Kudo Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
PT Kudo Teknologi Indonesia
Jenis situs
Pasar daring
BahasaIndonesia
MarkasDKI Jakarta, Indonesia
PemilikGrab
PendiriAlbert Lucius
Agung Nugroho
CEOAlbert Lucius (2014-2018)
Agung Nugroho (2018 - Sekarang)
SektorRitel daring
ProdukGadget, sepatu, fashion, elektronik, makanan, otomotif, kamera, buku, video, musik, komputer, laptop, dan lain lain
Karyawan500-1000 (Juli 2018)
SloganNow Everyone Can Shop Online
StatusAktif

KUDO (singkatan dari Kios Untuk Dagang Online) adalah sebuah perusahaan teknologi yang menciptakan sebuah platform yang memberikan peluang kepada masyarakat Indonesia untuk memiliki peluang usaha dengan menjadi penjual produk dari berbagai usahawan ternama.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

KUDO didirikan oleh Albert Lucius dan Agung Nugroho pada bulan Juli 2014. Mereka adalah dua orang lulusan Haas Business of School, UC Berkeley. Albert selaku CEO (Chief Executive Officer) pernah bekerja di Apple sebagai Spesialis Antarmuka selama dua tahun sejak 2010. Sedangkan Agung Nugroho selaku COO (Chief Operating Officer) berpengalaman selama kurang lebih empat tahun di perusahaan The Boston Consulting Group.[butuh rujukan]

Latar belakang berdirinya KUDO adalah karena masih ada rakyat Indonesia yang memiliki keterbatasan akses internet, rekening bank, dan kartu kredit sehingga belum bisa merasakan pengalaman berbelanja daring. Melihat adanya kesenjangan antara perdagangan daring dan luring ini muncul ide untuk mendirikan suatu platform untuk menghubungkan antara usahawan daring dengan para pelanggan luring melalui jaringan agen.[1]

Selama 2 tahun berdiri, KUDO telah berhasil memberdayakan lebih dari 250.000 wirausaha digital dengan menjadi agen KUDO yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia Melalui KUDO, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan dengan menjual jutaan variasi produk yang telah tersedia di aplikasi KUDO kepada para pelanggan.[butuh rujukan]

Berawal dari hanya 21 karyawan, pada tahun 2016 KUDO telah berkembang menjadi sebuah perusahaan teknologi dengan lebih dari 350 karyawan.[butuh rujukan] Pada bulan September 2016, Sukan Makmuri, seorang veteran di Silicon Valley selama lebih dari 20 tahun dan CEO KasKus, bergabung sebagai CTO (Chief Technology Officer) dan melengkapi jajaran C-level KUDO.[butuh rujukan]

KUDO telah menjalin kerjasama dengan beberapa mitra bisnis. Dalam sektor e-commerce, KUDO bekerjasama dengan Bukalapak, Lazada, Elevenia, Berrybenka, Hijabenka, Muslimarket, Sociolla, Lakupon, dan Pesona Nusantara.[butuh rujukan]

KUDO telah menjalin kerjasama dengan Bank BTPN dalam mewujudkan inisiasi rencana strategis bersama. Momentum penandatanganan kerjasama ini dilaksanakan dalam International Fintech Festival and Conference 2016 pada bulan Agustus 2016 dan disaksikan oleh Presiden RI Joko Widodo beserta jajaran menterinya.[2]

Melalui strategi yang dijalankan, KUDO berkomitmen untuk terus memberdayakan wirausaha digital Indonesia hingga mencapai lebih dari 1.000.000 agen di seluruh wilayah Indonesia.[butuh rujukan]

Pada awal-awal tahun 2017, Grab mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi platform e-commerce online untuk offline (O2), Kudo. Setelah proses akuisisi rampung, tim dan platform Kudo akan terintegrasi secara penuh ke dalam ekosistem pembayaran milik Grab, GrabPay.

Akuisisi ini merupakan investasi pertama dari master plan 'Grab 4 Indonesia' 2020 yang baru-baru ini diumumkan.[3] Melalui master plan ini, Grab berkomitmen untuk menanamkan investasi sebesar US$700 juta untuk mengembangkan ekonomi digital di Indonesia melalui dukungan terhadap inovasi teknologi.

Sayangnya tak disebutkan berapa nilai akuisisi yang diberikan oleh Grab kepada Kudo. Namun kabarnya Kudo ditawar hingga US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun

Pada akhir-akhir tahun 2018, dalam perkembangan terakhir dalam ekosistem Grab, CEO dan salah satu pendiri startup online-ke-offline Kudo, Albert Lucius, meninggalkan posisinya sebagai CEO di perusahaan Kudo[4] untuk mengambil peran eksekutif dalam perusahaan pembayaran, OVO. Langkah ini bertepatan dengan laporan yang menyatakan bahwa Grab yang berkantor pusat di Singapura telah mengakuisisi saham di OVO, yang dimiliki oleh konglomerat Indonesia, Lippo Group. Posisi CEO Kudo digantikan oleh Agung Nugroho sesama pendiri Kudo, yang sebelumnya adalah Chief Operations Officer (COO). Peralihan itu terjadi pada bulan Oktober.

Jenis produk[sunting | sunting sumber]

Di aplikasi KUDO tersedia jutaan produk yang bisa diperdagangkan oleh agen KUDO. Bukan hanya produk rumah tangga, elektronik, fashion maupun kosmetik, dan produk online lainnya, KUDO juga menyediakan jasa transaksi pulsa, pembeian voucher game, pembelian asuransi, pembayaran tagihan (PLN, PAM, cicilan motor) dan pemesanan tiket (kereta, pesawat).[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Mochamad Wahyu Hidayat (14 September 2016). "Raih Pendanaan Miliaran Rupiah, Kudo Siap Ekspansi Lebih Luas". liputan6.com. Diakses tanggal 15 November 2016. 
  2. ^ "FOTO: Presiden Jokowi Buka Indonesia Fintech Festival & Conference". SINDOnews. Diakses tanggal 15 November 2016. 
  3. ^ Prihadi, Susetyo Dwi. "Grab Resmi Akuisisi Startup Lokal Kudo". teknologi (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-02-20. 
  4. ^ "Kudo co-founder Lucius joins payments startup OVO amid Grab investment rumour". DealStreetAsia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-02-20. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]