan Yahudi selanjutnya pindah berkumpul ke benteng Zubair yang berada di puncak bukit sehingga pasukan muslimin sulit menyerangnya, akhirnya Muhammad memutuskan untuk mengepung selama 3 hari. Ada seorang Yahudi menemui seraya berkata, "Wahai Abdul Qasim, sekalipun engkau berada di sini selama sebulan, mereka tak akan ambil pusing, sebab mereka mempunyai mata air dan cadangan minuman di bawah tanah. Mereka bisa pergi ke sana pada malam hari dan mengambil minum dari sana, lalu kembali lagi ke benteng untuk bertahan di sana. Jika engkau hendak memotong jalan mereka ke mata air, tentu mereka akan keluar untuk berhadapan denganmu." Maka Muhammad memutuskan untuk menghadang jalan ke mata air ini. Karena itu, orang-orang Yahudi keluar bertempur hebat untuk mempertahankan mata air itu. Dalam pertempuran ini ada seorang Muslim yang menjadi korban, sedangkan dari pihak Yahudi ada sepuluh orang. Tak lama kemudian muslimin dapat menaklukkan benteng ini.[5]
Pasukan Yahudi berpindah ke benteng Ubay dan bertahan di sana. Muhammad memeritahkan orang-orang Muslim untuk mengepungnya. Satu per satu para pahlawan Yahudi menantang adu tanding, yang semuanya dapat dikalahkan pasukan Muslim yang meladeninya seperti Abu Dujanah, Simak bin Kharasyah, pemilik ikat kepala berwarna merah. Setelah dapat membunuh tokoh Yahudi yang menjadi lawannya dalam perang tanding, dia segera menyelinap ke benteng di atas bukit bersama beberapa prajurit Muslim. Terjadi pertempuran di dalam benteng untuk beberapa saat sehingga pasukan yahudi yang tersisa lari ke benteng an-Nizar.[5]
Selanjutnya Benteng Nizar, benteng ini kokoh dan dipuncak bukit sehingga sulit ditembus pasukan muslimin. Karena merasa kuat maka pasukan yahudi menempatkan para wanita dan anak-anaknya disini. Dari puncak bukit pasukan yahudi melepaskan anak panah dan melontar batu dengan manjanik. Nabi kemudian memerintahkan juga menggunakan manjanik sehingga robohlah sebagian dinding benteng lalu pasukan muslimin menyerbu masuk. Sisa pasukan yahudi yang selamat lari ke benteng berikutnya di bagian kedua yang cukup jauh, meninggalkan para wanita dan anak-anaknya sebagai tawanan. Selesailah penaklukkan paruh pertama benteng Khaibar di daerah Nathat dan Asy-Syiq.[5]
Pada 3 benteng berikutnya Muhammad mengepung selama 14 hari dan terjadi pertempuran kecil, lalu dilakukan perundingan damai dengan Abul Huqaiq.[6]
Sesudah Pertempuran
[sunting | sunting sumber]Yahudi lalu menyerah. Seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Muhammad memerintahkan pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh kekayaannya, kecuali Kinana bin Rabi’ yang terbukti berbohong saat dimintai keterangan Muhammad. Pada benteng al-Wathih dan as-Salalim, diperoleh 100 potong baju besi, 400 bilah pedang, 1.000 pucuk tombak, dan 500 busur.[6]
Perlindungan itu tampaknya sengaja diberikan oleh Muhammad untuk menunjukkan beda perlakuan kalangan Islam dan Kristen terhadap pihak yang dikalahkan. Biasanya, pasukan Kristen dari kekaisaran Romawi akan menghancurludeskan kelompok Yahudi yang dikalahkannya. Sekarang kaum Yahudi Khaibar diberi kemerdekaan untuk mengatur dirinya sendiri sepanjang mengikuti garis kepemimpinan Muhammad dalam politik.
Muhammad sempat tinggal beberapa lama di Khaibar. Ia bahkan nyaris meninggal lantaran diracun. Diriwayatkan bahwa Zainab binti Harits menaruh dendam pada Muhammad. Sallam, suaminya, tewas dalam pertempuran Khaibar. Zainab lalu mengirim sepotong daging domba untuk Muhammad. Muhammad sempat mengigit sedikit daging tersebut, tetapi segera memuntahkannya setelah merasa ada hal yang ganjil. Tidak demikian halnya dengan sahabat Muhammad, Bisyr bin Al Barra'. Ia meninggal lantaran memakan daging tersebut. Setelah kejadian tersebut, Muhammad kemudian mengirim utusan untuk memanggil Zainab binti Harits. Lalu beliau bertanya kepada wanita itu: “Apakah kamu memberi racun pada daging ini?” wanita Yahudi itu menjawab, “Siapa yang memberimu kabar?” beliau menjawab: “Yang memberiku kabar adalah apa yang ada di tanganku ini.” wanita Yahudi itu berkata, “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Apa yang kamu inginkan?” wanita Yahudi itu menjawab, “Dalam hati aku berkata, ‘Jika dia memang seorang Nabi maka dia tidak akan mendapatkan bahaya, tetapi jika bukan seorang Nabi maka kami dapat beristirahat darinya’.
Kemudian Muhammad memberi maaf pada Zainab binti Harits dan ia masuk Islam karena telah nyata kebenaran kenabian Muhammad. Pada riwayat berikutnya ia kemudian dihukum mati karena tuntutan qhisos dari keluarga Bisyr bin Al-Bara'.
Khaibar telah ditaklukkan. Rombongan pasukan Muhammad kembali ke Madinah melalui Wadil Qura, wilayah yang dikuasi kelompok Yahudi lainnya. Pasukan Yahudi setempat mencegat rombongan tersebut. Sebagaimana di Khaibar, mereka kemudian ditaklukkan pula. Sedangkan Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan.
Dengan penaklukan tersebut, Islam di Madinah telah menjadi kekuatan utama di jazirah Arab. Ketenangan masyarakat semakin terwujud. Dengan demikian, Muhammad dapat lebih berkonsentrasi dalam dakwah membangun moralitas masyarakat.
Kaum Yahudi menyerah dengan syarat membayar pajak dan memberikan tanahnya kepada umat Islam. Akibatnya, mereka banyak yang menjadi hamba sahaya. Menurut Stillman, orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir tidak termasuk dalam perjanjian ini, dan seluruh orang bani Nadhir akhirnya dibunuh, kecuali anak-anak dan wanita yang dijadikan budak.[7] Setelah pertempuran ini orang-orang Yahudi masih tinggal di Khaibar, hingga akhirnya diusir oleh khalifah Umar bin Khattab. Pembebanan pajak terhadap orang-orang Yahudi menandai dimulainya penerapan jizyah terhadap para dzimmi di bawah pemerintahan Islam, dan penahanan tanah mereka menjadi milik komunitas Islam.[8][9]
Pendapatan Ekonomi
[sunting | sunting sumber]Tanah Khaibar dibagi menjadi 30 kelompok. Setiap kelompok dibagi lagi menjadi 100 bagian, hingga jumlah totalnya ada 3600 bagian. Nabi dan orang-orang Muslim mendapat separohnya, yaitu 1800 bagian. Beliau mendapat satu bagian seperti yang didapat Muslim lainya. Sementara separoh lainnya, sebanyak 1800 bagian dikhususkan untuk para wakil beliau dan untuk urusan umum kaum Muslimin dimana sebagian yahudi diperbolehkan untuk mengelola sebagian kebun kurma muslimin. Orang-orang Muslim yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, yang jumlahnya 1400 orang, juga mendapat bagian dari separoh yang terakhir ini, baik yang saat Perang Khaibar itu mereka ikut bergabung atau tidak. Secara umum perekonomian muslimin meningkat pesat setelah penaklukkan Khaibar.[5]
Estimasi pendapatan Muhammad dan keluarganya berkisar lebih 100 miliar rupiah per tahun melalui pengelolaan kebun kurma dari Khaibar dan Fadak. Setiap istri Muhammad mendapatkan jatah 80 wasaq (karung) kurma dan 20 wasaq gandum yang bernilai lebih 100 juta rupiah pertahun. Sementara pasukan muslimin yang terlibat diestimasikan memperoleh sekitar 140 juta rupiah pertahun.[10] Setelah peristiwa Khaibar ekonomi Muhammad dan muslimin secara keseluruhan mengalami peningkatan.
Karena kemenangan umat Islam dalam pertempuran ini, kata "Khaibar" sering disebutkan dalam slogan, lagu, atau senjata-senjata buatan orang-orang Islam.
Para Sahabat Kembali dari Habasyah
[sunting | sunting sumber]Pada saat akhir pertempuran Khaibar ini berlangsung, rombongan sahabat Ja'far bin Abu Thalib dan Abu Musa al-Asy'ari tiba di Madinah. Nabi menyambut dan memeluk Ja'far dan berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu karena apa aku gembira, entah karena penaklukkan Khaibar entah karena kedatangan Ja'far." Muhammad juga menikahi Shafiyah binti Huyay setelah memerdekakannya dari tawanan perang.[5] Ada sejumlah 16 keluarga sahabat yang kembali dari Habasyah.
Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- 1 2 http://www.islamstory.com/غزوة-خيبر-1-2 Diarsipkan 2016-10-25 di Wayback Machine.
- ↑ "Tafseer Ibn Kathir of QS 9:123 (in Arabic)". quran.ksu.edu.sa.
- ↑ "Tafseer Ibnu Katsir QS 9:123 (Bhs. Indonesia)". archive.org.
- ↑ Basalamah, Khalid, Islam itu memang disebarkan dengan pedang, Ustadz DR Khalid Basalamah, MA, diakses tanggal 2020-05-02
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mubarakfuri, Shafiyurrahman al- (2020-12-01). Sirah Nabawiyah. Gema Insani. hlm. 275–280. ISBN 978-602-250-850-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 BA, Muhammad Ridha (2021-05-01). Perang Khaibar serta Masuk Islamnya ‘Amr Ibnul ‘Ash dan Khalid Bin Walid. Hikam Pustaka. hlm. 5–10. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Stillman 14, 18
- ↑ Stillman 18–19
- ↑ Lewis, Bernard. The Jews of Islam. Princeton: Princeton University Press, 1984. ISBN 0-691-00807-8 hal. 10
- ↑ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah Jilid 6. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5