Aset

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Harta)

Aset atau aktiva adalah semua sumber ekonomi atau nilai suatu kekayaan oleh suatu entitas tertentu dengan harapan memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang dapat diukur dalam satuan uang, termasuk didalamnya sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.[1] Aset dimasukkan dalam neraca dengan saldo normal debit. Aset dipahami sebagai harta total. Namun biasanya untuk keperluan analisis dirinci menjadi beberapa kategori, sepertiAset lancar, Investasi jangka panjang, Aset tetap, Aset tidak berwujud, Aset pajak tangguhan dan Aset lain.[2] Aset dapat memberikan kontribusi pendapatan apabila dibuat produktif sebagai modal harta kekayaan bernilai (valuable capital) yang dikelola oleh sistem dan menghasilkan pendapatan pasif (Passive Income). Untuk mendapatkan atau membangun aset membutuhkan sebuah pembelajaran khusus. Aset merupakan kumulatif hasil dari tujuan mendapatkan sesuatu dalam jangka waktu lama. Aset memiliki kecenderungan nilai menaik. Pengeluaran investasi selalu menghasilkan aset yang berupa hasil sumber daya, kekayaan atau modal yang kita miliki dan dana investasi.[3] Aset dapat dikategorikan menjadi aset barang bergerak dan barang tidak bergerak. Aset barang bergerak dapat berupa modal, simpanan dan hutang, sedang aset barang yang tidak bergerak adalah tanah dan bangunan.[1]

Manajemen aset[sunting | sunting sumber]

Tahap manajemen aset yang dapat dilakukan guna meningkatkan aset-aset yang dimiliki yaitu inventarisasi aset, legal audit, penilaian aset, optimalisasi aset, serta pengawasan dan pengendalian aset. Jika kelima tahapan manajemen aset ini dijalankan dengan baik maka akan memberikan manfaat yang besar bagi pemilik aset dalam meningkatkan efisiensi, efektifitas dan menciptakan nilai tambah dalam mengelola aset yang lebih tertib, akuntabel, dan transparan.[4]

Dalam memulai manajemen aset harus melakukan perencanaan manajemen aset dengan tujuan memastikan efektivitas dan koordinasi kegiatan manajemen aset yang disusun pemilik aset, mengawasi penggunaan dana dalam proses manajemen serta penggunaan aset properti, memastikan bahwa permasalahan manajemen aset telah dibahas dalam pertemuan pengambilan keputusan sebagai dasar penyusunan rencana pelayanan, memahami batasan efektivitas, efisiensi serta mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam menyusun manajemen atau pengelolaan aset, membuat pola kerjasama pengelolaan aset dengan pihak ketiga atau organisasi lain yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.[4]

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Ada banyak manfaat dalam manajemen aset pada suatu perusahaan. Manfaat dari suatu aset meliputi menjaga nilai aset dimana perusahaan dapat menjaga nilai aset tetap tinggi, memiliki usia lebih panjang, serta menghindari kerusakan terhadap aset dapat menurunkan nilai jual, menetapkan investasi aset yang benar dimana perusahaan menjaga kekayaan aset adalah dengan menetapkan aset yang tepa, memantau penyusutan aset dimana perusahaan dapat memantau risiko dari penggunaan asset, meningkatkan keamanan aset dimana perusahaan dapat meminimalisir hilangnya aset ataupun aset rusak serta menciptakan manajemen risiko dimana perusahaan menumbuhkan kesadaran perusahaan atas bahaya dan risiko dari aset yang dimiliki.[5]

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Umumnya memiliki tujuan aset adalah untuk menjaga kesehatan perusahaan yang sumber ekonomi di masa mendatang.[6] Misalnya perusahaan bank agar dapat melakukan antisipasi terhadap perubahan eksternal yang berhubungan untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung terhadap risiko[7] berupa tingkat suku bunga ataupun perubahan nilai tukar mata uang. Secara spesifik, tujuan aset dari suatu perusahaan perbankan diuraikan sebagai pedoman kebijakan bank yang akan dating, akomodasi kebutuhan yang telah direncanakan dalam meningkatkan dana, kas, aktiva produktif dan fasilitas kantor dalam pengalokasian dana serta positioning the bank yang dapat mengadopsi peningkatan profit apakah untuk kondisi yang akan datang dapat meningkat.[8]

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

Aset itu sendiri memiliki karakteristik utama terhadap komponen lain sebagai pembeda diuraikan berupa Manfaat Ekonomi Masa Depan (Future Economic Benefits) diartikan bahwa aset memiliki manfaat ekonomi yang dapat diperoleh pada suatu hari di hari yang mendatang. Diartikan pula diartikan bahwa aset memiliki kapasitas untuk memberikan layanan atau manfaat kepada perusahaan yang menggunakannya diperoleh pada suatu hari di hari yang mendatang. Kontrol oleh Perusahaan Tertentu (Control by a Particular Enterprise) dimana apabila ingin memiliki aset, badan usaha harus mengendalikan manfaat ekonomi masa depan sejauh dapat memperoleh manfaat dari aset yang umumnya dapat menolak atau mengatur akses ke manfaat itu oleh orang lain. Misalnya, dengan mengizinkan akses hanya dengan harga tertentu. Hasil Terjadinya Transaksi atau Peristiwa Sebelumnya (Occurrence of a Past Transaction or Event) dimana aset mengemukakan bahwa manfaat ekonomi masa depan dari aset sekarang saja dan bukan aset masa depan suatu perusahaan. Khususnya pada kemampuan sekarang dalam memperoleh manfaat ekonomi masa depan yang merupakan aset dan hasil transaksi atau keadaan lain yang mempengaruhi perusahaan.[butuh rujukan]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Aset Lancar[sunting | sunting sumber]

Aset lancar merupakan harta yang dimiliki perusahaan yang bisa digunakan dan dicairkan dalam waktu yang singkat.[9] Aset lancar mudah untuk diukur dalam satuan nilai mata uang, serta menjadi hal yang mendasar bagi perusahaan untuk menjalankan aktivitas perusahaannya. Ciri-ciri dari aset lancar yaitu mudah untuk dijual atau dibeli, dalam kurun waktu satu tahun. Aset lancar juga bisa disimpan, dan bisa dijual kembali sewaktu-waktu ketika diperlukan. Hal ini menimbulkan dampak positif karena aset dapat dicairkan dalam waktu yang singkat, dalam bentuk uang tunai atau bentuk kas.[10] Aset lancar mempunyai beberapa contoh yaitu:

  1. Dana tunai, merupakan uang tunai yang disimpan[11] dalam bentuk kas perusahaan yang telah dialokasikan sesuai fungsinya.[9] Sistem operasional perusahaan menggunakan dana yang berasal dari kas, sedangkan dana tersisa disimpan dalam rekening yang disebut bank. Dana tersebut juga bisa dicairkan dalam waktu yang relatif singkat, sangat berbeda dengan rekening giro di bank yang harus menunggu tanggal tertentu untuk dicairkan.[10]
  2. Investasi jangka pendek, merupakan uang tunai yang tersisa dari kegiatan produksi, yang dikembangkan kembali untuk menghasilkan keuntungan.[9] Investasi jangka pendek memerlukan modal yang kecil untuk memulainya. Perusahaan memilih untuk memutarkan kembali dana tunai yang mereka miliki untuk meraih keuntungan dalam waktu yang singkat. Biasanya investasi jangka pendek berkisar satu hingga tiga tahun.[12]
  3. Piutang wesel, memiliki tujuan untuk menagih utang dari perusahaan lain, hal ini sah secara hukum karena sudah tertulis dalam undang-undang.[9] Apabila jatuh tempo, barang yang dijadikan jaminan bisa dijual, Piutang wesel, yang jatuh temponya dalam waktu satu tahun tersebut bisa dikategorikan dalam aset lancar.[13]
  4. Piutang dagang, merupakan surat tagihan bagi perusahaan dalam wujud kredit.[9] Secara singkat, piutang dagang dapat didefinisikan sebagai utang yang belum dibayarkan oleh suatu perusahaan atas barang atau jasa yang sudah dikirim. Perusahaan biasanya bekerja sama untuk menggunakan teknik piutang dagang dalam memenuhi kebutuhan perusahaanya. Tujuannya, untuk memberikan kemudahaan bagi pelanggan dalam menjaga kas tetap stabil atau dengan kata lain bisa mengelola waktu pembayaran dalam piutang dagang. Piutang dagang tersedia dalam Neraca Keuangan di bawah aset lancar.[14]
  5. Surat berhaga, adalah surat yang diterbitkan oleh perusahaan sebagai bukti kepemilikan yang memwakili nilai kekayaan. Surat berhaga ini bisa diperjualbelikan kapan pun, sehingga bisa mendapatkan dana tunai.[10] Jenis surat berharga banyak jenisnya, yang dibedakan sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Jenis surat berharga itu, di antaranya cek, kwitansi, wesel, dan surat sanggup.[15]
  6. Persediaan, merupakan aset lancar yang berbentuk barang dan perlengkapan yang memiliki tujuan untuk mendukung aktivitas perusahaan, serta barang-barang yang memiliki tujuan untuk dijual kembali lalu didistribusikan untuk pelayanan. Contoh dari aset lancar persediaan yaitu, barang habis pakai yang mencakup ATK dan barang tak habis pakai yang mencakup barang bekas pakai.[16]

Aset tidak lancar[sunting | sunting sumber]

Aset tidak lancar disebut juga aset jangka panjang. Aset tidak lancar merupakan aset yang dimiliki perusaahaan, namun tidak dapat diukur jumlahnya secara jelas dan memungkinkan akan terjadinya depresiasi mata uang. Sifatnya, tahan lama karena tidak mudah untuk ditukarkan dengan uang tunai dan tidak termasuk dalam alat pembayaran yang sah.[17] Aset tidak lancar memiliki tiga jenis yaitu, investasi jangka panjang, aset tidak berwujud, dan aset tetap.[10]

  1. Investasi jangka panjang adalah jenis investasi yang bisa dicairkan dalam jangka waktu melebihi 12 bulan. Berdasarkan sifatnya, investasi jangka panjang dibagi menjadi dua yaitu, investasi jangka panjang nonpermanen dan investasi jangka panjang permanen. Investasi jangka panjang nonpermanen adalah investasi yang dilakukan dengan tujuan untuk diperoleh dan didapatkan tidak berkelanjutan, dengan arti dalam jangka waktu tertentu investasi tersebut akan dijual kembali. Oleh karena itu, sistem pengukuran investasi jangka panjang nonpermanen sebesar nilai yang akan didapatkannya. Sedangkan, investasi jangka panjang permanen adalah jenis investasi dalam waktu yang lama dengan tujuan akan dimiliki secara berkelanjutan, dengan arti tidak akan dijual kembali. Pengukuran investasi permanen dilakukan dengan teknik pencatatan sebesar biaya yang diperoleh, yang mencakup harga transaksi investasi ditambah dengan biaya lain yang muncul akibat investasi.[18] Wujud dari investasi jangka panjang di antaranya berupa obligasi, saham, dana khusus yang bertujuan untuk pelunasan utang jangka panjang, dan aset lain seperti pembelian tanah dengan perjanjian pengguan di masa yang sudah ditentukan.[19]
  2. Aset tidak berwujud, merupakan aset yang tidak memiliki wujud fisik. Aset tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa, serta bisa disewakan kepada pihak yang membutuhkannya.[20] Karakteristik pertama yang dimiliki oleh aset tidak bewujud yaitu tidak memiliki eksistensi fisik, oleh karena itu nilai yang diperoleh dari aset ini berupa keistimewaan dari perusahaan yang menggunakan aset ini. Karakteristik kedua yaitu, aset ini tidak tergolong dalam instrumen keuangan. Nilai diperoleh dari kegiatan untuk menerima hak kas di masa depan. Karakteristik ketiga yaitu, bersifat jangka panjang, serta menjadi beban dari penyusutan pada pengurangan nilai aktiva tidak berwujud setiap periode akuntansi (amortisasi).[21]
  3. Aset tetap, merupakan aset berwujud yang dimiliki oleh perusahaan untuk dimanfaatkan dalam aktivitas produksi atau ketersediaan barang atau jasa yang dapat disewakan yang difungsikan lebih dari kurun waktu satu periode.[22] Aset tersebut bisa berwujud properti atau peralatan perusahaan yang disewakan sebagai jasa untuk menghasilkan pendapatan. Sifat dari aset tetap yaitu, jangka panjang, yang memiliki arti tidak bisa ditukarkan dengan uang tunai dalam kurun waktu satu tahun. Perusahaan bisa menghasilkan aset tetap dari aktivitas dan barang perusahaan seperti alat, gedung, perabotan. Namun, sebelumnya perusahaan harus menyiapkan dana untuk pembiayaan pembelian bahan, sumber daya manusia yang diperlukan, hingga asuransi untuk ke depannya.[23]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Wahyuni, Sri; Khoirudin, Rifki (2020-07-01). Pengantar Manajemen Aset. Makassar: Nas Media Pustaka. hlm. 132. ISBN 978-623-7644-45-3. 
  2. ^ Liputan6.com (2019-01-17). Adelin, Fadila, ed. "Aset Adalah Sumber Ekonomi atau Kekayaan, Jangan Tertukar dengan Modal". Liputan6.com. Diakses tanggal 2020-10-02. 
  3. ^ Sasraatmadja, RD Budi Yuniarsa R (2013-09-25). Harta vs Aset - Kaya atau Makmur Pilih Mana. Jakarta: Elex Media Komputindo. hlm. 129. ISBN 978-602-04-1443-0. 
  4. ^ a b Demetouw, Moses; Salle, Agustinus; Asnawi, Meinarni (2017). "Pengaruh Manajemen Aset terhadap Optimalisasi Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Jayapura" (PDF). Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah (Keuda). 2 (2): 3. ISSN 2477-7838. 
  5. ^ Harmony (2021). "Apa Saja Manfaat Manajemen Aset Untuk Perusahaan Anda?". www.harmony.co.id. Diakses tanggal 2021-11-27. 
  6. ^ Mulachela, Husen (2021). "Apa Itu Aset, Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya". Katadata. Diakses tanggal 2021-11-27. 
  7. ^ Subrata, Agus (2019). "Risiko Eksternal Dan Internal Perusahaan". icopi.or.id. Diakses tanggal 2021-11-27. 
  8. ^ Darwis (2019), Manajemen Asset dan Liabilitas (PDF), Yogyakarta: TrustMedia, hlm. 63–65, ISBN 978-602-5599-26-2 
  9. ^ a b c d e Andriawan, Fery (2019-05-22). "3 Jenis Aset dalam Bisnis yang Belum Diketahui Banyak Pengusaha". Paper.id Blog. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  10. ^ a b c d Gie, - (2020-07-03). "Aset Lancar dan Tidak Lancar: Pengertian, Perbedaan, dan Jenisnya". Accurate Online (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-24. 
  11. ^ admin (2022-06-02). "5 Tips Mengatur Keuangan yang Baik dan Benar". Buletin Indonesia. Diakses tanggal 2022-06-03. 
  12. ^ Mulachela, Husen (2021-08-19). "Investasi Jangka Pendek, Pengertian dan Jenisnya". Katadata. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  13. ^ Harmony (2020-10-27). "Piutang Wesel: Apa Itu Dan Cara Mencatatnya Dalam Pembukuan?". www.harmony.co.id. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  14. ^ Rinaldi, Banu (2020-06-11). "Piutang Dagang (Account Receivable) | UKM Indonesia". www.ukmindonesia.id. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  15. ^ Otoritas Jasa Keuangan (2020-01-01). "Miliki Surat Berharga sebagai Aset Aktifmu". Sikapi Uangmu. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  16. ^ Pemerintah Kota Pagar Alam (2012-07-07). "Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Pagar Alam: Kebijakan Akuntansi No. 09 Akuntansi Aset" (PDF). BPK Sumatera Selatan. hlm. 16. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  17. ^ Ramadhani, Niko (2020-05-12). "Perbedaan Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar". Akseleran Blog (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-24. 
  18. ^ Bupati Pengkajen (2014-09-30). "Peraturan Bupati Pangkajenen dan Kepulauan tentang Kebijakan Akuntansi Berbasis Akrua" (PDF). Peraturan BPK. hlm. 4-5. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  19. ^ Universitas Komputer Indonesia (2021-01-01). "Pertemuan VII: Akuntansi Pajak untuk Investasi Jangka Panjang" (PDF). Repository Unikom. hlm. 89. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  20. ^ Setijawan, Imam (2011-01-01). "Pengaruh Asset Tidak Berwujud terhadap Nilai Perusahaan" (PDF). Research Unissula. hlm. 140. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  21. ^ Diana, Nur (2016-01-01). "Modul 8: Aktiva Tak Berwujud" (PDF). FE UNISMA. hlm. 2. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  22. ^ Halim, Abdul (2019-01-10). "Aktiva Tetap Berwujud: Perolehan, Penggunaan, Pemberhentian, Depresiasi, dan Pemberhentiannya" (PDF). Repository Universitas Terbuka. hlm. 4. Diakses tanggal 2021-11-24. 
  23. ^ Anindita, Kanya (2019-11-01). "Pengertian Aset Tetap: Contoh, Karakteristik & Cara Perolehannya". BusinessTech HashMicro. Diakses tanggal 2021-11-24.