Aset lancar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Aset lancar atau aktiva lancar adalah aset yang masa penggunaannya hanya dalam jangka waktu yang singkat.[1] Masa pakai aset lancar yang umum adalah kurang dari satu tahun.[2] Aset lancar umumnya terdiri dari kas, sekuritas, piutang, persediaan, pembayaran di muka, dan pendapatan.[3] Laporan posisi keuangan atau neraca selalu menyajikan informasi tentang aset lancar dan komponen-komponennya.[4]

Kriteria[sunting | sunting sumber]

Aset lancar dapat dilaporkan oleh entitas melalui laporan keuangan pada bagian neraca atau laporan posisi keuangan. Pelaporan ini terpisah antara aset lancar, aset tidak lancar, liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang. Pada pemisahan ini terdapat klasifikasi apa saja yang termasuk dalam kategori aset lancar. Suatu aset dikategorikan sebagai aset lancar jika aset dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka waktu yang normal oleh entitas. Aset ini juga dimiliki untuk tujuan diperdagangkan. Jangka waktu realisasinya juga paling lama satu tahun setelah akhir periode pelaporan. Kas atau setara kas juga dimasukkan dalam aset lancar. Pengecualian diberikan kepada kas atau setara kas yang masih digunakan setelah satu tahun dari masa akhir periode pelaporan. Sementara itu, aset yang tidak memenuhi kriteria tersebut semuanya dikategorikan sebagai aset tidak lancar.[5]

Komponen[sunting | sunting sumber]

Kas[sunting | sunting sumber]

Kas yang dibatasi merupakan jenis kas dalam aset lancar. Statusnya sebagai aset lancar hanya diberikan jika kas yang dibatasi digunakan hanya untuk melunasi pembayaran liabilitas perusahaan atau pembayaran yang jatuh tempo.[6]

Piutang dagang[sunting | sunting sumber]

Piutang merupakan liabilitas perusahaan yang penerimaannya diharapkan dalam bentuk kas. Timbulnya piutang merupakan akibat dari penjualan barang atau penyediaan jasa secara kredit. Piutang berpengaruh terhadap jumlah aset secara keseluruhan sehingga memerlukan manajemen piutang. Salah satu jenis piutang ialah piutang dagang. Piutang dagang merupakan piutang yang perlu dibayarkan oleh perusahaan ketika jatuh tempo.[7]

Persediaan[sunting | sunting sumber]

Di dalam perusahaan, persediaan merupakan jenis aset lancar yang secara umum jumlahnya cukup besar.[8] Dalam aset lancar, persediaan dimasukkan dalam kategori kurang lancar. Kategori ini diberikan atas dasar yaitu sifat pengubahan persediaan yang memerlukan beberapa tahapan agar dapat berubah menjadi kas. Persediaan barang merupakan bagian dari manajemen keuangan.[9]

Investasi[sunting | sunting sumber]

Jenis investasi yang termasuk jenis aset lancar adala investasi lancar. Suatu investasi dikatakan sebagai investasi lancar jika masa pemakaiannya paling lama satu tahun. Syarat lainnya ialah investasi tidak digunakan dalam anggaran kas. Dalam neraca, investasi lancar termasuk aset lancar yang diposisikan pada nilai terendah. Posisinya antara biaya perolehan dan nilai pasar.[10]

Penghitungan kebutuhan[sunting | sunting sumber]

Kebutuhan aset lancar di dalam suatu perusahaan dilakukan melalui analisis profitabilitas dan analisi terhadap risiko yang ditimbulkannya. Jika proporsi komponen perusahaan yang lainnya selalu dalam keadaan tetap, maka likuiditas perusahaan akan semakin besar seiring peningkatan jumlah aset lancar. Imbal hasil atas investasi yang menghitung faktor aset lancar harus menggunakan prinsip keuangan. Pernyataan prinsip ini bahwa profitabilitas berbanding terbalik dengan likuiditas tetapi berbanding lurus dengan risiko. Dari prinsip ini diketahui bahwa proporsi aset lancar berbading terbalik dengan imbal hasil atas investasi. Peningkatan jumlah proporsi aset lancar maka imbal hasil atas investasi akaan semakin berkurang.[11]

Penyajian[sunting | sunting sumber]

Di dalam laporan keuangan, pos-pos aset lancar disajikan sesuai tingkat likuiditasnya. Urutan terawal memiliki likuiditas tertinggi sementara urutan terakhir memiliki likuiditas terendah.[12] Kas menempati urutan pertama di dalam neraca karena merupakan aset lancar dengan tingkat likuiditas tertinggi.[13]

Pada laporan keuangan bank tidak diadakan pemisahan antara aset lancar dan aset tetap. Aset haya disusun berdasarkan tingkat likuiditasnya dengan urutan dari likuiditas yang tertinggi hingga likuiditas yang terendah. Bank hanya memisahkan aset berdasarkan tingkat produktivitasnya, yaitu aset produktif dan aset tidak produktif.[14] Semenatara pada bank dengan akad mudharabah, aset lancar dimasukkan dalam neraca. Informasi yang dimasukkan berupa penyaluran dana dari bank ke nasabah pembiayaan.[15]

Pengukuran[sunting | sunting sumber]

Pengukuran persentase aset[sunting | sunting sumber]

Persentase aset lancar terhadap keseluruhan aset dinyatakan dengan menggunakan rasio aset. Peningkatan nilai rasio aset menunjukkan bahwa persentase aset lancar juga meningkat. Hasil pengukuran ini mewakili tingkat likuiditas yang nilainya sebanding dengan persentase aset lancar di dalam keseluruhan aset.[16]

Pengukuran kecepatan pengubahan aset[sunting | sunting sumber]

Pengukuran kecepatan perusahaan dalam mengubah aset lancar menjadi penjualan dapat menggunakan rasio perputaran aset atau rasio modal kerja. Pihak yang umumnya memerlukan informasi mengenai kecepatan pengubahan aset lancar menjadi penjualan ialah investor dan analis keuangan.[17] Selain itu, pengukuran oleh perusahaan juga dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan menutupi utang lancar menggunakan aset lancar. Rasio yang dipilih ialah rasio lancar. Dalam rasio ini, persediaan tidak masuk dalam perhitungan karena sifatnya yang sulit diubah menjadi kas. Nilai rasio kas diperoleh dari pembagian aset lancar tanpa persediaan dengan kewajiban lancar. Nilai ideal agar perusahaan mampu membayar kewajiban lancar adalah > 35% dalam sekali penghitungan.[18]

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Perencanaan likuiditas[sunting | sunting sumber]

Jumlah aset lancar perlu diketahui agar perusahaan dapat menerencanakan tingkat likuiditasnya. Aset lancar dianalisis untuk mengetahui kebutuhan utama terhadap likuiditas. Dalam analisis, aset lancar menjadi pembanding terhadap kebutuhan utama tersebut. [19]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ingga, Ibrahim (2016). Teori Akuntansi dan Implementasi (PDF). Yogyakarta: Indomedia Pustaka. hlm. 30. ISBN 978-602-6417-05-3. 
  2. ^ Manurung, Adler Haymans (2021). Manurung, Junjungan Gogo, ed. Keuangan Perusahaan (PDF). Penerbit PT Adler Manurung Press. hlm. 40. ISBN 978-979-3439-25-9. 
  3. ^ Susanti, D. A., dkk. (2020). Teori dan Praktik Akuntansi Pengantar 1: Sesuai PSAK (PDF). Kudus: Badan Penerbit Universitas Muria Kudus. hlm. 7. ISBN 978-623-7312-47-5. 
  4. ^ Saribu, A. D., dan Tambunan, B. H. Akuntansi Keuangan Menengah I (Intermediate Accounting): Materi Mudah Dipahami, Dilengkapi Pembahasan dan latihan) (PDF). Medan: LPPM UHN Press. hlm. 24. ISBN 978-623-95324-8-2. 
  5. ^ Hasan, A., dan Gusnardi (2018). Prospek Implementasi Standar Akuntansi: Entitas Mikro, Kecil dan Menengah Berbasis Kualitas Laporan Keuangan Yang Berlaku Efektif Per 1 Januari 2018 (PDF). Bandung: The Sadari Institute. hlm. 22. ISBN 978-602-51247-5-4. 
  6. ^ Maryanti, E., dan Widodo, A. (2020). Hermawan, Sigit, ed. Akuntansi Aset, Liabilitas dan Ekuitas. Sidoarjo: Umsida Press. hlm. 91. ISBN 978-623-6833-98-8. 
  7. ^ Siregar, D. K., Khodijah, I., dan Kartika, R. (2020). Pengantar Akuntansi 2. Serang: CV. AA. RIzky. hlm. 1. ISBN 978-623-7726-66-1. 
  8. ^ Arifin, Agus Zainul (2018). Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Zahir Publsihing. hlm. 37. ISBN 978-602-5541-19-3. 
  9. ^ Kartawinata, B. R., dkk. (2020). Manajemen Keuangan: Sebuah Tinjauan Teori dan Praktis (PDF). Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 87. ISBN 978-623-6608-24-1. 
  10. ^ Marina, A., dkk. (2017). Sistem Informasi Akuntansi: Teori dan Praktikal (PDF). Surabaya: Penerbit UMSurabaya Publishing. hlm. 52. ISBN 978-979-98658-9-2. 
  11. ^ Ermawati, N., dan Handayani, R. T. (2021). Rahayu, Aulia Rif'ati, ed. Manajemen Keuangan dan Investasi (PDF). Kudus: Badan Penerbit Universitas Muria Kudus. hlm. 20–21. ISBN 978-623-7312-59-8. 
  12. ^ Hidayat, Wastam Wahyu (2018). Fabri, Fungky, ed. Dasar-Dasar Analisa Laporan Keuangan (PDF). Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia. hlm. 14. ISBN 978-602-5891-76-2. 
  13. ^ Utami, FIesty (2020). Pengantar Akuntansi (PDF). Bandung: Penerbit Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 73. ISBN 978-623-6608-75-3. 
  14. ^ Darwis (2019). Manajemen Asset dan Liabilitas (PDF). Bantul: TrustMedia Publishing. hlm. 32–33. ISBN 978-602-5599-26-2. 
  15. ^ Yaya, R., Martawireja, A. E., dan Abdurahim, A. (2018). Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer (PDF) (edisi ke-2). Jakarta: Salemba Empat. hlm. 117. ISBN 978-979-061-460-4. 
  16. ^ Yuesti, A., Dewi, N. L. P. S., dan Pramesti, I. G. A. A. (2020). Akuntansi Sektor Publik. Badung: CV. Noah Aletheia. hlm. 89. ISBN 978-623-91014-7-3. 
  17. ^ Darmawan (2020). Dasar-dasar Memahami Rasio dan Laporan Keuangan (PDF). Yogyakarta: UNY Press. hlm. 102. ISBN 978-602-498-136-5. 
  18. ^ Ismail, Z., dkk. (2014). Peranan LKM Non-Bank dalam Pembiayaan Usaha Mikro (PDF). Jakarta: LIPI Press. hlm. 62. ISBN 978-979-799-774-8. 
  19. ^ Sumartik, dan Hariasih, M. (2018). Buku Ajar Manajemen Perbankan (PDF). Sidoarjo: Umsida Press. hlm. 39. ISBN 978-602-5914-04-1. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • James Wilson & John Campbell, Controllership: The Work of the Managerial Accountant. Wiley Trans. ISBN 0-471-05711-8
  • Suwartoyo dan Bambang Kussriyanto, Teknik Manajemen Keuangan, Pustaka Binaman Pressindo.